Mengajak Al Quran Bicara

Membaca karya terbaru Dr. Abad Badruzaman ini, teringat ucapan Imam Âli bin Abî Thâlib dalam Nahj al-Balâghah:

“Itulah Al-Quran. Ajaklah bicara dengannya, ia tidak akan berbicara, tapi akan memberitahukan kalian. Ketahuilah di dalam Al-Quran itu terkandung apa yang akan datang nanti dan masa lalu, penawar penyakit kalian dan pengatur urusan kalian.”

Ucapan sang pintu ilmu di atas menjadi isyarat, bahwa Al-Quran selain berbicara tentang masa lalu juga mampu menjawab segala tantangan ke depan. Namun Al-Quran tidak akan berbicara jika tidak diajak bicara. Ia hanya teks mati jika bukan pembacanya yang menghidupkannya. Dan cara untuk mengajak bicara Al-Quran agar hidup adalah dengan mengeksplorasinya. Tentunya dengan berbekal seperangkat ilmu pendukung yang memadai. Jangan lupa, Al-Quran diturunkan bukan diperuntukkan bagi satu kaum di satu zaman saja, namun juga bagi kita yang hidup pada ruang dan waktu yang berbeda.

Itulah yang dilakukan oleh penulis. Ia mencoba menggali kandungan makna Al-Quran dengan mengkhususkan pada aspek Makkiyah-madaniyah dan asbâb al-nuzûl sebagai bidang kajian. Dua di antara sejumlah aspek penting dalam kajian ‘Ulûm al-Qur’ân yang terbilang sangat mapan dalam kajian Islam. Hanya saja ada kecenderungan bahwa kedua aspek ini masih didominasi kajian yang bersifat normatif, alias masih berkutat di pembahasan klasik. Padahal dinamika zaman berubah begitu cepat.

Atas pertimbangan itu, penulis mencoba melakukan pendekatan lain, yaitu pendekatan sosiologis dan historis—yang sesungguhnya merupakan sebuah keniscayaan—sebagai upaya revitalisasi atas konsep Makkiyah-madaniyah dan asbâb al-nuzûl, agar diperoleh kontekstualisasinya dengan kekinian.

Pemilihan dua aspek penting beserta pendekatannya ini bukannya tanpa alasan. Ayat makkiyah dan madaniyah masing-masing menunjukkan karakteristik khusus yang membedakan keadaan sosio-kultur masyarakat Makkah dan Madinah pada saat ayat turun. Ini menunjukkan bahwa Al-Quran mengakomodasi karakteristik khas sebuah masyarakat. Bahkan mampu melintasi ruang dan waktu, yang juga dihuni oleh masyarakat yang berperan sebagai audiens (mukhâthab). Sementara aspek asbâb al-nuzûl, tak kalah pentingnya karena menunjukkan sebab kejadian saat ayat diturunkan. Kedua aspek inilah yang selanjutnya dijadikan landasan normatif oleh penulis dalam upaya menghidupkan dialektika langit dan bumi.

Lalu mengapa Al-Quran mesti digemakan secara relevan di sepanjang zaman?

Ajaklah Al-Quran “bicara”. Maka sesungguhnya ia memiliki rahasia kandungan hikmah yang berlapis-lapis. Terdapat kontinuitas makna yang membuatnya tetap relevan sepanjang zaman, yang membuatnya mampu mengiringi dinamika zaman. Jika pada saat diturunkannya Al-Quran dapat dijadikan solusi permasalahan umat, maka dalam rentang waktu yang jauh ke depan pun mestinya demikian.

Namun untuk menangkap pesan universal Al-Quran, tak bisa kita bisa begitu saja mengambil atau mencocok-cocokkannya sesuka hati. Perlu dipahami terlebih dahulu konteks sejarah, politik, ekonomi serta sosial-budaya masyarakat Arab saat ayat Al-Quran diturunkan, juga sebab kejadian yang melatarbelakanginya. Karena itulah pembahasan pertama buku ini.  Diawali dengan kajian klasik konsep makkiyah-madaniyah dan asbâb al-nuzûl sebagai pembuka jalan.

Kajian klasik tentu saja tetap penting dipelajari. Ulama terdahulu telah berupaya keras menorehkan tintanya dalam rangka menghidupkan ‘Ulûm al-Qur’ân. Inilah yang lantas dijadikan landasan oleh penulis dalam memasuki tema pokok yang diangkat pada bab selanjutnya, yakni revitalisasi atas konsep Makkiyah-madaniyah dan asbâb al-nuzûl dengan memaparkan kontekstualisasinya dengan kekinian.

Dari konsep makkiyah-madaniyah di antaranya dapat diambil faedahnya sebagai alat bantu dalam menafsirkan Al-Qu’ran. Mengetahui tempat turun ayat membantu dalam memahami apa yang diinginkan ayat, serta membantu dalam menentukan tujuan atau tentang apa ayat bicara (hal 38). Sementara dari konsep asbâb al-nuzûl di antaranya dapat diketahui hikmah yang mendorong lahirnya penetapan hukum serta mengetahui betapa syariat Islam memperhatikan kemaslahatan umum dalam menangani berbagai kasus hukum sebagai wujud kasih sayang terhadap umat (hal 45). Kedua aspek tersebut sejatinya mengungkapkan realitas historis. Teks adalah hasil interaksi dengan realitas yang hidup dan historis. Maka diawali dengan memotret realitas historis saat ayat diturunkan, penulis kemudian melakukan eksplorasi untuk menangkap relevansi dan kontekstualisasinya.

Tentu tidak semua ayat dibahas di sini, mengingat buku ini tidaklah dimaksudkan sebagai sebuah kitab tafsir yang utuh. Namun dari sekian banyak contoh yang penulis sodorkan, apa yang diulas dalam buku ini dapat dijadikan landasan dan referensi berharga bagi mereka yang ingin melakukan kajian dan penelusuran lebih lanjut, terutama untuk mematangkan kontekstualisasi beberapa surah dan ayat yang diakui oleh penulisnya sendiri masih terbilang mentah (hal 285).

***

Meskipun bukan tergolong sesuatu yang baru, namun upaya berharga yang dilakukan Abah Abad—demikian kami memanggilnya—turut memberikan kontribusi memperkaya khazanah kajian Islam, khususnya bidang ‘Ulûm al-Qur’ân.

Sesuai judul bukunya, Dialektika Langit dan Bumi, Abah Abad mengajak pembaca untuk berdialektika menangkap pesan-pesan langit yang sifatnya menembus segala zaman, termasuk melintasi ruang dan waktu yang sedang kita pijak dan jalani saat ini. Ajakan ini menjadi sangat penting di tengah maraknya kemunculan kelompok tekstualis yang sangat kaku dalam memahami kandungan Al-Quran, yang seringkali melakukan legitimasi kepentingannya dengan cara memaksakan ayat-ayat suci secara serampangan.

Dengan berbekal referensi yang kaya dan pengetahuan yang luas serta penyajian yang mudah dicerna, buku ini menjadi sangat layak Anda lahap di akhir pekan sambil diselingi seruputan kopi atau teh panas. Cobalah me-recharge isi kepala dan mengambil jeda dari perdebatan politik dan agama yang tak kunjung usai di media sosial. Singkirkan sejenak ponsel Anda. Nikmati pencerahan demi pencerahan yang tersaji dalam buku ini. [Irfan Permana]

 

(Visited 75 times, 1 visits today)

Menuju Jihad Nonkombatif

11 December 2018

Surga Anugerah (Jannat al-Mawahib)

11 December 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *