Asal Mula Kesalahan dan Kecongkakan

Irza A. Syaddad

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Terbangun dari Qailulah

Satu dari sekian sebab saya tak begitu suka Jumatan adalah khutbah yang membosankan; materinya yang itu-itu saja, suara khatib yang terlalu pelan, dan durasinya yang melelahkan. Akan tetapi karena menghadiri ritual itu adalah kewajiban bagi kaum Muslim laki-laki, mau tak mau saya harus menahan diri untuk tidak hengkang dari majelis. Setidaknya ada dua alasan saya bertahan di sana: pengurus masjid menyediakan nasi kotak, dan saya bisa sejenak qailu-lah.

Sebagai seorang santri yang pernah sebentar mengenyam dampar pesantren, saya tahu bagaimana harus memosisikan badan dan kaki ketika tidur agar wudu tidak batal. Oleh karena itu, dalam setiap Jumatan, qailulah –tidur atau istirahat sejenak di tengah hari– sudah menjadi kebiasaan saya. Lazimnya, qailulah  saya tidak akan terganggu oleh suara apapun. Dan seakan-akan iaditunggui oleh malaikat–dan otomatis diridai oleh-Nya–, saya terjaga darinyapersis ketika muazin akan mengumandangkan ikamah.

Akan tetapi dalam beberapa Jumatan terakhir ini, saya sering terbangun lebih awal, yaitu ketika khatib sedang mengakhiri ceramahnya. Dan sebagaimana kondisi terbangun dari tidur yang disebabkan oleh kaget, indera pendengaran saya sontak berfokus pada suara lantang yang bergema di masjid saat itu, yaitu kalimat penutup khatib: “Jika ada kebenaran, maka itu pasti dari Allah. Dan jika ada kesalahan, maka itu semata-mata dari diri pribadi khatib” (dan tak jarang ‘iblis’, atau ‘setan’ ikut disebut sebagai biang kesalahan prosesi khutbah).

Redaksi kalimat tersebut mengganggu saya, dan celakanya ia sering muncul dalam pemungkas khutbah-khutbah Jumatan yang lain. Di satu waktu, saya berprasangka baik kepada khatib yang mau bertanggung jawab atas tindakan salah yang dilakukannya. Dugaan saya, khatib berkata demikian karena menerapkan firman Allah dalam Q.S. An-Nisa: 79, “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, adalah dari [kesalahan] dirimu sendiri.

Akan tetapi di lain waktu, saya tidak bisa tidak curiga pada khatib. Bisa saja ia ternyata meyakini takdir Allah yang bersifat terikat pada seluruh perbuatan manusia,[1] yang dengan demikian posisi manusia menjadi determinan di hadapan-Nya. Namun, keyakinan tersebut terpaksa dipangkas karena berseberangan dengan konsep “Allah adalah Dzat Yang Maha Baik (Al-Barr)”. Bagi khatib, karena Allah Maha Baik, maka tidak mungkin Dia menjerumuskan makhluk-Nya ke jurang kesalahan. Lebih lanjut, yang paling mungkin melakukan kesalahan adalah makhluk-makhluk lemah yang dibekali syahwat,[2] seperti manusia, setan, dan iblis.

Perdayaan Iblis dan Skenario Tuhan

Dosa atau kesalahan pertama kali dalam sejarah penciptaan semesta adalah tatkala Iblis menolak sujud kepada Adam. Itu adalah dosa kesombongan, salah satu dari tujuh dosa mematikan. Iblis mencatatkan namanya sebagai makhluk yang memelopori pembangkangan kepada Tuhan. Oleh sebab itu, Allah lantas melabelinya dengan sebutan “terlaknat” (rajim). Akan tetapi Iblis tidak tinggal diam. Ia lantas melakukan lobi-lobi, hingga kemudian ia mendapat keringanan dari Tuhan berupa umur yang amat panjang, yaitu sampai hari ketika manusia dibangkitkan. Tidak hanya itu, Allah bahkan memberikannya izin untuk menggoda manusia; menyortir hamba-Nya, memilahnya antara yang taat dan yang mungkar. Perizinan ini bukan tanpa alasan. Dan alasan ini menjadi bukti kunci terjadinya drama kosmis yang berujung pada pengejawantahan firman Allah berupa menjadikan (manusia sebagai) khalifah di bumi.

Jika merujuk pada Alquran, ayat yang berisi “keinginan” Allah untuk mengutus wakil-Nya di bumi, lebih dulu disebut daripada ayat tentang perintah sujud kepada Adam. Kita ambil contoh Q.S. Al-Baqarah: 30-36, yang ditampilkan dalam bentuk lini masa:

Allah berkehendak untuk mengutus khalifah di bumi à Allah mengajari Adam al-asma`, lalu memamerkannya kepada malaikat à malaikat mengakui kelemahannya à Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada Adam, tapi Iblis membelot à Adam dan istrinya tinggal di surga, dengan larangan mendekati syajarah à setan memperdaya mereka, sehingga Adam dan istrinya diusir dari surga.

Dalam urutan yang sama, Q.S. Al-A’raf: 11-24 menambahkan cerita bagaimana meminta keringanan Allah agar diperbolehkan hidup lama, dan diberi lisensi untuk menggoda manusia dari segala arah. Kisah selanjutnya sudah bisa ditebak: Iblis diizinkan menjerumuskan manusia; Adam adalah manusia, maka Iblis akan memprovokasi Adam untuk melanggar perintah-Nya; akhirnya Adam dan istrinya, tidak hanya mendekati syajarah larangan, tetapi juga memakan buahnya. Atas kemaksiatan itu, Allah lantas mengusir Adam dan istrinya dari surga, dan menempatkannya di bumi.

Andaikan dimungkinkan mempersempit “dunia paralel”[3] yang mungkin diciptakan oleh Allah, pembangkangan yang dilakukan Iblis secara tidak langsung berdampak pada suksesi di bumi yang dicanangkan oleh Allah. Dengan demikian, maksiat[4] yang dilakukan oleh Adam dan istrinya sudah “diperkirakan” oleh Allah, yang kemudian menjadi dalih bagi-Nya untuk memindahkan mereka ke bumi, yang notabene menjadi tempat tinggal bagi khalifah-Nya.

Dalam Ruh al-Bayan fi Tafsir al-Qur`an,[5]diceritakan bahwa ketika tangis Adam semakin menjadi-jadi, Allah mengajarinya doa-doa dan ucapan pertaubatan. Pengajaran itu, kata Ibn Abbas, berlangsung secara talaqqi, yaitu pengajaran langsung dari Allah kepada Adam, bukan melalui malaikat. Melalui dosa tersebut, Adam lantas diajarkan rasa menyesal atas pelanggarannya, doa-doa pertaubatan, dan lebih dalam lagi, Allah mengenalkan Adam sifat-Nya Yang Maha Pengampun (al-Gafur, al-Gaffar), dan Maha Menerima Taubat (at-Tawwab).  

Dari kisah Adam ini didapat kesimpulan bahwa kebaikan maupun keburukan yang terjadi pada seorang hamba, tidak selalu selaras dengan pemuliaan ataupun penghinaan dari Allah. Bisa saja kenikmatan atau rezeki yang kita peroleh bukanlah anugerah, melainkan istidraj; dan begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, tepat apabila jauh-jauh sebelumnya Allah memperingatkan manusia agar tidak terbuai pada kebaikan maupun keburukan yang diterimanya[6].

Meskipun begitu, penutup khutbah di atas masih mengganggu saya. Bagaimana jika ternyata khatib sudah mengetahui hikmah di balik kesalahan, dan konsep istidraj, namun ia masih tetap mengatakan kesalahan khutbah adalah tanggung jawabnya? Saya kemudian teringat pada syair indah yang digubah oleh Sayyid Bakri[7]:

فشريعة كسفينة وطريقة # كالبحر ثم حقيقة در غلا

“Syariat bagaikan perahu atau kapal, tarekat seperti laut

sedang hakikat laksana mutiara berharga”.

“Syariat itu”, kata Sayyid Bakri, “bagaikan perahu yang menjadi perantara kita untuk sampai kepada Yang Haq, sedang tarekat seperti samudra yang menjadi tempat Yang Haq, lalu hakikat laksana permata mutu manikam yang terdapat di dalam samudra. Seseorang tidak akan mencapai tingkat hakikat (mendapatkan permata) sebelum ia sampai ke samudra yang menjadi persemayamannya. Dan begitu pula ia tidak akan bisa mengarungi samudra tanpa bahtera”.

Dari syair di atas, posisi hamba di hadapan syariat menjadi jelas. Ia hanyalah seseorang yang mengendarai kapal (syariat) untuk menuju Tuhannya (hakikat) di kedalaman laut (tarekat). Logikanya, jika seseorang ingin menyelam, maka kapalnya ditinggal dan dibiarkan terapung-apung di permukaan laut. Jika sang hamba memaksa untuk membawa kapalnya menyelam, maka yang terjadi adalah ia akan karam dan tenggelam. Meskipun demikian, hambayang telah sampai pada Tuhannya tidak lantas meninggalkan syariat terapung begitu saja. Selama ia masih menjadi manusia, selama itu pula ia harus kembali ke kehidupannya yang bersyariat. Yang membedakan antara dirinya dengan masyarakat awam adalah cara pandang dia terhadap perubahan dunia.

Kaitannya dengan khatib adalah–terlepas apakah ia masih berada di tataran syariat atau makrifat–, ia masih tetap mengatakan bahwa kesalahan khutbah berasal dari dirinya. Sebab, sebagai manusia yang hidup dengan sesamanya, ia tidak ingin melepaskan tanggung jawab atas perbuatannya. Jika ia mengatakan bahwa semua hal, kebaikan dan keburukan yang diterima dan dilakukan olehnya, adalah dari Allah, maka kondisi masyarakat akan kacau. Akan ada kejahatan yang terjadi dengan dalih takdir Allah. Dengan begitu, apa yang dikatakan oleh khatib sebenarnya bukanlah sebuah kesombongan, melainkan kehati-hatian.

Pada akhirnya, saya tak perlu lagi meributkan penutup khatib tadi. Ini tentu menjadi kabar baik bagi qailulah  saya.


[1] Merujuk pada firman Allah dalam Q.S. As-Saffat: 96.

[2] Dalam kitab manakib Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang berjudul Lujain ad-Dani, dikatakan bahwa hamba yang lemah adalah yang masih memberdayakan syahwatnya, meskipun untuk beribadah; dan sebaliknya, seseorang dikatakan sebagai hamba yang kuat adalah jika ia sama sekali tak bersyahwat. إنما جعلت الشهوات لضعفاء عبادي ليستعينوا بها على الطاعات وأما الأقوياء فما لهم الشهوات. Baca Ja’far bin Hasan al-Barzanji, Lujain ad-Dani fi Manaqib al-Qut}b ar-Rabbani asy-Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani, (Kudus, t.t.: Al-Ma’had as-Salafi Dar al-Falah), 20.

[3] Maksud dunia paralel di sini adalah kemungkinan-kemungkinan peristiwa yang masih terakomodasi oleh ketentuan Allah yang tertulis dalam kitab. Baca Q.S. Al-Hadid: 22.

[4] Pemilihan diksi maksiat ini merujuk pada Q.S. Taha: 121.

[5] Isma’il Haqqi al-Birusawi, Ruh al-Bayan fi Tafsir al-Qur`an, juz 5, (Beirut, t.t.: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah), 444-445.

[6] Q.S. Al-Fajr: 15-16.

[7] Bakri al-Makkiy, Kifayah al-Atqiya` wa Minhaj al-Asfiya`, (Kairo, 1886: Mat}ba’ah al-Khairiyah), 11-12.

Etika Deontologi Immanuel Kant untuk Mengalahkan Corona

Achmad Fathurrohman

Indonesia sebagai bangsa agam dengan populasi terbesar nomor empat di dunia, kekayaan hayati dan flora yang sangat melimpah. Ini merupakan kekuatan besar, jika 270 juta masyarakat memiliki semangat, moralitas, skill, dan intelekstualitas yang paripurna, maka bisa dipastikan tidak ada kekuatan apa pun yang bisa menghentikan laju kapal besar yang bernama Indonesia.

Dunia hari ini sedang berharap cemas, seluruh aktivitas manusia yang melibatkan orang banyak dibatalkan. Kegiatan agama, seni, budaya, ekonomi, dan pendidikan seluruhnya terpaksa harus dihentikan, manusia ditekan untuk mengisolasi diri di rumah. Masjid dikosongkan, ka’bah diliburkan, umroh dihentikan, kenduri ditangguhkan, dan seterusnya. Praktik ibadah yang bersifat ritual semuanya dihentikan, hal ini menyadarkan betapa rapuhnya kemanusiaan kita. Manusia diajak untuk merenungkan kembali zat yang transenden dan adikodrati, berkontemplasi untuk melepaskan diri dari cangkang ritualistik menuju ibadah substantif hanya tunduk menauhidkan Allah Swt. yang berbuah kemaslahatan bagi umat manusia. 

Tugas terbesar kita sebagai bangsa saat ini adalah memperbaiki moralitasnya. Soal religiusitas, tidak perlu diragukan lagi, bangsa kita adalah umat religius. Banyak orang yang setiap hari shalat, tetapi anehnya banyak sekali yang gemar membuka aib saudaranya di media sosial. Atau bisa dengan mudah memamerkan ibadah personal, umroh yang seharusnya sangat sakral, tetapi bisa tak acuh terhadap tetangganya yang kelaparan karena tidak memiliki beras untuk dimasak. Rajin berjemaah di tempat ibadah tetapi menaati anjuran pemerintah untuk jaga jarak dan tetap tinggal di rumah ngeyelnya bukan kepalang. Paradoks seperti ini banyak kita jumpai dalam keseharian.

Emmanuel Kant memperkenalkan konsep etika deontologi, bagi Kant bermoral atau tidaknya seseorang tergantung tujuannya. Semboyan etika ini no person should be used, manusia tidak boleh jadi alat, berbeda dengan virtue ethics yang alatnya adalah manusia.

Ada empat prinsip dasar dari deontologi Kant, pertama, personal autonomy, bermoral atau tidaknya seseorang ditentukan adanya kehendak bebas manusia, kalau tidak memiliki kehendak bebas maka tidak bisa disebut bermoral atau tidak. Orang yang mencuri karena dipaksa, tidak bisa dihukumi bermoral atau tidak atas perbuatannya. Kedua, respect, menghargai nilai kemanusiaan, kalau nilai kemanusiaan dilanggar berarti tidak ada moralitas. Orang yang ngeyel melaksanakan pengajian akbar, muktamar yang dihadiri massa secara masif dalam kondisi pandemi, yang berpotensi tertular atau menularkan kepada orang lain, ia bisa dianggap tidak bermoral karena tidak menghargai nilai kemanusiaan. Ketiga, duty, punya kewajiban, manusia bermoral adalah orang yang bertanggung jawab. Tanpa ini, manusia hanyalah sebongkah tulang yang dibungkus daging tanpa nilai moral, manusia tidak ada bedanya dengan binatang yang hanya makan, tidur, dan berkembang biak. Bagi Imam Fakhruddin Ar-Razi, koruptor dan orang maksiat walau dia tahu hukum dan konsekuensi perbuatannya, dia tetap melakukan perbuatan salahnya dikarenakan tidak ada tanggung jawab dalam dirinya. Keempat, good will, pintu gerbang moral adalah keinginan baik, atau dalam bahasa agama disebut niat.

Prinsip deontologi adalah universalitas, perbuatan bermoral selalu universal, seperti jujur, kapan dan di mana pun harus jujur. Bagi Kant, tidak ada toleransi untuk kejujuran. Walau ada orang yang mengejar teman kita dan hendak dibunuh, ketika menanyakan tempatnya dan kita tahu, kita tetap harus jujur, walau nanti kita bisa membantu teman kita. Dalam etika deontologi, kita tidak boleh mengkhianati kejujuran. Rumus lainnya, kemanusiaan, moralitas hadir untuk menjaga kemanusiaan, kewajiban diberikan kepada manusia untuk dijalankan, ketika kewajiban tidak dilaksanakan pasti ada ketimpangan dan ketidakseimbangan bagi kemanusiaan.

Dalam kelas filsafat etika yang penulis ikuti, Dr. Fakhruddin Faiz menjelaskan, postulat dari Emmanuel Kant, kewajiban moral harus memiliki otonomi, orang tidak mungkin bermoral jika tidak bebas, adanya moral menuntut adanya otonomi manusia. Selain itu harus ada pemahaman eskatologi, manusia harus memiliki kesadaran bahwa segala yang dilakukan hari ini untuk hidup setelah mati. Jika tidak memiliki ini, maka sulit, karena banyak orang yang bermoral tapi susah hidupnya. Sebaliknya, banyak orang jahat tapi tampak sejahtera. Hidup setelah mati adalah konsekuensi logis adanya moral. Dan harus ada keyakinan adanya Tuhan, jika nanti ada pembalasan atas moralitas yang kita lakukan semasa hidup, maka ketua pelaksananya bukan manusia, yakni Tuhan. Bangsa Indonesia yang mayoritas beriman seharusnya memiliki kesadaran moralitas yang tinggi.

Tipe dari etika deontologi adalah imperatif hipotetik yaitu perintah untuk bermoral yang berbasis hipotesis, moral yang masih ada syaratnya, belum utuh sebagai tindakan moral. Seperti aku mau jujur asal kamu juga jujur. Aku mau di rumah saja asal menguntungkan diriku, ini belum moralitas, masih tentatif. Tipe kedua, imperatif kategoris, inilah moralitas sejati, moralitas yang keluar dari suara hati manusia yang jernih dan baik hatinya. Tidak ada syarat dan pamrih, seperti menjaga jarak dari kerumunan, tetap di rumah, dan menjaga kebersihan, karena kehendak untuk terbebas dari tertular dan menularkan virus Corona Covid-19, dan bisa menyelamatkan manusia lainnya.

Indikator moralitas kita bisa diukur dengan hukum moral. Caranya: Kalau kita belajar akhlak, sudah berakhlak belum? Kalau belajar ilmu kesehatan, sudah menerapkan pola hidup sehat belum? Kalau belajar agama, sudah menjalankan spirit agama atau belum? Kalau masih banyak alasan tidak melakukan kebaikan sesuai kapasitas keilmuannya, berarti moralitasnya masih hipotetik, belum sejati. Dan harus dilihat niat dan perbuatannya. Motif dan tindakannya baik, tapi niatnya jelek maka masih tidak baik, ketiganya harus sejalan, baik.

Puncak moral adalah kebajikan dan kebahagiaan. Kalau sudah bermoral tapi tidak bahagia dan bajik, pasti ada yang kurang dalam langkah moralitas kita. Bisa jadi hanya moralitas semu, yang tak berbuah kebajikan bagi dirinya sendiri dan orang lain, kebahagiaan tak dapat diraih, oleh diri sendiri dan orang di sekitarnya. Dalam masa pandemik corona Covid-19 misalnya, ketika sengaja tanpa kebutuhan mendesak berkeliaran, hanya mengikuti ego bisa dikatakan ia amoral, karena berpotensi menimbulkan derita dan kesedihan bagi orang lain. Egoisme seperti ini tampaknya masih banyak kita jumpai, ngotot melaksanakan hajatan, pengajian akbar, ibadah di masjid, gereja, pura yang mengumpulkan orang banyak yang tampak bermoral dan saleh, tetapi jika sampai menjadi perantara penyebar virus yang berdampak pada kesulitan orang yang lemah imunnya, ia hanya menambah beban, kesedihan bagi orang lain, belum sampai kepada puncak moralitas tertinggi. Dalam bahasa agama, belum memahami maqashid al-syariah yang mengutamakan hifzh al-nafs (menjaga jiwa) dari hifzh al-din (menjaga agama).

Dalam deontologi Kant, perbuatan baik apa pun pasti cocok dengan suara hati. Seperti fitrah hati adalah jujur, ketidakjujuran pasti membuat hati tidak tenang. Fitrah kita amanah, kalau tidak amanah jadi gelisah. Fitrah kita mengasihi, melihat yang kelaparan kita welas asih. Baik atau tidaknya suatu amal tergantung perbuatannya, bukan orangnya. Mari kita perkuat iman dan pertebal imun di zaman penuh wabah seperti ini. Kalau saja manusia takut kepada Corona sebagaimana mereka takut akan adanya ketidakadilan, kemiskinan, kemafsadatan dan kehadiran Tuhan, manusia akan sampai kepada bentuk terbaiknya.

Yang Hilang Saat Membaca (Sejarah) Nabi Muhammad

Abdurrohman Zuhdi

Sedang Merintis Eco Sufism Institute

Kritik Orientalis atas Islam seringkali mengarah kepada Nabi Muhammad, sehingga kajian yang semula ilmiah terkesan menjadi tuduhan yang tidak mendasar, dan jauh dari konteks akademik. Lebih jauh Islamophobia telah menggiring pada cacian dan makian kepada Nabi Muhammad. Bahkan dengan tanpa segan, di Austria, seorang perempuan menghina Nabi Muhammad dengan sebutan pedofilia karena menikahi Aisyah yang berusia sangat muda.

Sebelumnya, kehebohan pernah terjadi karena karya fiksi dari Salman Rusdhie The Satanic Verses, sebuah satir yang ditengarai bercerita tentang wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad. Narasi semacam itu tentu saja memancing kemarahan umat Islam. Tak pelak, Ayatullah Khoemeni pernah memberi fatwa halal pada darah Salman Rusdhie atas penghinaan tersebut.

Annemarie Schimmel, seorang orientalis berkebangsaan Jerman yang mengkaji dengan tekun khazanah klasik Islam, dalam bukunya yang berjudul Dan Muhammad adalah Utusan Allah: Penghormatan terhadap Nabi Saw. dalam Islam (terjemahan And Muhammad is His Mesengger: The Veneration of The Prophet in Islamic Piety) telah menemukan apa yang tidak dibaca orientalis sebelumnya, yaitu posisi sentral Nabi Muhammad dalam Islam. Annemarie Schimmel dengan baik memotret praktik-praktik keagamaan  di Pakistan-India yang menunjukkan penghargaan yang begitu tinggi pada Nabi Muhammad. Pada hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad  dan Isra’ dan Mi’raj,  kota dan desa di Pakistan-India dihiasi bendera, umbul-umbul, karangan bunga, pita-pita, dan lampu-lampu hingga tampak semarak. Ribuan orang melantunkan shalawat dan puji-pujian untuk menunjukkan rasa cinta kepada Sang Nabi. Segenap keistimewaan Nabi Muhammad menjelma menjadi pujian, sastra, karya seni, pengharapan syafaat sekaligus jalan hidup yang paling layak diikuti manusia.

Pada satu kesempatan, Syaikh Mustafa al-Maraghi pernah berkata kepada rekanannya, seorang uskup Angklikan di Mesir, bahwa penyebab penghinaan paling umum yang tidak (selalu) sengaja dilakukan oleh orang Kristen kepada Nabi Muhammad adalah ketidaktuan mereka tentang posisi Nabi Muhammad yang begitu penting dalam pribadi setiap Muslim. Ini adalah alasan mendasar sebab ketiadaan apresiasi atau penghargaan orang Kristen kepada penafsiran yang dilakukan Muslim atas sejarah dan kebudayaan Islam.

Bagi Annemarie, betapapun komentar sinis dan negatif terhadap Nabi Muhammad, orang Eropa tetap saja tidak dapat memungkiri bahwa Nabi Muhammad telah menimbulkan kegentaran, keseganan, sekaligus kebencian di Dunia Kristen Abad Pertengahan. Begitu kiranya Dante ketika melukiskan Nabi Muhammad dalam Divine of Comedy yang menanggung siksaan abadi pada level terendah neraka sebenarnya adalah ekspresi kegelisahan orang-orang Kristen yang jumlahnya amat banyak. Sekaligus perasaan yang tidak bisa memahami bagaimana mungkin setelah Kristen –yang begitu kuat sekaligus dominan— masih lahir agama baru yang pengaruhnya amat kuat, sangat aktif di dunia, dan secara politis tentu saja berhasil menguasai bagian luas dari wilayah-wilayah Laut Tengah yang sebelumnya menjadi kekuasaan Kristen.

Nama Muhammad adalah sosok penting dalam Islam. Namanya disebutkan beriringan dengan Allah dalam ikrar janji seorang Muslim yang dikenal dengan kalimat syahadat, la ilaha illa Allah, Muhammad rasul Allah, “Tidak ada Tuhan selain Allah, (dan) Muhammad adalah utusan Allah”. Dalam metafisika Islam, dipahami bahwa eksistensi alam semesta ini tidaklah lebih berharga daripada cahaya primordial (nur) Muhammad. Betapa Nabi Muhammad selalu dipuji dengan gelaran-gelaran yang paling mulia. Para penyair dari Arab, Persia, Turki, India, Afrika dan sederet bangsa-bangsa di mana Islam tumbuh telah mendendangkan syair keagungan Muhammad. Anak-anak di seluruh pelosok negeri Islam menyanyikan lagu tentang Muhammad dengan label kemuliaan, pemberi syafaat, pemilik mukjizat, teladan yang patut dicontoh sekaligus penutup dan penyempurna para Nabi. Tidak hanya demikian, namanya diukir di papan-papan dan kaligrafi sembari mengharap keberkahan atas dirinya. Sosok Muhammad adalah teladan sempurna bagi umat manusia, sekalipun itu adalah hal yang biasanya terkesan remeh bagi selain Muslim.

Annemarie mengutip Wilfred Cantwell Smith yang berpendapat bahwa “Kaum Muslim masih bisa membiarkan serangan kepada Allah; ada banyak orang ateis, publikasi ateistik, dan masyarakat rasionalistik. Akan tetapi, penghinaan kepada Nabi Muhammad akan menyulut, bahkan dari kalangan paling “liberal” sekalipun dari umat islam.” Pembahasan tentang ketuhanan acapkali menimbulkan kritik tajam, namun disertai dengan kemakluman-kemakluman rasionalistik. Berbeda dengan pembahasan kepada Nabi Muhammad yang hampir pasti berujung pada pujian dan pengagungan. Sederhananya, pembahasan tentang Nabi Muhammad itu melebihi perlunya pembahasan tentang ketuhanan itu sendiri. Dalam kajian hukum Islam, baik fikih atau ushul fikih dikenal istilah shahib al-syariah (pemilik [aturan] syariat), dia adalah Nabi Muhammad.

Walhasil, sebagaimana syair Muhammad Iqbal, seorang penyair dan filsuf dari Pakistan:

“Cinta kepada Nabi bagaikan aliran darah di dalam pembuluh-pembuluh umatnya.”

Tafsir Modern Al-Qur’an ala Fazlur Rahman

M. Taufik Kustiawan

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

            Pada era modern, menafsirkan al-Qur’an sering menjadi perdebatan di kalangan ulama, sarjana, dan orientalis. Perdebatan itu banyak melahirkan berbagai tafsir dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an guna menjadi rujukan untuk memahami agama. Perbedaan cara pandang dalam menafsirkan al-Qur’an di kalangan Muslim sendiri, banyak berujung ancaman yang melahirkan konflik sesama Muslim. Hal itu disebabkan pemikiran yang terlalu kolot, fanatik terhadap mazhab tertentu, dan tidak mempertimbangan kebebasan berpikir untuk memahami al-Qur’an secara kontekstual dalam melihat persoalan sosial yang berkembang.

            Al-Qur’an telah menjelaskan, lebih dari 750 ayat mengingatkan manusia untuk senantiasa berpikir. Proses berpikir menunjukkan kepada umat Muslim perlunya berijtihad menggunakan akal pikiran dalam melihat berbagai perintah dan larangan-Nya. Selain itu, pentingnya menggunakan akal adalah untuk mengkaji al-Qur’an dengan cara menafsirkan al-Qur’an secara kontekstual sesuai kebutuhan zaman.

            Itulah yang dilakukan Fazlur Rahman dalam Tema-Tema Pokok Al-Qur’an (2017) yang mencoba merasionalkan pandangannya terhadap al-Qur’an. Dalam buku tersebut, Rahman menginginkan adanya pembaharuan dalam pengembangan ilmu dan tafsir al-Qur’an. Rahman mencoba menawarkan perspektif pendekatan ilmu dengan penafsiran al-Qur’an secara tematis.

            Rahman menerangkan kandungan ayat-ayat al-Qur’an yang perlu dikembangkan sebagai ilmu pengetahuan. Untuk menerangkan gagasan tersebut, Rahman membagi keutamaan tema al-Qur’an meliputi konsep tauhid, manusia sebagai individu, manusia sebagai makhluk sosial, eskatologi, alam semesta, kenabian, wahyu,  dan lain-lain.

            Namun, pemikiran Rahman terlalu bebas dalam mengkaji al-Qur’an, ia berani berbeda dengan pemikiran kelompok tradisonalis di Pakistan. Puncaknya pada 1960, para ulama Pakistan seperti Maulana Yusuf Binnauri dan Allamah Anwar Syah Kashmiri, menuduh pemikiran Rahman menyimpang dari ajaran Islam. Mereka mendakwa Rahman telah terjerumus ke lembah ateisme dan kekafiran dalam menafsirkan kitab suci. Rahman dianggap ingin menciptakan Islam versi baru yang bertentangan dengan Islam versi para pendahulu (hlm. x).  

            Mari kita tengok penafsiran Rahman dalam tema “Manusia Dalam Masyarakat”, tujuan utama al-Qur’an adalah untuk membangun tata sosial di dunia berdasarkan keadilan dan keadaban. Pesan tersebut telah menunjukkan kepada umat Muslim, agar menyikapi perbedaan haruslah dengan sikap menjunjung toleransi dan saling menghargai demi menciptakan paham Islam humanis dan mengerti permasalahan sosial umat.    

            Sejak gagasan Rahman menuai kontroversi dan mendapat kritik dari para ulama tradisionalis, pada 1968 Rahman meninggalkan Pakistan dan mengajar di Universitas Chicago, Amerika Serikat dan McGill Kanada setelah menyelesaikan doktoralnya di Universitas Cambridge pada 1950.

            Bila kita melihat kerangka dan dasar metodologi penafsiran Rahman, sebetulnya ia begitu matang.  Rahman sadar bahwa al-Qur’an adalah sumber realitas hidup dan petunjuk bagi umat Muslim baik secara individual maupun kolektif. Cara Rahman menafsirkan al-Qur’an secara tematis, untuk menerangkan bahwa al-Qur’an jelas menjadi kebutuhan manusia kontemporer. Al-Qur’an sangat diperlukan untuk memainkan peran eksklusif dalam revitalisasi umat Islam agar memberikan makna yang segar untuk meninjau kembali tradisi Islam di masa lampau.

Teks dan Konteks

            Dalam Rekontruksi dan Renungan Religius Islam (1996). M. Quraish Shihab menulis tentang pandangan mengenai Ahl Al-kitab. Pandangan mengenai wawasan al-Qur’an dalam menyikapi suatu masalah  perlu dilihat dari berbagai aspek: konteks ayat (munasabah), sejarah, latar belakang ayat (asbab al-nuzul) dan penjelasan Nabi (al-sunnah). 

            M. Quraish Shihab memang menganjurkan penafsiran melalui pendekatan tematis. Menafsirkan al-Qur’an sangatlah perlu mempertimbangkan berbagai ayat dalam menganalisis dan menyajikan ayat-ayat tersebut untuk ditafsirkan sesuai kebutuhan umat.

            Namun, pada era modern sering kali kelompok Islam literal hanya menafsirkan al-Qur’an secara tekstual tanpa memperhatikan konteks. Penafsiran model tersebut terkadang dijadikan manipulasi kepentingan politik tertentu untuk melegitimasi kekuasaan dan kepentingan politik. Seperti yang pernah terjadi di Indonesia.

            Mempelajari  al-Qur’an semestinya bukan hanya membaca teks (ayat) saja, tapi juga memahami konteks realitas kehidupan yang dihadapi pada zamannya. Pemahaman tekstualis kerap menolak pendapat dari kelompok Islam progresif yang sebenarnya bisa memperluas ruang dialog keislaman dan membuka jalan diskusi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an.

Prof. Nidhal Guessoum, Filosof-Saintis Penggagas Rekonsiliasi Islam dan Sains Modern

Wa Ode Zainab Zilullah

Kandidat Doktor Al-Musthafa International University

Dewasa ini, kita sulit menemukan pemikir Islam yang juga seorang ilmuwan/saintis, seperti pada masa kegemilangan peradaban Islam abad pertengahan. Pemisahan antara sains, agama, dan filsafat pasca merebaknya positivisme, semakin memperlebar jurang antara ketiganya. Selain itu, definisi ilmu pengetahuan yang pada awalnya holistik dan universal, akhirnya mengalami perubahan makna yang lebih parsial dan partikular.

Bersyukur di tengah oase langkanya ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan, masih ada sosok Prof. Nidhal Guessoum yang tak hanya seorang ulama, tapi juga filosof, sekaligus saintis yang ahli dalam bidang astronomi dan fisika.

Prof. Nidhal Guessoum yang lahir pada 1960 ini merupakan putra seorang mufti Aljazair yang kini berkiprah sebagai Guru Besar Astro-Fisika di American University of Sarjah, Uni Emirat Arab. Ayahnya seorang guru besar Filsafat di Universitas Aljazair, serta lulusan Universitas Sorbone, Paris dan Universitas Kairo, Mesir. Sedangkan ibunya mendapatkan gelar Master dalam bidang sastra Arab.

Pada workshop di ISTAC Kuala Lumpur dan International Summer Course di Paris, beberapa tahun silam, penulis pernah bertemu dengan sosok yang pernah mengambil program post-doctoral di lembaga penelitian NASA ini. Dalam kesempatan itu, Prof. Nidal, begitu sapaan akrabnya, mengetengahkan diskursus kontemporer terkait Islam dan Sains Modern. Prof. Nidhal membahas mengenai: “Sains dalam Kebudayaan Islam”, “Pemikir Muslim Klasik dan Pemikiran Filsafat Sainsnya”, “Reaksi Pemikir Muslim terhadap Sains Modern”, serta menjawab pertanyaan “Apakah Sains Modern Menimbulkan Masalah Baru?” Pada pembelajaran terakhir, Prof. Nidal menawarkan sebuah “Proposal Hormonisasi antara Islam dan Sains Modern”. Sebagian pemaparan Prof. Nidhal kala itu merupakan content dari magnum opusnya, sebagian lainnya merupakan proyeksi perkembangan pemikirannya terkait dengan Islam dan Sains Modern.

Magnum opus yang ditulis oleh Prof. Nidhal adalah Islam’s Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition and Modern Science. Buku tersebut sudah diterjemahkan dengan baik oleh Mizan dengan judul “Islam dan Sains Modern”. Dalam buku tersebut, Prof. Nidhal berhasil melakukan rekonsiliasi antara Islam dan Sains secara epistemik. Tak hanya dikenal di negeri ini melalui karya-karyanya, Prof. Nidal pun pernah diundang oleh CRCS Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, untuk menyampaikan materi tentang “Integrasi Islam dan Sains” pada Desember 2011.

Penulis disertasi Thermonuclear Reactions of Light in Astrophysical Plasma ini tak sendirian, dalam dunia Islam terdapat scholar atau pemikir Muslim yang berupaya merespons perkembangan sains modern dengan sudut pandang berbeda-beda, antara lain Seyyed Hossein Nasr, al-Faruqi, Naquib al-Attas, Ziauddin Sardar, Mehdi Golshani, Muhammad Abdus Salam, dll. Kehadiran Prof. Nidhal semakin memperkaya diskursus relasi Islam dan Sains Modern, dengan mengharmonikan iman dan nalar secara filosofis dan teologis yang integratif melalui pendekatan kuantum.

Dalam buku Islam’s Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition and Modern Science itu, Prof. Nidhal berupaya untuk merespons perkembangan sains modern dengan bijak, tanpa menafikan tradisi Islam. Hal ini tidak hanya disambut baik kalangan Muslim, tapi juga ilmuwan non-Muslim di berbagai belahan dunia, meskipun ada juga pemikir Islam yang berbeda pandangan dengannya. Salah satu pemikirannnya yang kontroversial, Prof. Nidhal menyebutkan bahwa al-Qur’an dapat ditafsirkan secara bertingkat dan bergantung pada pengetahuan dan perkembangan zaman sang penafsir.

Karya sosok yang pernah menjabat sebagai wakil presiden Islamic Crescents Observation Project (ICOP) ini memang layak dibaca oleh para pegiat ilmu pengetahuan, terutama yang concern dengan diskursus Islam dan Sains Modern untuk mendapatkan perspektif baru yang progresif. Prof. Nidhal memaparkan berbagai pandangan para ilmuwan Muslim dalam merespons sains modern. Dalam risetnya, ia mengidealkan kajian sains dan Islam dalam sosok Ibn Rusyd (Averroes), seorang filosof Islam yang mempunyai kontribusi besar dalam pengembangan keilmuan Islam, serta berhasil membangun relasi harmonis antara sains, filsafat, dan agama Islam.

Buku ini terdiri dari tiga bagian. Pertama, ulasan pokok mengenai Tuhan, al-Qur’an, dan sikap Islam terhadap sains. Sebelum berbicara mengenai sains, Prof. Nidhal mengetengahkan pembahasan mendalam tentang prinsip-prinsip Islam pada al-Qur’an, tradisi, dan filsafat yang berkembang di dunia Islam. Dalam bab awal, Prof. Nidhal mengulas beberapa biografi fiosof dan ilmuwan Islam sejak abad pertengahan hingga era kontemporer ini, terutama pandangan mereka terkait dengan arahan bagaimana Muslim seyogyanya merespons sains modern.

Kedua, bagian ini mengetengahkan isu-isu kontemporer sains yang dihadapkan pada Islam. Prof. Nidhal membahas bagaimana intelektual Muslim merespons tema kosmologi, teleologi, dan evolusi modern. Ia berpandangan bahwa dunia Islam perlu merumuskan pertanyaan ilmiah (baca: pertanyaan kuantum) secara serius dan komprehensif. Jika Islam berhasil mewujudkan hal ini, maka Islam akan mampu berdiri tegak mengibarkan bendera kejayaan tanpa menutup diri dari others.

Ketiga, Prof. Nidhal membahas berbagai pandangan tentang Islam dan Sains di masa mendatang dan perkembangan pendidikan di dunia Islam. menceritakan pengalaman pribadinya sebagai seorang guru dan ilmuwan. Ia menyarankan agar para pelajar Muslim memiliki kesadaran untuk mempelajari ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk memahami filsafat ilmu dan sejarah yang terkait dengan Islam secara komprehensif.

Prof. Nidhal mengkritisi beberapa model pemikiran Islamisasi Sains, seperti model I‘jâz al-‘Ilm (mukjizat ilmiah), integrasi model al-Faruqi, Ijmali moodel Sardar. Pendekatan kuantum yang ditawarkannya dalam integrasi agama dan sains adalah pola gerakan bolak-balik yang didasarkan atas tiga prinsip, yaitu prinsip tidak bertentangan, penafsiran berlapis, dan falsifikatif teistik. Selain itu, Prof. Nidhal merekomendasikan pentingnya membangun jembatan komunikasi dan jejaring antar peneliti dari belahan dunia lainnya. Menurutnya, ilmuwan Muslim era kontemporer ini harus membangun jembatan yang lebih kokoh, sehingga mampu memberi sumbangsih bagi perkembangan sains dan teknologi dan menguatkan peradaban.

Pada karyanya itu, Prof. Nidhal berhasil menyuguhkan diskursus relasi Islam dan sains tanpa terjebak pada reduksionistik. Ia berupaya memaparkan hasil penelitiannya secara filosofis dan saintifik dengan merujuk pada perkembangan historis di masa lampau hingga era kontemporer. Dari Ibn Rusyd hingga al-Ghazali, dan dari Iqbal ke Nasr, Prof. Nidhal berhasil memaparkan pemikiran para filosof dan intelektual Muslim secara komprehensif, serta memberikan kritik elegan terhadap pemikiran mereka.

Tidak hanya intelektual Muslim yang bisa mengambil manfaat dari karya  Prof. Nidhal ini, tapi juga kalangan non-Muslim. Melalui guratan penanya, Prof. Nidhal mengajak umat Islam bergandengan tangan dengan sains modern. Upaya rekonsiliasi antara sains dan agama pada konteks kekinian dilakukan secara metodologis yang didasarkan pada basis-basis epistemologis. Sungguh sebuah proyek harmonisasi yang brilian.

Corona dan Memudarnya Kepakaran

Mohammad Yunus Masrukhin

Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Akhir-akhir ini, dunia dikejutkan oleh munculnya virus yang menyebar cepat dan dapat menyerang paru-paru. Beberapa negara yang mengalami penyebaran secara masif dan merenggut banyak nyawa, warganya melakukan lockdown yang secara harfiah berarti melakukan pembatasan diri untuk tidak keluar dan meninggalkan sebuah gedung atau wilayah. Sebagaimana dilansir oleh Kompas (22/03/2020), beberapa negara yang melakukan lockdown di antaranya; Tiongkok, India, Italia, Spanyol, Prancis, Irlandia, El Salvador, Belgia, Polandia, Argentina, Yordania, Belanda, Denmark, Malaysia, Filipina, dan Libanon. Sejumlah negara tersebut harus mengambil keputusan yang berat untuk lockdown agar tidak bertambah jumlah yang meninggal dunia. Corona dengan cepatnya menyebar menjadi pandemik.

Sebagai virus pandemik, Corona juga menyerang warga Indonesia secara masif. Dari informasi pertanggal 1 April 2020, kasus positif Corona (Covid-19) di Indonesia mencapai angka 1.677 Dengan total kasus 1.677, berarti ada 149 penambahan kasus Corona dari data sebelumnya yang pada tanggal 30 Maret 2020, berjumlah 1.528 (Detik, 1/04/2020). Jumlah yang tidak sedikit, banyak kalangan menganjurkan pemerintah Indonesia untuk segera melakukan lockdown.

Meski demikian, pemberlakuan lockdown bagi beberapa kalangan di Indonesia masih menjadi perdebatan sengit. MUI yang merupakan organisasi keagamaan dengan tegas menganjurkan pemerintah agar memberlakukan lockdown. Seperti dinyatakan oleh Sekjen MUI, Anwar Abbas, (CNN Indonesia, 29/03/2020) pemerintah sebaiknya, “Melakukan total lockdown di seluruh negeri dan atau lockdown lokal untuk jangka waktu tertentu sesuai pertimbangan para ahli.” Lebih lanjut, MUI memberikan fatwa nomor 14 tahun 2020 bahwa pasien yang terkena virus Corona, “Wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain.” (BBC Indonesia, 20/03/2020).

NU dan Muhammadiyah memberikan pernyataan sikap dalam hal-hal yang berkaitan dengan ibadah, untuk menjaga dari virus Corona. NU memberikan tiga fatwa yang dihasilkan dari Bahtsul Masail dengan rincian: 1) orang yang positif terkena virus Corona tidak boleh melaksanakan shalat Jumat; 2) orang yang berada di zona kuning dianjurkan untuk tidak melaksanakan shalat Jumat; 3) orang yang berada di zona merah dianjurkan untuk shalat Zuhur di rumah (Viva News, 20/03/2020). Muhammadiyah memberikan imbauan yang hampir sama dan memperluas cakupan semua ibadah dan aktivitas yang melibatkan orang banyak untuk dihindari (Suara.com, 16/03/2020).

Meskipun beberapa kalangan memberikan anjuran terkait pemberlakuan lockdown, pemerintah memastikan bahwa Indonesia tidak akan memberlakukan lockdwon secara menyeluruh. Hal itu dinyatakan oleh juru bicara pemerintah dalam penangan virus Corona, Achmad Yurianto (Detik.com, 22/03/2020). Namun, dalam praktiknya, pemerintah mengimbau kepada rakyat agar melakukan social distancing, yakni menjaga jarak satu dengan yang lainnya minimal 1 meter untuk mencegah terjadinya penularan virus.

Sikap berbagai kalangan, termasuk pemerintah, dalam menyikapi pandemi Corona di atas menunjukkan pemahaman yang serius dan didasarkan pada fakta-fakta ilmiah dan argumentatif. Mereka mengambil sikap yang beragam sebagai ikhtiar untuk menjaga diri dari penyebaran virus.

Namun, di samping munculnya sikap ilmiah yang argumentatif terhadap penyebaran virus di atas, ada pula sikap-sikap kontroversial. Hal itu dimunculkan oleh sejumlah ustaz yang biasa mengisi pengajian di hadapan jemaah yang berjumlah ratusan sampai ribuan orang, juga ustaz yang mengampu pengajian rutin mingguan. Pernyataan mereka bisa ditemukan dengan mudah di medsos, utamanya YouTube.

Di YouTube banyak ditemukan ceramah ustaz yang mengaitkan pandemik Covid-19 dengan polemik Muslim-Non-Muslim atau polemik etnis, yang sebenarnya bisa dilacak hubungannya dengan polemik pemilu beberapa waktu lalu. Baginya, Corona adalah virus yang dikirim Allah bagi Muslim Uighur yang selama ini teraniaya oleh rezim Tiongkok. Ia beranggapan bahwa Uighur selamat dari virus Corona karena mereka senantiasa bersuci dan tidak mengkonsumsi binatang atau makanan yang haram—seperti darah.

Tentu saja, sang ustaz tidak sendirian dalam mengaitkan virus dengan tentara Tuhan. Setidaknya, ia menyebutkan bahwa ada delapan ulama yang berpendapat sama dengannya. Jumlah tersebut bisa lebih banyak jika dicermati dalam tayangan YouTube dan media sosial.

Sikap para ustaz di atas menggambarkan bagaimana sebagian orang yang dianggap mempunyai otoritas untuk berbicara tentang Islam memberikan pandangan tentang fenomena ilmiah dengan cara keagamaan tanpa memberikan argumentasi yang memadai. Mereka bahkan mencoba mengaitkan fenomena tersebut dengan isu-isu politik yang secara empiris belum bisa dibuktikan.

Mengatakan bahwa virus Corona merupakan tentara Allah yang dikirim untuk melindungi Muslim Uighur hanya berdasarkan asumsi politik identitas, yang seharusnya dijelaskan dengan ilmu medis, merupakan gambaran tentang timpang dan cacatnya logika yang digunakan untuk membangun kesimpulan keagamaan. Hal ini mempunyai efek buruk, tak hanya bagi popularitas mereka, tapi juga berimbas kepada otoritas ulama, yang selama ini dianggap sebagai kelompok sosial yang mulai kehilangan nalar ilmiah mereka.

Sayangnya, penjelasan tentang fakta ilmiah yang dikaitkan dengan politik identitas sangat menarik perhatian Muslim muda yang awam. Mereka menyebarkan asumsi tersebut di sejumlah media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram secara masif yang tampak menarik di luar. Namun, hal ini pada akhirnya memberikan kesan bahwa ulama mengalami penurunan sikap ilmiah dan kurang menjaga amanah yang sebelumnya dijaga dengan ketat. Ulama mulai dianggap berbicara tentang hal yang kurang dimengerti oleh mereka sendiri. Mereka dianggap menggunakan asumsi sebagai dalil keagamaan yang bisa digunakan untuk memberikan fatwa yang argumentatif. Corona memang menakutkan semua orang. Namun, yang lebih menyedihkan adalah, kemampuannya dapat memudarkan otoritas dan kepakaran ulama.

Menimbang Maqashid Jasser Auda di Tengah Wabah Corona

Rahmatullah Al-Barawi Co-Founder Qur’anic Peace Study Club dan Associate Researcher Laboratorium Studi Quran dan Hadis (LSQH) UIN Sunan Kalijaga.

Istilah maqashid bukanlah istilah baru dalam khazanah intelektual Islam. Setidaknya beberapa ulama awal yang menggunakan istilah maqashid misalnya al-Tirmidzi al-Hakim dalam kitabnya al-Shalah wa Maqashidiha atau Abu Bakr al-Qaffal dalam kitabnya Mahasin al-Syari’ah. Kedua kitab tersebut berupaya menggali tujuan dan hikmah dari diberlakukannya suatu syariat. Inilah yang menjadi substansi dari maqashid, yang diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata ‘maksud’.

Salah satu perkembangan yang cukup signifikan dalam kajian maqashid adalah hadirnya kitab al-Muwafaqat karya Abu Ishaq al-Syatibi. Beliau membagi maqashid ke dalam tiga kategori yaitu dharuriyat (keniscayaan), hajiyyat (kebutuhan), dan tahsiniyyat (kelengkapan). Lebih lanjut lagi, aspek dharuriyah memiliki lima poin penting, yaitu menjaga agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal. Kelima poin inilah (ushul al-khamsah) yang saat ini berkembang dan dipahami sebagai lima asas dari maqāshid al-syarī`ah yang harus ditegakkan.

Lantas, di era kontemporer saat ini, salah satu tokoh yang mencoba menghidupkan kembali pemikiran maqashid dengan pemaknaan yang baru adalah Jasser Auda. Salah satu karya monumentalnya saat ini berjudul Maqasid Shariah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Mizan dengan judul Membumikan Hukum Islam melalui Maqashid Syariah. Menarik untuk melihat gagasan maqashid yang ditawarkan oleh Auda. Alih-alih menggagas istilah dan metode baru sebagaimana banyak dilakukan oleh cendekiawan modern seperti Nasr Hamid Abu Zaid, Fazlur Rahman, dan Abdullah Saeed, Jasser Auda mencoba menghidupkan kembali tradisi pemikiran klasik yang sudah dibahas sejak abad ke-3 H ini dengan semangat modern.

Salah satu gagasan reformis Auda adalah mengubah nuansa maqashid syariah yang awalnya protection (penjagaan) dan preservation (pelestarian) menuju development (pengembangan) dan pemuliaan human rights (hak asasi manusia). Pemikiran tersebut lahir dari realitas yang dilihat oleh Jasser Auda. Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia, negara-negara Muslim menduduki level terendah. 

Oleh karena itu, menurutnya gagasan maqashid harus diubah orientasinya dari sekadar penjagaan menuju pengembangan. Jika maqashid klasik membahas hifzh al-mal (menjaga harta) dengan salah satu cara yaitu hukuman potong tangan bagi pencuri, pada tahap pengembangan, hifzh al-mal membahas persoalan ekonomi secara luas; bagaimana agar ekonomi dapat berputar secara adil sehingga tidak ada masyarakat miskin yang berpikir untuk mencuri. Hal ini misalnya yang banyak terjadi di negara Barat, di mana negara menjamin secara totalitas sehingga keamanan benar-benar dapat dirasakan semua pihak. 

Sejalan dengan hal tersebut, Jasser Auda sering mengutip pernyataan Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah sebagai berikut:

Syariat itu didasarkan pada kebijaksanaan yang menghendaki kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat. Syariat seluruhnya terkait dengan keadilan, kasih sayang, kebijaksanaan dan kebaikan. Jadi, peraturan apa pun yang mengganti keadilan dengan ketidakadilan, kasih sayang dengan kebalikannya, kemaslahatan dengan kejahatan, atau kebijaksanaan dengan omong kosong, maka peraturan tersebut bukan bagian dari Syariah, meskipun diklaim sebagai bagian dari Syariat menurut beberapa interpretasi.

Berdasarkan penuturan tersebut, jelas bahwa maqashid dari syariat adalah keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Maka aturan-aturan yang dibuat haruslah berlandaskan pada poin-poin tersebut. Menurut Jasser Auda, hal tersebut dapat diimplementasikan dengan mengembangkan maqashid yang berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan. 

Selain itu, Jasser Auda juga menawarkan pembacaan baru dalam melihat maqashid. Alih-alih memisahkan klasifikasi maqashid ke dalam lima poin di atas, Auda melihat bahwa kelima poin tersebut saling berhubungan dan berkaitan satu sama lain. Sehingga dalam pengaplikasiaannya tidak dapat dipisahkan. Misalnya dalam konteks menjaga agama, seseorang yang beragama juga harus berakal sehat, mempunyai tubuh yang kuat, menjaga keturunan dan keluarganya dari siksa neraka, mempunyai kekuatan finansial, dan lain-lain. Dengan kata lain, satu konsep tidak dapat berdiri sendiri dan harus saling mengisi dan menguatkan. Meminjam istilah Amin Abdullah, maqashid yang ada harus saling berintegrasi, interkoneksi dan multidisiplin.

Salah satu contoh menarik yang dapat dielaborasi saat ini adalah terkait wabah Virus Corona atau Covid-19. Dalam konteks ini, ajaran Islam harus menjaga nyawa manusia, ini adalah maqashid yang harus dicapai. Maka fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga keagamaan, tidak boleh bertentangan atau mengancam nilai-nilai kemanusiaan. Jasser Auda menggarisbawahi definisi fatwa yaitu aplikasi dari syariat dalam kehidupan umat Islam saat ini. Sehingga boleh jadi aplikasinya berbeda dengan zaman dahulu, tetapi maqashid-nya tetap terjaga. Dalam bahasa Auda, ia menyebut, differentiating between changing means and absolute ends, keharusan membedakan antara makna yang berubah dan tujuan akhirnya, antara wasilah dan ghayah. 

Berdasarkan pertimbangan dari pakar kesehatan, dapat diketahui bahwa virus ini dapat menular dengan cepat dikarenakan adanya perjumpaan yang masif dan dekat antarmanusia. Sehingga untuk mencegahnya, dibutuhkan social atau physical distancing, membangun ruang jarak fisik di tengah masyarakat. Salah satunya dengan beraktivitas di rumah saja. Dalam konteks maqashid, #dirumahaja menjadi panduan untuk menjaga kemanusiaan.

Poin pertama, dalam konteks menjaga ajaran agama, ibadah dilakukan secara bersama-sama dan berjamaah. Tetapi, dalam situasi pandemi, hal seperti itu justru dapat mengancam kemanusiaan. Maka ibadah pun dapat dilakukan secara mandiri di rumah masing-masing. Poin kedua, penjagaan jiwa manusia dari segala ancaman dan virus yang membahayakan. Maka antisipasinya perlu dilakukan, seperti rajin mencuci tangan, memperhatikan etika bersin, mengkonsumsi makanan yang bergizi, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Sedangkan poin ketiga, menjaga keturunan dan keluarga. Orangtua menjaga anaknya dan anak menjaga orangtua. Termasuk salah satu penjagaan keluarga, bagi orang yang sedang dirantau dengan tidak mudik di tengah pandemi. Sebab, bisa jadi sang pemudik membawa virus yang dapat mengancam keluarga yang lebih rentan terkena virus mematikan.

Poin keempat, menjaga dan mengelola harta. Salah satu cara pengelolaan harta yang diajarkan oleh Al-Quran adalah peredaran uang di tengah masyarakat tidak hanya beredar di kalangan orang kaya saja. Di tengah wabah seperti ini, solidaritas dan gerakan sosial kemanusiaan membantu sesama penting digiatkan. Orang yang mempunyai kemampuan finansial membantu fakir miskin dan dokter yang berjuang di garda terdepan. Poin kelima, menjaga nalar dan akal sehat dengan cara meningkatkan literasi media dan sains seputar virus ini. Sebenarnya bukan hanya masalah virus ini saja, menurut Nidhal Guessoum, secara umum literasi sains di dunia Muslim masih sangat rendah. Misalnya dengan memilah dan memilih berita-berita yang beredar di media sosial. Sebab, tidak semuanya valid dan dapat dipercaya. Dengan memaksimalkan hal-hal tersebut, maka maqashid akhir yaitu menjaga nilai-nilai kemanusiaan lebih memungkinkan untuk tercapai.

Oleh karena itu, dalam perspektif maqashid syariah Jasser Auda, ada beberapa hal yang menjadi penekanan. Pertama, hierarki nilai dalam maqashid klasik harus dipandang sebagai satu kesatuan dan saling mengisi. Kedua, perlu adanya sinergitas antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan modern sehingga maqashid-nya dapat lebih menyeluruh dan maksimal. Ketiga, maqashid dari ajaran Islam secara umum adalah menjaga, mengembangkan dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan. Maka segala hal yang mengatasnamakan agama tetapi ‘membunuh’ rasa kemanusiaan, harus ditinggalkan. Wallahu a’lam bis al-shawwab.

Menundukkan Nafsu

Apakah tanda-tanda orang yang sudah berhasil menundukkan hawa nafsunya? Apa ciri orang yang telah berhasil membebaskan dirinya dari maksiat? Dalam cuplikan puisi pendek di bawah ini, Rumi mengatakan:

Kumau hati yang terbelah kerat oleh nyeri terpisah dari-Nya.

Demi kubisa luapkan rindu dan keluhku pada-Nya.

Orang yang hidupnya masih banyak didorong dan dihabiskan untuk mengumbar nafsunya, adalah orang yang lupa akan kekasihnya, yang tersimpangkan dan terlenakan dari kerinduan kepada Allah. Sebab, kegembiraan-kegembiraan yang dikejarnya itu sesungguhnya hanyalah tipuan. Jadi, jika seseorang memiliki banyak harta, bisa membeli apa saja yang dia inginkan, lalu dengan itu dia merasa telah mendapatkan kegembiraan; atau oleh kekuasaan maupun ketenaran yang dimilikinya bisa mendapatkan apa saja, maka sesungguhnya ia adalah orang yang ghafil –yakni, orang yang mengalami ghaflah, kelalaian, keterlenaan. Ketika kerinduannya kepada Tuhan terbenam oleh cinta dunia ini, pada kenyataannya dia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan sejati, meskipun hidupnya seolah-oleh dipenuhi kegembiraan-kegembiraan.

Bagi orang yang berhasil mencapai satu tingkat permulaan, yang darinya dia bisa memulai perjalanan spiritualnya, maka hal-hal yang bersifat fisik duniawi, dan berfungsi untuk memuasi jiwa rendah, sudah tidak lagi menarik hatinya. Dia sudah melepaskan diri dari semua itu; hidup sederhana, dan tidak lagi dikerumuni oleh orang-orang yang mungkin menjilatinya demi kepentingan duniawi. Dia hidup sepi, tak berada di dalam keramaian pergaulan dengan manusia, tidak lagi mendapatkan kenikmatan dari makan banyak, konsumsi yang banyak, tidak pula banyak tidur. Mereka telah mampu membebaskan diri dari semua itu, sehingga jiwa mereka menjadi kosong dan menganga, karena jauh dari Allah. Tidak ada lagi nafsu yang menimbuninya. Perasaan hati yang menganga ingin dipuasi inilah sebetulnya tanda pertama bahwa seseorang sudah siap untuk menempuh perjalanan spiritual kembali kepada Allah . Dalam keadaan hatinya menganga, ia mengharapkan sesuatu yang dirindukannya. Dalam kondisi demikian, sesungguhnya dia tidak bisa lain kecuali mencari apa yang bisa mengisi hatinya, mencari kekasih yang bisa memuasi dahaganya akan cinta. Dan orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang sepintas dari luar tampak sebagai orang-orang yang mengalami kesedihan, sebab ia merasa ada jarak yang memisahkannya dari kekasih yang dia dirindukan.

Bersedih hati –dalam makna positif- adalah bagian dari modal kita untuk siap menempuh perjalanan tasawuf. Inilah alasan Rumi mengatakan, “Kumau hati yang terbelah”, hati yang pecah, hati yang patah. “Kerat demi kerat oleh nyeri”, oleh kesedihan karena kosongnya jiwa. Persisnya, bukan jiwa kosong yang kemudian diganjal oleh hal-hal duniawi, yang sesungguhnya justru menipu dan tidak memberikan kebahagiaan sejati. “Oleh nyeri terpisah dari-Nya”,  maksudnya dari Allah. “Demi kubisa luapkan rindu dan keluhku pada-Nya.”

Inilah di antara ciri-ciri atau syarat-syarat bagi orang yang akan menempuh jalan tasawuf, sebagaimana tercermin dalam puisi Rumi di atas. [] Haidar Bagir

*Tulisan ini diambil dari buku DAMA (Dari Allah Menuju Allah)

Islam (Juga) Agama Cinta

Dalam fenomenologi agama, sebagaimana terungkap oleh Rudolph Otto, disebutkan ada dua situasi pertemuan manusia dengan Tuhannya. Dalam situasi pertama, Tuhan tampil dihadapan manusia sebagai suatu “misteri yang menggetarkan” (mysterium tremendum). Pada situasi lainnya, Ia hadir sebagai “misteri yang memesonakan” (mysterium fascinans). Biasanya, para ahli –seperti Van der Leuw- melihat Islam (dan juga agama Yahudi) sebagai mewakili situasi yang pertama. Secara hampir refleks, para ahli seperti ini pun me-reserve situasi yang kedua –yang didominasi cinta- untuk Kekristenan. Namun, para ahli mengenai aspek esoterisme Islam (spiritualitas Islam atau tasawuf) yang lebih belakangan, seperti diwakili dengan baik oleh Annemarie Schimmel, melihat Islam sebagai tak kurang-kurang mempromosikan orientasi cinta dalam hubungan antara manusia dan Tuhannya. Bahkan, seperti akan diuraikan di bawah ini, dalam hal ini Islam justru lebih memujikan orientasi cinta daripada orientasi yang didominasi rasa takut.

Untuk memulai pembahasan mengenai soal ini, perlu disampaikan bahwa khazanah pemikiran Islam klasik sesungguhnya juga telah mengenal kedua situasi pertemuan manusia dan Tuhannya ini. Yakni, aspek kedahsyatan yang menggetarkan (disebut jalal) dan aspek kehidupan yang memesonakan (jamal). Namun, adalah benar juga bahwa selama berabad-abad –khususnya selama berabad-abad modernistik belakangan ini- kaum Muslim seperti lupa pada sisi esoteris agama mereka yang melihat hubungan manusia-Tuhan sebagai kecintaan makhluk kepada keindahan-memesonakan Sang Khalik. Jadilah Islam, seperti diungkapkan oleh para ahli fenomenologi agama itu, sebagai suatu agama yang secara eksoteris melulu berorientasi nomos (syari’ah dalam arti sempit, hukum) dan kering dari orientasi eros (cinta, hubb).

“Kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu an u’raf. Fa khalaqtu al-khalaqa li kai u’raf” (Aku adalah perbendaharaan yang terpendam. Aku ingin sekali (ahbabtu) untuk dikenal. Maka, Aku ciptakanlah alam semesta). Demikianlah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam suatu hadis qudsi. Basis dari penciptaan sejak awal-mulanya, menurut hadis yang merupakan kutipan standar dalam hampir setiap uraian tasawuf ini, adalah kerinduan atau kecintaan Tuhan akan (ma’rifah) manusia. Lepas dari “opini” para sufi ini, Al-Quran menegaskan hubungan cinta antara Allah Sang Pencipta (Alwadud) dan manusia (lihat, antara lain, Al-Quran Surah Al-Ma’idah [5]: 54, Al-Baqarah [2]: 165). Inilah salah satunya: “Adapun orang-orang yang beriman itu, sangat dalam kecintaan mereka kepada Allah.”

Menurut salah satu peneliti, bukan saja lebih banyak porsi dalam 99 Nama Allah (Al-Asma’ Al-Husna) bagi nama-nama yang termasuk dalam aspek jamal Allah SWT., seperti Maha Pengasih (Al-Rahman), Maha Penyayang (Al-Rahim), Maha Pencinta (Al-Wadud), Maha Pemaaf (Al-Ghafur), Maha Penyabar (Al-Shabur), Maha Lembut (Al-Lathif), dan seterusnya. Bahkan di dalam Al-Quran terdapat lima kali lebih banyak ayat yang mengandung nama jamaliyah ini daripada jalaliyah. Dengan kata lain, Allah menampilkan dirinya sendiri –dan tak ada yang dapat menampilkan Allah kecuali diri-Nya sendiri- lebih sebagai Zat yang indah dan memesona serta menimbulkan cinta kasih, daripada sebagai suatu misteri dahsyat yang menggetarkan. Itu sebabnya dalam sebuah hadis disabdakan: “Allah adalah cinta”.

Kenyataan ini tentu sama sekali tak berarti bahwa kita harus mengabaikan penampilan Allah SWT., dalam segenap kedahsyatan-Nya. Tetapi, bahwa segenap kedahsyatan Allah itu –kemurkaan, pemaksaan, janji pembalasan-Nya terhadap kejahatan makhluk, dan sebagainya- merupakan bagian dari kecintaan-Nya kepada makhluk. Dalam sebuah hadis qudsi, disebutkan bahwa Allah SWT., berfirman: “Sesungguhnya kasih sayang-Ku mendahului kemurkaan-Ku”. Di dalam Al-Quran, Dia sendiri menyatakan sebagai “telah menetapkan atas Diri-Nya sifat pengasih (Rahmat)”, serta mengajarkan bahwa Rahmat-Nya “seluas langit dan bumi” dan “meliputi segala sesuatu”. Sejalan dengan itu, Nabi-Nya pernah mengabarkan kepada kita bahwa: “Allah memiliki seratus rahmat. (Hanya) satu yang ditebarkan-Nya ke atas alam semesta, dan itu sudah cukup untuk menanamkan kecintaan di hati para ibu kepada anak-anaknya.” Sehingga, tutup hadis itu, “seekor induk kuda mengangkat kakinya agar tak menginjak anaknya, dan seekor ayam betina mengembangkan sayapnya untuk anak-anaknya berlindung di bawahnya.”

Menurut Ibnu ‘Arabi, “Tidak ada perkataan ilahi dari Allah SWT yang mengindikasikan sifat jalaliyah-Nya tanpa dibarengi dengan sifat jamaliyah-Nya. Hal demikian berlaku dalam semua kitab suci, bahkan dalam segala sesuatu.”

Sayangnya, dalam segenap kegentaran kita kepada kedahsyatan (jalal) Allah SWT., banyak di antara kita sulit membayangkan bentuk hubungan cinta antara Yang Mahasegala dan makhluk ringkih bernama manusia ini. Paling banter, orang akan menafsirkannya sebagai sinonim dari keterikatan atau ketaatan seorang hamba (‘abd) yang takut kepada Tuhan (Rabb)-nya.

Untuk membuyarkan fiksasi kita tentang Allah yang menakutkan ini, izinkan saya mengungkapkan simbolisasi Ibn ‘Arabi dalam karya besarnya, Fushush Al-Hikam. Hubungan cinta antara Allah dan manusia, kata sang sufi besar yang kontroversial ini, adalah seperti hubungan cinta antara manusia lelaki dan perempuan. (“Inilah”, kata Ibn ‘Arabi, hikmah hadis termasyhur Nabi mengenai kecintaan beliau kepada perempuan, di samping kepada shalat dan wewangian. Bisa jadi pada awalnya sang sufi besar itu berpikir: pasti ada hikmah yang lebih ‘sakral’ di balik kesukaan sang Manusia Sempurna kepada objek-objek profan yang tampak ‘remeh-temeh’ itu”). Artinya, kecintaan Allah kepada manusia –dan yang sebaliknya- adalah seperti cinta-kasih dua sejoli anak manusia yang asyik-masyuk (istilah bahasa Arab yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia ini sebetulnya merupakan bentukan dari kata ‘isyq –berarti cinta- yang merupakan salah satu istilah kunci dalam tasawuf). Banyak sekali ujaran-ujaran para sufi besar lainnya mengenai hal ini.

Selain sufi-sufi seperti Ibn ‘Arabi dan Ibn Al-Faridh, yang menonjol di antaranya adalah sufi perempuan, Rabi’ah Al-‘Adawiyah. Ia dikenal dengan syair-syair menggetarkan yang menunjukkan hubungan cinta kasih antara manusia dan Tuhan:

“Ya Allah,” demikian munajatnya di suatu malam, “saat ini gelap telah menyelimuti bumi. Lentera-lentera telah dimatikan, dan para manusia telah berdua-dua dengan kekasihnya. Maka, inilah aku, mengharapkan-Mu.”

Diriwayatkan ia pernah ditemui sebagai seseorang yang berjalan di jalanan Kota Baghdad sambil membawa obor di salah satu tangannya yang lain. Ketika ditanya orang tentang tujuannya, ia menjawab, “Aku akan menyalakan surga dengan obor ini, dan memadamkan api neraka dengan seember air ini.” Memang Rabi’ah juga dikenal luas dengan syairnya:

“Ya Allah jika aku menyembah-Mu karena berharap surga-Mu, maka jauhkanlah surga itu dariku. Jika aku menyembah-Mu karena takut neraka-Mu, maka masukkan aku ke dalamnya. Tetapi, janganlah halangi aku dari melihat Wajah-Mu.”

Munajat Rabi’ah ini kiranya sejalan belaka dengan berbagai ujaran ‘Ali ibn Abi Thalib -sahabat dan penerima wasiat Nabi, guru para sufi awal, dan pangkal hampir seluruh silsilah tarikat– khususnya bagian-bagian tertentu dalam Doa Kumail yang diajarkan Nabi kepadanya”

“… kalaupun aku sabar menanggung beban-penderitaan (di neraka) bersama musuh-musuh-Mu dan Kau kumpulkan aku dengan para penerima siksa-Mu, dan kau ceraikan aku dari para kekasih dan sahabat-Mu … kalaupun aku, wahai Ilah-ku, Tuanku, Sahabatku dan Rabbku, sabar menanggung siksa-Mu, bagaimana bisa akan bersabar dalam menanggung perpisahan dengan-Mu … kalaupun aku bisa bersabar menanggung panas-neraka-MU, bagaimana bisa aku bersabar dari melihat kemuliaan-Mu …”

Dalam konteks ini, menjadi terpahamkan ketika, suatu kali, ‘Ali “menyindir” ibadah ala budak yang ketakutan, atau ala pedagang yang selalu menghitung-hitung imbalan, seraya memuji hubungan yang berlandaskan cinta. [] Haidar Bagir

*Tulisan ini merupakan potongan pengantar yang dibuat oleh Dr. Haidar Bagir untuk buku Agama Cinta, Agama Masa Depan.  

Beragama Dengan Rasa Cinta

Oleh Haidar Bagir

Tentang Keberagamaan

Saya bukan sedang bicara soal agama. Agama saya imani sebagai produk wahyu dari Tuhan. Sakral. Tapi ini tentang keberagamaan, cara kita memahami dan mempraktikkan agama kita. Saya merasa keberagamaan sebagian kita sekarang lebih bersifat negatif dan destruktif.

Agama bagi sebagian (cukup banyak) kita telah jadi sarana pengerasan identitas politik dan kelompok, yang melahirkan eksklusivisme dan konflik dengan liyan (yang lain-red). Bahkan kebencian. Padahal sesungguhnya agama adalah sumber kasih, persaudaraan, toleransi, dan kedamaian. Mari beragama dengan rasa cinta.

Tentang Ateisme

Sementara itu, orang yang disebut ateis, malah banyak yang mendedikasikan hidupnya untuk kebaikan, kebenaran, dan keindahan. Mereka itu boleh jadi lebih “ber-Tuhan” ketimbang orang yang (mengaku) beriman tapi jahat, tak punya integritas dan rasa keindahan. Karena sesungguhnya Tuhan itu Sumber Segala Kebaikan, Kebenaran, dan Keindahan.

Karena, sesungguhnya, orang ateis seringkali bukan tak percaya pada keberadaan Tuhan – meski tentu ada yang demikian – melainkan tak percaya pada Tuhan Personal. Inilah juga definisi ateisme dalam studi-studi yang lebih akademis. Mereka percaya pada Tuhan, tapi yang bersifat Impersonal, dalam wujud Kebaikan, Kebenaran, dan Keindahan tersebut. Meski kadang orang-orang ateis itu sendiri tak menyadari, karena mereka menganggap/mengira Tuhannya agama itu cuma bersifat Personal.

Tentang Agnostik

Sedangkan orang agnostik (orang yang meragukan suatu kebenaran-red) itu berbakat beriman, karena iman selalu mengandung kesadaran akan keterbatasan seluruh daya intelektual untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang misteri hidup: dari mana kita berasal, bagaimana seharusnya menjalani hidup di dunia, dan ke mana setelah mati. Dalam irfan (salah satu definisinya adalah “ungkapan pengalaman tasawuf”, meskipun masih banyak lagi definisi-definisi lainnya-red) ini disebut hayrah. Orang agnostik yang baik biasanya tak pernah berhenti mencari.

Tentang Keimanan

Maka, berbahagialah orang yang beriman. Mereka sudah sampai, sedikitnya ke salah satu tonggak dalam perjalanan menuju Tuhan. Betapa pun masih jauh. Tapi hendaknya imannya tidak saja menjadikannya taat kepada syariah – sebagai cara yang diajarkan Tuhan sendiri untuk mendekat kepada-Nya – melainkan, pada saat yang sama, menjalani agama dengan hidup senantiasa dalam kebaikan, setia pada dan tak pernah berhenti mencari kebenaran, dan penuh rasa keindahan. Dengan demikian, keimanannya bermanfaat bagi kebahagiaan hidupnya sendiri, dan bagi sesama makhluk Tuhan yang lainnya.

X