MENCIPTAKAN MANUSIA: AI Dalam Perspektif Mistisisme*

Oleh Haidar Bagir

Teknologi Artificial Intelligence (AI, kecerdasan buatan) sudah mulai mampu menciptakan robot yang kemampuannya mendekati kemampuan manusia. Sepuluh tahun ke depan, kemungkinan, manusia buatan manusia sudah bisa diciptakan.

Manusia ciptaan manusia ini  akan lebih unggul dibanding manusia ciptaan Tuhan. Yakni, dalam beberapa hal tertentu, yang akan menjadi pembahasan tulisan ini. Dia akan mampu menjawab semua kemungkinan pertanyaan rasional manusia ciptaan Tuhan. Otaknya, yakni lokus rasionalitasnya, sudah dilengkapi algoritma/struktur berpikir seperti layaknya otak manusia ciptaan Tuhan. Bahkan manusia ciptaan manusia ini akan bisa memproses data dan informasi yang jauh lebih besar daripada yang bisa diproses manusia ciptaan Tuhan, dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Di atas itu semua, AI generasi ini tidak akan terpapar pada lupa, lelah, bias, apalagi kehilangan obyektivitas  karena persoalan-persoalan gangguan fisik atau emosional yang bisa diderita manusia ciptaan Tuhan. Semua “kelemahan” manusia ciptaan Tuhan – dalam makna-relatif ini – akan bisa diatasi oleh manusia ciptaan manusia ini.

Stephen Hawking pernah meramalkan terjadinya bencana besar abad ini,  berkaitan dengan akan diambil-alihnya sebagian besar pekerjaan manusia oleh AI supercerdas ini.

Pertanyaannya, apakah dengan demikian  manusia ciptaan manusia ini akan menjadi lebih unggul dari  penciptanya sendiri, yakni manusia ciptaan Tuhan? Konsekuensinya, apakah dengan demikian manusia akan menjadi Tuhan dengan kemampuannya menciptakan manusia-manusia baru, dengan segala keunggulan itu? Tentu saja tidak.

Pertama, kemampuan manusia menciptakan manusia itu hanya bisa terjadi dengan izin Tuhan, Sang Pencipta Sejati. Tuhan yang memberikannya hidup, kemampuan, dan fasilitas dalam bentuk hukum-hukum yang teratur, dan bahan-bahan pembuatnya. Bukan hanya itu. Dilihat dari perspektif orang beriman, Tuhanlah yang bisa memberinya izin atau tidak memberinya izin sehingga proyek penciptaan itu bisa terwujud atau tidak terwujud. Pertanyaan yang lebih penting dari itu, apakah ini berarti kiamat bagi manusia ciptaan Tuhan, karena segala kemampuannya telah diungguli dan wilayah pekerjaannya telah diambil-alih?

Sebaliknya dari itu. Alih-alih ini kiamat bagi manusia, sesungguhnya zaman baru kehidupan sejati manusia ciptaan Tuhan baru akan mulai. Bagaimana hal ini bisa dijelaskan? Yang sejak tadi belum kita singgung adalah, bahwa manusia-manusia ciptaan manusia ini sesungguhnya hanya bisa mengimitasi sebagian saja – dan akan kita lihat nanti, sebagian yang paling kurang penting – dari daya-daya manusia ciptaan Tuhan. Manusia-manusia baru ini hanya mampu dan lebih unggul dalam mengerjakan sesuatu yang bersifat rasional dan fisik belaka. Bagi orang-orang beriman – atau orang-orang yang percaya bahwa ada sesuatu yang bersifat ekstraneurologis dalam daya-daya kognisi manusia – justru daya paling penting manusia ciptaan Tuhan mustahil bisa digantikan dengan manusia model AI ini. Apakah daya-daya itu?

Pertama, berimajinasi, yakni imajinasi dalam jenis tertentu.

Dalam disiplin misitisisme, dikenal dua jenis imajinasi: pertama, imajinasi yang disebut sebagai terkait dengan stimulasi-stimulasi fisik, rasional, dan psikologis (dalam makna yang lebih dekat – meski tidak mesti mengandung makna kelainan – kepada imajinasi Freudian). Dalam mistisisme Islam ini disebut sebagai imajinasi/ khayal muttashil . Imajinasi jenis ini tak terpisahkan dari pengalaman interaksi sehari-hari dengan manusia dan lingkungan sekitarnya. Jadi, karya imajinasi apa pun yang bisa dilahirkannya merupakan pengembangan dari impresi-impresi yang diciptakan oleh pengalaman kesehariannya itu. Kedua, adalah imajinasi yang merupakan ilham dari alam yang lebih tinggi, baik itu alam imajinasi yang lebih luhur atau, lebih tinggi lagi, alam ruhani (spiritual). Ini disebut sebagai imajinasi/ khayal munfashil.

Daya kognisi yang disebut terakhir inilah yang tidak bisa diimiliki oleh manusia-manusia dalam bentuk AI, ciptaan manusia.

Nah, dalam konteks inilah, hadirnya AI, yang bisa menggantikan sebagian tugas manusia ciptaan Tuhan dalam hal fisik, rasional, dan psikologis – dalam level rendah – ini, justru akan membebaskan manusia ciptaan Allah dari kesibukan “kurang penting” – dipandang dari sudut competitive advantage-nya yang sejati – sebagai manusia ciptaan Tuhan. Selanjutnya dengan waktu dan daya-daya luhur khasnya itu ia benar-benar bisa hidup, baik dalam hal kehidupan relijiusnya, maupun dalam hal melahirkan gagasan-gagasan kreatif yang lebih tinggi. Pada puncaknya hal ini akan lebih mampu membawa kemanusiaan ke level tertinggi dalam trajektori kemanusiaannya sebagaimana ia dirancang oleh Penciptanya: Menjadi Manusia Sempurna ( Perfect Man, Insan Kamil ) yang mampu – sejauh batas-batas kemanusiaannya – “mengimitasi” (sifat-sifat) Tuhan, Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Bijaksana.

*Tulisan ini telah dimuat di kompas dan website islamindonesia.id. Berikut linknya https://islamindonesia.id/haidar-bagir/kolom-haidar-bagir-menciptakan-manusia-ai-dalam-perspektif-mistisisme.htm

Dari Allah Menuju Allah: Rumi dan Kerinduan Manusia untuk Kembali Pulang

Rumi adalah tokoh sufi terkemuka yang masyhur di dunia Timur maupun Barat. Untaian syai-syairnya tak pernah lekang oleh ruang dan waktu. Sejak dulu hingga sekarang kandungan makna syair-syairnya terus digali oleh para cendekiawan Timur maupun Barat.

Haidar Bagir, cendekiawan, filantropis dan direktur Mizan Group, adalah salah satu cendekiawan yang bisa dibilang cukup intens mengkaji Rumi dan gagasan-gagasannya. Selain mendirikan pesantren virtual Nurul Wala’, sejak 2015 ia secara intens menulis tentang Rumi dan gagasan-gagasannya. Sebut saja buku yang berjudul Belajar Hidup dari Rumi diterbitkan oleh Mizan pada tahun 2015 dan Mereguk Cinta Rumi: Serpihan-Serpihan Puisi Pelembut Jiwa,  (Mizan, 2016). Tahun 2018 lalu, selama bulan Ramadhan, Haidar mendaras puisi-puisi Rumi lewat akun media sosial Mizan Wacana dan Noura Publishing.

Haidar kembali menulis buku tentang Rumi pada awal tahun 2019 ini. Buku yang berjudul Dari Allah Menuju Allah: Belajar Tasawwuf dari Rumi, diterbitkan oleh Penerbit Noura. Dalam buku ini Haidar tidak saja memaparkan gagasan-gagasan Rumi yang terkemas dalam syair-syairnya, tetapi juga mengelaborasi syarah kandungan maknannya. Dengan demikian masyarakat umum yang mungkin tidak memahami secara mendalam tentang syair-syair Rumi, bisa secara gamblang mencernanya. Menyelam dalam keindahan lautan syair cinta Rumi pada Tuhan.

Dalam kesempatan bedah buku Dari Allah Menuju Allah (DAMA) di Kinokuniya Bookstore, Plaza Senayan (14/02/19), Haidar memaparkan proses kreatif dan inspirasi yang membuatnya tertarik secara tiba-tiba ingin mendalami dan terus menulis tentang Rumi. Tidak hanya menulis gagasan-gagasan Rumi tapi juga berusaha memberikan syarah terhadap syair-syair Rumi. Dari perenungannya selama beberapa tahun belakangan ini, muncullah ide menulis pemahamannya yang secara mengalir menguraikan kedalaman makna syair-syair Rumi.

Dalam salah satu penggalan syairnya, Rumi mengungkapkan;

Dulu Aku perbendaharaan rahasia kebaikan dan kedermawanan,
Kurindu perbendaharaan ini dikenali,
Maka kucipta cermin

Penggalan syair di atas terilhami dari hadis Qudsi; “Dulu aku adalah perbendaharaan tersembunyi. Aku rindu untuk dikenali. Maka Kucipta ciptaan, agar aku dikenali”. Para sufi meyakini bahwa penciptaan alam semesta, termasuk manusia, adalah karena kecintaan Tuhan pada makhluk dan “kerinduan-Nya” untuk diketahui oleh makhluk. Pada setiap makhluk yang diciptakan Tuhan tersemayam di dalamnya tiupan rahman (kasih sayang). Meminjam istilah Ibn Arabi, Tuhan adalah Nafas ar-Rahman, yaitu napasnya Allah lah yang menjadi bahan penciptaan semesta. Artinya, diartikan bahwa manusia semua diciptakan karena cinta.

Haidar Bagir menyampaikan proses kreatif dan ide menulis buku DAMA (Dari Allah Menuju Allah)

Haidar mengaku bahwa keinginan menulis buku-buku tentang Rumi secara tidak sengaja muncul. Menurutnya, unsur sufistik dalam syair-syair rumi mampu menjelaskan tasawwuf dan ‘irfan secara lebih elegan dan mendalam. Manusia diibaratkan cermin Tuhan, yang darinya Tuhan menginginkan agar “dikenal” makhluknya. Sebab Tuhan telah meniupkan ruh ke dalam diri manusia dari “ruh-Nya”, sebagaimana dalam surat al-Hijr ayat 28:  “Faidza sawaituhu wa nafakhtu fiihi min ruuhi faqa’uu lahuu saajidiin”. Maka ketika aku telah selesai menciptakannya dan meniupkan sebagian ruhku, maka mereka beranjak untuk sujud hormat kepadanya.

Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dengan keistimewaan dari-Nya. Manusia memang diciptakan oleh Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Karenanya ungkapan dari Allah menuju Allah menggambarkan secara universal hakikat terciptanya manusia.

Haidar menambahi bahwa diksi cermin yang dipakai Rumi tak lepas dari pemahaman bahwa manusia sebagai madzhar (wadah) yang sempurna untuk tajalli (emanasi) Tuhan. Dalam satu hadis Qudsi, Allah berfirman: “Alam semesta dan isinya tak mampu menampungku, yang bisa menampungku adalah hati mukmin”. Manusia adalah tajalli Tuhan yang berarti adalah bagian dari Tuhan itu sendiri. Semata-mata bahwa wujud manusia “pinjaman” dari wujud Tuhan.

Betapapun hebatnya manusia, di relung hatinya yang paling dalam, akan tetap merindukan kekasih yang telah menciptakannya (Tuhan). Tak heran jika di atas pencapaian duniawi, jiwa (manusia) tetap mencari sesuatu yang bisa mengisi kekosongan dan kerinduan (yang kadang tak bisa dijelaskan kecuali yang merasakannya). Sebagaimana dalam untaian syair ini;

Dari mana aku datang, dan apa yang harus kulakukan?
Aku tak tahu.
Jiwaku berasal dari suatu tempat
di sana,
dan kuingin berakhir juga di sana

Pencarian jiwa pada sumbernya, Tuhan, adalah alamiah. Setiap jiwa akan secara alamiah mencari sumbernya, yakni Tuhan.

Dalam penggalan syair di atas Haidar menjelaskan bahwa kebahagiaan tertinggi jiwa adalah bisa kembali menyatu pada pemiliknya. Serupa nay (seruling) yang mengeluarkan suara yang menyayat dan mendayu-dayu adalah sebentuk kerinduannya karena tercerabut dari kumpulan bambu di mana ia berasal. Puisi tentang nay ini bahkan menjadi puisi pembuka dalam matsnawi. Para peneliti Rumi menyebut susunan Matsnawai tak ubahnya susunan kitab suci Al Quran. Jika Al Quran dimulai dengan bacalah, Matsnawai dimulai dengan dengarkanlah.

Benar belaka bahwa kerinduan adalah modal utama manusia untuk melakukan perjalanan (suluk) menuju Tuhan. Tanpa kerinduan yang dalam, mustahil bisa menjalani perjalanan ruhani yang panjang lagi berat.

Perjalanan manusia berawal dari cinta Tuhan dan ditiupkan dari padanya napas Tuhan. Dalam pengembaraan manusia di dunia ini, (jiwa) manusia itu merindu untuk bertemu kembali pada Tuhan. Perjalanan “pulang” ini membutuhkan rahmat dan pertolongan Tuhan. Sebab dengan kedua hal itu perjalanan panjang bisa dilalui.

Menurut Asma Nadia, yang datang sebagai moderator dalam acara itu, buku karya Haidar ini ditulis dengan bahasa yang sangat ringan dan enak dibaca. Membuat para pembaca bisa terpikat dengan keindahan syair Rumi sekaligus tenggelam dalam maknanya yang sangat dalam. Pembaca akan menemukan cinta hakiki dalam syair-syair Rumi yang disyarahi Haidar.

Dalam launching yang mengangkat tema Tuhan dalam Syai-Syair Rumi, peserta diajak menyelami makna keindahan cinta sejati yang tertuang dalam Syair-syair Rumi. Cinta sejatinya hanya kepada Tuhan. Dan hanya ada keindahan di dalamnya. Bahkan dalam penderitaan dan kesepian sekalipun. Jika seseorang telah mereguk cinta Tuhan, dalam keadaan apapun yang akan ada hanyalah cinta.

Nur Jabir, direktur Rumi Institute yang diundang sebagai tamu juga memberikan apresiasi yang sangat tinggi atas terbitnya buku ini. Ia sendiri menjelaskan keterpikatannya pada Rumi. Rumi memang sosok yang sangat istimewa. Tidak saja dalam dunia Islam, melainkan juga pada dunia Barat. Unsur estetik yang terkandung dalam syair-syairnya tidak sedikit memberikan inspirasi. Rumi menampilkan Islam dengan sangat indah.

(Hakim, Aida, Mauline)

X