Mengajak Al Quran Bicara

Membaca karya terbaru Dr. Abad Badruzaman ini, teringat ucapan Imam Âli bin Abî Thâlib dalam NahjMengajak Bicara Al Quran al-Balâghah:

“Itulah Al-Quran. Ajaklah bicara dengannya, ia tidak akan berbicara, tapi akan memberitahukan kalian. Ketahuilah di dalam Al-Quran itu terkandung apa yang akan datang nanti dan masa lalu, penawar penyakit kalian dan pengatur urusan kalian.”

Ucapan sang pintu ilmu di atas menjadi isyarat, bahwa Al-Quran selain berbicara tentang masa lalu juga mampu menjawab segala tantangan ke depan. Namun Al-Quran tidak akan berbicara jika tidak diajak bicara. Ia hanya teks mati jika bukan pembacanya yang menghidupkannya. Dan cara untuk mengajak bicara Al-Quran agar hidup adalah dengan mengeksplorasinya. Tentunya dengan berbekal seperangkat ilmu pendukung yang memadai. Jangan lupa, Al-Quran diturunkan bukan diperuntukkan bagi satu kaum di satu zaman saja, namun juga bagi kita yang hidup pada ruang dan waktu yang berbeda.

Itulah yang dilakukan oleh penulis. Ia mencoba menggali kandungan makna Al-Quran dengan mengkhususkan pada aspek Makkiyah-madaniyah dan asbâb al-nuzûl sebagai bidang kajian. Dua di antara sejumlah aspek penting dalam kajian ‘Ulûm al-Qur’ân yang terbilang sangat mapan dalam kajian Islam. Hanya saja ada kecenderungan bahwa kedua aspek ini masih didominasi kajian yang bersifat normatif, alias masih berkutat di pembahasan klasik. Padahal dinamika zaman berubah begitu cepat.

Atas pertimbangan itu, penulis mencoba melakukan pendekatan lain, yaitu pendekatan sosiologis dan historis—yang sesungguhnya merupakan sebuah keniscayaan—sebagai upaya revitalisasi atas konsep Makkiyah-madaniyah dan asbâb al-nuzûl, agar diperoleh kontekstualisasinya dengan kekinian.

Pemilihan dua aspek penting beserta pendekatannya ini bukannya tanpa alasan. Ayat makkiyah dan madaniyah masing-masing menunjukkan karakteristik khusus yang membedakan keadaan sosio-kultur masyarakat Makkah dan Madinah pada saat ayat turun. Ini menunjukkan bahwa Al-Quran mengakomodasi karakteristik khas sebuah masyarakat. Bahkan mampu melintasi ruang dan waktu, yang juga dihuni oleh masyarakat yang berperan sebagai audiens (mukhâthab). Sementara aspek asbâb al-nuzûl, tak kalah pentingnya karena menunjukkan sebab kejadian saat ayat diturunkan. Kedua aspek inilah yang selanjutnya dijadikan landasan normatif oleh penulis dalam upaya menghidupkan dialektika langit dan bumi.

Lalu mengapa Al-Quran mesti digemakan secara relevan di sepanjang zaman?

Ajaklah Al-Quran “bicara”. Maka sesungguhnya ia memiliki rahasia kandungan hikmah yang berlapis-lapis. Terdapat kontinuitas makna yang membuatnya tetap relevan sepanjang zaman, yang membuatnya mampu mengiringi dinamika zaman. Jika pada saat diturunkannya Al-Quran dapat dijadikan solusi permasalahan umat, maka dalam rentang waktu yang jauh ke depan pun mestinya demikian.

Namun untuk menangkap pesan universal Al-Quran, tak bisa kita bisa begitu saja mengambil atau mencocok-cocokkannya sesuka hati. Perlu dipahami terlebih dahulu konteks sejarah, politik, ekonomi serta sosial-budaya masyarakat Arab saat ayat Al-Quran diturunkan, juga sebab kejadian yang melatarbelakanginya. Karena itulah pembahasan pertama buku ini.  Diawali dengan kajian klasik konsep makkiyah-madaniyah dan asbâb al-nuzûl sebagai pembuka jalan.

Kajian klasik tentu saja tetap penting dipelajari. Ulama terdahulu telah berupaya keras menorehkan tintanya dalam rangka menghidupkan ‘Ulûm al-Qur’ân. Inilah yang lantas dijadikan landasan oleh penulis dalam memasuki tema pokok yang diangkat pada bab selanjutnya, yakni revitalisasi atas konsep Makkiyah-madaniyah dan asbâb al-nuzûl dengan memaparkan kontekstualisasinya dengan kekinian.

Dari konsep makkiyah-madaniyah di antaranya dapat diambil faedahnya sebagai alat bantu dalam menafsirkan Al-Qu’ran. Mengetahui tempat turun ayat membantu dalam memahami apa yang diinginkan ayat, serta membantu dalam menentukan tujuan atau tentang apa ayat bicara (hal 38). Sementara dari konsep asbâb al-nuzûl di antaranya dapat diketahui hikmah yang mendorong lahirnya penetapan hukum serta mengetahui betapa syariat Islam memperhatikan kemaslahatan umum dalam menangani berbagai kasus hukum sebagai wujud kasih sayang terhadap umat (hal 45). Kedua aspek tersebut sejatinya mengungkapkan realitas historis. Teks adalah hasil interaksi dengan realitas yang hidup dan historis. Maka diawali dengan memotret realitas historis saat ayat diturunkan, penulis kemudian melakukan eksplorasi untuk menangkap relevansi dan kontekstualisasinya.

Tentu tidak semua ayat dibahas di sini, mengingat buku ini tidaklah dimaksudkan sebagai sebuah kitab tafsir yang utuh. Namun dari sekian banyak contoh yang penulis sodorkan, apa yang diulas dalam buku ini dapat dijadikan landasan dan referensi berharga bagi mereka yang ingin melakukan kajian dan penelusuran lebih lanjut, terutama untuk mematangkan kontekstualisasi beberapa surah dan ayat yang diakui oleh penulisnya sendiri masih terbilang mentah (hal 285).

***

Meskipun bukan tergolong sesuatu yang baru, namun upaya berharga yang dilakukan Abah Abad—demikian kami memanggilnya—turut memberikan kontribusi memperkaya khazanah kajian Islam, khususnya bidang ‘Ulûm al-Qur’ân.

Sesuai judul bukunya, Dialektika Langit dan Bumi, Abah Abad mengajak pembaca untuk berdialektika menangkap pesan-pesan langit yang sifatnya menembus segala zaman, termasuk melintasi ruang dan waktu yang sedang kita pijak dan jalani saat ini. Ajakan ini menjadi sangat penting di tengah maraknya kemunculan kelompok tekstualis yang sangat kaku dalam memahami kandungan Al-Quran, yang seringkali melakukan legitimasi kepentingannya dengan cara memaksakan ayat-ayat suci secara serampangan.

Dengan berbekal referensi yang kaya dan pengetahuan yang luas serta penyajian yang mudah dicerna, buku ini menjadi sangat layak Anda lahap di akhir pekan sambil diselingi seruputan kopi atau teh panas. Cobalah me-recharge isi kepala dan mengambil jeda dari perdebatan politik dan agama yang tak kunjung usai di media sosial. Singkirkan sejenak ponsel Anda. Nikmati pencerahan demi pencerahan yang tersaji dalam buku ini. [Irfan Permana]

 

Menuju Jihad Nonkombatif

Selama ini, jihad lebih banyak dipahami  sebagai sebuah konsep monovalen dalam arti “peperangan bersenjata”, dan pembunuhan atau pembantaian terhadap orang-orang yang dianggap sebagai musuh agama. Akibatnya, agama seperti melegitimasi dan menjustifikasi segala bentuk tindak kekerasan, dengan jaminan surga dan bidadari bagi para pelakunya.

Kecenderungan untuk memahami kata jihad secara sosio-legal seperti ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dari sejarah panjang pemahaman manusia—terutama para fukaha’ dan mufassir sejak abad klasik, saat mereka berusaha menangkap pesan agama—tentang makna jihad atau qital dan syahid sebagaimana muncul secara tekstual dalam pesan al-Quran atau pun hadis.

Buku yang digarap secara gigih dan hati-hati oleh Asma Afsaruddin, guru besar studi Islam di Menuju Jihad NonkombatifUniversitas Notre Dame Amerika Serikat ini, menawarkan suatu analisis semantik-hermeunetik dengan pelacakan serius terhadap leksem (lexeme) jihad dan kemartiran (syahid) sebagai sebuah istilah diskursif yang sebenarnya sangat dinamis, dari masa ke masa.

Asma sangat menyayangkan, bahwa makna jihad (j-h-d) yang sebenarnya memiliki makna dasar “bersungguh-sungguh” atau “berjuang keras” dalam melakukan segala sesuatu, kemudian disempitkan maknanya hanya menjadi “perang” di jalan Allah. Dengan demikian, komponen terpenting dari jihad dalam al-Quran yang hakikinya menjunjung prinsip nirkekerasan (principled nonvioence) dan non-kombatif seperti tenggelam dan tak tersentuh dalam ranah diskursus penting ini.

Hal lain yang juga dilupakan, menurut Asma, adalah bahwa al-Quran tidak pernah menggunakan leksem syahid—temasuk bentuk pluralnya: syuhadâ’—dengan mengacu pada martir, melainkan hanya untuk menyebut saksi hukum atau saksi mata. Baru dalam sumber-sumber lain di luar al-Quran, kata tersebut memperoleh makna spesefik sebagai “orang yang bersaksi demi iman” terutama dengan  mengorbankan nyawanya (hal. 15)

Penjelasan historis yang tajam, terutama dari sisi konteks sosio-politik para mufassir abad-abad awal Islam, juga menjadi bagian penting dalam pelacakan yang dilakukan Asma untuk menemukan kecenderungan dan latar belakang lahirnya model penafsiran tersebut. Asma menemukan bahwa para mufassir yang memiliki afiliasi dengan pemerintah saat itu memiliki kecenderungan luar biasa untuk memahami jihad sebagai laku peperangan yang ofensif-kombatif.

Salah satu contohnya adalah al-Thabari. Mufassir besar yang karyanya menjadi rujukan penting selama ini, mengartikan kata jâhidû fî sabîlillâh dengan “berjuang melawan orang-orang musyrik” yang berimplikasi pada arti “berperang” atau “membunuh”. Alasan yang dipakai oleh al-Thabari bukan karena adanya hadis yang dianggap mendukung, seperti riwayat Ibnu Abbas, tetapi karena “makna ini yang lazim pada masa itu”—pernyataan yang luar biasa ditinjau dari penalaran sirkulernya. (hal. 41)

Dalam penelusuran Asma, rumusan pandangan hukum klasik yang nyaris monolitik mengenai jihad dan kemartiran diakibatkan oleh faktor muncul dan menguatnya imperium Umayyah dan Abbasiyah serta pembentukan militer pada masa-masa tersebut. Al-Thabari adalah salah satu ulama yang pro-Abbasiyah dan sempat menduduki berbagai jabatan di era tersebut.

Hal serupa juga terjadi pada al-Qurthubi, yang hidup pada masa Reconquista Spanyol, sehingga tafsirnya memperlihatkan semacam kegelisahan dan kekhawatiran Muslim Andalusia kala itu, dan otomatis memengaruhi pandangannya mengenai parameter jihad militer.

Dalam buku ini, Asma juga berusaha mendialogkan pandangan ulama-ulama klasik tersebut dengan pandangan para ulama modern, seperti Muhamamd Abduh, Said Ramadan al-Buthi, Ali Jumah, Fethullah Gulen—sebagai tokoh yang memahami jihad dan syahid secara lebih fleksibel, dinamis, kontekstual dan universal—termasuk tokoh-tokoh lain seperti Hasan al-Banna, Abu al-A’la al-Maududi, Sayyid Quthb, termasuk ekstremis Mesir, Abdul Salam Faraj—sebagai tokoh yang mengangap jihad sebagai unsur penting dari revivalisme Islam modern, sehingga perlu dijalankan secara ofensif sekaligus defensif. (hal. 403-408)

Melalui dioalog dan diskusi yang dalam tersebut Asma akhirnya menunjukkan keberpihakannya bahwa selama ini makna jihad telah banyak direduksi bahkan dimanipulasi oleh sebagian kelompok untuk membentengi aski terornya secara teologis. Meskipun tidak mengabaikan makna jihad dalam konteks defensif tertentu, Asma mengajak pembacanya untuk memahami jihad dan syahid secara holistik, bukan secara parsial dan terlepas dari konteks sejarah, audiens dan relasi budaya yang menyertainya.

Dengan demikian, pada akhirnya, akan terjadi pergeseran pamahaman tentang jihad secara fundamental: dari jihad yang militeristik, sadistik, haus darah dan kombatik,  menuju jihad yang simpatik, dinamis, komprehensif, nirkekerasan dan non-kombatif. Di sini letak penting buku ini.  [Abdul Wahid Hasan]

Historiografi Profetik Muhammad SAW: Perspektif Tafsir Nuzuli Darwazah

Sejarah dan Tafsir Sebagai Irisan Berbeda

Umumnya ilmuwan berpendapat bahwa antara sejarah dan tafsir sebagai ilmu pengetahuan adalah disiplin yang berbeda. Bila sejarah berupaya menemukan penjelasan tiap kejadian secara kronologis berbasarkan kasusnya secara fenomenologis, maka tafsir berupaya menemukan makna teks sampai pada pengertian yang bersifat esensial.

Sejarah (history) terkait erat dengan cerita (story). Bahkan history dapat disebut sebagai story itu sendiri. Bila pengertian akan sejarah ini dipakai, maka pengalaman manusia dari waktu ke waktu dalam lintasan kondisi personal dan situasi yang mengelilinginya menjadi penting sebagai bahan menyusun penjelasan atas tema tertentu. Berbagai pengalaman manusia tersebut dipelajari dengan memutar rekaman peristiwa yang telah terjadi di masa silam berdasarkan aneka fakta yang masih bisa dikais dari masa lalu. Bahkan, black-box peristiwa silam ini masih dianggap penting –dalam pandangan sejarah—walaupun dalam bentuk cerita yang diwariskan secara turun temurun antar generasi. Upaya meminimalisir munculnya subyektifitas cerita kemudian diimbangi dengan pembuktian artefak sejarah yang bersifat fisik terkait peristiwa yang diteliti.

Berbeda dengan itu, ilmu tafsir berjuang menggeluti dunia teks demi mampu memasuki rongga termisterius dari teks itu sendiri yang disebut dengan makna. Upaya menantang ini bukan tanpa hambatan, sehingga kerap kali para pentafsir memerlukan bantuan teks lain dalam memahami teks tertentu. Maka jadilah teks menafsiri teks, lalu memunculkan kesimpulan yang lambat laun menjadi teks baru. Nah, begitulah –secara sederhana—sejarah dan tafsir berkembang menjadi disiplin yang berbeda. Bahkan dalam disiplin Islamic studies sendiri, perkebangan ilmu sejarah dan ilmu tafsir juga menampilkan pola yang mengikuti penjelasan ini, meskipun antara keduanya kerap terjadi persekutuan ketika digunakan mengurai satu fenomena yang memerlukan pemaknaan sekaligus keutuhan pemahaman secara kronologis.

Memadukan Disiplin Sejarah dan Tafsir

Al-Quran diturunkan Allah kepada seluruh umat manusia sebagai petunjuk bagi mereka untuk menggapai jalan keselamatan. Pewahyuan al-Quran dilakukan secara bertahap kepada Muhammad saw dalam posisi dan kapasitas beliau sebagai pamungkas nabi dan rasul yang hidup di tengah bangsa Arab. Pewahyuan al-Quran sendiri secara historis terkait dengan problem kemanusiaan yang sedang dihadapi umat Islam pada masa awal, yaitu di Makkah dan Madinah. Walaupun keluasan substansi wahyu ini tidak tertutup hanya pada konteks masa pewahyuan itu. Al-Quran mengetengahkan berbagai ayat yang berisi aneka informasi kepada umat manusia yang sebenarnya menegaskan posisi kerasulan Muhammad saw. Di sisi lain, kepribadian paripurna yang melekat pada diri Muhammad saw di tengah manusia, adalah cerminan dari isi al-Quran secara sempurna.

Sebagai teks yang memuat nash, al-Quran tertutup dari perubahan. Namun al-Quran juga masih membuka perubahan. Tulisan al-Quran secara tekstual sebagaimana yang termaktub, telah terkunci kebenarannya secara otoritatif. Namun pemahaman dan penafsiran terhadap al-Quran –dari perspektif nuzuli—tetap hidup karena al-Quran terkait dengan konteks sejarah kenabian ketika ia diwahyukan. Maka upaya menggali makna al-Quran secara ‘lebih hidup’ tidak dapat dilepaskan dari pembacaan terhadap sejarah kerasulan itu sendiri. Sebaliknya, menelisik sejarah kerasulan Muhammad saw tidak dapat dipisahkan dari pewahyuan al-Quran secara berurutan. Maka ada dua fakta dalam hal ini, yaitu al-Quran dan konteks masyarakat Arab pada masa pewahyuan, dan eksistensi Muhammad SAW sebagai sosok istimewa sekaligus paripurna dalam sejarah kenabian agama Monotheism. Pada posisi inilah terjadi kaitan logis-faktual antara keduanya. Ketika ingin memahami sejarah bagaimana kerasulan Muhammad saw, maka harusnya melihat al-Quran sebagai penjelasnya. Sebaliknya, ketika ingin memahami substansi al-Quran, maka harus mempelajari sejarah kenabian Muhammad saw sebagai penjelasnya. Al-Quran dan kerasulan Muhammad saw adalah dua hal yang tidak dapat dipisah dalam upaya memahami substansi hakiki dari Islam. Dialektika konstruktif atas keduanya akan membangun keutuhan penafsiran dan pemahaman yang tepat. Maka komposisi al-Quran sesuai dengan masa pewahyuannya (al-Quran Nuzuli) adalah teks yang tepat untuk memahami makna hakikinya, sedangkan metode penafsirannya adalah tafsir nuzuli-maudhu’i.

Itulah kesimpulan utama dari buku Sejarah Kenabian yang ditulis Aksin Wijaya. Berbekal Historiografi Profetik Muhammad SAW: Perspektif Tafsir Nuzuli Darwazah‘kenekatannya’ beralih orientasi dari yang awalnya ingin mengkritik lalu berubah menjadi mendeskripsi, penulis agaknya ingin meyakinkan pembaca bahwa ilustrasinya tentang Tafsir Nuzuli gubahan Muhammad Izzat Darwazah ini merupakan ulasan yang diminati karena cukup langka. Berbeda dengan ilmuwan muslim seperti Sayyid Qutub dengan karya tafsirnya Masyahid al-Qiyamah fi al-Quran, Abid al-Jabiri dengan karyanya Fahm al-Quran al-Karim: al-Tafsir al-Wadih Hasba Tartib al-Nuzul, dan Ibnu Qarnas dengan karyanya Ahsan al-Qashash: Tarikh al-Quran Kama Warada min al-Mashdar ma’a Tartib al-Suwar Hasba Nuzul, eksplanasi ilmiah tentang tafsir Nuzuli versi Darwazah yang lahir di kota Nablus-Palestina ini –dalam insting akademik Mas Aksin—masih belum banyak dikaji, terutama di Indonesia. Kenekatan tersebut diikuti dengan keseriusannya mengumpulkan berbagai sumber primer maupun sekunder yang memuat konsepsi Tafsir Nuzuli Darwazah, sehingga kajian ini memiliki otentisitas tinggi.

Karena tema tentang Tafsir sebagai sebuah metode memahami al-Quran termasuk ilmu yang tidak banyak dikuasai orang, terutama tentang Tafsir Nuzuli, penulis ‘berbaik hati’ dengan menyertakan ulasan detail tapi ringkas tentang bagaimana memahami gagasan Darwazah. Salah satu upaya tersebut adalah dengan mencantumkan biografi Darwazah, khususnya dalam tradisi keilmuan tafsir dan sejarah yang mewarnai pembentukan pemikirannya. Pembaca tidak langsung dibawa masuk memahami dunia pemikiran Darwazah, namun terlebih dahulu diajak mengupas irisan pemikiran dari tokoh lain agar lebih mudah menyelami fase selanjutnya. Deskripsi tentang Tafsir Nuzuli yang diungkap seorang orientalis bernama Theodor Noldeke, juga proposisi yang diusulkan oleh Abid al-Jabiri dan Ibnu Qarnas, tampak sebagai upaya secara bertahap untuk membantu pembaca membuka ruang pemikiran Darwazah. Pada ulasan inilah tampak ketelatenan penulis dalam mengungkap beberapa term pokok dari gagasan konseptual-metodologis Darwazah secara detail. Ketelatenan itu diimbangi dengan melimpahnya informasi tambahan dalam catatan kaki yang memungkinkan tiap pembaca berselancar memasuki referensi utama yang menopang tiap gagasan yang dituliskan. Memang bagi orang yang kurang tertarik atau tidak hobi literasi, buku ini cenderung membosankan karena –selain relatif tebal—juga membutuhkan ketelitian dalam membaca dan memahaminya. Padahal, justru pada tiap ungkapan dan istilah khas yang tercantum itulah terdapat alur dan misteri yang memuat daya tarik tersendiri untuk meneruskan membaca. Dapat dibayangkan betapa rumit dan panjang proses verifikasi akademis yang dilakukan penyusun dalam menyusun tiap kalimat dan term-term khusus yang nyaris tanpa kesalahan redaksional.

Sebagaimana umumnya buku sejarah yang tebal dengan narasi yang menyuguhkan keterkaitan antar fenomena, buku Sejarah Kenabian ini juga relative tebal, padat dan sarat uraian tentang hubungan antar peristiwa. Namun perbedaannya dari buku sejarah an sich, buku ini juga memuat ulasan bagaimana Tafsir Nuzuli dioperasionalkan dalam bingkai gagasan Darwazah. Maka –tanpa memberanikan diri menyebut buku ini mengawinkan dua disiplin tersebut—dapat ditegaskan bahwa membaca buku ini akan menemukan ulasan kesejarahan sekaligus penafsiran.

Dari Deskripsi Menuju Analisis

Salah satu kecerdikan Darwazah dalam metode tafsir nuzuli–yang berhasil diungkapkan penulis buku ini—adalah keberanian menafsirkan kehidupan Nabi Muhammad saw secara pribadi dan juga pada masa kerasulan di tengah konteks kehidupan demografis masyarakat Arab. Kecerdikan ini tampak dengan penggunaan kemampuan akal dalam memaknakan teks disertakan setelah wahyu yang termaktub dalam al-Quran dengan status kebenarannya yang mutlak. Peletakan al-Quran sebagai bahan baku menafsirkan kehidupan Nabi Muhammad secara pribadi dan juga sebagai Rasulullah saw dengan akal sebagai instrumen nalar, adalah pendapat yang tepat karena keduanya memiliki keagungan substansial yang saling menguatkan. Al-Quran sebagai wahyu dan Nabi Muhammad saw sebagai Rasulullah, keduanya adalah subyek utama dan sangat otoritatif dalam proyek tafsir ini. Gagasan ini juga menjadi otoritatif karena al-Quran merupakan firman Tuhan yang terjamin otentisitasnya di tiap lintasan zaman dan ruang, sedangkan pribadi Nabi Muhammad saw sendiri adalah mahluk termulia di jagat raya tanpa ada satu pun makhluk yang mampu menandingi kemuliaannya. Teks yang mulia menjelaskan makhluk termulia.

Penulis sendiri tampak bukan hanya menjadi ‘pengalih-bahasa’, tapi juga bertugas menguji ketajaman Tafsir Nuzuli-Maudhu’i gubahan Darwazah tersebut. Hal itu tampak dalam beberapa analisis yang dilakukannya pada beberapa tema yang bersifat parsial, seperti pada persoalan iklim, kehidupan sosial, nalar, dan keyakinan bangsa Arab. Sebelum menuliskan kesimpulannya, penulis juga “berani” menyisipkan kata pilihannya yaitu “Islam Prinsipil-Makkah” dan “Islam Praksis-Madinah” untuk mengkategorikan periode dakwah Rasulullah saw di Makkah dan Madinah. Pemilihan term ini secara nyata menampakkan kreatifitas penulis dalam menyisipkan gagasannya sendiri ketika mendeskripsikan gagasan Darwazah. Selain itu, komentar kritis dari beberapa pemikir lain seperti Thaha Muhammad Faris juga disertakan dalam pembahasan tentang Darwazah. Ini menunjukkan bahwa penulis juga ingin ‘menguji’ gagasan Darwazah dengan meminjam pendapat tokoh lain, atau bisa jadi penulis ingin menampilkan sebuah dialektika pemikiran antar tokoh. Fakta yang lebih mendukung penilaian bahwa penulis bukan hanya penerjemah adalah adanya refleksi metodologis yang dicantumkannya di bagian akhir buku dengan menyisipkan beberapa kelebihan dari gagasan Darwazah ini secara praktis. Menariknya, refleksi metodologis ini dituliskan oleh Prof. Amin Abdullah, tokoh yang rancangan metodologinya dipinjam penulis ketika meneliti pemikiran Darwazah. Maka dapat dikatakan bahwa buku ini bukan hanya berisi tentang deskripsi atau ringkasan pendapat dari seorang tokoh semata, namun juga menjadi media pelaporan uji coba metodologis atas corak tafsir Nuzuli-Maudhu’i tersebut dari sisi penulisnya.

Memang di bagian akhir terdapat pengakuan bahwa naskah ini hanyalah merupakan laporan deskriptif atas gagasan Darwazah dan memberikan ruang tabarrukan manfaat serta kritik pada pembaca. Namun pada pengakuan itu tampak kegagahan akademik penulisnya dalam mengikuti tradisi akademik yang digelutinya, di samping juga tidak dapat menyembunyikan bahwa dirinya bukanlah pemula dalam bidang Ilmu Tafsir.

 

 

 

 

X