Menebar Benih Cinta Persaudaraan Manusia (Sebuah Catatan Solidaritas untuk Muslim New Zealand)

Dalam sebuah peperangan melawan pasukan kafir Quraisy, dalam perang uhud, tentara Islam takluk sebab tak menghiraukan titah Nabi. Banyak umat Islam yang menjadi korban. Salah satu di  antaranya adalah paman Nabi yang bernama Hamzah. Seorang paman yang selalu teguh melindungi Nabi. Terbunuhnya Hamzah menyisakan duka lara yang sangat menyayat. Bagaimana tidak, tubuh Hamzah dicabik-cabik, dadanya dibelah, hati atau jantungnya dirobek oleh Wahsy seorang budak suruhan, lalu dikunyah-kunyah oleh Hindun istri Abu Sufyan. Nabi tak kuasa menahan air mata dan menahan kesedihan yang mendalam. Pun demikian para sahabat menyesal telah mengabaikan pertahanan sebagaimana instruksi Nabi.

Lalu apakah yang dilakukan Nabi. Apakah balas dendam? Masihkah Nabi menyimpan ancaman, menebar ketakutan pada kaum kafir Quraisy? Semua tentu tahu bagaimana karakter Nabi. Kelak ketika semua sudah takluk dibawah umat Islam. Tak sedikit pun ada dendam. Semua yang telah tunduk dan pasrah pada Nabi, termasuk si pembunuh paman Nabi dan penyuruhnya dibebaskan dan mendapatkan suaka keselamatan. Wahsy dan Hindun pada akhirnya masuk Islam dengan penuh kekaguman dan kepasrahan.

Selain kisah di atas, Nabi juga pernah dilempari batu saat hijrah ke Thaif. Penduduk Thaif merasa keberatan dan menolak dengan kasar, hingga melempari Nabi dengan bebatuan yang menyebabkan gigi geraham beliau berdarah. Melihat keadaan memilukan ini, para malaikat turun dan menawari Nabi agar diperkenankan untuk menghancurkan penduduk Thaif. Tapi apa jawaban Nabi? Tak dinyana, Nabi justru memaafkan dan mendoakan mereka “Allahummahdi qoumy fainnahum la ya’lamun”, Ya Allah berilah petunjuk kaumku karena sesungguhnya mereka tak mengerti.

Begitulah teladan Nabi yang senantiasa memaafkan siapapun yang pernah menyakitinya. Nabi mengajari akhlak yang begitu luhur. Dendam bukanlah solusi menyelesaikan masalah. Justru, sebaliknya tak akan ada akhir dari dendam yang saling diumbar dan saling dibenturkan. Nabi datang sebagai juru damai. Untuk semua umat manusia.

Ketika Nabi hijrah ke Madinah, pertikaian yang tak berujung antara suku Khazraj dan Aus bisa diselesaikan dengan saling menerima, berkat inisiatif Nabi yang menyentuh, mendamaikan keduanya. Begitulah Islam, sebagaimana pembawa risalahnya. Adalah Muhammad SAW. Namanya memang terpuji. Dan Islam itu sendiri tidak lain berarti kedamaian yang penuh keselamatan.

***

Apa yang terjadi di New Zealand tempo hari, (15/3/19), memang menyisakan duka yang sangat mendalam bagi umat Islam. Khususnya bagi keluarga para korban. Atas dasar kebencian seseorang yang namanya saja tak layak untuk disebut, sebagaimana kata PM New Zealand, telah tega dan membabi buta merenggut nyawa orang-orang tak berdosa yang sedang menunaikan ibadah shalat jumat. Dunia telah terguncang, tak hanya New Zealand.

New Zealand adalah negara dengan tingkat kenyamanan dan keamanan paling tinggi di dunia untuk dihuni. Begitulah info yang sering kita dengar. Sebuah negara dengan pendidikan terbaik dan sangat mendukung segala aktivitas positif yang mendukung berkembangnya budaya maju. Semua hidup dalam kedamaian dan penuh penghargaan. Tapi, bak tersambar petir yang tak disangka. Jumat, 15 Maret 2019 seorang teroris xenophobia muncul dengan segala kebenciannya. Atas nama supremasi kulit putih, ia membantai umat Islam imigran yang tengah beribadah shalat jumat di masjid Al Noor, dan masjid Linwood di kota Christchurch. Tak kurang dari 50 orang dinyatakan meninggal dunia dan 29 korban luka. Dunia berduka. Benar-benar berduka.

Tapi, seminggu pasca kejadian itu ada pemandangan yang sangat menyejukkan di tengah dunia yang tengah berduka. PM New Zealand, Jacinda Ardern menunjukkan rasa simpati dan empati yang sangat besar. Dalam sebuah pidato ia bahkan memulainya dengan ungkapan salam sebagaimana umat Islam, “Assalamu’alaikum”. Ia juga mengenakan kerudung sebagai bentuk solidaritasnya. Dan ia tak mau menyebut nama teroris yang biadab itu. Namanya saja tak layak disebut. “Ia hanyalah seorang teroris!” Tegasnya dalam pidatonya untuk menunjukkan rasa simpati pada umat Islam.

Sikap Jecinda Ardern membuat seluruh rakyat New Zealand bersimpati dan mengikutinya. Mereka semua menunjukkan sikap simpatinya dengan menjaga masjid saat umat Islam menunaikan ibadah shalat. Membentuk rantai manusia dan meletakkan bunga-bunga dengan ungkapan penuh simpati. Banyak orang merasa terharu melihat pemandangan yang sangat indah itu.

Tak ada rasa malu untuk menumpahkan air mata melihatnya. “Saya tidak malu mengakui bahwa saya menangis di adegan ini, malam ini. Penduduk setempat Christchurch membentuk rantai manusia di belakang Muslim ketika mereka melakukan sholat maghrib di depan masjid Al Noor, di mana begitu banyak yang meninggal. Itu benar-benar indah,” ujar seorang Netizen, @JeromeTaylor’s  dalam cuitan twitter dengan menyertakan gambar umat Islam yang tengah melakukan shalat maghrib berjamaah, sementara dibelakangnya dijaga barisan rantai manusia.

Adzan pun berkumandang di seluruh New Zealand dan diikuti dengan mengheningkan cipta selama 2 menit setelahnya. Semua bersatu dalam simpati. Tak ada diskriminasi perbedaan agama, ras, maupun suku. “Mereka adalah kita”, tegas Jecinda Ardern.

Usai kejadian ini, dunia seakan tercengang dengan persaudaraan dan persatuan masyarakat New Zealand yang sangat erat. Dimulai dengan pemimpin yang sangat peduli kepada rakyatnya. Pemimpin yang mengatakan bahwa satu darinya terluka, maka semua ikut merasakan.

Sementara itu, ketika ada politikus rasis yang berbicara secara picik, tiba-tiba datang seoarang anak muda yang berumur tak lebih dari 17 tahun menimpuk kepalanya dengan sebutir telur. Menumpahkan kekesalan pada politikus yang bernama Fraser Anning. Anning yang berbicara di depan pers justru menyalahkan orang Islam imigran yang dianggap menjadi ancaman. Karena itulah, seorang anak muda dari belakangnya melakukan aksi heroik yang justru mendapat banyak simpati dari banyak orang. Dianggap sebagai seorang pahlawan.

Umat Islam bisa belajar dari seorang suami yang bernama Farid Ahmed. Istrinya menjadi korban penembakan biadab itu. Dalam sebuah wawancara, ia justru mengatakan bahwa ia telah memaafkan pembunuhnya. Sama sekali tak ada rasa benci pada orang yang menembak istrinya itu. Ia hanya menolak sikapnya yang jahat. Bukan orangnya. Cinta benar-benar menyemai di tengah buramnya dunia yang penuh kejahatan.

“Saya akan mengatakan pada dia, ‘Saya menyayangi dia sebagai pribadi’,” kata Farid Ahmad kepada kantor berita AFP, Senin (18/3/2019). “Saya tak bisa menerima apa yang dilakukannya. Apa yang dilakukannya adalah hal yang salah,” tuturnya. Namun ketika ditanya apakah pria itu memaafkan pelaku teror yang menewaskan istrinya, dia berujar: “Tentu. Hal terbaik adalah pengampunan, kemurahan hati, cinta dan perhatian, positif.” Cerminan seorang muslim yang dipenuhi kasih sayang tampak dari seorang suami yang istrinya meninggal akibat ditembak teroris ini.

Dalam menunjukkan aksi simpati, sebuah surat kabar lokal membuat halaman khusus di depan bertuliskan bahasa Arab yang berbunyi “Salam”. Kalimat itu berarti peace. Sebagaimana makna itu sendiri merepresentasikan nilai-nilai Islam. Penuh kedamaian dan keselematan. Agama yang penuh cinta menjadi senjata ampuh untuk menumpas kejahatan.

Demikianlah Islam mengajarkan. Bukan sebagaimana kelompok radikal ISIS yang justru memancing di air keruh, menebar teror akan membalas dendam. Sekali lagi Islam tak mengajarkan balas dendam. Islam adalah agama yang mengajarkan untuk memaafkan, sebagaimana tercermin dari seorang Farid Ahmed yang menegaskan hal itu.

Salam Cinta. Salam penuh perdamaian untuk semua.[]

(Abd. Hakim Abidin)

Menolak Antikuarianisme Tafsir Al-Qur'an

24 March 2019

Merayakan Kefakiran

24 March 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *