Menundukkan Nafsu

Apakah tanda-tanda orang yang sudah berhasil menundukkan hawa nafsunya? Apa ciri orang yang telah berhasil membebaskan dirinya dari maksiat? Dalam cuplikan puisi pendek di bawah ini, Rumi mengatakan:

Kumau hati yang terbelah kerat oleh nyeri terpisah dari-Nya.

Demi kubisa luapkan rindu dan keluhku pada-Nya.

Orang yang hidupnya masih banyak didorong dan dihabiskan untuk mengumbar nafsunya, adalah orang yang lupa akan kekasihnya, yang tersimpangkan dan terlenakan dari kerinduan kepada Allah. Sebab, kegembiraan-kegembiraan yang dikejarnya itu sesungguhnya hanyalah tipuan. Jadi, jika seseorang memiliki banyak harta, bisa membeli apa saja yang dia inginkan, lalu dengan itu dia merasa telah mendapatkan kegembiraan; atau oleh kekuasaan maupun ketenaran yang dimilikinya bisa mendapatkan apa saja, maka sesungguhnya ia adalah orang yang ghafil –yakni, orang yang mengalami ghaflah, kelalaian, keterlenaan. Ketika kerinduannya kepada Tuhan terbenam oleh cinta dunia ini, pada kenyataannya dia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan sejati, meskipun hidupnya seolah-oleh dipenuhi kegembiraan-kegembiraan.

Bagi orang yang berhasil mencapai satu tingkat permulaan, yang darinya dia bisa memulai perjalanan spiritualnya, maka hal-hal yang bersifat fisik duniawi, dan berfungsi untuk memuasi jiwa rendah, sudah tidak lagi menarik hatinya. Dia sudah melepaskan diri dari semua itu; hidup sederhana, dan tidak lagi dikerumuni oleh orang-orang yang mungkin menjilatinya demi kepentingan duniawi. Dia hidup sepi, tak berada di dalam keramaian pergaulan dengan manusia, tidak lagi mendapatkan kenikmatan dari makan banyak, konsumsi yang banyak, tidak pula banyak tidur. Mereka telah mampu membebaskan diri dari semua itu, sehingga jiwa mereka menjadi kosong dan menganga, karena jauh dari Allah. Tidak ada lagi nafsu yang menimbuninya. Perasaan hati yang menganga ingin dipuasi inilah sebetulnya tanda pertama bahwa seseorang sudah siap untuk menempuh perjalanan spiritual kembali kepada Allah . Dalam keadaan hatinya menganga, ia mengharapkan sesuatu yang dirindukannya. Dalam kondisi demikian, sesungguhnya dia tidak bisa lain kecuali mencari apa yang bisa mengisi hatinya, mencari kekasih yang bisa memuasi dahaganya akan cinta. Dan orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang sepintas dari luar tampak sebagai orang-orang yang mengalami kesedihan, sebab ia merasa ada jarak yang memisahkannya dari kekasih yang dia dirindukan.

Bersedih hati –dalam makna positif- adalah bagian dari modal kita untuk siap menempuh perjalanan tasawuf. Inilah alasan Rumi mengatakan, “Kumau hati yang terbelah”, hati yang pecah, hati yang patah. “Kerat demi kerat oleh nyeri”, oleh kesedihan karena kosongnya jiwa. Persisnya, bukan jiwa kosong yang kemudian diganjal oleh hal-hal duniawi, yang sesungguhnya justru menipu dan tidak memberikan kebahagiaan sejati. “Oleh nyeri terpisah dari-Nya”,  maksudnya dari Allah. “Demi kubisa luapkan rindu dan keluhku pada-Nya.”

Inilah di antara ciri-ciri atau syarat-syarat bagi orang yang akan menempuh jalan tasawuf, sebagaimana tercermin dalam puisi Rumi di atas. [] Haidar Bagir

*Tulisan ini diambil dari buku DAMA (Dari Allah Menuju Allah)

Islam (Juga) Agama Cinta

Dalam fenomenologi agama, sebagaimana terungkap oleh Rudolph Otto, disebutkan ada dua situasi pertemuan manusia dengan Tuhannya. Dalam situasi pertama, Tuhan tampil dihadapan manusia sebagai suatu “misteri yang menggetarkan” (mysterium tremendum). Pada situasi lainnya, Ia hadir sebagai “misteri yang memesonakan” (mysterium fascinans). Biasanya, para ahli –seperti Van der Leuw- melihat Islam (dan juga agama Yahudi) sebagai mewakili situasi yang pertama. Secara hampir refleks, para ahli seperti ini pun me-reserve situasi yang kedua –yang didominasi cinta- untuk Kekristenan. Namun, para ahli mengenai aspek esoterisme Islam (spiritualitas Islam atau tasawuf) yang lebih belakangan, seperti diwakili dengan baik oleh Annemarie Schimmel, melihat Islam sebagai tak kurang-kurang mempromosikan orientasi cinta dalam hubungan antara manusia dan Tuhannya. Bahkan, seperti akan diuraikan di bawah ini, dalam hal ini Islam justru lebih memujikan orientasi cinta daripada orientasi yang didominasi rasa takut.

Untuk memulai pembahasan mengenai soal ini, perlu disampaikan bahwa khazanah pemikiran Islam klasik sesungguhnya juga telah mengenal kedua situasi pertemuan manusia dan Tuhannya ini. Yakni, aspek kedahsyatan yang menggetarkan (disebut jalal) dan aspek kehidupan yang memesonakan (jamal). Namun, adalah benar juga bahwa selama berabad-abad –khususnya selama berabad-abad modernistik belakangan ini- kaum Muslim seperti lupa pada sisi esoteris agama mereka yang melihat hubungan manusia-Tuhan sebagai kecintaan makhluk kepada keindahan-memesonakan Sang Khalik. Jadilah Islam, seperti diungkapkan oleh para ahli fenomenologi agama itu, sebagai suatu agama yang secara eksoteris melulu berorientasi nomos (syari’ah dalam arti sempit, hukum) dan kering dari orientasi eros (cinta, hubb).

“Kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu an u’raf. Fa khalaqtu al-khalaqa li kai u’raf” (Aku adalah perbendaharaan yang terpendam. Aku ingin sekali (ahbabtu) untuk dikenal. Maka, Aku ciptakanlah alam semesta). Demikianlah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam suatu hadis qudsi. Basis dari penciptaan sejak awal-mulanya, menurut hadis yang merupakan kutipan standar dalam hampir setiap uraian tasawuf ini, adalah kerinduan atau kecintaan Tuhan akan (ma’rifah) manusia. Lepas dari “opini” para sufi ini, Al-Quran menegaskan hubungan cinta antara Allah Sang Pencipta (Alwadud) dan manusia (lihat, antara lain, Al-Quran Surah Al-Ma’idah [5]: 54, Al-Baqarah [2]: 165). Inilah salah satunya: “Adapun orang-orang yang beriman itu, sangat dalam kecintaan mereka kepada Allah.”

Menurut salah satu peneliti, bukan saja lebih banyak porsi dalam 99 Nama Allah (Al-Asma’ Al-Husna) bagi nama-nama yang termasuk dalam aspek jamal Allah SWT., seperti Maha Pengasih (Al-Rahman), Maha Penyayang (Al-Rahim), Maha Pencinta (Al-Wadud), Maha Pemaaf (Al-Ghafur), Maha Penyabar (Al-Shabur), Maha Lembut (Al-Lathif), dan seterusnya. Bahkan di dalam Al-Quran terdapat lima kali lebih banyak ayat yang mengandung nama jamaliyah ini daripada jalaliyah. Dengan kata lain, Allah menampilkan dirinya sendiri –dan tak ada yang dapat menampilkan Allah kecuali diri-Nya sendiri- lebih sebagai Zat yang indah dan memesona serta menimbulkan cinta kasih, daripada sebagai suatu misteri dahsyat yang menggetarkan. Itu sebabnya dalam sebuah hadis disabdakan: “Allah adalah cinta”.

Kenyataan ini tentu sama sekali tak berarti bahwa kita harus mengabaikan penampilan Allah SWT., dalam segenap kedahsyatan-Nya. Tetapi, bahwa segenap kedahsyatan Allah itu –kemurkaan, pemaksaan, janji pembalasan-Nya terhadap kejahatan makhluk, dan sebagainya- merupakan bagian dari kecintaan-Nya kepada makhluk. Dalam sebuah hadis qudsi, disebutkan bahwa Allah SWT., berfirman: “Sesungguhnya kasih sayang-Ku mendahului kemurkaan-Ku”. Di dalam Al-Quran, Dia sendiri menyatakan sebagai “telah menetapkan atas Diri-Nya sifat pengasih (Rahmat)”, serta mengajarkan bahwa Rahmat-Nya “seluas langit dan bumi” dan “meliputi segala sesuatu”. Sejalan dengan itu, Nabi-Nya pernah mengabarkan kepada kita bahwa: “Allah memiliki seratus rahmat. (Hanya) satu yang ditebarkan-Nya ke atas alam semesta, dan itu sudah cukup untuk menanamkan kecintaan di hati para ibu kepada anak-anaknya.” Sehingga, tutup hadis itu, “seekor induk kuda mengangkat kakinya agar tak menginjak anaknya, dan seekor ayam betina mengembangkan sayapnya untuk anak-anaknya berlindung di bawahnya.”

Menurut Ibnu ‘Arabi, “Tidak ada perkataan ilahi dari Allah SWT yang mengindikasikan sifat jalaliyah-Nya tanpa dibarengi dengan sifat jamaliyah-Nya. Hal demikian berlaku dalam semua kitab suci, bahkan dalam segala sesuatu.”

Sayangnya, dalam segenap kegentaran kita kepada kedahsyatan (jalal) Allah SWT., banyak di antara kita sulit membayangkan bentuk hubungan cinta antara Yang Mahasegala dan makhluk ringkih bernama manusia ini. Paling banter, orang akan menafsirkannya sebagai sinonim dari keterikatan atau ketaatan seorang hamba (‘abd) yang takut kepada Tuhan (Rabb)-nya.

Untuk membuyarkan fiksasi kita tentang Allah yang menakutkan ini, izinkan saya mengungkapkan simbolisasi Ibn ‘Arabi dalam karya besarnya, Fushush Al-Hikam. Hubungan cinta antara Allah dan manusia, kata sang sufi besar yang kontroversial ini, adalah seperti hubungan cinta antara manusia lelaki dan perempuan. (“Inilah”, kata Ibn ‘Arabi, hikmah hadis termasyhur Nabi mengenai kecintaan beliau kepada perempuan, di samping kepada shalat dan wewangian. Bisa jadi pada awalnya sang sufi besar itu berpikir: pasti ada hikmah yang lebih ‘sakral’ di balik kesukaan sang Manusia Sempurna kepada objek-objek profan yang tampak ‘remeh-temeh’ itu”). Artinya, kecintaan Allah kepada manusia –dan yang sebaliknya- adalah seperti cinta-kasih dua sejoli anak manusia yang asyik-masyuk (istilah bahasa Arab yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia ini sebetulnya merupakan bentukan dari kata ‘isyq –berarti cinta- yang merupakan salah satu istilah kunci dalam tasawuf). Banyak sekali ujaran-ujaran para sufi besar lainnya mengenai hal ini.

Selain sufi-sufi seperti Ibn ‘Arabi dan Ibn Al-Faridh, yang menonjol di antaranya adalah sufi perempuan, Rabi’ah Al-‘Adawiyah. Ia dikenal dengan syair-syair menggetarkan yang menunjukkan hubungan cinta kasih antara manusia dan Tuhan:

“Ya Allah,” demikian munajatnya di suatu malam, “saat ini gelap telah menyelimuti bumi. Lentera-lentera telah dimatikan, dan para manusia telah berdua-dua dengan kekasihnya. Maka, inilah aku, mengharapkan-Mu.”

Diriwayatkan ia pernah ditemui sebagai seseorang yang berjalan di jalanan Kota Baghdad sambil membawa obor di salah satu tangannya yang lain. Ketika ditanya orang tentang tujuannya, ia menjawab, “Aku akan menyalakan surga dengan obor ini, dan memadamkan api neraka dengan seember air ini.” Memang Rabi’ah juga dikenal luas dengan syairnya:

“Ya Allah jika aku menyembah-Mu karena berharap surga-Mu, maka jauhkanlah surga itu dariku. Jika aku menyembah-Mu karena takut neraka-Mu, maka masukkan aku ke dalamnya. Tetapi, janganlah halangi aku dari melihat Wajah-Mu.”

Munajat Rabi’ah ini kiranya sejalan belaka dengan berbagai ujaran ‘Ali ibn Abi Thalib -sahabat dan penerima wasiat Nabi, guru para sufi awal, dan pangkal hampir seluruh silsilah tarikat– khususnya bagian-bagian tertentu dalam Doa Kumail yang diajarkan Nabi kepadanya”

“… kalaupun aku sabar menanggung beban-penderitaan (di neraka) bersama musuh-musuh-Mu dan Kau kumpulkan aku dengan para penerima siksa-Mu, dan kau ceraikan aku dari para kekasih dan sahabat-Mu … kalaupun aku, wahai Ilah-ku, Tuanku, Sahabatku dan Rabbku, sabar menanggung siksa-Mu, bagaimana bisa akan bersabar dalam menanggung perpisahan dengan-Mu … kalaupun aku bisa bersabar menanggung panas-neraka-MU, bagaimana bisa aku bersabar dari melihat kemuliaan-Mu …”

Dalam konteks ini, menjadi terpahamkan ketika, suatu kali, ‘Ali “menyindir” ibadah ala budak yang ketakutan, atau ala pedagang yang selalu menghitung-hitung imbalan, seraya memuji hubungan yang berlandaskan cinta. [] Haidar Bagir

*Tulisan ini merupakan potongan pengantar yang dibuat oleh Dr. Haidar Bagir untuk buku Agama Cinta, Agama Masa Depan.  

Beragama Dengan Rasa Cinta

Oleh Haidar Bagir

Tentang Keberagamaan

Saya bukan sedang bicara soal agama. Agama saya imani sebagai produk wahyu dari Tuhan. Sakral. Tapi ini tentang keberagamaan, cara kita memahami dan mempraktikkan agama kita. Saya merasa keberagamaan sebagian kita sekarang lebih bersifat negatif dan destruktif.

Agama bagi sebagian (cukup banyak) kita telah jadi sarana pengerasan identitas politik dan kelompok, yang melahirkan eksklusivisme dan konflik dengan liyan (yang lain-red). Bahkan kebencian. Padahal sesungguhnya agama adalah sumber kasih, persaudaraan, toleransi, dan kedamaian. Mari beragama dengan rasa cinta.

Tentang Ateisme

Sementara itu, orang yang disebut ateis, malah banyak yang mendedikasikan hidupnya untuk kebaikan, kebenaran, dan keindahan. Mereka itu boleh jadi lebih “ber-Tuhan” ketimbang orang yang (mengaku) beriman tapi jahat, tak punya integritas dan rasa keindahan. Karena sesungguhnya Tuhan itu Sumber Segala Kebaikan, Kebenaran, dan Keindahan.

Karena, sesungguhnya, orang ateis seringkali bukan tak percaya pada keberadaan Tuhan – meski tentu ada yang demikian – melainkan tak percaya pada Tuhan Personal. Inilah juga definisi ateisme dalam studi-studi yang lebih akademis. Mereka percaya pada Tuhan, tapi yang bersifat Impersonal, dalam wujud Kebaikan, Kebenaran, dan Keindahan tersebut. Meski kadang orang-orang ateis itu sendiri tak menyadari, karena mereka menganggap/mengira Tuhannya agama itu cuma bersifat Personal.

Tentang Agnostik

Sedangkan orang agnostik (orang yang meragukan suatu kebenaran-red) itu berbakat beriman, karena iman selalu mengandung kesadaran akan keterbatasan seluruh daya intelektual untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang misteri hidup: dari mana kita berasal, bagaimana seharusnya menjalani hidup di dunia, dan ke mana setelah mati. Dalam irfan (salah satu definisinya adalah “ungkapan pengalaman tasawuf”, meskipun masih banyak lagi definisi-definisi lainnya-red) ini disebut hayrah. Orang agnostik yang baik biasanya tak pernah berhenti mencari.

Tentang Keimanan

Maka, berbahagialah orang yang beriman. Mereka sudah sampai, sedikitnya ke salah satu tonggak dalam perjalanan menuju Tuhan. Betapa pun masih jauh. Tapi hendaknya imannya tidak saja menjadikannya taat kepada syariah – sebagai cara yang diajarkan Tuhan sendiri untuk mendekat kepada-Nya – melainkan, pada saat yang sama, menjalani agama dengan hidup senantiasa dalam kebaikan, setia pada dan tak pernah berhenti mencari kebenaran, dan penuh rasa keindahan. Dengan demikian, keimanannya bermanfaat bagi kebahagiaan hidupnya sendiri, dan bagi sesama makhluk Tuhan yang lainnya.

Percik Permenungan dan Doa Menyambut Ramadhan

Jika bulan Sya’ban disebut sebagai bulan Nabi, maka Ramadhan disebut bulan Allah. “Ibadah (di bulan) Puasa adalah untuk-Ku. Dan Aku sendiri yang menyampaikan pahalanya.” Begitu mulia amal-amal ibadah di bulan ini, hingga pahalanya datang langsung dari hadirat-keilahian tertinggi.

Memang puasa adalah ibadah yang istimewa. Khususnya jika kita upayakan mencapai tingkatan tertinggi dalam pelaksanaannya.

Menurut Imam Ghazali, ada tiga tingkatan puasa: (1) Puasa awam menahan diri dari makan, minum dan hubungan suami-isteri. (2) Puasa khawash (orang khusus, yang telah mencapai maqam spiritual tertentu), menahan diri juga dari akhlak buruk. Sedangkan (3) puasa khawashul-khawash (orang sangat khusus, yang telah mencapai maqam spiritual tertinggi) adalah menahan diri dari lintasan pemikiran buruk dalam hati. Bahkan menahan diri dari memikirkan apa pun selain mengingat Allah. Dalam ungkapan lain, ada puasa syari’ah, puasa thariqah, dan puasa haqiqah.

Dan jika sudah mencapai tingkatan tertinggi ini, ibadah (di bulan) puasa menjadi perwujudan anjuran Nabi saw agar kita mencapai keadaan “mati sebelum mati” (muutu qabla an tamuutu). Yakni, suatu  keadaan yang di dalamnya kita telah berhasil menaklukkan hawa nafsu, yang terpaut erat dengan badan. Dan dengan demikian menyediakan ruang selesa bagi beroperasi penuhnya ruhani kita – satu-satunya alasan yang menjadikan kita berhak disebut sebagai makhluk mulia bernama manusia.

Puasa mengajar kita bahwa, seperti kata Teilhard de Chardin, “Kita bukan wujud manusiawi yang menjalani pengalaman spiritual, tapi wujud spiritual yang menjalani pengalaman manusiawi.” Bahwa sesungguhnya rumah kita ada di dunia sana. Di sini kita cuma mampir saja.

Semoga Allah mengaruniai kita hidayah (petunjuk), ‘inayah (dukungan) dan tawfiiq(kesesuaian dengan kehendak-Nya) dalam kita menjalani puasa Ramadhan tahun ini, dengan iman dan ihtisaab (kepasrahan penuh, cuma demi ridha-Nya semata) dan agar dapat kita pulihkan fitrah kita.

Ya Rabb, karuniai kami kemampuan merasakan manisnya ibadah di bulan suci-Mu, ketelatenan mendaras Kitab-Mu, kekuatan menghidupkan malam demi bermunajat kepada-Mu, kehangatan hati dalam menyantuni fakir miskin sahabat-sahabat-Mu, dan keperkasaan memerangi nafsu angkara diri.

Yaa, Rabb. Sudah banyak Ramadhan berlalu. Selalu membuncah kegembiraan kami menyambutnya. Seperti anak-anak menunggu buah tangan dari ayah yang akan datang dari luar kota. Tapi kenapa belum juga manisnya begitu terasa? Kiranya cuma tarikan-Mu yang dapat membawa kami kepada kebahagiaan sejati bersama-Mu.

Ramadhan Mubarak…[]

(Haidar Bagir)

Puasa adalah Miniatur Suluk

Suluk atau jalan/praktik/laku bertasawuf biasa dipahami sebagai melakukan mujahadah (perjuangan keras menaklukkan hawa nafsu/keakuan yang bisa mendorong kepada maksiat) dan riyadhah (praktik spiritual melakukan pendekatan kepada Allah lewat ibadah wajib dan sunnah, serta berbagai bacaan zikir, wirid, dan hizib).

Tujuan puncaknya adalah mencapai Ihsan. Yakni, hubungan pemujaan/cinta kepada Allah, yang begitu intens, dalam bentuk masuknya kita ke hadirat Ilahiyah, dalam pertemuan berhadap-hadapan/musyahadah dengan-Nya. Dalam ungkapan berbeda, segitiga mujahadah-riyadhah-ihsan ini biasa dirujuk sebagai proses takhalliy- tahalliy-tajalliy.

Takhalliy, bermakna pengosongan. Maknanya sejajar dengan mujahadah. Yakni pengosongan hati kita dari nafsu keakuan/egoisme yang cenderung mendorong kita untuk berbuat maksiat. Tahalliy, bermakna penghiasan. Kiranya sejajar dengan riyadhah. Yakni mengisi hati kita dengan nilai-nilai ibadah yang sesungguhnya  mencakup bukan hanya gerakan-gerakan lahir, tetapi lebih penting lagi merupakan aktivitas batin.

Jika selesai kita dengan takhalliy dan tahalliy, maka kita pun akan mencapai tahap ber-tajalliy-nya Allah Swt. di dalam hati kita. Inilah tingkatan Ihsan. Sabda Nabi: “Allah itu indah dan menyukai keindahan”. Maka dia hanya akan bersemayam di tempat yang indah yang sudah terhiasi. Yakni hati yang sudah bebas dari nafsu amarah dan telah dipenuhi dengan ibadah-ibadah yg memenuhi nilai-nilai kekhusyukan dan kekhudhu’an (kehadiran dan merendahkan hati).

Ada 4 Rukun mujahadah:

1. Qillatut-tha’am, yang untuk masa sekarang kiranya lebih pas diterjemahkan sebagai “konsumsi seperlunya.” Biasa juga disebut dengan zuhud.

2. Qillatul manam, yakni tidur seperlunya. Biasa juga disebut sebagai sabar.

3. Qillatul kalam (bicara seperlunya). Biasa juga disebut dengan shamt.

4. Yang terakhir adalah i’tizalul anam (menarik diri dari pergaulan yang berlebihan). Biasa juga disebut sebagai ‘uzlah saja.

Ibnu Arabi menambah dengan unsur ke-5, yakni meniru Rasul Saw.

Mujahadah melepaskan beban-beban (maksiat) kita, sedang riyadhah menjadi sayap-sayap kita untuk terbang ke hadirat-Nya.

Lihatlah betapa ibadah (di bulan) puasa –termasuk berbagai anjuran mengisi waktu dengan memperbanyak ibadah sunnah, mendaras Quran, melakukan zikir-zikir dan wirid-wirid, qiyamul-lail– sesungguhnya merupakan miniatur dari suluk.

Termasuk meniru Nabi yang disebutkan dalam sunnah: “Nabi adalah orang yang banyak bersedekah. Tapi, dalam bulan puasa, sedekahnya seperti angin, mengalir ke sana dan ke mari tanpa henti.” Lihat betapa semua unsur mujahadah dan riyadhah ada di dalamnya.

Maka, jika seseorang hendak memiliki modal awal yang besar untuk bertasawuf atau bersuluk (sepanjang tahun), maka memaksimumkan kualitas ibadah (di bulan) puasa adalah jalan yang terbaik.

Itu pula sebabnya Allah begitu memuliakan ibadah (di bulan) puasa hingga ke tingkat ibadah termulia. Sedemikian hingga Dia berfirman: “Ash-shawmu lii wa anaa ajzii bih,” yang artinya, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan menyampaikan pahalanya.”

Mudah-mudahan Allah Swt memberikan hidayah, ‘inayah dan tawfiq-Nya agar kita bisa beribadah (di bulan) puasa yang telah menjelang, dengan sebaik-baiknya, sehingga hal ini bisa menjadi pembuka suluk kita menuju ihsan, menuju tajalli-Nya, terbang dari alam dunia rendah ini hingga sampai ke hadirat-Nya.[]

(Hadir Bagir)

Merayakan Kefakiran

Saya semakin lama semakin benar-benar paham makna hadis ini: “Hati manusia itu berada di antara 2 genggaman Allah”.  Manusia ini dengan nyamuk saja bisa kalah, apalagi kalau Pencipta kita mengurangi atau menambah hormon dan enzym-enzym yang diproduksi tubuh kita. Manusia bisa gila, depresi, atau skizoprenik, tanpa dia sendiri bisa membetulkannya.

Untungnya ada versi hadis yg menyebutkan bahwa hati kita berada di antara dua jari/genggaman ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Penyayang). Jadi kita bisa merasa tenteram bahwa yg Maha Kuasa akan pada puncaknya memilihkan yang terbaik dalam kehidupan kita.

Kalau sudah begini, hanya orang tidak waras yang masih mau sombong. Baik sombong karena ras, status, kekayaan, maupun kepintaran. Apa pun yg dia punya adalah pemberian -bahkan hanya pinjaman – dari Dia yg mengendalikan kita. Sewaktu-waktu bisa diambil dari kita tanpa kita bisa berbuat apa pun.

Maka, kalau pintar, kaya, atau berkuasa, orang bijak akan menggunakan semuanya itu untuk menolong orang, menolong sesama makhluk Tuhan, sambil tetap tak pernah lupa untuk rendah hati. Lagi pula, orang (lebih) pintar dari kita itu banyak. Jangan minteri (sok), saling belajar saja. Mudah-mudahan dengan  itu kita bisa hidup bahagia.

Ya, manusia ini fakir; bukan hanya tak berdaya, tapi tak tahu apa-apa.  Bagi manusia, semulia apa pun posisinya di bumi, semua kehidupan ini hanya bayangan, di balik bayangan, di balik bayangan, di balik bayangan, sampai mungkin ada ribuan lapis bayangan. Yang kita persepsi ini hanya kerlip dari sumber cahaya yang jauh, setelah dipantulkan mungkin ribuan kali.

Kata Nabi, “al-faqru fachriy”. Sebuah permainan kata yang cerdas, “kefakiran adalah kebanggaanku”. Karena hanya orang waras/intelligen yg sadar kefakiran dirinya, di hadapan ke-Maha Kuasa-an Allah.

Di samping itu, fakir terhadap Allah yg Maha Rahman itu enak. Hidup kita justru akan terjamin. Yang paling dahsyat itu adalah; Nabi yang -dalam mi’raj telah mencapai martabat “kebersatuan” dengan Allah, martabat qaaba qawsayn (dua busur panah)- masih menyatakan “kefakiran adalah kebanggaanku”. Ini membenarkan kesadaran kita bahwa kehidupan kita -yang nowhere near the Prophet  Saw- sesungguhnya, jangankan “kerlip” sinar yang sudah dipantulkan beribu kali itu”, bahkan kerlip sinar yg dipantulkan tak terbatas kali. We’re (almost) nothing!!!

Hal ini akan menjadi jelas kalau kita ilustrasikan melalui kisah pertemuan Rumi dengan Syams Tabrizi yang amat terkenal itu.

Suatu kali, Rumi yg memiliki jabatan yg dimuliakan di Konya, sedang menaiki kudanya dengan gagah di jalanan kota Konya. Tiba-tiba dia melihat seorang bertubuh kecil berpenampilan sufi qalandari -dengan baju dan rambut acak-acakan- menghentikan perjalanannya. Di luar dugaan Rumi, sang qalandar mendadak sontak bertanya: “Siapa yang lebih mulia, Nabi Muhammad atau Bayazid Busthami?”. Rumi yang shocked menanggapi: “Pertanyaan apa ini?” Jawab si qalandar: “Nabi mengatakan tentang Tuhan: ‘Kami tak bisa memuji-Mu sebagaimana Kau seharusnya dipuji’, sementara Bayazid berkata: ‘Maha Suci Aku. Betapa Agung keadaanku’. Rumi kebingungan, lalu si qalandar melanjutkan: “Tentu Nabi yang lebih mulia. Nabi yg sudah begitu tinggi pengetahuannya tentang Tuhan, masih menyadari bahwa Tuhan jauh lebih luhur dari itu. Sedang Bayazid, dengan pengetahuan ketuhanan yg masih jauh lebih rendah dari Nabi, sudah merasa mencapai tingkat kebersatuan dengan-Nya'”

Ya, jangan bicara tentang Nabi Saw, bahkan terhadap Bayazid kita tak bisa diperbandingan. Maka, masih adakah jalan lain bagi manusia tak berdaya ini kecuali bersujud di hadapan-Nya? []

(Haidar Bagir)

Islam dan Budaya Lokal dalam Perspektif ‘Irfan

Oleh Haidar Bagir

Belakangan ini wacana agama banyak diwarnai dengan kekhawatiran menguatnya eksklusivisme legal-tekstual bersama masuknya faham Islam transnasional yang, sayangnya, cenderung bermusuhan dengan budaya dan produk-produknya. Masih belum hilang ingatan kita kepada Talibanisme yang menghancurkan patung Buddha di Bamiyan, Afghanistan, ketika sekarang kita dihadapkan pada gejala NI (Negara Islam, di Irak dan Syam) yang jauh lebih radikal, puritan, dan brutal, bahkan dibanding Alqaidah yang merupakan akar-awalnya. Bukan saja memusuhi dan mebantai semua kelompok yang berbeda dengannya, tak peduli Muslim atau bukan, kelompok ini menampilkan permusuhan luar biasa terhadap manifestasi-manifestasi budaya (lokal). Bukan hanya dalam kaitannya dengan keberdayaan artefak-artefak budaya, melainkan secara langsung menabrak semua manifestasi budaya lokal, termasuk pemikiran dan tradisi-tradisi yang dilahirkan darinya. Yanglebih mengagetkan, ada banyak isyarat bahwa tawaran puritanisme NI ini ternyata seperti mendapatkan penerimaan di kalangan sementara umat Islam, tak terkecuali di negeri kita.

Di sisi lain, dengan menguatnya gejala globalisasi yang berakibat pada derasnya arus homogenisasi-hegemonik “budaya Barat” – kalau ia bisa disebut sebagai budaya Barat – atas bangsa-bangsa, ada kekhawatiran memudarnya nasionalisme generasi muda kita, sekaligus kekhawatiran rentannya mereka terhadap pengaruh negatif/eksesif “budaya” luar itu. Karena itu menjadi penting revitalisasi wacana agama dan budaya demi memperbarui keyakinan kita mengenai kongruensi agama dan budaya, bahkan jika dilihat dari sudut pandang agama itu sendiri.

Ada beberapa cara yang dapat dipakai dalam memandang hubungan agama dan budaya, hubungan antara keberagamaan dan kebudayaan. Pertama, melihat agama sebagai menghargai budaya sebagai sumber kearifan. Dalam Islam, kebangsaan dan etnisitas – yang menjadi lokus budaya — dilihat  secara positif sebagai sumber  kearifan (wisdom). “Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan suku-suku agar kamu dapat saling belajar kearifan (li ta’arafu). Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu adalah yang paling sadar-Tuhan (bertakwa).” (Al-Qur’an 49:13)

Kedua, melihat budaya sebagai warisan hikmah ketuhanan yang diturunkan lewat Nabi-nabi yang pernah diutus Tuhan sepanjang sejarah umat manusia. “Bagi tiap-tiap umat seorang Rasul.” (Al-Qur’an 10:47), sementara sebuah sabda Nabi bahwa jumlah seluruh nabi yang pernah diutus Tuhan adalah tak kurang dari 124.000 orang. Dari sinilah sebagian ahli menyatakan bahwa sesungguhnya peninggalan budaya – selama bisa dibuktikan tak bertentangan dengan aturan agama yang pasti keberadaan (qath’iy al-wurud) dan pemahamannya (qath’iy al-dilalah) — sedikit atau banyak adalah peninggalan nabi. Dengan demikian, bukan saja ia boleh dianut, budaya memiliki tempat yang absah (legitimate), kalau tak malah memiliki tingkat kesakralan tertentu.

Dengan ungkapan berbeda,  dipandang dari perspektif “syariah-diam” — yang di dalamnya syariah dipecayai hanya mengatur sebatas tertentu domain kehidupan dan bersikap diam (sukut) pada yang lainnya — budaya bukanlah domain  (langsung) agama. Budaya masuk dalam “urusan-urusan dunia” (umur al-dunya) yang profan saja dan kembali kepada asal-hukum, yakni boleh-boleh (mubah) saja. Jika dipandang dari sisi syariah-liberal — bahwa syari’ah memiliki sifat keluwesan yang memungkinkannya menginklusi hal-hal yang tak secara spesifik dicakupnya — budaya bahkan (dapat) masuk dalam domain agama ketika pertimbangan kemaslahatan diutamakan. Di sini kemudian terlibat wacana tentang tujuan-tujuan – lebih tinggi/puncak – syari’ah  (maqashid al-syari’ah) yang lebih berorientasi pada kemaslahatan tersebut, sebagai berbeda dari tujuan langsung (legal-tekstual).  Inilah kurang lebih dasar pemikiran sebagian orang yang berupaya menunjukkan kesejajaran budaya dan agama, sebagaimana KH. Abdurrahman Wahid dengan gagasan pribumisasi Islam atau Tariq Ramadan dengan gagasannya tentang Muslim-Eropa.

Masih terkait dengan 2 ayat yang dikutip di awal pembahasan, dipandang dari sudut disiplin ‘Irfan (tasawuf teoretis) – dengan Ibn ‘Arabi sebagai proponen-utamanya –budaya lebih berpeluang memiliki tempat yang sakral dalam keberagamaan. Sebelum yang lain-lain, dalam ‘Irfan Tuhan dipercayai sebagai Wujud Transenden yang, pada saat yang sama, ber-tajalli (bermanifestasi, mengejawantah) dalam ciptaan-ciptaan-Nya. Dengan kata lain, setiap makhluk membawa dalam dirinya nama sifat/ayat (tanda) Allah Swt. Sehingga, dalam konteks ini, Tuhan memiliki 2 sifat-paradoksal sekaligus, sifat transenden (tanzih) dan sifat imanen (tasybih) terhadap ciptaan-Nya. Dalam kaitan ini, setiap ciptaan, sesuai dengan sifat-sifat-bawaannya (kesiapan, predisposisi, isti’dad-nya) merupakan wadah (mazh-haratau lokus) pengejawantahan Tuhan. Inilah ajaran utama dalam faham tawhid wujudi (kesatuan wujudi/eksistensial)atau wahdah al-wujud (kesatuan wujud).[1]

Selanjutnya, Tuhan bermanifestasi bukan hanya pada ciptaan fisik, yakni fisik alam dan manusia,melainkan juga pada ciptaan-ciptaan non-fisiknya, termasuk hukum-hukum alam, hukum-hukum kemanusiaan (psikologi, sosiologi, sejarah, politik, dan sebagainya), termasuk budaya. Beragam budaya yang ada, dengan segala keunikannya, adalah lokus-lokus unik dari manifestasi-Nya. Dengan kata lain, budaya adalah juga tanda-tanda (ayat) Tuhan, tanda-tanda yang membawa kebenaran ketuhanan. Maka, sebagaimana mempelajari diri manusia dan alam semesta dapat memberi kita pengetahuan dan kedekatan dengan Tuhan, maka belajar dan menghayati budaya merupakan sumber pengetahuan dan penghayatan terhadap agama itu sendiri.

Sebagai konsekuensinya, orang Indonesia, Muslim bukan hanya dapat  memeluk, melainkan wajib memelihara budaya Indonesia. Pertanyaannya, seperti apa budaya Indonesia itu? Sutan Takdir Alisjahbana pernah mengupas budaya Nusantara, yang ia sebut memiliki tiga lapisan. Pertama, lapisan budaya asli Indonesia yang lebih kurang masih mitis.  Kedua, lapisan budaya Hindu (India) yang telah diwarnai oleh budaya literasi. Ketiga, lapisan budaya Islam yang, menurut Alisjahbana, telah membawa bersamanya rasionalisme keagamaan dan ilmu pengetahuan.[2]

Yang mungkin agak lepas dari perhatian Alisjahbana adalah bahwa budaya Islam mayoritas bangsa Indonesia sesungguhnya tidak semodernis itu –yakni dalam makna asli istilah “modern” itu sendiri. Lepas dari masuknya pengaruh (terbatas) modernisasi di akhir abad 19 hingga paruh pertama abad 20, lapis Islam pun sesungguhnya masih banyak dikuasai oleh spiritualisme, bahkan panteisme (monistik) yang menekankan kebersatuan manusia dengan alam selebihnya dan Tuhan[3]. Bahkan, ada kemungkinan besar bahwa penerimaan Islam secara luas dan penuh kedamaian oleh bangsa Nusantara berhutang banyak pada kenyataan kesejalanan faham keislaman panteistik yang dibawa Walisongo dan para pendakwah setelahnya dengan teologi Hinduisme (Vedantic, bukan populer) yang telah tertanam dalam budaya pemikiran bangsa Nusantara sebelumnya.[4] Studi-studi lain tentang budaya yang terbentuk di bawah pengaruh agama-agama asli Indonesia – termasuk Kapitayan, Sunda Wiwitan, Kaharingan, termasuk agama-agama asli Indonesia yang berkembang di luar Jawa –juga menunjukkan kuatnya pengaruh faham panteisme ini.

Pada kenyataannya, dalam penelitian yang lebih serius, bukan hanya Syaikh Siti Jenar, tapi para anggota Walisongo secara keseluruhan adalah para guru panteisme (tawhid wujudi). Lebih dari itu,  para ulama besar Nusantara yang datang setelah itu juga berada dalam jalur pemahaman Islam yang sama. Termasuk di dalamnya Hamzah Al-Fansuri (c 1600M), Syams Al-Dîn al-Sumatrânî (c. 1700M), bahkan kaum sufi yang “lebih ortodoks” seperti Nuruddin Al-Raniri (c. 1600M),  ‘Abd Al-Ra’ûf Sinkel (1615-1693), ‘Abd Al-Shamad Al-Palimbani (c.1700M), Syaikh Yusuf Makassari (l626). Di Jawa kita kenal juga Ronggowarsito (c. 1800), serta Muhyiddin Al-Jawi(c. 1821). Sebelum itu Nusantara juga mengenal pemikiran-pemikiran Islam yang bersifat panteistik sebagaimana terekam dalam Serat Cebolek yang digubah oleh Raden Ngabehi Yasadipura I, pujangga Surakarta yang hidup pada masa pemerintahan Pakububuwana II (1726-1749 M) dan Pakubuwana III (1749-1788 M), serta Serat Centhini, yang disusun di sekitar 1814M, atau pun Wulang rehkarya Pakubuwono IV (1768M-1820M). Kita juga mengenal Ki Ageng Suryomentaram (1892M-1962M), seorang pangeran putra Sultan Hamengkubuwono VII. Yang kadang mengagetkan sebagian orang, meski tidak dianggap sebagai ulama, Pangeran Diponegoro (1785M-1855) – seperti antara lain diungkap oleh Peter Carey) – adalah penganut faham yang sama.[5]

Akhirnya, beberapa catatan perlu disertakan di sini. Pertama, tanpa mengabaikan budaya rasionalistik dan keilmuan, yang dalam terminologi Van Peursen[6] disebut sebagai melampaui tahap ontologis menuju fungsional, sesungguhnya spiritualisme panteistik—yang berorientasi pada etika dan keselarasan alam—semesta (tahap mistis) inilah yang menjadi kekuatan budaya Nusantara. Ketiga tahap kebudayaan itu memang tak seharusnya dilihat sebagai perkembangan yang saling mengeksklusi. Apalagi bersifat historis belaka, melainkan sebagai tiga unsur yang tak pernah kehilangan relevansinya dalam membentuk setiap kebudayaan. Ini penting bukan saja agar kita dapat tetap memiliki kuda-kuda yang kuat dalam ”menyaring” terpaan hegemoni budaya yang eksesif, juga demi memiliki bekal indigenous yang dapat dikontribusikan pada pembentukan budaya kemanusiaan yang progresif (berkemajuan).

Kedua, dengan menggagas Islam Indonesia demikian, tentu saja kita tak sedang berpikir tentang suatu kebudayaan chauvinistik dalam isolasi. Justru sebaliknya, kita meyakini kewajiban kita dalam berkontribusi terhadap budaya Islam yang lebih universal, pada khususnya,  serta peradaban dunia, pada umumnya. Yaitu, dengan menawarkan sumber alternatif pembentukan kebudayaan sesuai kekayaan khazanah kebudayaan kita dan keyakinan kita padanya.

Terakhir, seperti telah disinggung di awal tulisan, dengan mempromosikan keakraban Islam dengan budaya lokal, tak dengan demikian kita kehilangan penglihatan akan adanya kemungkinan inkongruensi ajaran qath’i dengan unsur-unsur budaya lokal dalam perkembangannya hingga saat ini. Budaya lokal bisa merupakan bagian dari tajalliy Tuhan, atau warisan keagamaan Nabi-nabi terdahulu. Pada saat yang sama, bukan tak mungkin ia adalah penyimpangan dari ajaran keagamaan. Maka di sini sikap kritis-dialogis perlu dikembangkan agar keakraban agama dengan budaya lokal, sebaliknya dari mendistorsi ajaran Islam, bisa justru memperkuat akarnya dalam masyarakat.


[1]Faham tawhid wujudi, meski tak selalu benar, biasa dikaitkan dengan panteisme atau faham “manunggaling kawula gusti”. Mesti tak sepenuhnya salah, kedua faham yang disebut terdahulu cenderung menakankan hanya pada aspek imanensi Tuhan, dan kurang mengaitkannya dengan transendensi-Nya yang merupakan kesatuan tak terpisahkan dengannya.

[2]Baca dalamSunan Takdir Alisjahbana, Indonesia: Social and Cultural Revolution, terjemahan Ben Anderson(Oxford University Press, 1966).

[3]Ada beberapa teori tentang masuknya faham panteisme (tawhid wujudi). Yang pertama lewat jaringan ulama Indonesia dengan ulama tasawuf di Jazirah Arab, yang ditandai oleh peredaran risalah Al-Tuhfah al-Mursalah li Ruh al-Nabiy saw. (PersembahanbagiRuh Sang Nabi saw.) karya Mu­ham­mad ibn Fadhl Allâh Burhânpûrî (w. 1029 H/1620 M), yang – atas permintaan para ulama “Jawi” di-syaraholeh Ibrahim al-Kurani (w. 1690) dalam Ithaf al-Dzakiy (resensi dan terjemahannya telah diterbitkan oleh Oman Fathurrahman, Mizan, Bandung, 2013). Spekulasi lain, lewat Thariqah ‘Alawiyah, yakni tasawuf akhlaqi yang dibawa oleh para pendakwah ‘Alawiyin dari Hadhramawt (lihat, Haidar Bagir, “Napas Cinta dari Hadhramaut”, Majalah Tempo, Minggu 12 Agustus 2012).

[4]Kesejalanan teologi atau teosofi Islam ‘Irfan dengan Hinduisme ini sudah banyak menjadi bahan kajian, khususnya dalam bentuk studi komparatif pemikiran Ibn ‘Arabi dan Shankara (sebagai misal, Reza Shah-Kazemi, Paths to Transcendence according to Shankara, Ibn ‘Arabi, Meister Eckhart, World Wisdom, Indiana, USA, 2006)

[5]Tercatat bahwa Pangeran Diponegoro menjadikan buku Tuhfah (al-Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabiy saw) karya Muhammad ibn Fadhlullah Burhanfuri  (1545 – 1620) – salah satu sumber utama berkembangnya faham wahdah al-wujud di Indonesia, sebagai bacaan favoritnya. Lihat Peter Carey, Destiny: The Life of Prince Diponegoro of Yogyakarta 1785–1855 , Oxford: Peter Lang, 2014.

[6]C.A. Van Peursen, Strategi Kebudayaan, terjemahan Dick Hartoko (Yogyakarta: Kanisius, 1988).

Benarkah Non-Muslim Identik dengan Kafir?

Oleh Haidar Bagir

Kufr adalah Penolakan terhadap Kebenaran

Kata “kafir’’ dalam Bahasa Arab (lihat al-munjid,misalnya) berasal dari kata ka-fa-ra yang berarti ‘menutupi’. Di dalam al-Qur’an, petani juga disebut kuffar (orang-orang ‘’kafir’’) karena mereka menggali tanah, menanam bebijian, lalu menutupnya kembali dengan tanah (QS al-Hadid [57]: 20). Kata ini pula yang kemudian diadopsi dalam Bahasa inggris menjadi kata to cover.

Kekafiran, dengan demikian, adalah pengingkaran dan penolakan atas kebenaran yang sesungguhnya memang telah dipahami, diterima, dan diyakini oleh seseorang sebagai sebuah kebenaran. Orang kafir adalah orang yang karena berbagai alasan (vasted interest/kepentingan diri), menyangkal atau bersikap tidak konsisten dalam mengikuti kebenaran yang diyakininya, jika seseorang tidak percaya pada kebenaran tertentu, dalam hal ini kebenaran Islam, maka apa yang ia tutupi? Apa yang ia sangkal? Jika ini yang jadi ukuran, maka non muslim yang tak percaya akan kebenaran Islam karena tak tahu atau tidak yakin akan kebenaran agama ini bukanlah kafir. Di bawah ini uraiannya.

Di dalam al-Qur’an, kekafiran identik dengan tindakan penyangkalan secara sadar, tanpa pengaruh tekanan dari luar. Iblis dan Fir’aun, misalnya, disebut kafir karena adanya penolakan dan penyangkalan terhadap kebenaran yang telah diyakini oleh keduanya (abaa wastakbara)

Ini didukung juga oleh kenyataan bahwa al-Qur’an menggambarkan betapa kaum kafir quraisy jika ditanya siapakah pencipta semesta, niscaya mereka akan menjawab, ‘’Allah”. Artinya, penyematan atribut kafir kepada mereka bukan karena meraka tak yakin atas ketuhanan Allah.

‘’Dan sungguh jika kamu bertanya kepada meraka :’’Siapakah yang menciptakan langit dan bumi,’’ niscaya mereka menjawab: ‘’Allah’’. (QS al-Zumar [39]: 38 ). Demikian pula keyakinan mereka terhadap kerasulan Muhammad SAW.

‘’Dan setelah datang kepada meraka kitab (Al-Qur’an) yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal biasanya mereka biasa (memohon) – kedatangan nabi untuk mendapatkan – kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka pahami, lalu mereka ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang yang ingkar itu’’ (QS al-Baqarah [2]: 89).

Perhatikan bahwa orang-orang ini tidak kafir, bahkan mengharap kedatangan Nabi untuk melawaan orang-orang kafir. Mereka menjadi kafir justru ketika telah datang nabi yang sebelumnya mereka harap-harapkan (karena sebab yang akan diuraikan di bawah). Masih ada ayat-ayat lain yang menegaskan bahwa kekafiran datang setelah datangnya pengetahuan/keyakinan. Inilah salah satunya:

“Bagaimana Allah menunjukkan kepada suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa rasul itu (Muhammad benar-bernar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka. Allah tak akan memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.’’ (QS. Ali Imran [3]: 86).

Fakta bahwa orang-orang kafir sesungguhnya sudah percaya pada kenabian Muhammad saw. dikuatkan antara lain oleh sebuah riwayat yang dilaporkan oleh Ibn Hisyam (w. 213 H) dalam Sirah-nya di bawah subbab Alladziina istama’uu ilaa Qiraa’ah al-Nabi saw. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa Abu Sufyan, Abu Jahal, Akhnaf ibn Syuraiq, ketiga-tiganya secara bersamaan –dan tanpa sepengetahuan satu sama lain- menyelinap dan mengendap-ngendap di sekitar rumah Nabi Muhammad saw. demi menyimak bacaan al-Qur’an oleh beliau. Mereka terkesima, dan dilubuk hati terdalam mereka tak dapat menyangkal kebenaran firman yang dibacakan oleh Muhammad itu. Kejadian ini terulang hingga beberapa kali. Hingga ketiganya pun sepakat untuk tak mengulangi lagi, namun bukan karena hati kecil mereka menolak al-Qur’an, tetapi lebih karena vested interest (kepentingan diri) demi mempertahankan posisi sosial dan politik mereka. Mereka disebut kafir karena mereka sesungguhnya telah mengakui kebenaran Islam, namun menolaknya karena alasan-alasan ekonomi, sosial, dan politik.

Sebagaimana ditunjukkan oleh Husain Haikal dalam Hayat Muhammad, penolakan dan penyangkalan Abu Sufyan atas ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad sesungguhnya leboh didorong oleh motif mempertahankan pengaruh dan kelas sosial. Abu Sufyan tetap bertahan dengan agama Arab Jahiliah bukan karena percaya dan mengimaninya sebagai sebuah kebenaran, namun lebih karena sistem purba itu menguntungkannya secara politik dan sosial. Betapa tidak, sementara al-Qur’an datang dengan mendeklarasikan kesetaraan antara orang biasa dan kaum jutawan? Menyamakan budak dengan majikan? Bahwa hanya ketakwaan-lah yang membedakan mereka! Doktrin-doktrin Islam terkait reformasi sosial inilah yang memberatkan orang semacam  Abu Sufyan untuk memeluk Islam, bukan soal pengakuan dan penyembahan pada Tuhan Yang Maha Esa.

Selain itu, sejak masa pra-Islam, Kota Mekkah sudah menjadi pusat bisnis yang menghasilkan uang, terutama karena kafilah dagang menuju Yaman, Syam, Mesir, Herat, dan Persia sudah pasti melalui Mekkah untuk menyembah berhala di Kakbah dan sekitarnya. Karena lalu-lintas yang ramai itu, maka sentra-sentra bisnis seperti Ukazh, Mijannah, dan Dzil Majaz menjadi pusat perdagangan (sesungguhnya juga menjadi arena kompetisi para satrawan). Tentu saja pengakuan dan penerimaan terhadap dakwah Islam, yang antipaganisme, akan berdampak pada hilangnya nilai Kota Mekkah sebagai tempat persinggahan kafilah dagang. Dan itu berarti –menurut khayalan mereka- matinya ekonomi dan hilangnya sumber-sumber kekayaan bagi para pembesar Arab itu! Artinya, faktor ekonomi dan politik –dan bukan keyakinan teologis- yang menjadi alasan dibalik penyangkalan terhadap Islam.

Maka, kesimpulan-sementaranya: jika seseorang tidak menerima Islam karena ketidaktahuan, atau karena argumen-argumen tentang Islam yang sampai kepadanya tidak meyakinkannya, orang-orang seperti ini tak serta-merta dapat disebut kafir. Karena itu, baik para ulama salaf dan khalaf (belakangan), berpendapat adanya keharusan pemilik pengetahuan, yakni pengetahuan yang benar dan meyakinkan –disebut qiyamul hujjah (tegaknya argumentasi yang meyakinkan tentang kebenaran Islam)- sebelum seseorang dikategorikan sebagai kafir ketika mengingkarinya.

Imam Ja’far Shadiq berkata:

Sekelompok orang tidaklah kafir bila mereka tidak tahu (jahil), diam, dan tidak menentang.”

Imam Ghazali juga mengutarakan pandangan serupa. Menurutnya, orang-orang non-muslim yang tidak sampai kepadanya dakwah tidak dapat disebut sebagai kafir. Kategori ini dipahami sebagai orang-orang yang tidak pernah mendengar Islam, atau Islam tidak sampai kepada mereka dalam bentuk yang membuat mereka yakin. Dalam pandangan beliau, orang-orang yang sampai dakwah kepada mereka, namun kabar-kabar yang mereka terima adalah kabar-kabar yang tidak benar –membuat citra Islam menjadi buruk- atau yang mengalami pemalsuan sedemikian rupa, maka orang-orang seperti ini masih diharapkan bisa masuk surga. Dengan kata lain, mereka tidak kafir, mengingat jika mereka dihukumi kafir, amal-amal mereka oleh al-Qur’an disebut  sebagai sia-sia.

Dalam konteks inilah kita bisa pahami pernyataan tegas al-Ghazali dalam Faishal al-Tafriqah, yang memandang betapa mayoritas umat Kristen Roma dan Turki di masa itu adalah umat yang akan terselimuti oleh rahmat Allah. Mereka tidak bisa dipandang sebagai kafir dan mendustakan Islam, terutama karena informasi tentang Islam sampai kepada mereka dalam bentuk yang tak meyakinkan, selain karena posisi mereka yang jauh dari pusat peradaban Islam.

Demikian pula pandangan Rasyid Ridha. Pandangan-pandangannya soal ini bisa ditemui di berbagai tempat dalam Tafsir al-Manar dan Jurnal al-Manar. Sebagian saya sebutkan di bawah ini.

Pasti terkait dengan QS. 4: 115, dia secara khusus menekankan bahwa orang (kafir) yang amalnya sia-sia hanyalah “mereka yang telah sapai dakwah Nabi Muhammad saw. secara meyakinkan, tapi tetap keras kepala tak mau menerimanya.” Diapun dengan jelas menyatakan bahwa banyak non-muslim di zamannya sesungguhnya tak pernah benar-benar mengetahui mengenai Islam dengan pengetahuan yang benar dan dapat meyakinkan mereka.

Bahkan, Ibn Taimiyah dalam Majmu’ Fatawanya berpendapat, seseorang tidak dapat dikafirkan sampai tegak kepadanya hujjah (argumentasi yang meyakinkan). Termasuk juga ‘alim kontemporer seperti Syeikh Mahmud Syaltut (dalam al-Islam ‘Aqidah wa Syari’ah). Gagasan tentang qiyam al-hujjah juga tidak absen dalam pemikiran Imam Syafi’i.

Berdasarkan argumentasi di atas, maka non-muslim yang tulus dalam memilih dan meyakini keyakinannya tidak serta merta dapat disebut kafir, yakni menutupi keyakinannya akan kebenaran. Murtadha Muthahhari dalam Keadilan Ilahi, menyebut orang-orang non-Muslim seperti ini sebagai orang-orang Muslim Fitri (muslimun bi al-fitrah), yakni orang-orang yang secara nominal bukan muslim, tetapi pada hakekatnya berserah diri (aslama) kepada kebenaran (Tuhan).

Tentang Kristen dan Trinitas

Boleh jadi ada yang masih merasakan kemusykilan. Jika non-muslim memang tidak identik dengan kafir, dan kekafiran adalah kategori moral, lalu bagaimana memahami firman Allah:

Sesungguhnya kafir-lah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah adalah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada tuhan selain Tuhan yang Esa.” (QS al-Ma’idah [5]: 73)?

Salah satu kemungkinan tafsir ayat ini adalah, yang dimaksud al-Qur’an itu bukan Trinitas sebagai yang diyakini kaum Nasrani, tapi Triteisme Monophysite tertentu –yakni penganut keyakinan bahwa Tuhan benar-benar tiga dengan meyakini bahwa Jesus adalah benar-benar Tuhan (yang qadim dan azali). Yang pertama, yakni Trinitas, tetap merupakan tauhid, yakni tiga dalam satu (unitas). (Yakni, yang dua adalah semacam tajalli-Nya, jika mengikut pandangan ‘irfan). Dalam konteks ini, menarik untuk dicatat bahwa Hujjatul Islam Imam al-Ghazali memiliki pandangan unik saat menguraikan bahwa kalimat laa ilaaha illallaah itu sesungguhnya dipersepi dan dihayati secara bertingkat, tidak monolit. Bahkan menurutnya, ketika umat Kristen menyebut Allah sebagai tsalitsu tsalatsah (salah satu dari yang tiga), pernyataan ini tidaklah dipahami bahwa Allah itu tiga. Sebaliknya, Allah itu Esa, namun tiga ditinjau dari sifatnya. Dalam kata-kata mereka sendiri, kutip al-Ghazali, “Allah itu Esa secara jauhar dan tiga secara oknum”. “Oknum” disini sebagai sifat. Dengan kata lain, betapapun al-Ghazali menolak doktrin ini beliau tetap adil untuk mengakuinya sebagai mengandung satu jenis monotheisme tertentu.

Al-Syahrastani, dalam Al-Milal wa al-Nihal, menyatakan yang kurang lebih sama. Yakni bahwa yang disebut aqanim (jamak dari oknum) adalah bukan dalam hal substansi (jauhar). Kesimpulannya, bahwa yang ditunjuk al-Qur’an bukanlah para penganut Trinitas, melainkan kaum Kristen Ya’qubiyah dan Mulka’iyah/Mulkaniyah yang memang percaya pada gagasan adanya tiga Tuhan tersebut.

Kekafiran sebagai Kategori Moral

Jika kita teliti teks-teks al-Qur’an dan Hadis, kita mendapatkan kesan kuat bahwa kekafiran adalah juga suatu kategori yang akarnya bersifat moral, bukan teologis. Selain berlaku atas orang-orang yang menyangkal kebenaran yang telah diyakininya akibat hawa nafsu dan vested interest (kepentingan diri), kekafiran adalah soal akhlak buruk dan ketiadaan concern pada orang-orang susah, yakni pengabaian terhadap amal shaleh. Inilah satu bentuk kekafiran yang dipahami sebagai taqabbul al-‘adam wa malakah (oposisi antara negasi dan habitus), yakni terkumpulnya (sifat-sifat buruk) dalam diri seseorang, sehingga bisa disebut tidak beriman.

Nabi Muhammad saw. pernah dengan tegas menyatakan:

Agama itu akhlak yang baik”

Dalam hadis lain, Nabi saw. secara langsung menyejajarkan kualitas akhlak dengan keimanan:

“Orang beriman yang paling sempurna amalnya adalah yang paling tinggi akhlaknya”

Imam ‘Ali pernah mengatakan:

“Ada orang beragama tapi tidak berakhlak, dan ada yang berakhlak tapi tidak bertuhan”

Sabda Nabi Muhammad saw. dan pernyataan Imam Ali ini bisa dilihat sebagai sindiran, bahwa orang beragama yang tak berakhlak mulia, alih-alih dapat disebut orang baik atau shaleh, justru lebih tepat dikategorikan kafir. Bukanlah dari keimanan –sebagai jantung keberagaman- harusnya lahir akhlak mulia dan tindakan-tindakan kebaikan yang sejalan dengan prinsipi-prinsip moral universal?Dapatkan seseorang dikategorikan beriman ketika akhlak dan tindakan-tindakannya bahkan berseberangan dari prinsip-prinsip kebaikan?

Nabi saw. juga bersabda:

“Tidak termasuk orang yang beriman siapa saja yang kenyang sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar.” (HR. Bukhari)

Pada kesempatan lain, dalam sebuah hadis terkenal, Nabi saw. bersabda:

Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Tidaklah beriman seorang peminum khamr ketika ia sedang meminum khamr. Tidaklah beriman seorang pencuri ketika ia sedang mencuri.” (HR. Bukhari)

Dalam sabda-sabda Nabi saw. di atas, keimanan secara tegas dipertautkan dengan kesadaran dan kepedulian sosial. Keimanan bukan semata keyakinan yang terpendam di dalam hati. Sikap acuh dan “masa bodoh” terhadap kesusahan orang lain atau pelanggaran terhadap syariat secara tegas dinyatakan sebagai keadaan “tidak beriman”, yakni kekafiran terselubung.

Demikian pula dalam ibadah mahdhah. Shalat, alih-alih mengandung pujian Allah, justru sebaliknya Allah sebut sebagai tindakan mendustakan agama jika tak diikuti dengan kesadaran dan empati sosial yang riil.

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS al-Ma’un[107]: 1-7).

Bukankah “mendustakan” agama adalah esensi kekafiran itu sendiri?

Masih berhubungan dengan pengidentikan keimanan dengan empati sosial, dalam hadis lain Nabi saw. bersabda:

“Tak beriman seseorang dari kalian hingga dia menginginkan bagi saudaranya apa yang dia inginkan bagi dirinya sendiri.”

Penutup

Apakah dengan demikian saya sedang menyatakan bahwa semua agama sama? Tentu tidak.

Kita sebagai muslim yang mu’min percaya bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna. Yang menyempurnakan dan meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang ada pada agama-agama sebelumnya. Tapi, adalah beda soal kebenaran (truth claim) dan soal keselamatan (salvation claim). Agama lain bisa salah (secara truth claim), tapi tak lantas berarti bahwa pengikutnya (yang karena ketidaktahuan/ketidakyakinan tidak menerima) tak akan selamat (salvation claim).

Meski multi tafsir, ayat 62 dalam surah al-Baqarah bisa ditafsirkan ke arah itu. Yakni dalam konteks ke-non-musliman orang-orang yang atas mereka hujjah belum tegak. Bahwa orang Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in (menurut sebagian ulama, kategori Shabi’ini bisa mencakup agama Hindu, Buddha, Majusi, dll) yang percaya pada Allah, hari akhir, dan akhirat –selain muslim (yang disebut alladziina aamanuu)- akan selamat. Wallahu a’lam bishshawab.

*Artikel ini sebelumnya telah dimuat di panrita.id dan islami.co

MENCIPTAKAN MANUSIA: AI Dalam Perspektif Mistisisme*

Oleh Haidar Bagir

Teknologi Artificial Intelligence (AI, kecerdasan buatan) sudah mulai mampu menciptakan robot yang kemampuannya mendekati kemampuan manusia. Sepuluh tahun ke depan, kemungkinan, manusia buatan manusia sudah bisa diciptakan.

Manusia ciptaan manusia ini  akan lebih unggul dibanding manusia ciptaan Tuhan. Yakni, dalam beberapa hal tertentu, yang akan menjadi pembahasan tulisan ini. Dia akan mampu menjawab semua kemungkinan pertanyaan rasional manusia ciptaan Tuhan. Otaknya, yakni lokus rasionalitasnya, sudah dilengkapi algoritma/struktur berpikir seperti layaknya otak manusia ciptaan Tuhan. Bahkan manusia ciptaan manusia ini akan bisa memproses data dan informasi yang jauh lebih besar daripada yang bisa diproses manusia ciptaan Tuhan, dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Di atas itu semua, AI generasi ini tidak akan terpapar pada lupa, lelah, bias, apalagi kehilangan obyektivitas  karena persoalan-persoalan gangguan fisik atau emosional yang bisa diderita manusia ciptaan Tuhan. Semua “kelemahan” manusia ciptaan Tuhan – dalam makna-relatif ini – akan bisa diatasi oleh manusia ciptaan manusia ini.

Stephen Hawking pernah meramalkan terjadinya bencana besar abad ini,  berkaitan dengan akan diambil-alihnya sebagian besar pekerjaan manusia oleh AI supercerdas ini.

Pertanyaannya, apakah dengan demikian  manusia ciptaan manusia ini akan menjadi lebih unggul dari  penciptanya sendiri, yakni manusia ciptaan Tuhan? Konsekuensinya, apakah dengan demikian manusia akan menjadi Tuhan dengan kemampuannya menciptakan manusia-manusia baru, dengan segala keunggulan itu? Tentu saja tidak.

Pertama, kemampuan manusia menciptakan manusia itu hanya bisa terjadi dengan izin Tuhan, Sang Pencipta Sejati. Tuhan yang memberikannya hidup, kemampuan, dan fasilitas dalam bentuk hukum-hukum yang teratur, dan bahan-bahan pembuatnya. Bukan hanya itu. Dilihat dari perspektif orang beriman, Tuhanlah yang bisa memberinya izin atau tidak memberinya izin sehingga proyek penciptaan itu bisa terwujud atau tidak terwujud. Pertanyaan yang lebih penting dari itu, apakah ini berarti kiamat bagi manusia ciptaan Tuhan, karena segala kemampuannya telah diungguli dan wilayah pekerjaannya telah diambil-alih?

Sebaliknya dari itu. Alih-alih ini kiamat bagi manusia, sesungguhnya zaman baru kehidupan sejati manusia ciptaan Tuhan baru akan mulai. Bagaimana hal ini bisa dijelaskan? Yang sejak tadi belum kita singgung adalah, bahwa manusia-manusia ciptaan manusia ini sesungguhnya hanya bisa mengimitasi sebagian saja – dan akan kita lihat nanti, sebagian yang paling kurang penting – dari daya-daya manusia ciptaan Tuhan. Manusia-manusia baru ini hanya mampu dan lebih unggul dalam mengerjakan sesuatu yang bersifat rasional dan fisik belaka. Bagi orang-orang beriman – atau orang-orang yang percaya bahwa ada sesuatu yang bersifat ekstraneurologis dalam daya-daya kognisi manusia – justru daya paling penting manusia ciptaan Tuhan mustahil bisa digantikan dengan manusia model AI ini. Apakah daya-daya itu?

Pertama, berimajinasi, yakni imajinasi dalam jenis tertentu.

Dalam disiplin misitisisme, dikenal dua jenis imajinasi: pertama, imajinasi yang disebut sebagai terkait dengan stimulasi-stimulasi fisik, rasional, dan psikologis (dalam makna yang lebih dekat – meski tidak mesti mengandung makna kelainan – kepada imajinasi Freudian). Dalam mistisisme Islam ini disebut sebagai imajinasi/ khayal muttashil . Imajinasi jenis ini tak terpisahkan dari pengalaman interaksi sehari-hari dengan manusia dan lingkungan sekitarnya. Jadi, karya imajinasi apa pun yang bisa dilahirkannya merupakan pengembangan dari impresi-impresi yang diciptakan oleh pengalaman kesehariannya itu. Kedua, adalah imajinasi yang merupakan ilham dari alam yang lebih tinggi, baik itu alam imajinasi yang lebih luhur atau, lebih tinggi lagi, alam ruhani (spiritual). Ini disebut sebagai imajinasi/ khayal munfashil.

Daya kognisi yang disebut terakhir inilah yang tidak bisa diimiliki oleh manusia-manusia dalam bentuk AI, ciptaan manusia.

Nah, dalam konteks inilah, hadirnya AI, yang bisa menggantikan sebagian tugas manusia ciptaan Tuhan dalam hal fisik, rasional, dan psikologis – dalam level rendah – ini, justru akan membebaskan manusia ciptaan Allah dari kesibukan “kurang penting” – dipandang dari sudut competitive advantage-nya yang sejati – sebagai manusia ciptaan Tuhan. Selanjutnya dengan waktu dan daya-daya luhur khasnya itu ia benar-benar bisa hidup, baik dalam hal kehidupan relijiusnya, maupun dalam hal melahirkan gagasan-gagasan kreatif yang lebih tinggi. Pada puncaknya hal ini akan lebih mampu membawa kemanusiaan ke level tertinggi dalam trajektori kemanusiaannya sebagaimana ia dirancang oleh Penciptanya: Menjadi Manusia Sempurna ( Perfect Man, Insan Kamil ) yang mampu – sejauh batas-batas kemanusiaannya – “mengimitasi” (sifat-sifat) Tuhan, Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Bijaksana.

*Tulisan ini telah dimuat di kompas dan website islamindonesia.id. Berikut linknya https://islamindonesia.id/haidar-bagir/kolom-haidar-bagir-menciptakan-manusia-ai-dalam-perspektif-mistisisme.htm

Saya Bermimpi

Saya Bermimpi

Saya bermimpi, suatu saat orang akan melihat kehidupan bukan sebagai gelanggang pertarungan memojokkan dan menyingkirkan orang lain demi menguasai semua sarana pemuas syahwat untuk diri sendiri. Syahwat harta, syahwat kekuasaan, syahwat politik, dan syahwat-syahwat lainnya. Suatu saat di mana orang percaya bahwa kebahagiaan terletak dalam hidup sebagai manusia, manusia biasa, yang lahir keluarbiasaannya justru karena dia hidup sebagai manusia biasa. Manusia yang mencari ketenteraman hidup di tengah manusia-manusia lainnya, di tengah semua kerabat Tuhan yang ditempatkan-Nya di planet ini. Yang memperoleh makna hidupnya justru dengan memberi, bukan meminta, apalagi mengangkangi semuanya. Orang-orang yang sadar bahwa hidupnya baru genap justru ketika bersama-sama yang lain. Bahwa menolong yang lain sama saja dengan menolong diri sendiri. Bahwa melukai yang lain hanyalah melukai diri sendiri. Karena seorang manusia tak pernah utuh. Manusia baru selesai ketika menjadi satu keluarga, bersama manusia-manusia lain, bersama dengan semua unsur semesta selebihnya. Karena sesungguhnya sendiri itu tidak ada.

Saya bermimpi, melihat planet ini sebagai kumpulan tempat-tempat tinggal untuk manusia, bukan tempat tinggal kecerdasan-kecerdasan buatan yang—betapa pun pintarnya—tak akan pernah punya kelembutan etika dan keluhuran cita estetika seperti manusia biasa. Kota-kota yang tidak dibangun seperti Gotham City dalam kisah Batman, ketika manusia-manusia sudah kehilangan kemanusiaannya. Pencakar langit di mana-mana, jalan-jalan raya bertingkat-tingkat, dihiasi bangunan-bangunan raksasa yang konon berarsitektur masa depan, tapi telah kehilangan keindahan-alaminya: menekan, dingin, kelam, dan “mati”.

Saya bermimpi kota-kota dikembangkan untuk manusia-manusia biasa, keluarga-keluarga yang hangat, rukun-rukun tetangga yang akrab, yang mengembang secara organik sesuai kebutuhan hidup yang sebenarnya sederhana-sederhana saja. Yang rumah-rumahnya berdiri oleh dorongan untuk berkumpul hangat dengan kelarga, dengan tetangga, dengan siapa saja. Yang di dalamnya, kita bisa terus memelihara kemanusiaan kita, dari ancaman segala yang serba besar, serba banyak, serba tinggi, serba cepat, tapi justru menekannya. Serba batu, serba besi, serba raksasa. Menekan kemanusiaan yang sesungguhnya menyimpan kedahsyatan tak tepermanai, jauh mengatasi semua itu. Manusia yang “lebih besar dari hidup”, yang dunianya tak dibatasi oleh ruang tiga dimensi dan waktu yang memecah-mecah. Manusia yang sangup menerobos dunia rendah, terbang tinggi ke dunia keluhuran khayal yang real, ke dunia ruhani tanpa batas, ke dalam Keberlimpahan sempurna yang tak terperikan.

Saya bermimpi hidup di kota-kota kecil, tempat semua manusia adalah keluarga manusia yang lain. Di mana kehijauan dan keasrian alam mendapatkan tempat sebanyak-banyaknya. Di mana kecepatan, ketinggian, dan kebesaran tidak disembah seperti dewa. Saya bermimpi kedai-kedai hangat dan bersahaja lebih disukai ketimbang mal-mal atau emporium-emporium besar, sesak, dan bising, yang dikerumuni orang bukan karena hendak menghilangkan rasa lapar yang biasa, rasa letih yang manusia, atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang secukupnya, melainkan karena kepanikan melawan kesepian kehidupan. Ya, saya bermimpi kota-kota, dan desa-desa, yang ruang publiknya terserak di mana-mana. Ada gedung-gedung kesenian yang tak harus besar, aksesnya mudah dicapai siapa saja, ada galeri-galeri mungil, museum-museum yang ramah, perpustakaan-perpustakaan yang berlimpah, dan ada pusat-pusat hiburan yang sopan dan ramah keluarga.

Saya bermimpi bahwa semua medan kehidupan adalah sekolah. Karena sesungguhnya, manusia adalah bak benih, yang menyimpan segenap kesempurnaan dalam dirinya. Lemparlah begitu saja di tanah yang subur, siram seperlunya, rawat dengan penuh cinta, dia akan jadi tumbuhan yang segar, rimbun, dan mengeluarkan banyak bunga indah, serta buah-buahan bermanfaat yang berlimpah. Tak ada, memang, sekolah yang lebih baik dari lingkungan kehidupan yang baik, lingkungan manusia-manusia biasa. Tak ada sekolah yang bisa menggantikan sekolah kehidupan. Saya bermimpi orang-orang sadar bahwa sesungguhnya sekolah-sekolah yang kita kenal hanyalah ban serep yang buruk, sebagus apa pun sekolah itu. Saya bermimpi melihat anak-anak yang tumbuh menjadi pintar, karena lulus dari universitas kehidupan seperti ini. Bukan hanya pintar karena gumpalan otaknya yang terus dirawat, tapi hatinya justru menjadi compang-camping. Bukan yang hanya diagul-agulkan setelah menjadi jawara olimpiade dan kompetisi sains dan matematika. Yang kreativitasnya mencuat ke mana-mana karena rehatnya pikiran, jiwa dan sukmanya… Yang budi-pekertinya mengembang sehingga menjadi seperti Tuhan. Mahabisa, tapi di atas semuanya juga mahabijak, dan mahakasih. Yang keahliannya lahir dirawat oleh vocation (panggilan jiwa), yang mendorongnya belajar terus ke mana-mana, yang profesionalismenya lahir dari cinta (passion) kepada pekerjaan dan konsumen karyanya. Anak-anak dan orang-orang yang sejahtera bukan karena banyak harta, yang tenteram bukan karena besar kuasa, yang menjulang bukan karena dikenal siapa saja. Yang luar biasa bukan karena menjadi super-manusia. Anak-anak yang bahagia karena hidup sebagai manusia. [Haidar Bagir]

NB.: Mimpi saya ini melayang sepulangnya saya menonton sebuah pertunjukan musikal kecil-sederhana, di suatu teater kecil sederhana—di antara beberapa teater besar, pusat pertunjukan, dan rumah opera yang tegak di area yang sama—di pinggir pantai suatu ibu kota suatu negara pulau jauh di selatan Indonesia. Kota nyaris tanpa pencakar langit, tanpa mal-mal raksasa. Juga setelah saya menyambangi perpustakaan-perpustakaan komunitas yang terserak di mana-mana. Setelah menikmati safari anjing laut, dan menyawang dari ketinggian pemandangan kota yang serba hijau, sejuk, bersih dan asri, yang saya datangi dengan naik trem listrik tanpa minyak. Pun setelah saya mengagumi museum geohistori planet kita yang dibuka gratis untuk siapa saja. Yang membuat anak saya berseru: “Kalau saja dulu begini cara kita belajar geografi …!” Dan … setelah saya berkerut dahi mempelajari konsep materi uji publik kurikulum baru di negeri kita.

 

X