Menundukkan Nafsu

Apakah tanda-tanda orang yang sudah berhasil menundukkan hawa nafsunya? Apa ciri orang yang telah berhasil membebaskan dirinya dari maksiat? Dalam cuplikan puisi pendek di bawah ini, Rumi mengatakan:

Kumau hati yang terbelah kerat oleh nyeri terpisah dari-Nya.

Demi kubisa luapkan rindu dan keluhku pada-Nya.

Orang yang hidupnya masih banyak didorong dan dihabiskan untuk mengumbar nafsunya, adalah orang yang lupa akan kekasihnya, yang tersimpangkan dan terlenakan dari kerinduan kepada Allah. Sebab, kegembiraan-kegembiraan yang dikejarnya itu sesungguhnya hanyalah tipuan. Jadi, jika seseorang memiliki banyak harta, bisa membeli apa saja yang dia inginkan, lalu dengan itu dia merasa telah mendapatkan kegembiraan; atau oleh kekuasaan maupun ketenaran yang dimilikinya bisa mendapatkan apa saja, maka sesungguhnya ia adalah orang yang ghafil –yakni, orang yang mengalami ghaflah, kelalaian, keterlenaan. Ketika kerinduannya kepada Tuhan terbenam oleh cinta dunia ini, pada kenyataannya dia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan sejati, meskipun hidupnya seolah-oleh dipenuhi kegembiraan-kegembiraan.

Bagi orang yang berhasil mencapai satu tingkat permulaan, yang darinya dia bisa memulai perjalanan spiritualnya, maka hal-hal yang bersifat fisik duniawi, dan berfungsi untuk memuasi jiwa rendah, sudah tidak lagi menarik hatinya. Dia sudah melepaskan diri dari semua itu; hidup sederhana, dan tidak lagi dikerumuni oleh orang-orang yang mungkin menjilatinya demi kepentingan duniawi. Dia hidup sepi, tak berada di dalam keramaian pergaulan dengan manusia, tidak lagi mendapatkan kenikmatan dari makan banyak, konsumsi yang banyak, tidak pula banyak tidur. Mereka telah mampu membebaskan diri dari semua itu, sehingga jiwa mereka menjadi kosong dan menganga, karena jauh dari Allah. Tidak ada lagi nafsu yang menimbuninya. Perasaan hati yang menganga ingin dipuasi inilah sebetulnya tanda pertama bahwa seseorang sudah siap untuk menempuh perjalanan spiritual kembali kepada Allah . Dalam keadaan hatinya menganga, ia mengharapkan sesuatu yang dirindukannya. Dalam kondisi demikian, sesungguhnya dia tidak bisa lain kecuali mencari apa yang bisa mengisi hatinya, mencari kekasih yang bisa memuasi dahaganya akan cinta. Dan orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang sepintas dari luar tampak sebagai orang-orang yang mengalami kesedihan, sebab ia merasa ada jarak yang memisahkannya dari kekasih yang dia dirindukan.

Bersedih hati –dalam makna positif- adalah bagian dari modal kita untuk siap menempuh perjalanan tasawuf. Inilah alasan Rumi mengatakan, “Kumau hati yang terbelah”, hati yang pecah, hati yang patah. “Kerat demi kerat oleh nyeri”, oleh kesedihan karena kosongnya jiwa. Persisnya, bukan jiwa kosong yang kemudian diganjal oleh hal-hal duniawi, yang sesungguhnya justru menipu dan tidak memberikan kebahagiaan sejati. “Oleh nyeri terpisah dari-Nya”,  maksudnya dari Allah. “Demi kubisa luapkan rindu dan keluhku pada-Nya.”

Inilah di antara ciri-ciri atau syarat-syarat bagi orang yang akan menempuh jalan tasawuf, sebagaimana tercermin dalam puisi Rumi di atas. [] Haidar Bagir

*Tulisan ini diambil dari buku DAMA (Dari Allah Menuju Allah)

Merayakan Kefakiran

Saya semakin lama semakin benar-benar paham makna hadis ini: “Hati manusia itu berada di antara 2 genggaman Allah”.  Manusia ini dengan nyamuk saja bisa kalah, apalagi kalau Pencipta kita mengurangi atau menambah hormon dan enzym-enzym yang diproduksi tubuh kita. Manusia bisa gila, depresi, atau skizoprenik, tanpa dia sendiri bisa membetulkannya.

Untungnya ada versi hadis yg menyebutkan bahwa hati kita berada di antara dua jari/genggaman ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Penyayang). Jadi kita bisa merasa tenteram bahwa yg Maha Kuasa akan pada puncaknya memilihkan yang terbaik dalam kehidupan kita.

Kalau sudah begini, hanya orang tidak waras yang masih mau sombong. Baik sombong karena ras, status, kekayaan, maupun kepintaran. Apa pun yg dia punya adalah pemberian -bahkan hanya pinjaman – dari Dia yg mengendalikan kita. Sewaktu-waktu bisa diambil dari kita tanpa kita bisa berbuat apa pun.

Maka, kalau pintar, kaya, atau berkuasa, orang bijak akan menggunakan semuanya itu untuk menolong orang, menolong sesama makhluk Tuhan, sambil tetap tak pernah lupa untuk rendah hati. Lagi pula, orang (lebih) pintar dari kita itu banyak. Jangan minteri (sok), saling belajar saja. Mudah-mudahan dengan  itu kita bisa hidup bahagia.

Ya, manusia ini fakir; bukan hanya tak berdaya, tapi tak tahu apa-apa.  Bagi manusia, semulia apa pun posisinya di bumi, semua kehidupan ini hanya bayangan, di balik bayangan, di balik bayangan, di balik bayangan, sampai mungkin ada ribuan lapis bayangan. Yang kita persepsi ini hanya kerlip dari sumber cahaya yang jauh, setelah dipantulkan mungkin ribuan kali.

Kata Nabi, “al-faqru fachriy”. Sebuah permainan kata yang cerdas, “kefakiran adalah kebanggaanku”. Karena hanya orang waras/intelligen yg sadar kefakiran dirinya, di hadapan ke-Maha Kuasa-an Allah.

Di samping itu, fakir terhadap Allah yg Maha Rahman itu enak. Hidup kita justru akan terjamin. Yang paling dahsyat itu adalah; Nabi yang -dalam mi’raj telah mencapai martabat “kebersatuan” dengan Allah, martabat qaaba qawsayn (dua busur panah)- masih menyatakan “kefakiran adalah kebanggaanku”. Ini membenarkan kesadaran kita bahwa kehidupan kita -yang nowhere near the Prophet  Saw- sesungguhnya, jangankan “kerlip” sinar yang sudah dipantulkan beribu kali itu”, bahkan kerlip sinar yg dipantulkan tak terbatas kali. We’re (almost) nothing!!!

Hal ini akan menjadi jelas kalau kita ilustrasikan melalui kisah pertemuan Rumi dengan Syams Tabrizi yang amat terkenal itu.

Suatu kali, Rumi yg memiliki jabatan yg dimuliakan di Konya, sedang menaiki kudanya dengan gagah di jalanan kota Konya. Tiba-tiba dia melihat seorang bertubuh kecil berpenampilan sufi qalandari -dengan baju dan rambut acak-acakan- menghentikan perjalanannya. Di luar dugaan Rumi, sang qalandar mendadak sontak bertanya: “Siapa yang lebih mulia, Nabi Muhammad atau Bayazid Busthami?”. Rumi yang shocked menanggapi: “Pertanyaan apa ini?” Jawab si qalandar: “Nabi mengatakan tentang Tuhan: ‘Kami tak bisa memuji-Mu sebagaimana Kau seharusnya dipuji’, sementara Bayazid berkata: ‘Maha Suci Aku. Betapa Agung keadaanku’. Rumi kebingungan, lalu si qalandar melanjutkan: “Tentu Nabi yang lebih mulia. Nabi yg sudah begitu tinggi pengetahuannya tentang Tuhan, masih menyadari bahwa Tuhan jauh lebih luhur dari itu. Sedang Bayazid, dengan pengetahuan ketuhanan yg masih jauh lebih rendah dari Nabi, sudah merasa mencapai tingkat kebersatuan dengan-Nya'”

Ya, jangan bicara tentang Nabi Saw, bahkan terhadap Bayazid kita tak bisa diperbandingan. Maka, masih adakah jalan lain bagi manusia tak berdaya ini kecuali bersujud di hadapan-Nya? []

(Haidar Bagir)

X