Corona dan Memudarnya Kepakaran

Mohammad Yunus Masrukhin

Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Akhir-akhir ini, dunia dikejutkan oleh munculnya virus yang menyebar cepat dan dapat menyerang paru-paru. Beberapa negara yang mengalami penyebaran secara masif dan merenggut banyak nyawa, warganya melakukan lockdown yang secara harfiah berarti melakukan pembatasan diri untuk tidak keluar dan meninggalkan sebuah gedung atau wilayah. Sebagaimana dilansir oleh Kompas (22/03/2020), beberapa negara yang melakukan lockdown di antaranya; Tiongkok, India, Italia, Spanyol, Prancis, Irlandia, El Salvador, Belgia, Polandia, Argentina, Yordania, Belanda, Denmark, Malaysia, Filipina, dan Libanon. Sejumlah negara tersebut harus mengambil keputusan yang berat untuk lockdown agar tidak bertambah jumlah yang meninggal dunia. Corona dengan cepatnya menyebar menjadi pandemik.

Sebagai virus pandemik, Corona juga menyerang warga Indonesia secara masif. Dari informasi pertanggal 1 April 2020, kasus positif Corona (Covid-19) di Indonesia mencapai angka 1.677 Dengan total kasus 1.677, berarti ada 149 penambahan kasus Corona dari data sebelumnya yang pada tanggal 30 Maret 2020, berjumlah 1.528 (Detik, 1/04/2020). Jumlah yang tidak sedikit, banyak kalangan menganjurkan pemerintah Indonesia untuk segera melakukan lockdown.

Meski demikian, pemberlakuan lockdown bagi beberapa kalangan di Indonesia masih menjadi perdebatan sengit. MUI yang merupakan organisasi keagamaan dengan tegas menganjurkan pemerintah agar memberlakukan lockdown. Seperti dinyatakan oleh Sekjen MUI, Anwar Abbas, (CNN Indonesia, 29/03/2020) pemerintah sebaiknya, “Melakukan total lockdown di seluruh negeri dan atau lockdown lokal untuk jangka waktu tertentu sesuai pertimbangan para ahli.” Lebih lanjut, MUI memberikan fatwa nomor 14 tahun 2020 bahwa pasien yang terkena virus Corona, “Wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain.” (BBC Indonesia, 20/03/2020).

NU dan Muhammadiyah memberikan pernyataan sikap dalam hal-hal yang berkaitan dengan ibadah, untuk menjaga dari virus Corona. NU memberikan tiga fatwa yang dihasilkan dari Bahtsul Masail dengan rincian: 1) orang yang positif terkena virus Corona tidak boleh melaksanakan shalat Jumat; 2) orang yang berada di zona kuning dianjurkan untuk tidak melaksanakan shalat Jumat; 3) orang yang berada di zona merah dianjurkan untuk shalat Zuhur di rumah (Viva News, 20/03/2020). Muhammadiyah memberikan imbauan yang hampir sama dan memperluas cakupan semua ibadah dan aktivitas yang melibatkan orang banyak untuk dihindari (Suara.com, 16/03/2020).

Meskipun beberapa kalangan memberikan anjuran terkait pemberlakuan lockdown, pemerintah memastikan bahwa Indonesia tidak akan memberlakukan lockdwon secara menyeluruh. Hal itu dinyatakan oleh juru bicara pemerintah dalam penangan virus Corona, Achmad Yurianto (Detik.com, 22/03/2020). Namun, dalam praktiknya, pemerintah mengimbau kepada rakyat agar melakukan social distancing, yakni menjaga jarak satu dengan yang lainnya minimal 1 meter untuk mencegah terjadinya penularan virus.

Sikap berbagai kalangan, termasuk pemerintah, dalam menyikapi pandemi Corona di atas menunjukkan pemahaman yang serius dan didasarkan pada fakta-fakta ilmiah dan argumentatif. Mereka mengambil sikap yang beragam sebagai ikhtiar untuk menjaga diri dari penyebaran virus.

Namun, di samping munculnya sikap ilmiah yang argumentatif terhadap penyebaran virus di atas, ada pula sikap-sikap kontroversial. Hal itu dimunculkan oleh sejumlah ustaz yang biasa mengisi pengajian di hadapan jemaah yang berjumlah ratusan sampai ribuan orang, juga ustaz yang mengampu pengajian rutin mingguan. Pernyataan mereka bisa ditemukan dengan mudah di medsos, utamanya YouTube.

Di YouTube banyak ditemukan ceramah ustaz yang mengaitkan pandemik Covid-19 dengan polemik Muslim-Non-Muslim atau polemik etnis, yang sebenarnya bisa dilacak hubungannya dengan polemik pemilu beberapa waktu lalu. Baginya, Corona adalah virus yang dikirim Allah bagi Muslim Uighur yang selama ini teraniaya oleh rezim Tiongkok. Ia beranggapan bahwa Uighur selamat dari virus Corona karena mereka senantiasa bersuci dan tidak mengkonsumsi binatang atau makanan yang haram—seperti darah.

Tentu saja, sang ustaz tidak sendirian dalam mengaitkan virus dengan tentara Tuhan. Setidaknya, ia menyebutkan bahwa ada delapan ulama yang berpendapat sama dengannya. Jumlah tersebut bisa lebih banyak jika dicermati dalam tayangan YouTube dan media sosial.

Sikap para ustaz di atas menggambarkan bagaimana sebagian orang yang dianggap mempunyai otoritas untuk berbicara tentang Islam memberikan pandangan tentang fenomena ilmiah dengan cara keagamaan tanpa memberikan argumentasi yang memadai. Mereka bahkan mencoba mengaitkan fenomena tersebut dengan isu-isu politik yang secara empiris belum bisa dibuktikan.

Mengatakan bahwa virus Corona merupakan tentara Allah yang dikirim untuk melindungi Muslim Uighur hanya berdasarkan asumsi politik identitas, yang seharusnya dijelaskan dengan ilmu medis, merupakan gambaran tentang timpang dan cacatnya logika yang digunakan untuk membangun kesimpulan keagamaan. Hal ini mempunyai efek buruk, tak hanya bagi popularitas mereka, tapi juga berimbas kepada otoritas ulama, yang selama ini dianggap sebagai kelompok sosial yang mulai kehilangan nalar ilmiah mereka.

Sayangnya, penjelasan tentang fakta ilmiah yang dikaitkan dengan politik identitas sangat menarik perhatian Muslim muda yang awam. Mereka menyebarkan asumsi tersebut di sejumlah media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram secara masif yang tampak menarik di luar. Namun, hal ini pada akhirnya memberikan kesan bahwa ulama mengalami penurunan sikap ilmiah dan kurang menjaga amanah yang sebelumnya dijaga dengan ketat. Ulama mulai dianggap berbicara tentang hal yang kurang dimengerti oleh mereka sendiri. Mereka dianggap menggunakan asumsi sebagai dalil keagamaan yang bisa digunakan untuk memberikan fatwa yang argumentatif. Corona memang menakutkan semua orang. Namun, yang lebih menyedihkan adalah, kemampuannya dapat memudarkan otoritas dan kepakaran ulama.

Leave a Comment

X