Dari Allah Menuju Allah

Milik sufi bukan sekadar huruf dan tinta,

tapi hati putih penaka salju.

Milik cendekiawan adalah

jejak-jejak pena.

Apakah milik sufi?

Jejak-jejak kaki.

Rumi bukanlah seorang penulis ‘irfân seperti Ibn ‘Arabi—yang menulis puluhan jilid buku. Karya utama Rumi adalah Matsnawi, kumpulan puisi, yang darinya kutipan-kutipan dalam buku ini diambil. Namun, justru karena efisiensi dari medium puisi ini, Rumi bisa mengungkapkan apa yang diungkapkan dalam berjilid-jilid buku oleh seorang arif seperti Ibn ‘Arabi, ke dalam puisi-puisi yang relatif jauh lebih pendek.

Dalam buku ini, Haidar Bagir, menjelaskan secara ringkas, populer, dan sistematis prinsip-prinsip tasawuf melalui keindahan puisi-puisi Rumi.

Rp49,000.00

Category:

“Paduka”, kata Daud, “karena Kau tak butuh kami, kenapa Kaucipta dua dunia ini?”.

Sang Hakikat menjawab: “Wahai tawanan waktu …

Dulu Aku perbendaharaan-rahasia

Kebaikan dan kedermawanan,

Kurindu perbendaharaan ini dikenali,

Maka, Kucipta cermin: …

Mukanya yang cemerlang, hati;

Punggungnya yang gelap, dunia.

Punggungnya kan memesonamu

jika tak pernah kaulihat mukanya.

Pernahkah ada yang membuat cermin dari lumpur dan jerami?

Maka, sapulah lumpur dan jerami itu, sebilah cermin pun kan tersingkap …

Ingatlah Tuhan sebanyak-banyaknya

hingga kau terlupakan.

Biarkan penyeru dan Yang Diseru

musnah dalam Seruan.

(Belajar Hidup dari Rumi, hlm. 10-11)

Inilah sebuah puisi yang bisa dikatakan menjadi sari pati dari inti pemikiran Rumi. Rumi adalah seorang penyair yang luar biasa kaya membahas banyak hal; membahas alam, membahas manusia, membahas dunia fisik, membahas dunia ruhani, dan terutama membahas Tuhan dan hubungan antara manusia dan Tuhan. Puisi ini menggambarkan salah satu inti pandangan Rumi tentang hubungan Tuhan dan manusia, hubungan Tuhan dan alam semesta.

Rumi memang bukanlah seorang penulis ‘irfân seperti Ibn ‘Arabi—yang menulis puluhan jilid buku. Karya utama Rumi adalah Matsnawi, yang darinya kutipan-kutipan dalam buku ini diambil. Namun, justru karena efisiensi dari medium puisi ini, Rumi bisa mengungkapkan apa yang diungkapkan dalam berjilid-jilid buku oleh seorang arif seperti Ibn ‘Arabi, ke dalam puisi-puisi yang relatif jauh lebih pendek.

Nah, sebagaimana Ibn ‘Arabi, Rumi adalah seorang penganut Wahdah al-Wujûd. Sebetulnya, Wahdah al-Wujûd adalah sebuah istilah yang tidak dipakai oleh Ibn ‘Arabi sendiri, lebih-lebih lagi oleh Rumi. Istilah yang barangkali lebih sesuai dengan pandangan Dunia Islam adalah Tawhîd Wujûdî, pandangan Tauhid Eksistensial. Tapi, meskipun tidak dipakai oleh Rumi, orang tidak akan gagal dari melihat bahwa Rumi adalah seorang penganut Wahdah al-Wujûd atau Tawhîd Wujûdî. Dan, puisi ini menggambarkan prinsip tersebut.

Rumi dikenal gemar memulai apa yang hendak disampaikannya dengan sebuah kisah. Namun, dalam cuplikan puisi pendek di atas, Rumi membukanya dengan dialog antara Nabi Daud dan Allah, yang lewat dialog ini Rumi akan mengungkapkan suatu Hadis Qudsi.

“Paduka,”, kata Daud, “karena Kau tak butuh kami, untuk apa Kau-cipta dua dunia ini?”.

Dua dunia, maksudnya adalah dunia fisik dan dunia ruhani. Kemudian Sang Hakikat—maksudnya adalah Allah—menjawab: “Wahai tawanan waktu”. Ucapan ini adalah cara Allah yang dipahami atau ditangkap oleh Rumi untuk menunjukkan betapa manusia ini—meskipun sesungguhnya berasal dari Allah, meskipun hakikatnya bersifat ruhani—cenderung terikat pada yang bersifat duniawi. Sebab, waktu itu adalah sifat dari kehidupan duniawi; lebih tepatnya, waktu linier atau yang disebut zaman. Manusia itu terikat oleh zaman. Gerakan hanya mungkin terjadi dalam waktu; waktu kemarin, waktu sekarang, waktu esok dan seterusnya.

Maka, inilah yang digarisbawahi oleh Rumi dalam kata-kata Allah di atas: “Wahai tawanan waktu”. Yakni, wahai makhluk yang terikat oleh kehidupan dunia fisik.

Dulu Aku perbendaharaan-rahasia kebaikan dan kedermawanan, Kurindu perbendaharaan ini dikenali, maka Kucipta cermin”.

Kalimat ini adalah pengungkapan kembali dari sebuah Hadis Qudsi yang berbunyi: “Dulu Aku adalah perbendaharaan tersembunyi. Aku rindu untuk dikenali. Maka Kucipta makhluk, agar Aku dikenali”.

Dulu Aku adalah perbendaharaan tersembunyi”, oleh Rumi diungkapkan-kembali dengan “perbendaharaan-rahasia”. Di dalam Hadis Qudsi yang lain, Allah berfirman: “Aku ingin dikenali sebagai Yang Pengasih, Penyayang, Maha Pengampun, Maha Penutup Aib”—dalam puisi Rumi di atas, ini diungkapkan dengan: “Aku ingin dikenali sebagai yang memiliki kebaikan dan kedermawanan. Aku ingin kebaikan dan kedermawanan-Ku ini dikenali maka Kucipta cermin.” Lalu, apa yang dimaksud dengan “cermin”?

(Visited 20 times, 1 visits today)

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Dari Allah Menuju Allah”

Your email address will not be published. Required fields are marked *