Beragama Dengan Rasa Cinta

Oleh Haidar Bagir

Tentang Keberagamaan

Saya bukan sedang bicara soal agama. Agama saya imani sebagai produk wahyu dari Tuhan. Sakral. Tapi ini tentang keberagamaan, cara kita memahami dan mempraktikkan agama kita. Saya merasa keberagamaan sebagian kita sekarang lebih bersifat negatif dan destruktif.

Agama bagi sebagian (cukup banyak) kita telah jadi sarana pengerasan identitas politik dan kelompok, yang melahirkan eksklusivisme dan konflik dengan liyan (yang lain-red). Bahkan kebencian. Padahal sesungguhnya agama adalah sumber kasih, persaudaraan, toleransi, dan kedamaian. Mari beragama dengan rasa cinta.

Tentang Ateisme

Sementara itu, orang yang disebut ateis, malah banyak yang mendedikasikan hidupnya untuk kebaikan, kebenaran, dan keindahan. Mereka itu boleh jadi lebih “ber-Tuhan” ketimbang orang yang (mengaku) beriman tapi jahat, tak punya integritas dan rasa keindahan. Karena sesungguhnya Tuhan itu Sumber Segala Kebaikan, Kebenaran, dan Keindahan.

Karena, sesungguhnya, orang ateis seringkali bukan tak percaya pada keberadaan Tuhan – meski tentu ada yang demikian – melainkan tak percaya pada Tuhan Personal. Inilah juga definisi ateisme dalam studi-studi yang lebih akademis. Mereka percaya pada Tuhan, tapi yang bersifat Impersonal, dalam wujud Kebaikan, Kebenaran, dan Keindahan tersebut. Meski kadang orang-orang ateis itu sendiri tak menyadari, karena mereka menganggap/mengira Tuhannya agama itu cuma bersifat Personal.

Tentang Agnostik

Sedangkan orang agnostik (orang yang meragukan suatu kebenaran-red) itu berbakat beriman, karena iman selalu mengandung kesadaran akan keterbatasan seluruh daya intelektual untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang misteri hidup: dari mana kita berasal, bagaimana seharusnya menjalani hidup di dunia, dan ke mana setelah mati. Dalam irfan (salah satu definisinya adalah “ungkapan pengalaman tasawuf”, meskipun masih banyak lagi definisi-definisi lainnya-red) ini disebut hayrah. Orang agnostik yang baik biasanya tak pernah berhenti mencari.

Tentang Keimanan

Maka, berbahagialah orang yang beriman. Mereka sudah sampai, sedikitnya ke salah satu tonggak dalam perjalanan menuju Tuhan. Betapa pun masih jauh. Tapi hendaknya imannya tidak saja menjadikannya taat kepada syariah – sebagai cara yang diajarkan Tuhan sendiri untuk mendekat kepada-Nya – melainkan, pada saat yang sama, menjalani agama dengan hidup senantiasa dalam kebaikan, setia pada dan tak pernah berhenti mencari kebenaran, dan penuh rasa keindahan. Dengan demikian, keimanannya bermanfaat bagi kebahagiaan hidupnya sendiri, dan bagi sesama makhluk Tuhan yang lainnya.

Merayakan Islam Dengan Irama Bersama Prof. Anne K. Rasmussen

16 July 2019

Islam (Juga) Agama Cinta

16 July 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *