Percik Permenungan dan Doa Menyambut Ramadhan

Jika bulan Sya’ban disebut sebagai bulan Nabi, maka Ramadhan disebut bulan Allah. “Ibadah (di bulan) Puasa adalah untuk-Ku. Dan Aku sendiri yang menyampaikan pahalanya.” Begitu mulia amal-amal ibadah di bulan ini, hingga pahalanya datang langsung dari hadirat-keilahian tertinggi.

Memang puasa adalah ibadah yang istimewa. Khususnya jika kita upayakan mencapai tingkatan tertinggi dalam pelaksanaannya.

Menurut Imam Ghazali, ada tiga tingkatan puasa: (1) Puasa awam menahan diri dari makan, minum dan hubungan suami-isteri. (2) Puasa khawash (orang khusus, yang telah mencapai maqam spiritual tertentu), menahan diri juga dari akhlak buruk. Sedangkan (3) puasa khawashul-khawash (orang sangat khusus, yang telah mencapai maqam spiritual tertinggi) adalah menahan diri dari lintasan pemikiran buruk dalam hati. Bahkan menahan diri dari memikirkan apa pun selain mengingat Allah. Dalam ungkapan lain, ada puasa syari’ah, puasa thariqah, dan puasa haqiqah.

Dan jika sudah mencapai tingkatan tertinggi ini, ibadah (di bulan) puasa menjadi perwujudan anjuran Nabi saw agar kita mencapai keadaan “mati sebelum mati” (muutu qabla an tamuutu). Yakni, suatu  keadaan yang di dalamnya kita telah berhasil menaklukkan hawa nafsu, yang terpaut erat dengan badan. Dan dengan demikian menyediakan ruang selesa bagi beroperasi penuhnya ruhani kita – satu-satunya alasan yang menjadikan kita berhak disebut sebagai makhluk mulia bernama manusia.

Puasa mengajar kita bahwa, seperti kata Teilhard de Chardin, “Kita bukan wujud manusiawi yang menjalani pengalaman spiritual, tapi wujud spiritual yang menjalani pengalaman manusiawi.” Bahwa sesungguhnya rumah kita ada di dunia sana. Di sini kita cuma mampir saja.

Semoga Allah mengaruniai kita hidayah (petunjuk), ‘inayah (dukungan) dan tawfiiq(kesesuaian dengan kehendak-Nya) dalam kita menjalani puasa Ramadhan tahun ini, dengan iman dan ihtisaab (kepasrahan penuh, cuma demi ridha-Nya semata) dan agar dapat kita pulihkan fitrah kita.

Ya Rabb, karuniai kami kemampuan merasakan manisnya ibadah di bulan suci-Mu, ketelatenan mendaras Kitab-Mu, kekuatan menghidupkan malam demi bermunajat kepada-Mu, kehangatan hati dalam menyantuni fakir miskin sahabat-sahabat-Mu, dan keperkasaan memerangi nafsu angkara diri.

Yaa, Rabb. Sudah banyak Ramadhan berlalu. Selalu membuncah kegembiraan kami menyambutnya. Seperti anak-anak menunggu buah tangan dari ayah yang akan datang dari luar kota. Tapi kenapa belum juga manisnya begitu terasa? Kiranya cuma tarikan-Mu yang dapat membawa kami kepada kebahagiaan sejati bersama-Mu.

Ramadhan Mubarak…[]

(Haidar Bagir)

Puasa adalah Miniatur Suluk

6 May 2019

Beragama Dengan Rasa Cinta

6 May 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *