Dari Allah Menuju Allah: Rumi dan Kerinduan Manusia untuk Kembali Pulang

Rumi adalah tokoh sufi terkemuka yang masyhur di dunia Timur maupun Barat. Untaian syai-syairnya tak pernah lekang oleh ruang dan waktu. Sejak dulu hingga sekarang kandungan makna syair-syairnya terus digali oleh para cendekiawan Timur maupun Barat.

Haidar Bagir, cendekiawan, filantropis dan direktur Mizan Group, adalah salah satu cendekiawan yang bisa dibilang cukup intens mengkaji Rumi dan gagasan-gagasannya. Selain mendirikan pesantren virtual Nurul Wala’, sejak 2015 ia secara intens menulis tentang Rumi dan gagasan-gagasannya. Sebut saja buku yang berjudul Belajar Hidup dari Rumi diterbitkan oleh Mizan pada tahun 2015 dan Mereguk Cinta Rumi: Serpihan-Serpihan Puisi Pelembut Jiwa,  (Mizan, 2016). Tahun 2018 lalu, selama bulan Ramadhan, Haidar mendaras puisi-puisi Rumi lewat akun media sosial Mizan Wacana dan Noura Publishing.

Haidar kembali menulis buku tentang Rumi pada awal tahun 2019 ini. Buku yang berjudul Dari Allah Menuju Allah: Belajar Tasawwuf dari Rumi, diterbitkan oleh Penerbit Noura. Dalam buku ini Haidar tidak saja memaparkan gagasan-gagasan Rumi yang terkemas dalam syair-syairnya, tetapi juga mengelaborasi syarah kandungan maknannya. Dengan demikian masyarakat umum yang mungkin tidak memahami secara mendalam tentang syair-syair Rumi, bisa secara gamblang mencernanya. Menyelam dalam keindahan lautan syair cinta Rumi pada Tuhan.

Dalam kesempatan bedah buku Dari Allah Menuju Allah (DAMA) di Kinokuniya Bookstore, Plaza Senayan (14/02/19), Haidar memaparkan proses kreatif dan inspirasi yang membuatnya tertarik secara tiba-tiba ingin mendalami dan terus menulis tentang Rumi. Tidak hanya menulis gagasan-gagasan Rumi tapi juga berusaha memberikan syarah terhadap syair-syair Rumi. Dari perenungannya selama beberapa tahun belakangan ini, muncullah ide menulis pemahamannya yang secara mengalir menguraikan kedalaman makna syair-syair Rumi.

Dalam salah satu penggalan syairnya, Rumi mengungkapkan;

Dulu Aku perbendaharaan rahasia kebaikan dan kedermawanan,
Kurindu perbendaharaan ini dikenali,
Maka kucipta cermin

Penggalan syair di atas terilhami dari hadis Qudsi; “Dulu aku adalah perbendaharaan tersembunyi. Aku rindu untuk dikenali. Maka Kucipta ciptaan, agar aku dikenali”. Para sufi meyakini bahwa penciptaan alam semesta, termasuk manusia, adalah karena kecintaan Tuhan pada makhluk dan “kerinduan-Nya” untuk diketahui oleh makhluk. Pada setiap makhluk yang diciptakan Tuhan tersemayam di dalamnya tiupan rahman (kasih sayang). Meminjam istilah Ibn Arabi, Tuhan adalah Nafas ar-Rahman, yaitu napasnya Allah lah yang menjadi bahan penciptaan semesta. Artinya, diartikan bahwa manusia semua diciptakan karena cinta.

Haidar mengaku bahwa keinginan menulis buku-buku tentang Rumi secara tidak sengaja muncul. Menurutnya, unsur sufistik dalam syair-syair rumi mampu menjelaskan tasawwuf dan ‘irfan secara lebih elegan dan mendalam. Manusia diibaratkan cermin Tuhan, yang darinya Tuhan menginginkan agar “dikenal” makhluknya. Sebab Tuhan telah meniupkan ruh ke dalam diri manusia dari “ruh-Nya”, sebagaimana dalam surat al-Hijr ayat 28:  “Faidza sawaituhu wa nafakhtu fiihi min ruuhi faqa’uu lahuu saajidiin”. Maka ketika aku telah selesai menciptakannya dan meniupkan sebagian ruhku, maka mereka beranjak untuk sujud hormat kepadanya.

Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dengan keistimewaan dari-Nya. Manusia memang diciptakan oleh Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Karenanya ungkapan dari Allah menuju Allah menggambarkan secara universal hakikat terciptanya manusia.

Haidar menambahi bahwa diksi cermin yang dipakai Rumi tak lepas dari pemahaman bahwa manusia sebagai madzhar (wadah) yang sempurna untuk tajalli (emanasi) Tuhan. Dalam satu hadis Qudsi, Allah berfirman: “Alam semesta dan isinya tak mampu menampungku, yang bisa menampungku adalah hati mukmin”. Manusia adalah tajalli Tuhan yang berarti adalah bagian dari Tuhan itu sendiri. Semata-mata bahwa wujud manusia “pinjaman” dari wujud Tuhan.

Betapapun hebatnya manusia, di relung hatinya yang paling dalam, akan tetap merindukan kekasih yang telah menciptakannya (Tuhan). Tak heran jika di atas pencapaian duniawi, jiwa (manusia) tetap mencari sesuatu yang bisa mengisi kekosongan dan kerinduan (yang kadang tak bisa dijelaskan kecuali yang merasakannya). Sebagaimana dalam untaian syair ini;

Dari mana aku datang, dan apa yang harus kulakukan?
Aku tak tahu.
Jiwaku berasal dari suatu tempat
di sana,
dan kuingin berakhir juga di sana

Pencarian jiwa pada sumbernya, Tuhan, adalah alamiah. Setiap jiwa akan secara alamiah mencari sumbernya, yakni Tuhan.

Dalam penggalan syair di atas Haidar menjelaskan bahwa kebahagiaan tertinggi jiwa adalah bisa kembali menyatu pada pemiliknya. Serupa nay (seruling) yang mengeluarkan suara yang menyayat dan mendayu-dayu adalah sebentuk kerinduannya karena tercerabut dari kumpulan bambu di mana ia berasal. Puisi tentang nay ini bahkan menjadi puisi pembuka dalam matsnawi. Para peneliti Rumi menyebut susunan Matsnawai tak ubahnya susunan kitab suci Al Quran. Jika Al Quran dimulai dengan bacalah, Matsnawai dimulai dengan dengarkanlah.

Benar belaka bahwa kerinduan adalah modal utama manusia untuk melakukan perjalanan (suluk) menuju Tuhan. Tanpa kerinduan yang dalam, mustahil bisa menjalani perjalanan ruhani yang panjang lagi berat.

Perjalanan manusia berawal dari cinta Tuhan dan ditiupkan dari padanya napas Tuhan. Dalam pengembaraan manusia di dunia ini, (jiwa) manusia itu merindu untuk bertemu kembali pada Tuhan. Perjalanan “pulang” ini membutuhkan rahmat dan pertolongan Tuhan. Sebab dengan kedua hal itu perjalanan panjang bisa dilalui.

Menurut Asma Nadia, yang datang sebagai moderator dalam acara itu, buku karya Haidar ini ditulis dengan bahasa yang sangat ringan dan enak dibaca. Membuat para pembaca bisa terpikat dengan keindahan syair Rumi sekaligus tenggelam dalam maknanya yang sangat dalam. Pembaca akan menemukan cinta hakiki dalam syair-syair Rumi yang disyarahi Haidar.

Dalam launching yang mengangkat tema Tuhan dalam Syai-Syair Rumi, peserta diajak menyelami makna keindahan cinta sejati yang tertuang dalam Syair-syair Rumi. Cinta sejatinya hanya kepada Tuhan. Dan hanya ada keindahan di dalamnya. Bahkan dalam penderitaan dan kesepian sekalipun. Jika seseorang telah mereguk cinta Tuhan, dalam keadaan apapun yang akan ada hanyalah cinta.

Nur Jabir, direktur Rumi Institute yang diundang sebagai tamu juga memberikan apresiasi yang sangat tinggi atas terbitnya buku ini. Ia sendiri menjelaskan keterpikatannya pada Rumi. Rumi memang sosok yang sangat istimewa. Tidak saja dalam dunia Islam, melainkan juga pada dunia Barat. Unsur estetik yang terkandung dalam syair-syairnya tidak sedikit memberikan inspirasi. Rumi menampilkan Islam dengan sangat indah.

(Hakim, Aida, Mauline)

(Visited 501 times, 3 visits today)

Menyelami Filsafat Cinta Hubungan Manusia dan Tuhannya

15 February 2019

MENCIPTAKAN MANUSIA: AI Dalam Perspektif Mistisisme*

15 February 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *