Look Inside

Tafsir Dekonstruksi Jihad dan Syahid

Kata “jihad”, yang secara generik bermakna “bersungguh-sungguh”, dewasa ini telah diselewengkan menjadi bermakna perang, bahkan terorisme. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Buku ini melacak sejarah konsep “jihad” secara diakronis/historis oleh para penafsir, yang berevolusi dari masa ke masa. Konsep jihad bukan hanya dimaknai secara tekstual di ruang-vakum, tetapi bertumbuh-kembang di ruang sosial yang berjalin kelindan dengan kepentingan dan kekuasaan.

Asma menunjukkan bagaimana relasi teks-kuasa beroperasi di ranah tafsir Qur’an dan hadis. Bagaimana para mufasir, misalnya, menggunakan instrumen “nasakh” dan “fadhail amal” untuk menggiring opini tentang keutamaan jihad militeristik dan menyisihkan konsep-konsep terkait yang penting, terutama sabar.

Rp150,000.00

Browse Wishlist

Para sarjana Muslim dan Barat modern cenderung memahami jihad secara sosio-legal, sehingga ia lebih dimaknai sebagai tindak kekerasan, dan menjustifikasi kemartiran (kesyahidan) dalam jihad secara teologis-eskatologis. Akibatnya, keduanya sering dijadikan sebagai pembenar bagi tindak  kekerasan oleh kaum radikal.
Berbeda dengan mereka, Asma Afsaruddin memahami secara diakronis kedua istilah kunci itu. Profesor Muslim perempuan ini menelusuri dinamika perkembangan makna jihad dalam sinaran sejarah dan politik yang mengantarainya, dan tidak hanya menilai pemaknaan umum kedua istilah itu sebagai sesuatu yang baru muncul belakangan di era Umayyah dan Abasiyah, yang jauh dari maksud al-Qur’an yang sebenarnya. Berbarengan dengan itu, pengarang memaknai ulang istilah-istilah yang bertalian dengan keduanya, seperti qital dan harb, sembari menampilkan betapa pentingnya istilah kunci lainnya yang sebenarnya masih bertalian dengan jihad namun kerap terlupakan, yakni sabar (al-shabr).

Dr. Aksin Wijaya
Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo

Melalui pelacakan yang gigih terhadap spektrum pemaknaan istilah jihad dan sejenisnya dalam beragam kitab tafsir sejak periode awal Islam serta pemeriksaan mendalam atas kitab-kitab hadis dan fadhail (keutamaan amal), buku yang ditulis guru besar studi agama-agama Indiana University ini berhasil menunjukkan dimensi esensial non-kombatif jihad dalam sumber-sumber utama ajaran Islam—sebagai perjuangan umum mendekatkan diri kepada Allah dan mencari keridaan-Nya.
Dengan analisis hermeunetik dan penjelasan historis yang tajam, Asma Afsaruddin menyingkap bagaimana penyimpangan terhadap dimensi esensial
jihad ini mulai terjadi seiring perkembangan-perkembangan politik yang dihadapi kaum Muslim. Para mufasir rupanya menggunakan siasat hermeneutik nasakh untuk perlahan-lahan menggeser dimensi esensial non-kombatif jihad ke arah perjuangan bersenjata memerangi musuh-musuh Islam. Aspek kombatif jihad, yang diperkuat dengan dimensi teologis yang membenarkan kaum Muslim memerangi
non-Muslim, terlihat jelas dalam Tafsir al-Thabari yang ditulis pada akhir abad ke-3 dan tafsir-tafsir sesudahnya.
Buku ini menarik karena bagi Asfaruddin, pergeseran itu tentu tidak bisa dipisahkan dari konteks sejarah ketika itu: permusuhan yang meningkat dari kekuatan-kekuatan politik lainnya di kawasan terhadap kekuasaan Umayah dan kemudian Abbasiyah, yang bermuara dengan meletusnya berbagai macam peperangan, termasuk Perang Salib dan Reconquista Spanyol. Buku ini sekaligus
merupakan petunjuk yang mencerahkan bagi siapapun yang ingin memahami bagaimana doktrin jihad telah dimanipulasi begitu jauh oleh kaum radikal dan jihadis masa kini.

Prof Noorhaidi Hasan
Guru Besar dan Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Bahasa Al-Quran bukan hanya sebagai cara berbicara dan berkomunikasi, tetapi juga “cara berpikir” dan mengungkapkan “pandangan-dunia” yang dibangun. Keduanya dikonstruksi melalui konteks sejarah, audien, dan relasi budaya pada saat gagasan-gagasan Al-Quran dikomunikasikan. Memahami pesan terdalam Al-Quran dengan demikian selaiknya memahami cara berpikir dan pandangan dunianya. Sebab, bila tidak, kita akan terjebak pada skripturalitas teks dan gagal menghayati pesan utamanya. Kajian yang Asma Afsaruddin tentang makna jihad dan syahid dalam Al-Quran dalam buku ini sugguh menarik. Dalam perspektif paradigma tafsir, ia menelusuri “pandangan dunia” Al-Quran melalui konteks sejarah, audien (ketika Al-Quran diturunkan) dan karakteristiknya dengan mempertimbangkan evolusi dan perkembangan makna dari istilah-istilah kunci yang dipakai Al-Quran. Simpulan-simpulan yang diberikan Asma Afsaruddin dalam buku ini mengingatkan kita bahwa perkembangan makna dari suatu kata kunci selaiknya selalu selaras dengan pesan ideal Al-Quran.
Dr. Islah Gusmian
Dosen Ilmu Tafsir, IAIN Surakarta
Berkembangnya gambaran buruk tentang Islam sebagai agama kekerasan dan teror di Barat itu, walau disesalkan, wajar belaka, karena pemahaman seperti itu memang berkembang di kalangan Muslim radikal dalam memahami konsep jihad dan syahadah. Yang keliru adalah menganggap bahwa itulah konsep Islam tentang hubungan Muslim dan non-Muslim, dan itulah pemahaman yang benar. Asma Afsaruddin menunjukkan, dengan merujuk kepada literatur keislaman lintas disiplin yang kaya, dari awal Islam sampai kontemporer, bahwa pemahaman seperti itu reduksionis, manipulatif dan menyesatkan, karena mengaburkan makna substantif doktrin itu. Tanpa mengabaikan salah satu makna jihad sebagai perang (qital) dalam konteks defensif tertentu, pemahaman yang holistik tentang jihad, yang harus disandingkaitkan dengan konsep sabr (kesabaran), justru melahirkan pandangan bahwa menjadi orang beriman adalah menjadi pejuang perdamaian dan penyebar rahmat Allah di muka bumi ini. Itulah “jalan Allah” (sabil Allah), yakni jalan damai dan rahmat semesta, bukan jalan kekerasan dan teror. Inilah makna terpenting dari kehadiran buku ini.
Moch. Nur Ichwan, Ph.D.
Wakil Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
(Visited 40 times, 1 visits today)

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Tafsir Dekonstruksi Jihad dan Syahid”

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editorial Review

Para sarjana Muslim dan Barat modern cenderung memahami jihad secara sosio-legal, sehingga ia lebih dimaknai sebagai tindak kekerasan, dan menjustifikasi kemartiran (kesyahidan) dalam jihad secara teologis-eskatologis. Akibatnya, keduanya sering dijadikan sebagai pembenar bagi tindak  kekerasan oleh kaum radikal.
Berbeda dengan mereka, Asma Afsaruddin memahami secara diakronis kedua istilah kunci itu. Profesor Muslim perempuan ini menelusuri dinamika perkembangan makna jihad dalam sinaran sejarah dan politik yang mengantarainya, dan tidak hanya menilai pemaknaan umum kedua istilah itu sebagai sesuatu yang baru muncul belakangan di era Umayyah dan Abasiyah, yang jauh dari maksud al-Qur’an yang sebenarnya. Berbarengan dengan itu, pengarang memaknai ulang istilah-istilah yang bertalian dengan keduanya, seperti qital dan harb, sembari menampilkan betapa pentingnya istilah kunci lainnya yang sebenarnya masih bertalian dengan jihad namun kerap terlupakan, yakni sabar (al-shabr).

Dr. Aksin Wijaya
Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo

Melalui pelacakan yang gigih terhadap spektrum pemaknaan istilah jihad dan sejenisnya dalam beragam kitab tafsir sejak periode awal Islam serta pemeriksaan mendalam atas kitab-kitab hadis dan fadhail (keutamaan amal), buku yang ditulis guru besar studi agama-agama Indiana University ini berhasil menunjukkan dimensi esensial non-kombatif jihad dalam sumber-sumber utama ajaran Islam—sebagai perjuangan umum mendekatkan diri kepada Allah dan mencari keridaan-Nya.
Dengan analisis hermeunetik dan penjelasan historis yang tajam, Asma Afsaruddin menyingkap bagaimana penyimpangan terhadap dimensi esensial
jihad ini mulai terjadi seiring perkembangan-perkembangan politik yang dihadapi kaum Muslim. Para mufasir rupanya menggunakan siasat hermeneutik nasakh untuk perlahan-lahan menggeser dimensi esensial non-kombatif jihad ke arah perjuangan bersenjata memerangi musuh-musuh Islam. Aspek kombatif jihad, yang diperkuat dengan dimensi teologis yang membenarkan kaum Muslim memerangi
non-Muslim, terlihat jelas dalam Tafsir al-Thabari yang ditulis pada akhir abad ke-3 dan tafsir-tafsir sesudahnya.
Buku ini menarik karena bagi Asfaruddin, pergeseran itu tentu tidak bisa dipisahkan dari konteks sejarah ketika itu: permusuhan yang meningkat dari kekuatan-kekuatan politik lainnya di kawasan terhadap kekuasaan Umayah dan kemudian Abbasiyah, yang bermuara dengan meletusnya berbagai macam peperangan, termasuk Perang Salib dan Reconquista Spanyol. Buku ini sekaligus
merupakan petunjuk yang mencerahkan bagi siapapun yang ingin memahami bagaimana doktrin jihad telah dimanipulasi begitu jauh oleh kaum radikal dan jihadis masa kini.

Prof Noorhaidi Hasan
Guru Besar dan Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Bahasa Al-Quran bukan hanya sebagai cara berbicara dan berkomunikasi, tetapi juga "cara berpikir" dan mengungkapkan "pandangan-dunia" yang dibangun. Keduanya dikonstruksi melalui konteks sejarah, audien, dan relasi budaya pada saat gagasan-gagasan Al-Quran dikomunikasikan. Memahami pesan terdalam Al-Quran dengan demikian selaiknya memahami cara berpikir dan pandangan dunianya. Sebab, bila tidak, kita akan terjebak pada skripturalitas teks dan gagal menghayati pesan utamanya. Kajian yang Asma Afsaruddin tentang makna jihad dan syahid dalam Al-Quran dalam buku ini sugguh menarik. Dalam perspektif paradigma tafsir, ia menelusuri "pandangan dunia" Al-Quran melalui konteks sejarah, audien (ketika Al-Quran diturunkan) dan karakteristiknya dengan mempertimbangkan evolusi dan perkembangan makna dari istilah-istilah kunci yang dipakai Al-Quran. Simpulan-simpulan yang diberikan Asma Afsaruddin dalam buku ini mengingatkan kita bahwa perkembangan makna dari suatu kata kunci selaiknya selalu selaras dengan pesan ideal Al-Quran.
Dr. Islah Gusmian
Dosen Ilmu Tafsir, IAIN Surakarta
Berkembangnya gambaran buruk tentang Islam sebagai agama kekerasan dan teror di Barat itu, walau disesalkan, wajar belaka, karena pemahaman seperti itu memang berkembang di kalangan Muslim radikal dalam memahami konsep jihad dan syahadah. Yang keliru adalah menganggap bahwa itulah konsep Islam tentang hubungan Muslim dan non-Muslim, dan itulah pemahaman yang benar. Asma Afsaruddin menunjukkan, dengan merujuk kepada literatur keislaman lintas disiplin yang kaya, dari awal Islam sampai kontemporer, bahwa pemahaman seperti itu reduksionis, manipulatif dan menyesatkan, karena mengaburkan makna substantif doktrin itu. Tanpa mengabaikan salah satu makna jihad sebagai perang (qital) dalam konteks defensif tertentu, pemahaman yang holistik tentang jihad, yang harus disandingkaitkan dengan konsep sabr (kesabaran), justru melahirkan pandangan bahwa menjadi orang beriman adalah menjadi pejuang perdamaian dan penyebar rahmat Allah di muka bumi ini. Itulah "jalan Allah" (sabil Allah), yakni jalan damai dan rahmat semesta, bukan jalan kekerasan dan teror. Inilah makna terpenting dari kehadiran buku ini.
Moch. Nur Ichwan, Ph.D.
Wakil Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta