Asal Mula Kesalahan dan Kecongkakan

Irza A. Syaddad

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Terbangun dari Qailulah

Satu dari sekian sebab saya tak begitu suka Jumatan adalah khutbah yang membosankan; materinya yang itu-itu saja, suara khatib yang terlalu pelan, dan durasinya yang melelahkan. Akan tetapi karena menghadiri ritual itu adalah kewajiban bagi kaum Muslim laki-laki, mau tak mau saya harus menahan diri untuk tidak hengkang dari majelis. Setidaknya ada dua alasan saya bertahan di sana: pengurus masjid menyediakan nasi kotak, dan saya bisa sejenak qailu-lah.

Sebagai seorang santri yang pernah sebentar mengenyam dampar pesantren, saya tahu bagaimana harus memosisikan badan dan kaki ketika tidur agar wudu tidak batal. Oleh karena itu, dalam setiap Jumatan, qailulah –tidur atau istirahat sejenak di tengah hari– sudah menjadi kebiasaan saya. Lazimnya, qailulah  saya tidak akan terganggu oleh suara apapun. Dan seakan-akan iaditunggui oleh malaikat–dan otomatis diridai oleh-Nya–, saya terjaga darinyapersis ketika muazin akan mengumandangkan ikamah.

Akan tetapi dalam beberapa Jumatan terakhir ini, saya sering terbangun lebih awal, yaitu ketika khatib sedang mengakhiri ceramahnya. Dan sebagaimana kondisi terbangun dari tidur yang disebabkan oleh kaget, indera pendengaran saya sontak berfokus pada suara lantang yang bergema di masjid saat itu, yaitu kalimat penutup khatib: “Jika ada kebenaran, maka itu pasti dari Allah. Dan jika ada kesalahan, maka itu semata-mata dari diri pribadi khatib” (dan tak jarang ‘iblis’, atau ‘setan’ ikut disebut sebagai biang kesalahan prosesi khutbah).

Redaksi kalimat tersebut mengganggu saya, dan celakanya ia sering muncul dalam pemungkas khutbah-khutbah Jumatan yang lain. Di satu waktu, saya berprasangka baik kepada khatib yang mau bertanggung jawab atas tindakan salah yang dilakukannya. Dugaan saya, khatib berkata demikian karena menerapkan firman Allah dalam Q.S. An-Nisa: 79, “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, adalah dari [kesalahan] dirimu sendiri.

Akan tetapi di lain waktu, saya tidak bisa tidak curiga pada khatib. Bisa saja ia ternyata meyakini takdir Allah yang bersifat terikat pada seluruh perbuatan manusia,[1] yang dengan demikian posisi manusia menjadi determinan di hadapan-Nya. Namun, keyakinan tersebut terpaksa dipangkas karena berseberangan dengan konsep “Allah adalah Dzat Yang Maha Baik (Al-Barr)”. Bagi khatib, karena Allah Maha Baik, maka tidak mungkin Dia menjerumuskan makhluk-Nya ke jurang kesalahan. Lebih lanjut, yang paling mungkin melakukan kesalahan adalah makhluk-makhluk lemah yang dibekali syahwat,[2] seperti manusia, setan, dan iblis.

Perdayaan Iblis dan Skenario Tuhan

Dosa atau kesalahan pertama kali dalam sejarah penciptaan semesta adalah tatkala Iblis menolak sujud kepada Adam. Itu adalah dosa kesombongan, salah satu dari tujuh dosa mematikan. Iblis mencatatkan namanya sebagai makhluk yang memelopori pembangkangan kepada Tuhan. Oleh sebab itu, Allah lantas melabelinya dengan sebutan “terlaknat” (rajim). Akan tetapi Iblis tidak tinggal diam. Ia lantas melakukan lobi-lobi, hingga kemudian ia mendapat keringanan dari Tuhan berupa umur yang amat panjang, yaitu sampai hari ketika manusia dibangkitkan. Tidak hanya itu, Allah bahkan memberikannya izin untuk menggoda manusia; menyortir hamba-Nya, memilahnya antara yang taat dan yang mungkar. Perizinan ini bukan tanpa alasan. Dan alasan ini menjadi bukti kunci terjadinya drama kosmis yang berujung pada pengejawantahan firman Allah berupa menjadikan (manusia sebagai) khalifah di bumi.

Jika merujuk pada Alquran, ayat yang berisi “keinginan” Allah untuk mengutus wakil-Nya di bumi, lebih dulu disebut daripada ayat tentang perintah sujud kepada Adam. Kita ambil contoh Q.S. Al-Baqarah: 30-36, yang ditampilkan dalam bentuk lini masa:

Allah berkehendak untuk mengutus khalifah di bumi à Allah mengajari Adam al-asma`, lalu memamerkannya kepada malaikat à malaikat mengakui kelemahannya à Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada Adam, tapi Iblis membelot à Adam dan istrinya tinggal di surga, dengan larangan mendekati syajarah à setan memperdaya mereka, sehingga Adam dan istrinya diusir dari surga.

Dalam urutan yang sama, Q.S. Al-A’raf: 11-24 menambahkan cerita bagaimana meminta keringanan Allah agar diperbolehkan hidup lama, dan diberi lisensi untuk menggoda manusia dari segala arah. Kisah selanjutnya sudah bisa ditebak: Iblis diizinkan menjerumuskan manusia; Adam adalah manusia, maka Iblis akan memprovokasi Adam untuk melanggar perintah-Nya; akhirnya Adam dan istrinya, tidak hanya mendekati syajarah larangan, tetapi juga memakan buahnya. Atas kemaksiatan itu, Allah lantas mengusir Adam dan istrinya dari surga, dan menempatkannya di bumi.

Andaikan dimungkinkan mempersempit “dunia paralel”[3] yang mungkin diciptakan oleh Allah, pembangkangan yang dilakukan Iblis secara tidak langsung berdampak pada suksesi di bumi yang dicanangkan oleh Allah. Dengan demikian, maksiat[4] yang dilakukan oleh Adam dan istrinya sudah “diperkirakan” oleh Allah, yang kemudian menjadi dalih bagi-Nya untuk memindahkan mereka ke bumi, yang notabene menjadi tempat tinggal bagi khalifah-Nya.

Dalam Ruh al-Bayan fi Tafsir al-Qur`an,[5]diceritakan bahwa ketika tangis Adam semakin menjadi-jadi, Allah mengajarinya doa-doa dan ucapan pertaubatan. Pengajaran itu, kata Ibn Abbas, berlangsung secara talaqqi, yaitu pengajaran langsung dari Allah kepada Adam, bukan melalui malaikat. Melalui dosa tersebut, Adam lantas diajarkan rasa menyesal atas pelanggarannya, doa-doa pertaubatan, dan lebih dalam lagi, Allah mengenalkan Adam sifat-Nya Yang Maha Pengampun (al-Gafur, al-Gaffar), dan Maha Menerima Taubat (at-Tawwab).  

Dari kisah Adam ini didapat kesimpulan bahwa kebaikan maupun keburukan yang terjadi pada seorang hamba, tidak selalu selaras dengan pemuliaan ataupun penghinaan dari Allah. Bisa saja kenikmatan atau rezeki yang kita peroleh bukanlah anugerah, melainkan istidraj; dan begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, tepat apabila jauh-jauh sebelumnya Allah memperingatkan manusia agar tidak terbuai pada kebaikan maupun keburukan yang diterimanya[6].

Meskipun begitu, penutup khutbah di atas masih mengganggu saya. Bagaimana jika ternyata khatib sudah mengetahui hikmah di balik kesalahan, dan konsep istidraj, namun ia masih tetap mengatakan kesalahan khutbah adalah tanggung jawabnya? Saya kemudian teringat pada syair indah yang digubah oleh Sayyid Bakri[7]:

فشريعة كسفينة وطريقة # كالبحر ثم حقيقة در غلا

“Syariat bagaikan perahu atau kapal, tarekat seperti laut

sedang hakikat laksana mutiara berharga”.

“Syariat itu”, kata Sayyid Bakri, “bagaikan perahu yang menjadi perantara kita untuk sampai kepada Yang Haq, sedang tarekat seperti samudra yang menjadi tempat Yang Haq, lalu hakikat laksana permata mutu manikam yang terdapat di dalam samudra. Seseorang tidak akan mencapai tingkat hakikat (mendapatkan permata) sebelum ia sampai ke samudra yang menjadi persemayamannya. Dan begitu pula ia tidak akan bisa mengarungi samudra tanpa bahtera”.

Dari syair di atas, posisi hamba di hadapan syariat menjadi jelas. Ia hanyalah seseorang yang mengendarai kapal (syariat) untuk menuju Tuhannya (hakikat) di kedalaman laut (tarekat). Logikanya, jika seseorang ingin menyelam, maka kapalnya ditinggal dan dibiarkan terapung-apung di permukaan laut. Jika sang hamba memaksa untuk membawa kapalnya menyelam, maka yang terjadi adalah ia akan karam dan tenggelam. Meskipun demikian, hambayang telah sampai pada Tuhannya tidak lantas meninggalkan syariat terapung begitu saja. Selama ia masih menjadi manusia, selama itu pula ia harus kembali ke kehidupannya yang bersyariat. Yang membedakan antara dirinya dengan masyarakat awam adalah cara pandang dia terhadap perubahan dunia.

Kaitannya dengan khatib adalah–terlepas apakah ia masih berada di tataran syariat atau makrifat–, ia masih tetap mengatakan bahwa kesalahan khutbah berasal dari dirinya. Sebab, sebagai manusia yang hidup dengan sesamanya, ia tidak ingin melepaskan tanggung jawab atas perbuatannya. Jika ia mengatakan bahwa semua hal, kebaikan dan keburukan yang diterima dan dilakukan olehnya, adalah dari Allah, maka kondisi masyarakat akan kacau. Akan ada kejahatan yang terjadi dengan dalih takdir Allah. Dengan begitu, apa yang dikatakan oleh khatib sebenarnya bukanlah sebuah kesombongan, melainkan kehati-hatian.

Pada akhirnya, saya tak perlu lagi meributkan penutup khatib tadi. Ini tentu menjadi kabar baik bagi qailulah  saya.


[1] Merujuk pada firman Allah dalam Q.S. As-Saffat: 96.

[2] Dalam kitab manakib Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang berjudul Lujain ad-Dani, dikatakan bahwa hamba yang lemah adalah yang masih memberdayakan syahwatnya, meskipun untuk beribadah; dan sebaliknya, seseorang dikatakan sebagai hamba yang kuat adalah jika ia sama sekali tak bersyahwat. إنما جعلت الشهوات لضعفاء عبادي ليستعينوا بها على الطاعات وأما الأقوياء فما لهم الشهوات. Baca Ja’far bin Hasan al-Barzanji, Lujain ad-Dani fi Manaqib al-Qut}b ar-Rabbani asy-Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani, (Kudus, t.t.: Al-Ma’had as-Salafi Dar al-Falah), 20.

[3] Maksud dunia paralel di sini adalah kemungkinan-kemungkinan peristiwa yang masih terakomodasi oleh ketentuan Allah yang tertulis dalam kitab. Baca Q.S. Al-Hadid: 22.

[4] Pemilihan diksi maksiat ini merujuk pada Q.S. Taha: 121.

[5] Isma’il Haqqi al-Birusawi, Ruh al-Bayan fi Tafsir al-Qur`an, juz 5, (Beirut, t.t.: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah), 444-445.

[6] Q.S. Al-Fajr: 15-16.

[7] Bakri al-Makkiy, Kifayah al-Atqiya` wa Minhaj al-Asfiya`, (Kairo, 1886: Mat}ba’ah al-Khairiyah), 11-12.

Etika Deontologi Immanuel Kant untuk Mengalahkan Corona

Achmad Fathurrohman

Indonesia sebagai bangsa agam dengan populasi terbesar nomor empat di dunia, kekayaan hayati dan flora yang sangat melimpah. Ini merupakan kekuatan besar, jika 270 juta masyarakat memiliki semangat, moralitas, skill, dan intelekstualitas yang paripurna, maka bisa dipastikan tidak ada kekuatan apa pun yang bisa menghentikan laju kapal besar yang bernama Indonesia.

Dunia hari ini sedang berharap cemas, seluruh aktivitas manusia yang melibatkan orang banyak dibatalkan. Kegiatan agama, seni, budaya, ekonomi, dan pendidikan seluruhnya terpaksa harus dihentikan, manusia ditekan untuk mengisolasi diri di rumah. Masjid dikosongkan, ka’bah diliburkan, umroh dihentikan, kenduri ditangguhkan, dan seterusnya. Praktik ibadah yang bersifat ritual semuanya dihentikan, hal ini menyadarkan betapa rapuhnya kemanusiaan kita. Manusia diajak untuk merenungkan kembali zat yang transenden dan adikodrati, berkontemplasi untuk melepaskan diri dari cangkang ritualistik menuju ibadah substantif hanya tunduk menauhidkan Allah Swt. yang berbuah kemaslahatan bagi umat manusia. 

Tugas terbesar kita sebagai bangsa saat ini adalah memperbaiki moralitasnya. Soal religiusitas, tidak perlu diragukan lagi, bangsa kita adalah umat religius. Banyak orang yang setiap hari shalat, tetapi anehnya banyak sekali yang gemar membuka aib saudaranya di media sosial. Atau bisa dengan mudah memamerkan ibadah personal, umroh yang seharusnya sangat sakral, tetapi bisa tak acuh terhadap tetangganya yang kelaparan karena tidak memiliki beras untuk dimasak. Rajin berjemaah di tempat ibadah tetapi menaati anjuran pemerintah untuk jaga jarak dan tetap tinggal di rumah ngeyelnya bukan kepalang. Paradoks seperti ini banyak kita jumpai dalam keseharian.

Emmanuel Kant memperkenalkan konsep etika deontologi, bagi Kant bermoral atau tidaknya seseorang tergantung tujuannya. Semboyan etika ini no person should be used, manusia tidak boleh jadi alat, berbeda dengan virtue ethics yang alatnya adalah manusia.

Ada empat prinsip dasar dari deontologi Kant, pertama, personal autonomy, bermoral atau tidaknya seseorang ditentukan adanya kehendak bebas manusia, kalau tidak memiliki kehendak bebas maka tidak bisa disebut bermoral atau tidak. Orang yang mencuri karena dipaksa, tidak bisa dihukumi bermoral atau tidak atas perbuatannya. Kedua, respect, menghargai nilai kemanusiaan, kalau nilai kemanusiaan dilanggar berarti tidak ada moralitas. Orang yang ngeyel melaksanakan pengajian akbar, muktamar yang dihadiri massa secara masif dalam kondisi pandemi, yang berpotensi tertular atau menularkan kepada orang lain, ia bisa dianggap tidak bermoral karena tidak menghargai nilai kemanusiaan. Ketiga, duty, punya kewajiban, manusia bermoral adalah orang yang bertanggung jawab. Tanpa ini, manusia hanyalah sebongkah tulang yang dibungkus daging tanpa nilai moral, manusia tidak ada bedanya dengan binatang yang hanya makan, tidur, dan berkembang biak. Bagi Imam Fakhruddin Ar-Razi, koruptor dan orang maksiat walau dia tahu hukum dan konsekuensi perbuatannya, dia tetap melakukan perbuatan salahnya dikarenakan tidak ada tanggung jawab dalam dirinya. Keempat, good will, pintu gerbang moral adalah keinginan baik, atau dalam bahasa agama disebut niat.

Prinsip deontologi adalah universalitas, perbuatan bermoral selalu universal, seperti jujur, kapan dan di mana pun harus jujur. Bagi Kant, tidak ada toleransi untuk kejujuran. Walau ada orang yang mengejar teman kita dan hendak dibunuh, ketika menanyakan tempatnya dan kita tahu, kita tetap harus jujur, walau nanti kita bisa membantu teman kita. Dalam etika deontologi, kita tidak boleh mengkhianati kejujuran. Rumus lainnya, kemanusiaan, moralitas hadir untuk menjaga kemanusiaan, kewajiban diberikan kepada manusia untuk dijalankan, ketika kewajiban tidak dilaksanakan pasti ada ketimpangan dan ketidakseimbangan bagi kemanusiaan.

Dalam kelas filsafat etika yang penulis ikuti, Dr. Fakhruddin Faiz menjelaskan, postulat dari Emmanuel Kant, kewajiban moral harus memiliki otonomi, orang tidak mungkin bermoral jika tidak bebas, adanya moral menuntut adanya otonomi manusia. Selain itu harus ada pemahaman eskatologi, manusia harus memiliki kesadaran bahwa segala yang dilakukan hari ini untuk hidup setelah mati. Jika tidak memiliki ini, maka sulit, karena banyak orang yang bermoral tapi susah hidupnya. Sebaliknya, banyak orang jahat tapi tampak sejahtera. Hidup setelah mati adalah konsekuensi logis adanya moral. Dan harus ada keyakinan adanya Tuhan, jika nanti ada pembalasan atas moralitas yang kita lakukan semasa hidup, maka ketua pelaksananya bukan manusia, yakni Tuhan. Bangsa Indonesia yang mayoritas beriman seharusnya memiliki kesadaran moralitas yang tinggi.

Tipe dari etika deontologi adalah imperatif hipotetik yaitu perintah untuk bermoral yang berbasis hipotesis, moral yang masih ada syaratnya, belum utuh sebagai tindakan moral. Seperti aku mau jujur asal kamu juga jujur. Aku mau di rumah saja asal menguntungkan diriku, ini belum moralitas, masih tentatif. Tipe kedua, imperatif kategoris, inilah moralitas sejati, moralitas yang keluar dari suara hati manusia yang jernih dan baik hatinya. Tidak ada syarat dan pamrih, seperti menjaga jarak dari kerumunan, tetap di rumah, dan menjaga kebersihan, karena kehendak untuk terbebas dari tertular dan menularkan virus Corona Covid-19, dan bisa menyelamatkan manusia lainnya.

Indikator moralitas kita bisa diukur dengan hukum moral. Caranya: Kalau kita belajar akhlak, sudah berakhlak belum? Kalau belajar ilmu kesehatan, sudah menerapkan pola hidup sehat belum? Kalau belajar agama, sudah menjalankan spirit agama atau belum? Kalau masih banyak alasan tidak melakukan kebaikan sesuai kapasitas keilmuannya, berarti moralitasnya masih hipotetik, belum sejati. Dan harus dilihat niat dan perbuatannya. Motif dan tindakannya baik, tapi niatnya jelek maka masih tidak baik, ketiganya harus sejalan, baik.

Puncak moral adalah kebajikan dan kebahagiaan. Kalau sudah bermoral tapi tidak bahagia dan bajik, pasti ada yang kurang dalam langkah moralitas kita. Bisa jadi hanya moralitas semu, yang tak berbuah kebajikan bagi dirinya sendiri dan orang lain, kebahagiaan tak dapat diraih, oleh diri sendiri dan orang di sekitarnya. Dalam masa pandemik corona Covid-19 misalnya, ketika sengaja tanpa kebutuhan mendesak berkeliaran, hanya mengikuti ego bisa dikatakan ia amoral, karena berpotensi menimbulkan derita dan kesedihan bagi orang lain. Egoisme seperti ini tampaknya masih banyak kita jumpai, ngotot melaksanakan hajatan, pengajian akbar, ibadah di masjid, gereja, pura yang mengumpulkan orang banyak yang tampak bermoral dan saleh, tetapi jika sampai menjadi perantara penyebar virus yang berdampak pada kesulitan orang yang lemah imunnya, ia hanya menambah beban, kesedihan bagi orang lain, belum sampai kepada puncak moralitas tertinggi. Dalam bahasa agama, belum memahami maqashid al-syariah yang mengutamakan hifzh al-nafs (menjaga jiwa) dari hifzh al-din (menjaga agama).

Dalam deontologi Kant, perbuatan baik apa pun pasti cocok dengan suara hati. Seperti fitrah hati adalah jujur, ketidakjujuran pasti membuat hati tidak tenang. Fitrah kita amanah, kalau tidak amanah jadi gelisah. Fitrah kita mengasihi, melihat yang kelaparan kita welas asih. Baik atau tidaknya suatu amal tergantung perbuatannya, bukan orangnya. Mari kita perkuat iman dan pertebal imun di zaman penuh wabah seperti ini. Kalau saja manusia takut kepada Corona sebagaimana mereka takut akan adanya ketidakadilan, kemiskinan, kemafsadatan dan kehadiran Tuhan, manusia akan sampai kepada bentuk terbaiknya.

Yang Hilang Saat Membaca (Sejarah) Nabi Muhammad

Abdurrohman Zuhdi

Sedang Merintis Eco Sufism Institute

Kritik Orientalis atas Islam seringkali mengarah kepada Nabi Muhammad, sehingga kajian yang semula ilmiah terkesan menjadi tuduhan yang tidak mendasar, dan jauh dari konteks akademik. Lebih jauh Islamophobia telah menggiring pada cacian dan makian kepada Nabi Muhammad. Bahkan dengan tanpa segan, di Austria, seorang perempuan menghina Nabi Muhammad dengan sebutan pedofilia karena menikahi Aisyah yang berusia sangat muda.

Sebelumnya, kehebohan pernah terjadi karena karya fiksi dari Salman Rusdhie The Satanic Verses, sebuah satir yang ditengarai bercerita tentang wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad. Narasi semacam itu tentu saja memancing kemarahan umat Islam. Tak pelak, Ayatullah Khoemeni pernah memberi fatwa halal pada darah Salman Rusdhie atas penghinaan tersebut.

Annemarie Schimmel, seorang orientalis berkebangsaan Jerman yang mengkaji dengan tekun khazanah klasik Islam, dalam bukunya yang berjudul Dan Muhammad adalah Utusan Allah: Penghormatan terhadap Nabi Saw. dalam Islam (terjemahan And Muhammad is His Mesengger: The Veneration of The Prophet in Islamic Piety) telah menemukan apa yang tidak dibaca orientalis sebelumnya, yaitu posisi sentral Nabi Muhammad dalam Islam. Annemarie Schimmel dengan baik memotret praktik-praktik keagamaan  di Pakistan-India yang menunjukkan penghargaan yang begitu tinggi pada Nabi Muhammad. Pada hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad  dan Isra’ dan Mi’raj,  kota dan desa di Pakistan-India dihiasi bendera, umbul-umbul, karangan bunga, pita-pita, dan lampu-lampu hingga tampak semarak. Ribuan orang melantunkan shalawat dan puji-pujian untuk menunjukkan rasa cinta kepada Sang Nabi. Segenap keistimewaan Nabi Muhammad menjelma menjadi pujian, sastra, karya seni, pengharapan syafaat sekaligus jalan hidup yang paling layak diikuti manusia.

Pada satu kesempatan, Syaikh Mustafa al-Maraghi pernah berkata kepada rekanannya, seorang uskup Angklikan di Mesir, bahwa penyebab penghinaan paling umum yang tidak (selalu) sengaja dilakukan oleh orang Kristen kepada Nabi Muhammad adalah ketidaktuan mereka tentang posisi Nabi Muhammad yang begitu penting dalam pribadi setiap Muslim. Ini adalah alasan mendasar sebab ketiadaan apresiasi atau penghargaan orang Kristen kepada penafsiran yang dilakukan Muslim atas sejarah dan kebudayaan Islam.

Bagi Annemarie, betapapun komentar sinis dan negatif terhadap Nabi Muhammad, orang Eropa tetap saja tidak dapat memungkiri bahwa Nabi Muhammad telah menimbulkan kegentaran, keseganan, sekaligus kebencian di Dunia Kristen Abad Pertengahan. Begitu kiranya Dante ketika melukiskan Nabi Muhammad dalam Divine of Comedy yang menanggung siksaan abadi pada level terendah neraka sebenarnya adalah ekspresi kegelisahan orang-orang Kristen yang jumlahnya amat banyak. Sekaligus perasaan yang tidak bisa memahami bagaimana mungkin setelah Kristen –yang begitu kuat sekaligus dominan— masih lahir agama baru yang pengaruhnya amat kuat, sangat aktif di dunia, dan secara politis tentu saja berhasil menguasai bagian luas dari wilayah-wilayah Laut Tengah yang sebelumnya menjadi kekuasaan Kristen.

Nama Muhammad adalah sosok penting dalam Islam. Namanya disebutkan beriringan dengan Allah dalam ikrar janji seorang Muslim yang dikenal dengan kalimat syahadat, la ilaha illa Allah, Muhammad rasul Allah, “Tidak ada Tuhan selain Allah, (dan) Muhammad adalah utusan Allah”. Dalam metafisika Islam, dipahami bahwa eksistensi alam semesta ini tidaklah lebih berharga daripada cahaya primordial (nur) Muhammad. Betapa Nabi Muhammad selalu dipuji dengan gelaran-gelaran yang paling mulia. Para penyair dari Arab, Persia, Turki, India, Afrika dan sederet bangsa-bangsa di mana Islam tumbuh telah mendendangkan syair keagungan Muhammad. Anak-anak di seluruh pelosok negeri Islam menyanyikan lagu tentang Muhammad dengan label kemuliaan, pemberi syafaat, pemilik mukjizat, teladan yang patut dicontoh sekaligus penutup dan penyempurna para Nabi. Tidak hanya demikian, namanya diukir di papan-papan dan kaligrafi sembari mengharap keberkahan atas dirinya. Sosok Muhammad adalah teladan sempurna bagi umat manusia, sekalipun itu adalah hal yang biasanya terkesan remeh bagi selain Muslim.

Annemarie mengutip Wilfred Cantwell Smith yang berpendapat bahwa “Kaum Muslim masih bisa membiarkan serangan kepada Allah; ada banyak orang ateis, publikasi ateistik, dan masyarakat rasionalistik. Akan tetapi, penghinaan kepada Nabi Muhammad akan menyulut, bahkan dari kalangan paling “liberal” sekalipun dari umat islam.” Pembahasan tentang ketuhanan acapkali menimbulkan kritik tajam, namun disertai dengan kemakluman-kemakluman rasionalistik. Berbeda dengan pembahasan kepada Nabi Muhammad yang hampir pasti berujung pada pujian dan pengagungan. Sederhananya, pembahasan tentang Nabi Muhammad itu melebihi perlunya pembahasan tentang ketuhanan itu sendiri. Dalam kajian hukum Islam, baik fikih atau ushul fikih dikenal istilah shahib al-syariah (pemilik [aturan] syariat), dia adalah Nabi Muhammad.

Walhasil, sebagaimana syair Muhammad Iqbal, seorang penyair dan filsuf dari Pakistan:

“Cinta kepada Nabi bagaikan aliran darah di dalam pembuluh-pembuluh umatnya.”

Tafsir Modern Al-Qur’an ala Fazlur Rahman

M. Taufik Kustiawan

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

            Pada era modern, menafsirkan al-Qur’an sering menjadi perdebatan di kalangan ulama, sarjana, dan orientalis. Perdebatan itu banyak melahirkan berbagai tafsir dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an guna menjadi rujukan untuk memahami agama. Perbedaan cara pandang dalam menafsirkan al-Qur’an di kalangan Muslim sendiri, banyak berujung ancaman yang melahirkan konflik sesama Muslim. Hal itu disebabkan pemikiran yang terlalu kolot, fanatik terhadap mazhab tertentu, dan tidak mempertimbangan kebebasan berpikir untuk memahami al-Qur’an secara kontekstual dalam melihat persoalan sosial yang berkembang.

            Al-Qur’an telah menjelaskan, lebih dari 750 ayat mengingatkan manusia untuk senantiasa berpikir. Proses berpikir menunjukkan kepada umat Muslim perlunya berijtihad menggunakan akal pikiran dalam melihat berbagai perintah dan larangan-Nya. Selain itu, pentingnya menggunakan akal adalah untuk mengkaji al-Qur’an dengan cara menafsirkan al-Qur’an secara kontekstual sesuai kebutuhan zaman.

            Itulah yang dilakukan Fazlur Rahman dalam Tema-Tema Pokok Al-Qur’an (2017) yang mencoba merasionalkan pandangannya terhadap al-Qur’an. Dalam buku tersebut, Rahman menginginkan adanya pembaharuan dalam pengembangan ilmu dan tafsir al-Qur’an. Rahman mencoba menawarkan perspektif pendekatan ilmu dengan penafsiran al-Qur’an secara tematis.

            Rahman menerangkan kandungan ayat-ayat al-Qur’an yang perlu dikembangkan sebagai ilmu pengetahuan. Untuk menerangkan gagasan tersebut, Rahman membagi keutamaan tema al-Qur’an meliputi konsep tauhid, manusia sebagai individu, manusia sebagai makhluk sosial, eskatologi, alam semesta, kenabian, wahyu,  dan lain-lain.

            Namun, pemikiran Rahman terlalu bebas dalam mengkaji al-Qur’an, ia berani berbeda dengan pemikiran kelompok tradisonalis di Pakistan. Puncaknya pada 1960, para ulama Pakistan seperti Maulana Yusuf Binnauri dan Allamah Anwar Syah Kashmiri, menuduh pemikiran Rahman menyimpang dari ajaran Islam. Mereka mendakwa Rahman telah terjerumus ke lembah ateisme dan kekafiran dalam menafsirkan kitab suci. Rahman dianggap ingin menciptakan Islam versi baru yang bertentangan dengan Islam versi para pendahulu (hlm. x).  

            Mari kita tengok penafsiran Rahman dalam tema “Manusia Dalam Masyarakat”, tujuan utama al-Qur’an adalah untuk membangun tata sosial di dunia berdasarkan keadilan dan keadaban. Pesan tersebut telah menunjukkan kepada umat Muslim, agar menyikapi perbedaan haruslah dengan sikap menjunjung toleransi dan saling menghargai demi menciptakan paham Islam humanis dan mengerti permasalahan sosial umat.    

            Sejak gagasan Rahman menuai kontroversi dan mendapat kritik dari para ulama tradisionalis, pada 1968 Rahman meninggalkan Pakistan dan mengajar di Universitas Chicago, Amerika Serikat dan McGill Kanada setelah menyelesaikan doktoralnya di Universitas Cambridge pada 1950.

            Bila kita melihat kerangka dan dasar metodologi penafsiran Rahman, sebetulnya ia begitu matang.  Rahman sadar bahwa al-Qur’an adalah sumber realitas hidup dan petunjuk bagi umat Muslim baik secara individual maupun kolektif. Cara Rahman menafsirkan al-Qur’an secara tematis, untuk menerangkan bahwa al-Qur’an jelas menjadi kebutuhan manusia kontemporer. Al-Qur’an sangat diperlukan untuk memainkan peran eksklusif dalam revitalisasi umat Islam agar memberikan makna yang segar untuk meninjau kembali tradisi Islam di masa lampau.

Teks dan Konteks

            Dalam Rekontruksi dan Renungan Religius Islam (1996). M. Quraish Shihab menulis tentang pandangan mengenai Ahl Al-kitab. Pandangan mengenai wawasan al-Qur’an dalam menyikapi suatu masalah  perlu dilihat dari berbagai aspek: konteks ayat (munasabah), sejarah, latar belakang ayat (asbab al-nuzul) dan penjelasan Nabi (al-sunnah). 

            M. Quraish Shihab memang menganjurkan penafsiran melalui pendekatan tematis. Menafsirkan al-Qur’an sangatlah perlu mempertimbangkan berbagai ayat dalam menganalisis dan menyajikan ayat-ayat tersebut untuk ditafsirkan sesuai kebutuhan umat.

            Namun, pada era modern sering kali kelompok Islam literal hanya menafsirkan al-Qur’an secara tekstual tanpa memperhatikan konteks. Penafsiran model tersebut terkadang dijadikan manipulasi kepentingan politik tertentu untuk melegitimasi kekuasaan dan kepentingan politik. Seperti yang pernah terjadi di Indonesia.

            Mempelajari  al-Qur’an semestinya bukan hanya membaca teks (ayat) saja, tapi juga memahami konteks realitas kehidupan yang dihadapi pada zamannya. Pemahaman tekstualis kerap menolak pendapat dari kelompok Islam progresif yang sebenarnya bisa memperluas ruang dialog keislaman dan membuka jalan diskusi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an.

Prof. Nidhal Guessoum, Filosof-Saintis Penggagas Rekonsiliasi Islam dan Sains Modern

Wa Ode Zainab Zilullah

Kandidat Doktor Al-Musthafa International University

Dewasa ini, kita sulit menemukan pemikir Islam yang juga seorang ilmuwan/saintis, seperti pada masa kegemilangan peradaban Islam abad pertengahan. Pemisahan antara sains, agama, dan filsafat pasca merebaknya positivisme, semakin memperlebar jurang antara ketiganya. Selain itu, definisi ilmu pengetahuan yang pada awalnya holistik dan universal, akhirnya mengalami perubahan makna yang lebih parsial dan partikular.

Bersyukur di tengah oase langkanya ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan, masih ada sosok Prof. Nidhal Guessoum yang tak hanya seorang ulama, tapi juga filosof, sekaligus saintis yang ahli dalam bidang astronomi dan fisika.

Prof. Nidhal Guessoum yang lahir pada 1960 ini merupakan putra seorang mufti Aljazair yang kini berkiprah sebagai Guru Besar Astro-Fisika di American University of Sarjah, Uni Emirat Arab. Ayahnya seorang guru besar Filsafat di Universitas Aljazair, serta lulusan Universitas Sorbone, Paris dan Universitas Kairo, Mesir. Sedangkan ibunya mendapatkan gelar Master dalam bidang sastra Arab.

Pada workshop di ISTAC Kuala Lumpur dan International Summer Course di Paris, beberapa tahun silam, penulis pernah bertemu dengan sosok yang pernah mengambil program post-doctoral di lembaga penelitian NASA ini. Dalam kesempatan itu, Prof. Nidal, begitu sapaan akrabnya, mengetengahkan diskursus kontemporer terkait Islam dan Sains Modern. Prof. Nidhal membahas mengenai: “Sains dalam Kebudayaan Islam”, “Pemikir Muslim Klasik dan Pemikiran Filsafat Sainsnya”, “Reaksi Pemikir Muslim terhadap Sains Modern”, serta menjawab pertanyaan “Apakah Sains Modern Menimbulkan Masalah Baru?” Pada pembelajaran terakhir, Prof. Nidal menawarkan sebuah “Proposal Hormonisasi antara Islam dan Sains Modern”. Sebagian pemaparan Prof. Nidhal kala itu merupakan content dari magnum opusnya, sebagian lainnya merupakan proyeksi perkembangan pemikirannya terkait dengan Islam dan Sains Modern.

Magnum opus yang ditulis oleh Prof. Nidhal adalah Islam’s Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition and Modern Science. Buku tersebut sudah diterjemahkan dengan baik oleh Mizan dengan judul “Islam dan Sains Modern”. Dalam buku tersebut, Prof. Nidhal berhasil melakukan rekonsiliasi antara Islam dan Sains secara epistemik. Tak hanya dikenal di negeri ini melalui karya-karyanya, Prof. Nidal pun pernah diundang oleh CRCS Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, untuk menyampaikan materi tentang “Integrasi Islam dan Sains” pada Desember 2011.

Penulis disertasi Thermonuclear Reactions of Light in Astrophysical Plasma ini tak sendirian, dalam dunia Islam terdapat scholar atau pemikir Muslim yang berupaya merespons perkembangan sains modern dengan sudut pandang berbeda-beda, antara lain Seyyed Hossein Nasr, al-Faruqi, Naquib al-Attas, Ziauddin Sardar, Mehdi Golshani, Muhammad Abdus Salam, dll. Kehadiran Prof. Nidhal semakin memperkaya diskursus relasi Islam dan Sains Modern, dengan mengharmonikan iman dan nalar secara filosofis dan teologis yang integratif melalui pendekatan kuantum.

Dalam buku Islam’s Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition and Modern Science itu, Prof. Nidhal berupaya untuk merespons perkembangan sains modern dengan bijak, tanpa menafikan tradisi Islam. Hal ini tidak hanya disambut baik kalangan Muslim, tapi juga ilmuwan non-Muslim di berbagai belahan dunia, meskipun ada juga pemikir Islam yang berbeda pandangan dengannya. Salah satu pemikirannnya yang kontroversial, Prof. Nidhal menyebutkan bahwa al-Qur’an dapat ditafsirkan secara bertingkat dan bergantung pada pengetahuan dan perkembangan zaman sang penafsir.

Karya sosok yang pernah menjabat sebagai wakil presiden Islamic Crescents Observation Project (ICOP) ini memang layak dibaca oleh para pegiat ilmu pengetahuan, terutama yang concern dengan diskursus Islam dan Sains Modern untuk mendapatkan perspektif baru yang progresif. Prof. Nidhal memaparkan berbagai pandangan para ilmuwan Muslim dalam merespons sains modern. Dalam risetnya, ia mengidealkan kajian sains dan Islam dalam sosok Ibn Rusyd (Averroes), seorang filosof Islam yang mempunyai kontribusi besar dalam pengembangan keilmuan Islam, serta berhasil membangun relasi harmonis antara sains, filsafat, dan agama Islam.

Buku ini terdiri dari tiga bagian. Pertama, ulasan pokok mengenai Tuhan, al-Qur’an, dan sikap Islam terhadap sains. Sebelum berbicara mengenai sains, Prof. Nidhal mengetengahkan pembahasan mendalam tentang prinsip-prinsip Islam pada al-Qur’an, tradisi, dan filsafat yang berkembang di dunia Islam. Dalam bab awal, Prof. Nidhal mengulas beberapa biografi fiosof dan ilmuwan Islam sejak abad pertengahan hingga era kontemporer ini, terutama pandangan mereka terkait dengan arahan bagaimana Muslim seyogyanya merespons sains modern.

Kedua, bagian ini mengetengahkan isu-isu kontemporer sains yang dihadapkan pada Islam. Prof. Nidhal membahas bagaimana intelektual Muslim merespons tema kosmologi, teleologi, dan evolusi modern. Ia berpandangan bahwa dunia Islam perlu merumuskan pertanyaan ilmiah (baca: pertanyaan kuantum) secara serius dan komprehensif. Jika Islam berhasil mewujudkan hal ini, maka Islam akan mampu berdiri tegak mengibarkan bendera kejayaan tanpa menutup diri dari others.

Ketiga, Prof. Nidhal membahas berbagai pandangan tentang Islam dan Sains di masa mendatang dan perkembangan pendidikan di dunia Islam. menceritakan pengalaman pribadinya sebagai seorang guru dan ilmuwan. Ia menyarankan agar para pelajar Muslim memiliki kesadaran untuk mempelajari ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk memahami filsafat ilmu dan sejarah yang terkait dengan Islam secara komprehensif.

Prof. Nidhal mengkritisi beberapa model pemikiran Islamisasi Sains, seperti model I‘jâz al-‘Ilm (mukjizat ilmiah), integrasi model al-Faruqi, Ijmali moodel Sardar. Pendekatan kuantum yang ditawarkannya dalam integrasi agama dan sains adalah pola gerakan bolak-balik yang didasarkan atas tiga prinsip, yaitu prinsip tidak bertentangan, penafsiran berlapis, dan falsifikatif teistik. Selain itu, Prof. Nidhal merekomendasikan pentingnya membangun jembatan komunikasi dan jejaring antar peneliti dari belahan dunia lainnya. Menurutnya, ilmuwan Muslim era kontemporer ini harus membangun jembatan yang lebih kokoh, sehingga mampu memberi sumbangsih bagi perkembangan sains dan teknologi dan menguatkan peradaban.

Pada karyanya itu, Prof. Nidhal berhasil menyuguhkan diskursus relasi Islam dan sains tanpa terjebak pada reduksionistik. Ia berupaya memaparkan hasil penelitiannya secara filosofis dan saintifik dengan merujuk pada perkembangan historis di masa lampau hingga era kontemporer. Dari Ibn Rusyd hingga al-Ghazali, dan dari Iqbal ke Nasr, Prof. Nidhal berhasil memaparkan pemikiran para filosof dan intelektual Muslim secara komprehensif, serta memberikan kritik elegan terhadap pemikiran mereka.

Tidak hanya intelektual Muslim yang bisa mengambil manfaat dari karya  Prof. Nidhal ini, tapi juga kalangan non-Muslim. Melalui guratan penanya, Prof. Nidhal mengajak umat Islam bergandengan tangan dengan sains modern. Upaya rekonsiliasi antara sains dan agama pada konteks kekinian dilakukan secara metodologis yang didasarkan pada basis-basis epistemologis. Sungguh sebuah proyek harmonisasi yang brilian.

Corona dan Memudarnya Kepakaran

Mohammad Yunus Masrukhin

Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Akhir-akhir ini, dunia dikejutkan oleh munculnya virus yang menyebar cepat dan dapat menyerang paru-paru. Beberapa negara yang mengalami penyebaran secara masif dan merenggut banyak nyawa, warganya melakukan lockdown yang secara harfiah berarti melakukan pembatasan diri untuk tidak keluar dan meninggalkan sebuah gedung atau wilayah. Sebagaimana dilansir oleh Kompas (22/03/2020), beberapa negara yang melakukan lockdown di antaranya; Tiongkok, India, Italia, Spanyol, Prancis, Irlandia, El Salvador, Belgia, Polandia, Argentina, Yordania, Belanda, Denmark, Malaysia, Filipina, dan Libanon. Sejumlah negara tersebut harus mengambil keputusan yang berat untuk lockdown agar tidak bertambah jumlah yang meninggal dunia. Corona dengan cepatnya menyebar menjadi pandemik.

Sebagai virus pandemik, Corona juga menyerang warga Indonesia secara masif. Dari informasi pertanggal 1 April 2020, kasus positif Corona (Covid-19) di Indonesia mencapai angka 1.677 Dengan total kasus 1.677, berarti ada 149 penambahan kasus Corona dari data sebelumnya yang pada tanggal 30 Maret 2020, berjumlah 1.528 (Detik, 1/04/2020). Jumlah yang tidak sedikit, banyak kalangan menganjurkan pemerintah Indonesia untuk segera melakukan lockdown.

Meski demikian, pemberlakuan lockdown bagi beberapa kalangan di Indonesia masih menjadi perdebatan sengit. MUI yang merupakan organisasi keagamaan dengan tegas menganjurkan pemerintah agar memberlakukan lockdown. Seperti dinyatakan oleh Sekjen MUI, Anwar Abbas, (CNN Indonesia, 29/03/2020) pemerintah sebaiknya, “Melakukan total lockdown di seluruh negeri dan atau lockdown lokal untuk jangka waktu tertentu sesuai pertimbangan para ahli.” Lebih lanjut, MUI memberikan fatwa nomor 14 tahun 2020 bahwa pasien yang terkena virus Corona, “Wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain.” (BBC Indonesia, 20/03/2020).

NU dan Muhammadiyah memberikan pernyataan sikap dalam hal-hal yang berkaitan dengan ibadah, untuk menjaga dari virus Corona. NU memberikan tiga fatwa yang dihasilkan dari Bahtsul Masail dengan rincian: 1) orang yang positif terkena virus Corona tidak boleh melaksanakan shalat Jumat; 2) orang yang berada di zona kuning dianjurkan untuk tidak melaksanakan shalat Jumat; 3) orang yang berada di zona merah dianjurkan untuk shalat Zuhur di rumah (Viva News, 20/03/2020). Muhammadiyah memberikan imbauan yang hampir sama dan memperluas cakupan semua ibadah dan aktivitas yang melibatkan orang banyak untuk dihindari (Suara.com, 16/03/2020).

Meskipun beberapa kalangan memberikan anjuran terkait pemberlakuan lockdown, pemerintah memastikan bahwa Indonesia tidak akan memberlakukan lockdwon secara menyeluruh. Hal itu dinyatakan oleh juru bicara pemerintah dalam penangan virus Corona, Achmad Yurianto (Detik.com, 22/03/2020). Namun, dalam praktiknya, pemerintah mengimbau kepada rakyat agar melakukan social distancing, yakni menjaga jarak satu dengan yang lainnya minimal 1 meter untuk mencegah terjadinya penularan virus.

Sikap berbagai kalangan, termasuk pemerintah, dalam menyikapi pandemi Corona di atas menunjukkan pemahaman yang serius dan didasarkan pada fakta-fakta ilmiah dan argumentatif. Mereka mengambil sikap yang beragam sebagai ikhtiar untuk menjaga diri dari penyebaran virus.

Namun, di samping munculnya sikap ilmiah yang argumentatif terhadap penyebaran virus di atas, ada pula sikap-sikap kontroversial. Hal itu dimunculkan oleh sejumlah ustaz yang biasa mengisi pengajian di hadapan jemaah yang berjumlah ratusan sampai ribuan orang, juga ustaz yang mengampu pengajian rutin mingguan. Pernyataan mereka bisa ditemukan dengan mudah di medsos, utamanya YouTube.

Di YouTube banyak ditemukan ceramah ustaz yang mengaitkan pandemik Covid-19 dengan polemik Muslim-Non-Muslim atau polemik etnis, yang sebenarnya bisa dilacak hubungannya dengan polemik pemilu beberapa waktu lalu. Baginya, Corona adalah virus yang dikirim Allah bagi Muslim Uighur yang selama ini teraniaya oleh rezim Tiongkok. Ia beranggapan bahwa Uighur selamat dari virus Corona karena mereka senantiasa bersuci dan tidak mengkonsumsi binatang atau makanan yang haram—seperti darah.

Tentu saja, sang ustaz tidak sendirian dalam mengaitkan virus dengan tentara Tuhan. Setidaknya, ia menyebutkan bahwa ada delapan ulama yang berpendapat sama dengannya. Jumlah tersebut bisa lebih banyak jika dicermati dalam tayangan YouTube dan media sosial.

Sikap para ustaz di atas menggambarkan bagaimana sebagian orang yang dianggap mempunyai otoritas untuk berbicara tentang Islam memberikan pandangan tentang fenomena ilmiah dengan cara keagamaan tanpa memberikan argumentasi yang memadai. Mereka bahkan mencoba mengaitkan fenomena tersebut dengan isu-isu politik yang secara empiris belum bisa dibuktikan.

Mengatakan bahwa virus Corona merupakan tentara Allah yang dikirim untuk melindungi Muslim Uighur hanya berdasarkan asumsi politik identitas, yang seharusnya dijelaskan dengan ilmu medis, merupakan gambaran tentang timpang dan cacatnya logika yang digunakan untuk membangun kesimpulan keagamaan. Hal ini mempunyai efek buruk, tak hanya bagi popularitas mereka, tapi juga berimbas kepada otoritas ulama, yang selama ini dianggap sebagai kelompok sosial yang mulai kehilangan nalar ilmiah mereka.

Sayangnya, penjelasan tentang fakta ilmiah yang dikaitkan dengan politik identitas sangat menarik perhatian Muslim muda yang awam. Mereka menyebarkan asumsi tersebut di sejumlah media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram secara masif yang tampak menarik di luar. Namun, hal ini pada akhirnya memberikan kesan bahwa ulama mengalami penurunan sikap ilmiah dan kurang menjaga amanah yang sebelumnya dijaga dengan ketat. Ulama mulai dianggap berbicara tentang hal yang kurang dimengerti oleh mereka sendiri. Mereka dianggap menggunakan asumsi sebagai dalil keagamaan yang bisa digunakan untuk memberikan fatwa yang argumentatif. Corona memang menakutkan semua orang. Namun, yang lebih menyedihkan adalah, kemampuannya dapat memudarkan otoritas dan kepakaran ulama.

Menimbang Maqashid Jasser Auda di Tengah Wabah Corona

Rahmatullah Al-Barawi Co-Founder Qur’anic Peace Study Club dan Associate Researcher Laboratorium Studi Quran dan Hadis (LSQH) UIN Sunan Kalijaga.

Istilah maqashid bukanlah istilah baru dalam khazanah intelektual Islam. Setidaknya beberapa ulama awal yang menggunakan istilah maqashid misalnya al-Tirmidzi al-Hakim dalam kitabnya al-Shalah wa Maqashidiha atau Abu Bakr al-Qaffal dalam kitabnya Mahasin al-Syari’ah. Kedua kitab tersebut berupaya menggali tujuan dan hikmah dari diberlakukannya suatu syariat. Inilah yang menjadi substansi dari maqashid, yang diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata ‘maksud’.

Salah satu perkembangan yang cukup signifikan dalam kajian maqashid adalah hadirnya kitab al-Muwafaqat karya Abu Ishaq al-Syatibi. Beliau membagi maqashid ke dalam tiga kategori yaitu dharuriyat (keniscayaan), hajiyyat (kebutuhan), dan tahsiniyyat (kelengkapan). Lebih lanjut lagi, aspek dharuriyah memiliki lima poin penting, yaitu menjaga agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal. Kelima poin inilah (ushul al-khamsah) yang saat ini berkembang dan dipahami sebagai lima asas dari maqāshid al-syarī`ah yang harus ditegakkan.

Lantas, di era kontemporer saat ini, salah satu tokoh yang mencoba menghidupkan kembali pemikiran maqashid dengan pemaknaan yang baru adalah Jasser Auda. Salah satu karya monumentalnya saat ini berjudul Maqasid Shariah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Mizan dengan judul Membumikan Hukum Islam melalui Maqashid Syariah. Menarik untuk melihat gagasan maqashid yang ditawarkan oleh Auda. Alih-alih menggagas istilah dan metode baru sebagaimana banyak dilakukan oleh cendekiawan modern seperti Nasr Hamid Abu Zaid, Fazlur Rahman, dan Abdullah Saeed, Jasser Auda mencoba menghidupkan kembali tradisi pemikiran klasik yang sudah dibahas sejak abad ke-3 H ini dengan semangat modern.

Salah satu gagasan reformis Auda adalah mengubah nuansa maqashid syariah yang awalnya protection (penjagaan) dan preservation (pelestarian) menuju development (pengembangan) dan pemuliaan human rights (hak asasi manusia). Pemikiran tersebut lahir dari realitas yang dilihat oleh Jasser Auda. Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia, negara-negara Muslim menduduki level terendah. 

Oleh karena itu, menurutnya gagasan maqashid harus diubah orientasinya dari sekadar penjagaan menuju pengembangan. Jika maqashid klasik membahas hifzh al-mal (menjaga harta) dengan salah satu cara yaitu hukuman potong tangan bagi pencuri, pada tahap pengembangan, hifzh al-mal membahas persoalan ekonomi secara luas; bagaimana agar ekonomi dapat berputar secara adil sehingga tidak ada masyarakat miskin yang berpikir untuk mencuri. Hal ini misalnya yang banyak terjadi di negara Barat, di mana negara menjamin secara totalitas sehingga keamanan benar-benar dapat dirasakan semua pihak. 

Sejalan dengan hal tersebut, Jasser Auda sering mengutip pernyataan Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah sebagai berikut:

Syariat itu didasarkan pada kebijaksanaan yang menghendaki kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat. Syariat seluruhnya terkait dengan keadilan, kasih sayang, kebijaksanaan dan kebaikan. Jadi, peraturan apa pun yang mengganti keadilan dengan ketidakadilan, kasih sayang dengan kebalikannya, kemaslahatan dengan kejahatan, atau kebijaksanaan dengan omong kosong, maka peraturan tersebut bukan bagian dari Syariah, meskipun diklaim sebagai bagian dari Syariat menurut beberapa interpretasi.

Berdasarkan penuturan tersebut, jelas bahwa maqashid dari syariat adalah keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Maka aturan-aturan yang dibuat haruslah berlandaskan pada poin-poin tersebut. Menurut Jasser Auda, hal tersebut dapat diimplementasikan dengan mengembangkan maqashid yang berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan. 

Selain itu, Jasser Auda juga menawarkan pembacaan baru dalam melihat maqashid. Alih-alih memisahkan klasifikasi maqashid ke dalam lima poin di atas, Auda melihat bahwa kelima poin tersebut saling berhubungan dan berkaitan satu sama lain. Sehingga dalam pengaplikasiaannya tidak dapat dipisahkan. Misalnya dalam konteks menjaga agama, seseorang yang beragama juga harus berakal sehat, mempunyai tubuh yang kuat, menjaga keturunan dan keluarganya dari siksa neraka, mempunyai kekuatan finansial, dan lain-lain. Dengan kata lain, satu konsep tidak dapat berdiri sendiri dan harus saling mengisi dan menguatkan. Meminjam istilah Amin Abdullah, maqashid yang ada harus saling berintegrasi, interkoneksi dan multidisiplin.

Salah satu contoh menarik yang dapat dielaborasi saat ini adalah terkait wabah Virus Corona atau Covid-19. Dalam konteks ini, ajaran Islam harus menjaga nyawa manusia, ini adalah maqashid yang harus dicapai. Maka fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga keagamaan, tidak boleh bertentangan atau mengancam nilai-nilai kemanusiaan. Jasser Auda menggarisbawahi definisi fatwa yaitu aplikasi dari syariat dalam kehidupan umat Islam saat ini. Sehingga boleh jadi aplikasinya berbeda dengan zaman dahulu, tetapi maqashid-nya tetap terjaga. Dalam bahasa Auda, ia menyebut, differentiating between changing means and absolute ends, keharusan membedakan antara makna yang berubah dan tujuan akhirnya, antara wasilah dan ghayah. 

Berdasarkan pertimbangan dari pakar kesehatan, dapat diketahui bahwa virus ini dapat menular dengan cepat dikarenakan adanya perjumpaan yang masif dan dekat antarmanusia. Sehingga untuk mencegahnya, dibutuhkan social atau physical distancing, membangun ruang jarak fisik di tengah masyarakat. Salah satunya dengan beraktivitas di rumah saja. Dalam konteks maqashid, #dirumahaja menjadi panduan untuk menjaga kemanusiaan.

Poin pertama, dalam konteks menjaga ajaran agama, ibadah dilakukan secara bersama-sama dan berjamaah. Tetapi, dalam situasi pandemi, hal seperti itu justru dapat mengancam kemanusiaan. Maka ibadah pun dapat dilakukan secara mandiri di rumah masing-masing. Poin kedua, penjagaan jiwa manusia dari segala ancaman dan virus yang membahayakan. Maka antisipasinya perlu dilakukan, seperti rajin mencuci tangan, memperhatikan etika bersin, mengkonsumsi makanan yang bergizi, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Sedangkan poin ketiga, menjaga keturunan dan keluarga. Orangtua menjaga anaknya dan anak menjaga orangtua. Termasuk salah satu penjagaan keluarga, bagi orang yang sedang dirantau dengan tidak mudik di tengah pandemi. Sebab, bisa jadi sang pemudik membawa virus yang dapat mengancam keluarga yang lebih rentan terkena virus mematikan.

Poin keempat, menjaga dan mengelola harta. Salah satu cara pengelolaan harta yang diajarkan oleh Al-Quran adalah peredaran uang di tengah masyarakat tidak hanya beredar di kalangan orang kaya saja. Di tengah wabah seperti ini, solidaritas dan gerakan sosial kemanusiaan membantu sesama penting digiatkan. Orang yang mempunyai kemampuan finansial membantu fakir miskin dan dokter yang berjuang di garda terdepan. Poin kelima, menjaga nalar dan akal sehat dengan cara meningkatkan literasi media dan sains seputar virus ini. Sebenarnya bukan hanya masalah virus ini saja, menurut Nidhal Guessoum, secara umum literasi sains di dunia Muslim masih sangat rendah. Misalnya dengan memilah dan memilih berita-berita yang beredar di media sosial. Sebab, tidak semuanya valid dan dapat dipercaya. Dengan memaksimalkan hal-hal tersebut, maka maqashid akhir yaitu menjaga nilai-nilai kemanusiaan lebih memungkinkan untuk tercapai.

Oleh karena itu, dalam perspektif maqashid syariah Jasser Auda, ada beberapa hal yang menjadi penekanan. Pertama, hierarki nilai dalam maqashid klasik harus dipandang sebagai satu kesatuan dan saling mengisi. Kedua, perlu adanya sinergitas antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan modern sehingga maqashid-nya dapat lebih menyeluruh dan maksimal. Ketiga, maqashid dari ajaran Islam secara umum adalah menjaga, mengembangkan dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan. Maka segala hal yang mengatasnamakan agama tetapi ‘membunuh’ rasa kemanusiaan, harus ditinggalkan. Wallahu a’lam bis al-shawwab.

Merayakan Islam Dengan Irama Bersama Prof. Anne K. Rasmussen

Ilmu berfungsi memecah, sedang cinta mempersatukan. Namun, Bu Anne menggunakan ilmunya untuk menemukan kesatuan. Beliau menyebarkan World Love, bukan Wolrd War. –Emha Ainun Nadjib.

“Saya suka komentar Cak Nun tersebut”, kata Prof. Anne K. Rasmussen saat membaca salah satu testimoni terhadap buku barunya yang diterbitkan Mizan, di sela-sela presentasinya dalam acara kuliah umum di Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah, Kamis, 27 Juni 2019.

Anne K. Rasmussen, seorang peneliti asal Amerika, baru-baru ini menerbitkan buku barunya dengan terjemahan bahasa Indonesia.  Bekerjasama dengan Mizan, buku hasil penelitiannya yang berjudul Women, the Recited Qur`an, and Islamic Music in Indonesia, diterjemahkan dan diterbitkan dengan judul Merayakan Islam dengan Irama.  

Buku hasil penelitian ini telah rampung ditulis sejak tahun 2010 lampau. Namun baru tahun ini dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia.

Anne K. Rasmussen adalah seorang akademisi yang jatuh cinta pada sentuhan musik Islam. Pada tahun 1985 Anne masuk sekolah lanjutan di Universitas California di Los Angeles (UCLA).  Di kampus tersebut ia bertemu dengan Prof. Ali Jihad Rashi, seorang pakar musik Arab dari Lebanon yang mengajar di sana. Ia mulai tertarik dan mendalami musik timur tengah dan bergabung dalam grup musik yang dimentori Prof. Rashi. Secara terampil ia mempelajari alat-alat musik gambus.

Pada musim semi tahun 1996. Anne K. Rasmussen,  membeli kitab suci Al-Qur`an bilingual (Arab-Inggris) terjemahan Zafrulla Khan (1991) di Dearborn, Michigan. Di negara bagian Amerika utara yang paling dingin ini Anne juga membeli Kamus Indonesia-Inggris terjemahan linguis Hassan Shadily dan John M. Echols. Di Michigan ini, ia melakukan penelitian etnografi di komunitas Arab-Amerika. Setelah itu Anne ke Indonesia bersama sang suami.

Di Indonesia Anne pernah bergabung dengan Ikatan Persaudaraan Qori dan Qoriah, Hafiz dan Hafizah (IFQOH). Grup ini dipimpin oleh Dr. Yusnar Yusuf yang bekerja di Departemen Agama.     

Modal kemampuan bahasa Indonesia yang telah dikuasai berkat kamus yang pernah dibelinya di Michigan membantu Anne dalam penelitiannya di Indonesia. Anne adalah peneliti pertama yang konsen pada perkembangan musik Islam di Indonesia. Ia berhasil menggali sisi lain Islam yang tidak melulu serius. Baginya Islam di Indonesia telah berhasil menampilkan wajah yang elegan dan mengapresiasi tinggi terhadap seni, baik musik maupun seni tilawah. Bahkan perempuan muslim di Indonesia mempunyai peran yang sangat signifikan dalam perkembangan Islam. Anne berhasil menjadi etnomusikolog senior berkebangsaan Amerika Serikat pertama yang berhasil menerbitkan buku penelitian berjudul Women, the Recited Qur`an, and Islamic Music in Indonesia, pada tahun 2010.

Buku penelitian setebal 336 halaman itu diterbitkan University of California, Berkeley. Kajian ilmiah yang dibukukan ini berisi pengamatan Anne terhadap praktik musik Islam di Indonesia. Ia mulai melakukan riset 1995-1996, dan kembali lagi pada tahun 1999 selama 12 bulan sebagai peneliti Fullbright yang disponsori UIN Syarif Hidayatullah. Setelah itu pada tahun 2017 ia kembali mendapatkan beasiswa fullbright dengan sponsor yang sama. Tahun 2018 Anne secara intens berkomunikasi dengan Prof. Masykuri Abdillah, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah yang kemudian mempertemukannya dengan Redaktur Senior Mizan, Ahmad Baiquni dalam rangka kerjasama penerbitan buku penelitiannya dalam bahasa Indonesia.

Terdapat dua poin dalam kajiannya, yakni tradisi tilawah dan musik islami di Indonesia. Objek penelitian Anne relatif unik karena meneroka kedudukan perempuan sebagai pendaras dan subjek dalam pengembangan seni Islam.

Tilawah yang dilakukan perempuan sering dipandang sebelah mata di sebagian negara-negara Timur Tengah. Posisi perempuan masih dimarjinalkan atau dikesampingkan. Kenyataan demikian diuraikan Anne secara eksplisit. Meskipun begitu, ia menemukan realitas berbeda di Indonesia. Mendaras kitab suci di muka publik bukan hanya dilakukan laki-laki, melainkan juga perempuan.

Sebagai seorang etnomusikolog, Anne memandang suara tak sekadar bebunyian, tapi ekspresi estetik yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Ia melihat tilawah sebagai keindahan musikal yang telah menjadi tradisi di Nusantara sejak lama. Sepanjang proses historis itu kemudian membentuk gaya mendaras yang variatif.

Kamis, 21 Juni 2019, Prof. Anne K. Rasmussen hadir dalam kuliah umum sekaligus launching bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Buku terjemahannya diterbitkan oleh Mizan, berkat kerjasamanya dengan Prof. Masykuri Abdillah yang menjadi sponsornya mendapatkan beasiswa fullbright pada tahun 2017, selama 6 bulan. Sebelumnya juga pernah mendapat dukungan sponsor dari UIN Syarif Hidayatullah saat dipimpin oleh Prof. Azyumardi Azra pada tahun 1999 selama 12 bulan.

Setelah kuliah umum dan launching buku terjemahan, Mizan mendapat kesempatan interview dengan Prof.  Anne K. Rassmusen.  

Berikut petikan wawancana singkatnya.

Bagaimana kesan terhadap penerbitan buku hasil penelitian Anda yang semula berjudul Women, the Recited Qur`an, and Islamic Music in Indonesia menjadi Merayakan Islam dengan Irama?

Bagi saya proses penerbitan buku saya ini sangat menyenangkan. Sebelumnya saya ada pertemuan dengan Pak Baiquni, Redaktur Senior Mizan dan Prof. Masykuri Abdillah, selaku sponsor beasiswa fullbright saya. Pak Masykuri yang menghubungkan saya dengan Pak Baiquni. Kita berdiskusi banyak hal terkait proyek penerbitan ini. Bagi saya buku ini sangat penting untuk diterjemahkan. Ini sebagai promosi saya, sekaligus mengenalkan pada khalayak. Saya adalah etmosikolog pertama yang meneliti tentang ini.

Banyak orang menganggap Islam terkesan kaku dan serius. Padahal di dalam Islam banyak seni yang menyenangkan dan kreativitas yang inspiratif. Karena itu perlu dikenalkan. Bagi saya ini adalah tantangan. Saya perlu tahu bagaimana masyarakat Indonesia melihat hasil penelitian ini.

Saya sangat senang bisa bekerjasama dengan Mizan dalam proyek penerjemahan dan penerbitan buku saya ini. Ini sangat berharga sekali bagi saya. Semoga ini juga bisa memberikan kontribusi yang baik bagi Indonesia.

Kenapa baru sekarang buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, padahal buku hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam bahasa Inggris tahun 2010?

Ok. Saya menyadari banyak rintangan yang harus saya hadapi dalam penerbitan ini. Sebelumnya tidak ada orang yang minta menerjemahkan ini atau meng-approach studi saya sebagai sesuatu yang penting. Selain itu, penerbitan ini juga tidak gratis. Sehingga saya juga membutuhkan support dari sponsor. Nah, pada tahun ini saya mendapatkan dukungan tersebut sehingga bisa menerbitkan buku saya dalam bahasa Indonesia. Saya berhubungan baik dengan Bu Baiq Nadia dari Bentang (kelompok penerbit Mizan) untuk menyelesaikan proyek ini. Beliau adalah orang yang sangat baik dan responsif.

Apa yang paling berkesan dari penelitian Bu Anne?

Saya bertemu banyak hal yang sangat menarik dalam Islam yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Ada banyak perkembangan dalam tubuh Islam. Islam yang terkesan kaku dipatahkan dengan fakta sosial di Indonesia yang melebur bersama budaya. Termasuk dalam seni musik. Bahkan dalam seni tilawah Alquran yang banyak dikembangkan oleh kaum perempuan.

Seberapa jauh pengaruh penelitian yang telah dilakukan terhadap masyarakat Barat?

Orang Amerika biasanya tidak tahu banyak tentang Islam di Indonesia. Indonesia sangatlah luas, tapi banyak yang menganggap tidak terlalu berpengaruh. Padahal banyak orang Indonesia yang mendapat penghormatan di kancah internasional. Sebab itulah, tentu akan memberikan warna baru yang lebih baik. Banyak orang Barat mengesankan Islam hanya berwajah kaku. Padahal kenyataan di Indonesia sama sekali berbeda. Di sini musik Arab yang Islam mengalami improvisasi signifikan dalam masyarakat Indonesia. Bahkan, perempuan mempunyai peran yang spesial dalam menyanyikan lagu-lagu islami. Selain itu seni sari tilawah baca Alquran juga sangat diminati dan banyak yang sangat professional dan berpengaruh, baik dari laki-laki maupun perempuan.

Apakah Isu Muslimah di Indonesia yang telah diangkat dalam penelitian Anda memberikan kontribusi pemahaman Islam yang lebih baik bagi dunia?

Bagi saya ini bagian paling penting dalam penelitian saya dan perlu saya sampaikan ke dunia. Bahwa banyak hal yang sangat menarik dalam Islam di Indonesia. Tidak hanya musik Islam yang menarik di Indonesia tetapi Perempuan juga mempunyai peran yang sangat signifikan. Perempuan muslim di Indonesia sangat aktif dan berpengetahuan. Pengembangan peran perempuan sangat kuat terhadap agama. Padahal, pandangan sebagian ulama di dunia ini ada yang mengharamkan perempuan dalam bermusik. Tetapi dalam Islam di sini sangat biasa dan diterima. Mulai dari nasyid sampai shalawat, dari gambus sampai qosidah, dari yang sederhana sampai produk besar dengan banyak variasi. Ada gamelan, ada zafin, hajar marawis, akapela, dan banyak yang lain. [] Hakim

Menebar Benih Cinta Persaudaraan Manusia (Sebuah Catatan Solidaritas untuk Muslim New Zealand)

Dalam sebuah peperangan melawan pasukan kafir Quraisy, dalam perang uhud, tentara Islam takluk sebab tak menghiraukan titah Nabi. Banyak umat Islam yang menjadi korban. Salah satu di  antaranya adalah paman Nabi yang bernama Hamzah. Seorang paman yang selalu teguh melindungi Nabi. Terbunuhnya Hamzah menyisakan duka lara yang sangat menyayat. Bagaimana tidak, tubuh Hamzah dicabik-cabik, dadanya dibelah, hati atau jantungnya dirobek oleh Wahsy seorang budak suruhan, lalu dikunyah-kunyah oleh Hindun istri Abu Sufyan. Nabi tak kuasa menahan air mata dan menahan kesedihan yang mendalam. Pun demikian para sahabat menyesal telah mengabaikan pertahanan sebagaimana instruksi Nabi.

Lalu apakah yang dilakukan Nabi. Apakah balas dendam? Masihkah Nabi menyimpan ancaman, menebar ketakutan pada kaum kafir Quraisy? Semua tentu tahu bagaimana karakter Nabi. Kelak ketika semua sudah takluk dibawah umat Islam. Tak sedikit pun ada dendam. Semua yang telah tunduk dan pasrah pada Nabi, termasuk si pembunuh paman Nabi dan penyuruhnya dibebaskan dan mendapatkan suaka keselamatan. Wahsy dan Hindun pada akhirnya masuk Islam dengan penuh kekaguman dan kepasrahan.

Selain kisah di atas, Nabi juga pernah dilempari batu saat hijrah ke Thaif. Penduduk Thaif merasa keberatan dan menolak dengan kasar, hingga melempari Nabi dengan bebatuan yang menyebabkan gigi geraham beliau berdarah. Melihat keadaan memilukan ini, para malaikat turun dan menawari Nabi agar diperkenankan untuk menghancurkan penduduk Thaif. Tapi apa jawaban Nabi? Tak dinyana, Nabi justru memaafkan dan mendoakan mereka “Allahummahdi qoumy fainnahum la ya’lamun”, Ya Allah berilah petunjuk kaumku karena sesungguhnya mereka tak mengerti.

Begitulah teladan Nabi yang senantiasa memaafkan siapapun yang pernah menyakitinya. Nabi mengajari akhlak yang begitu luhur. Dendam bukanlah solusi menyelesaikan masalah. Justru, sebaliknya tak akan ada akhir dari dendam yang saling diumbar dan saling dibenturkan. Nabi datang sebagai juru damai. Untuk semua umat manusia.

Ketika Nabi hijrah ke Madinah, pertikaian yang tak berujung antara suku Khazraj dan Aus bisa diselesaikan dengan saling menerima, berkat inisiatif Nabi yang menyentuh, mendamaikan keduanya. Begitulah Islam, sebagaimana pembawa risalahnya. Adalah Muhammad SAW. Namanya memang terpuji. Dan Islam itu sendiri tidak lain berarti kedamaian yang penuh keselamatan.

***

Apa yang terjadi di New Zealand tempo hari, (15/3/19), memang menyisakan duka yang sangat mendalam bagi umat Islam. Khususnya bagi keluarga para korban. Atas dasar kebencian seseorang yang namanya saja tak layak untuk disebut, sebagaimana kata PM New Zealand, telah tega dan membabi buta merenggut nyawa orang-orang tak berdosa yang sedang menunaikan ibadah shalat jumat. Dunia telah terguncang, tak hanya New Zealand.

New Zealand adalah negara dengan tingkat kenyamanan dan keamanan paling tinggi di dunia untuk dihuni. Begitulah info yang sering kita dengar. Sebuah negara dengan pendidikan terbaik dan sangat mendukung segala aktivitas positif yang mendukung berkembangnya budaya maju. Semua hidup dalam kedamaian dan penuh penghargaan. Tapi, bak tersambar petir yang tak disangka. Jumat, 15 Maret 2019 seorang teroris xenophobia muncul dengan segala kebenciannya. Atas nama supremasi kulit putih, ia membantai umat Islam imigran yang tengah beribadah shalat jumat di masjid Al Noor, dan masjid Linwood di kota Christchurch. Tak kurang dari 50 orang dinyatakan meninggal dunia dan 29 korban luka. Dunia berduka. Benar-benar berduka.

Tapi, seminggu pasca kejadian itu ada pemandangan yang sangat menyejukkan di tengah dunia yang tengah berduka. PM New Zealand, Jacinda Ardern menunjukkan rasa simpati dan empati yang sangat besar. Dalam sebuah pidato ia bahkan memulainya dengan ungkapan salam sebagaimana umat Islam, “Assalamu’alaikum”. Ia juga mengenakan kerudung sebagai bentuk solidaritasnya. Dan ia tak mau menyebut nama teroris yang biadab itu. Namanya saja tak layak disebut. “Ia hanyalah seorang teroris!” Tegasnya dalam pidatonya untuk menunjukkan rasa simpati pada umat Islam.

Sikap Jecinda Ardern membuat seluruh rakyat New Zealand bersimpati dan mengikutinya. Mereka semua menunjukkan sikap simpatinya dengan menjaga masjid saat umat Islam menunaikan ibadah shalat. Membentuk rantai manusia dan meletakkan bunga-bunga dengan ungkapan penuh simpati. Banyak orang merasa terharu melihat pemandangan yang sangat indah itu.

Tak ada rasa malu untuk menumpahkan air mata melihatnya. “Saya tidak malu mengakui bahwa saya menangis di adegan ini, malam ini. Penduduk setempat Christchurch membentuk rantai manusia di belakang Muslim ketika mereka melakukan sholat maghrib di depan masjid Al Noor, di mana begitu banyak yang meninggal. Itu benar-benar indah,” ujar seorang Netizen, @JeromeTaylor’s  dalam cuitan twitter dengan menyertakan gambar umat Islam yang tengah melakukan shalat maghrib berjamaah, sementara dibelakangnya dijaga barisan rantai manusia.

Adzan pun berkumandang di seluruh New Zealand dan diikuti dengan mengheningkan cipta selama 2 menit setelahnya. Semua bersatu dalam simpati. Tak ada diskriminasi perbedaan agama, ras, maupun suku. “Mereka adalah kita”, tegas Jecinda Ardern.

Usai kejadian ini, dunia seakan tercengang dengan persaudaraan dan persatuan masyarakat New Zealand yang sangat erat. Dimulai dengan pemimpin yang sangat peduli kepada rakyatnya. Pemimpin yang mengatakan bahwa satu darinya terluka, maka semua ikut merasakan.

Sementara itu, ketika ada politikus rasis yang berbicara secara picik, tiba-tiba datang seoarang anak muda yang berumur tak lebih dari 17 tahun menimpuk kepalanya dengan sebutir telur. Menumpahkan kekesalan pada politikus yang bernama Fraser Anning. Anning yang berbicara di depan pers justru menyalahkan orang Islam imigran yang dianggap menjadi ancaman. Karena itulah, seorang anak muda dari belakangnya melakukan aksi heroik yang justru mendapat banyak simpati dari banyak orang. Dianggap sebagai seorang pahlawan.

Umat Islam bisa belajar dari seorang suami yang bernama Farid Ahmed. Istrinya menjadi korban penembakan biadab itu. Dalam sebuah wawancara, ia justru mengatakan bahwa ia telah memaafkan pembunuhnya. Sama sekali tak ada rasa benci pada orang yang menembak istrinya itu. Ia hanya menolak sikapnya yang jahat. Bukan orangnya. Cinta benar-benar menyemai di tengah buramnya dunia yang penuh kejahatan.

“Saya akan mengatakan pada dia, ‘Saya menyayangi dia sebagai pribadi’,” kata Farid Ahmad kepada kantor berita AFP, Senin (18/3/2019). “Saya tak bisa menerima apa yang dilakukannya. Apa yang dilakukannya adalah hal yang salah,” tuturnya. Namun ketika ditanya apakah pria itu memaafkan pelaku teror yang menewaskan istrinya, dia berujar: “Tentu. Hal terbaik adalah pengampunan, kemurahan hati, cinta dan perhatian, positif.” Cerminan seorang muslim yang dipenuhi kasih sayang tampak dari seorang suami yang istrinya meninggal akibat ditembak teroris ini.

Dalam menunjukkan aksi simpati, sebuah surat kabar lokal membuat halaman khusus di depan bertuliskan bahasa Arab yang berbunyi “Salam”. Kalimat itu berarti peace. Sebagaimana makna itu sendiri merepresentasikan nilai-nilai Islam. Penuh kedamaian dan keselematan. Agama yang penuh cinta menjadi senjata ampuh untuk menumpas kejahatan.

Demikianlah Islam mengajarkan. Bukan sebagaimana kelompok radikal ISIS yang justru memancing di air keruh, menebar teror akan membalas dendam. Sekali lagi Islam tak mengajarkan balas dendam. Islam adalah agama yang mengajarkan untuk memaafkan, sebagaimana tercermin dari seorang Farid Ahmed yang menegaskan hal itu.

Salam Cinta. Salam penuh perdamaian untuk semua.[]

(Abd. Hakim Abidin)

Dari Allah Menuju Allah: Rumi dan Kerinduan Manusia untuk Kembali Pulang

Rumi adalah tokoh sufi terkemuka yang masyhur di dunia Timur maupun Barat. Untaian syai-syairnya tak pernah lekang oleh ruang dan waktu. Sejak dulu hingga sekarang kandungan makna syair-syairnya terus digali oleh para cendekiawan Timur maupun Barat.

Haidar Bagir, cendekiawan, filantropis dan direktur Mizan Group, adalah salah satu cendekiawan yang bisa dibilang cukup intens mengkaji Rumi dan gagasan-gagasannya. Selain mendirikan pesantren virtual Nurul Wala’, sejak 2015 ia secara intens menulis tentang Rumi dan gagasan-gagasannya. Sebut saja buku yang berjudul Belajar Hidup dari Rumi diterbitkan oleh Mizan pada tahun 2015 dan Mereguk Cinta Rumi: Serpihan-Serpihan Puisi Pelembut Jiwa,  (Mizan, 2016). Tahun 2018 lalu, selama bulan Ramadhan, Haidar mendaras puisi-puisi Rumi lewat akun media sosial Mizan Wacana dan Noura Publishing.

Haidar kembali menulis buku tentang Rumi pada awal tahun 2019 ini. Buku yang berjudul Dari Allah Menuju Allah: Belajar Tasawwuf dari Rumi, diterbitkan oleh Penerbit Noura. Dalam buku ini Haidar tidak saja memaparkan gagasan-gagasan Rumi yang terkemas dalam syair-syairnya, tetapi juga mengelaborasi syarah kandungan maknannya. Dengan demikian masyarakat umum yang mungkin tidak memahami secara mendalam tentang syair-syair Rumi, bisa secara gamblang mencernanya. Menyelam dalam keindahan lautan syair cinta Rumi pada Tuhan.

Dalam kesempatan bedah buku Dari Allah Menuju Allah (DAMA) di Kinokuniya Bookstore, Plaza Senayan (14/02/19), Haidar memaparkan proses kreatif dan inspirasi yang membuatnya tertarik secara tiba-tiba ingin mendalami dan terus menulis tentang Rumi. Tidak hanya menulis gagasan-gagasan Rumi tapi juga berusaha memberikan syarah terhadap syair-syair Rumi. Dari perenungannya selama beberapa tahun belakangan ini, muncullah ide menulis pemahamannya yang secara mengalir menguraikan kedalaman makna syair-syair Rumi.

Dalam salah satu penggalan syairnya, Rumi mengungkapkan;

Dulu Aku perbendaharaan rahasia kebaikan dan kedermawanan,
Kurindu perbendaharaan ini dikenali,
Maka kucipta cermin

Penggalan syair di atas terilhami dari hadis Qudsi; “Dulu aku adalah perbendaharaan tersembunyi. Aku rindu untuk dikenali. Maka Kucipta ciptaan, agar aku dikenali”. Para sufi meyakini bahwa penciptaan alam semesta, termasuk manusia, adalah karena kecintaan Tuhan pada makhluk dan “kerinduan-Nya” untuk diketahui oleh makhluk. Pada setiap makhluk yang diciptakan Tuhan tersemayam di dalamnya tiupan rahman (kasih sayang). Meminjam istilah Ibn Arabi, Tuhan adalah Nafas ar-Rahman, yaitu napasnya Allah lah yang menjadi bahan penciptaan semesta. Artinya, diartikan bahwa manusia semua diciptakan karena cinta.

Haidar Bagir menyampaikan proses kreatif dan ide menulis buku DAMA (Dari Allah Menuju Allah)

Haidar mengaku bahwa keinginan menulis buku-buku tentang Rumi secara tidak sengaja muncul. Menurutnya, unsur sufistik dalam syair-syair rumi mampu menjelaskan tasawwuf dan ‘irfan secara lebih elegan dan mendalam. Manusia diibaratkan cermin Tuhan, yang darinya Tuhan menginginkan agar “dikenal” makhluknya. Sebab Tuhan telah meniupkan ruh ke dalam diri manusia dari “ruh-Nya”, sebagaimana dalam surat al-Hijr ayat 28:  “Faidza sawaituhu wa nafakhtu fiihi min ruuhi faqa’uu lahuu saajidiin”. Maka ketika aku telah selesai menciptakannya dan meniupkan sebagian ruhku, maka mereka beranjak untuk sujud hormat kepadanya.

Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dengan keistimewaan dari-Nya. Manusia memang diciptakan oleh Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Karenanya ungkapan dari Allah menuju Allah menggambarkan secara universal hakikat terciptanya manusia.

Haidar menambahi bahwa diksi cermin yang dipakai Rumi tak lepas dari pemahaman bahwa manusia sebagai madzhar (wadah) yang sempurna untuk tajalli (emanasi) Tuhan. Dalam satu hadis Qudsi, Allah berfirman: “Alam semesta dan isinya tak mampu menampungku, yang bisa menampungku adalah hati mukmin”. Manusia adalah tajalli Tuhan yang berarti adalah bagian dari Tuhan itu sendiri. Semata-mata bahwa wujud manusia “pinjaman” dari wujud Tuhan.

Betapapun hebatnya manusia, di relung hatinya yang paling dalam, akan tetap merindukan kekasih yang telah menciptakannya (Tuhan). Tak heran jika di atas pencapaian duniawi, jiwa (manusia) tetap mencari sesuatu yang bisa mengisi kekosongan dan kerinduan (yang kadang tak bisa dijelaskan kecuali yang merasakannya). Sebagaimana dalam untaian syair ini;

Dari mana aku datang, dan apa yang harus kulakukan?
Aku tak tahu.
Jiwaku berasal dari suatu tempat
di sana,
dan kuingin berakhir juga di sana

Pencarian jiwa pada sumbernya, Tuhan, adalah alamiah. Setiap jiwa akan secara alamiah mencari sumbernya, yakni Tuhan.

Dalam penggalan syair di atas Haidar menjelaskan bahwa kebahagiaan tertinggi jiwa adalah bisa kembali menyatu pada pemiliknya. Serupa nay (seruling) yang mengeluarkan suara yang menyayat dan mendayu-dayu adalah sebentuk kerinduannya karena tercerabut dari kumpulan bambu di mana ia berasal. Puisi tentang nay ini bahkan menjadi puisi pembuka dalam matsnawi. Para peneliti Rumi menyebut susunan Matsnawai tak ubahnya susunan kitab suci Al Quran. Jika Al Quran dimulai dengan bacalah, Matsnawai dimulai dengan dengarkanlah.

Benar belaka bahwa kerinduan adalah modal utama manusia untuk melakukan perjalanan (suluk) menuju Tuhan. Tanpa kerinduan yang dalam, mustahil bisa menjalani perjalanan ruhani yang panjang lagi berat.

Perjalanan manusia berawal dari cinta Tuhan dan ditiupkan dari padanya napas Tuhan. Dalam pengembaraan manusia di dunia ini, (jiwa) manusia itu merindu untuk bertemu kembali pada Tuhan. Perjalanan “pulang” ini membutuhkan rahmat dan pertolongan Tuhan. Sebab dengan kedua hal itu perjalanan panjang bisa dilalui.

Menurut Asma Nadia, yang datang sebagai moderator dalam acara itu, buku karya Haidar ini ditulis dengan bahasa yang sangat ringan dan enak dibaca. Membuat para pembaca bisa terpikat dengan keindahan syair Rumi sekaligus tenggelam dalam maknanya yang sangat dalam. Pembaca akan menemukan cinta hakiki dalam syair-syair Rumi yang disyarahi Haidar.

Dalam launching yang mengangkat tema Tuhan dalam Syai-Syair Rumi, peserta diajak menyelami makna keindahan cinta sejati yang tertuang dalam Syair-syair Rumi. Cinta sejatinya hanya kepada Tuhan. Dan hanya ada keindahan di dalamnya. Bahkan dalam penderitaan dan kesepian sekalipun. Jika seseorang telah mereguk cinta Tuhan, dalam keadaan apapun yang akan ada hanyalah cinta.

Nur Jabir, direktur Rumi Institute yang diundang sebagai tamu juga memberikan apresiasi yang sangat tinggi atas terbitnya buku ini. Ia sendiri menjelaskan keterpikatannya pada Rumi. Rumi memang sosok yang sangat istimewa. Tidak saja dalam dunia Islam, melainkan juga pada dunia Barat. Unsur estetik yang terkandung dalam syair-syairnya tidak sedikit memberikan inspirasi. Rumi menampilkan Islam dengan sangat indah.

(Hakim, Aida, Mauline)

X