Mengenal Diri, Mengenal Tuhan

Oleh: Haidar Bagir

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu

Artinya:

Siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya

Pernyataan, yang oleh sebagian orang diyakini sebagai hadis, ini bisa memiliki dua makna: tak sama, meski berkaitan satu sama lain.

Pertama, dan ini adalah makna yang lebih umum, bahwa dengan mengenali diri (yakni diri-fitri) maka kita akan mengenali Tuhan.

Hal ini sejalan dengan makna ayat al-Qur’an berikut ini:

Hadapkanlah wajahmu lurus-lurus kepada agama Allah. Yakni fitrah Allah yang atasnya manusia diciptakan.” ( QS 30: 30)

Perhatikan, dalam ayat tersebut dikatakan bahwa fitrah manusia itu merupakan “imitasi” fitrah Tuhan.

Dalam sebuah hadis juga disabdakan:

“Allah menciptakan Adam atas ‘gambar’/’model’ Allah.”

Nah, di mana letak fitrah/”model” Tuhan itu di dalam diri manusia? Di dalam hati manusia. Hal ini sesuai hadis qudsi yang di dalamnya Allah memfirmankan: “Langit dan bumi tak bisa menampung (tanda-tanda)-ku. Yang bisa menampung (tanda-tanda)-Ku adalah hati orang-orang yang beriman.”

Pemahaman ini diperkuat oleh firman Allah sebagai berikut:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di cakrawala alam semesta dan dalam diri (manusia) sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Tuhan adalah benar” (QS 41:53)

Ya, jika manusia hendak mengenal  Tuhannya, hendaknya dia berupaya mengenali diri-fitrinya. Memelihara kebersihan hati yang merupakan wadah penampung fitrah ketuhanan. Maka, Tuhan pun akan dia kenal.

Makna kedua, yang terkait dengan makna pertama di atas, bahwa sesungguhnya pengetahuan tentang segala sesuatu – yang notabene adalah pengetahuan  tentang (tajalliy) Allah Swt – sesungguhnya ada di dalam diri manusia. Dan ini bahkan menyangkut alam fisik yang melibatkan waktu sebagai bagian fenomenanya.

Dengan kata lain, manusia bahkan bisa mengetahui apa yang belum terjadi dalam waktu (serial) karena sesungguhnya dalam waktu Allah (sarmad) semuanya sudah terjadi (berwujud) secara sempurna (ijmal) – meski terjadi secara bertahap (menuruti waktu serial) di alam fisik.

 

Dalam konteks ini, mengetahui – yakni mengetahui apa saja – sesungguhnya sama dengan memiliki akses kepada pengetahuan yang ada di dalam diri kita. Bahwa, meski memiliki tingkat-tingkatan, semua pengetahuan pada puncaknya bersifat hudhuri. Yakni sudah hadir di dalam diri kita. Dan mengetahui apa saja tak lain adalah dengan mendapatkan akses kepada pengetahuan yang telah ada di dalam diri kita. Hal ini bukan tak ada kesamaannya dengan pandangan idealistik-Platonistik – yang percaya bahwa mengetahui sama dengan “memulihkan/mengingat kembali apa yang sesungguhnya sudah kita ketahui/ada di dalam diri kita.

Surga Anugerah (Jannat al-Mawahib)

Surga Anugerah (Jannat al-Mawahib)

Abdul Karim Al-Jili adalah seorang ulama dan sufi besar di abad 14 Masehi. Ia lahir di Baghdad, tepatnya di kota Jilan (atau Kilan) pada 767 H/sekitar 1365-6 M, namun, sejak usia kanak-kanak ia telah dibawa oleh orang tuanya berimigrasi ke Yaman, tepatnya di kota Zabid. Di kota inilah al-Jili mendapatkan pendidikannya sejak dini, menjalani kiprah ilmiahnya, hingga mengantarkannya kepada posisi tertinggi sebagai ulama-sufi Yaman dengan gelar Qutb al-Din (Poros Agama), suatu gelar tertinggi dalam hirarki kaum sufi, suatu gelar bukan main-main. Karyanya yang terkenal adalah Al-Insan AlSurga Anugerah (Jannat al-Mawahib)-Kamil Fi Ma’rifat al-Awail wal Awakhir. Sejak menjalani kiprah keulamaannya, al-Jili sempat berkelana ke beberapa negeri untuk memperkaya cakrawala keilmuan dan pengalamannya. Ia pernah berkunjung ke Irak, Persia (Iran), India, Mekkah, Kairo, Gaza (Palestina), hingga akhirnya kembali menetap di kota Zabid dan meninggal di sini pada 826 H.

Dalam kitab Al-Insan Al-Kamil, selain membicarakan komunitas agama-agama (kaum kafir, kaum naturalis, para filusuf, kaum Manichean (Dualis), kaum Majusi, kaum materialis, kaum Brahmana Hindu, kaum Yahudi, kaum Nasrani, dan kaum Muslim), Al-Jili juga mendiskusikan 8 tingkatan surga: surga as-Salam, surga al-khuldi atau al-Makasib, surga al-Mawahib (anugerah), surga an-Naim, surga Firdaus, surga Fadhilah, surga Rofiah, dan surga al-Maqam al-Mahmud.

Yang menarik adalah pandangan spiritual Al-Jili tentang surga anugerah (jannat al-mawahib). Al-Jili melihat/menyaksikan (ru`ya, secara spiritual) sebagian besar penghuni surga ini berasal dari macam-macam agama, kepercayaan dan keyakinan (non-Islam) yang beragam. Mereka semua masuk surga disebabkan rahmat-Nya. Jika surga-surga yang lain didapat oleh umat nabi Muhammad karena amal salih yang banyak, maka surga anugerah ini betul-betul “pemberian” dari Tuhan untuk semua pemeluk agama dan keyakinan. Surga anugerah ini menurut Al-Jili, selain karena firman Tuhan sendiri yang menyebut bahwa kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu, lebih luas dan lebih agung dari murka-Nya, juga diisyaratkan oleh hadis Nabi Muhammad bahwa ada satu surga yang dipersiapkan untuk manusia memasukinya tetapi bukan sebagai balasan karena amalnya. Surga itu dirancang oleh Tuhan semata-mata untuk menunjukkan rahmat-Nya bagi semua pemeluk agama, kepercayaan dan keyakinan yang beragam. Bahkan surga anugerah itu disebut oleh Al-Jili sebagai surga yang paling besar dan paling luas dibanding tujuh surga lainnya (Hadzihil jannah aktsarul jinan wa awsa’uha). Menurut Al-Jili, tidak semua memang dari beragam agama dan keyakinan itu yang masuk surga tersebut, tetapi ada sekelompok (tha’ifah) dari tiap-tiap dari agama dan keyakinan itu yang mewakili mereka masing-masing.

Bahkan melalui visi spiritualitasnya (ru`ya: penglihatan spiritual, bukan mimpi) Al-Jili melihat Plato berada dunia gaib (surga) dengan cahaya dan kedudukannya sangat tinggi sehingga termasuk dalam sedikit kelompok para wali yang memiliki derajat seperti itu. Padahal selama di dunia, kata Al-Jili, banyak teolog menilai Plato sebagai tidak beriman alias “sesat” dan “kafir”.

Jika elit-elit agama dan umat masa kini bertengkar berebut kavling surga sebagai hanya milik kelompok masing-masing, Al-Jili, ulama abad 14 itu  punya pandangan dan visi relijius yang jauh “lebih maju” dari (konon) manusia-manusia modern. [Mediaa Zainul Bahri]

 

Mengajak Al Quran Bicara

Membaca karya terbaru Dr. Abad Badruzaman ini, teringat ucapan Imam Âli bin Abî Thâlib dalam NahjMengajak Bicara Al Quran al-Balâghah:

“Itulah Al-Quran. Ajaklah bicara dengannya, ia tidak akan berbicara, tapi akan memberitahukan kalian. Ketahuilah di dalam Al-Quran itu terkandung apa yang akan datang nanti dan masa lalu, penawar penyakit kalian dan pengatur urusan kalian.”

Ucapan sang pintu ilmu di atas menjadi isyarat, bahwa Al-Quran selain berbicara tentang masa lalu juga mampu menjawab segala tantangan ke depan. Namun Al-Quran tidak akan berbicara jika tidak diajak bicara. Ia hanya teks mati jika bukan pembacanya yang menghidupkannya. Dan cara untuk mengajak bicara Al-Quran agar hidup adalah dengan mengeksplorasinya. Tentunya dengan berbekal seperangkat ilmu pendukung yang memadai. Jangan lupa, Al-Quran diturunkan bukan diperuntukkan bagi satu kaum di satu zaman saja, namun juga bagi kita yang hidup pada ruang dan waktu yang berbeda.

Itulah yang dilakukan oleh penulis. Ia mencoba menggali kandungan makna Al-Quran dengan mengkhususkan pada aspek Makkiyah-madaniyah dan asbâb al-nuzûl sebagai bidang kajian. Dua di antara sejumlah aspek penting dalam kajian ‘Ulûm al-Qur’ân yang terbilang sangat mapan dalam kajian Islam. Hanya saja ada kecenderungan bahwa kedua aspek ini masih didominasi kajian yang bersifat normatif, alias masih berkutat di pembahasan klasik. Padahal dinamika zaman berubah begitu cepat.

Atas pertimbangan itu, penulis mencoba melakukan pendekatan lain, yaitu pendekatan sosiologis dan historis—yang sesungguhnya merupakan sebuah keniscayaan—sebagai upaya revitalisasi atas konsep Makkiyah-madaniyah dan asbâb al-nuzûl, agar diperoleh kontekstualisasinya dengan kekinian.

Pemilihan dua aspek penting beserta pendekatannya ini bukannya tanpa alasan. Ayat makkiyah dan madaniyah masing-masing menunjukkan karakteristik khusus yang membedakan keadaan sosio-kultur masyarakat Makkah dan Madinah pada saat ayat turun. Ini menunjukkan bahwa Al-Quran mengakomodasi karakteristik khas sebuah masyarakat. Bahkan mampu melintasi ruang dan waktu, yang juga dihuni oleh masyarakat yang berperan sebagai audiens (mukhâthab). Sementara aspek asbâb al-nuzûl, tak kalah pentingnya karena menunjukkan sebab kejadian saat ayat diturunkan. Kedua aspek inilah yang selanjutnya dijadikan landasan normatif oleh penulis dalam upaya menghidupkan dialektika langit dan bumi.

Lalu mengapa Al-Quran mesti digemakan secara relevan di sepanjang zaman?

Ajaklah Al-Quran “bicara”. Maka sesungguhnya ia memiliki rahasia kandungan hikmah yang berlapis-lapis. Terdapat kontinuitas makna yang membuatnya tetap relevan sepanjang zaman, yang membuatnya mampu mengiringi dinamika zaman. Jika pada saat diturunkannya Al-Quran dapat dijadikan solusi permasalahan umat, maka dalam rentang waktu yang jauh ke depan pun mestinya demikian.

Namun untuk menangkap pesan universal Al-Quran, tak bisa kita bisa begitu saja mengambil atau mencocok-cocokkannya sesuka hati. Perlu dipahami terlebih dahulu konteks sejarah, politik, ekonomi serta sosial-budaya masyarakat Arab saat ayat Al-Quran diturunkan, juga sebab kejadian yang melatarbelakanginya. Karena itulah pembahasan pertama buku ini.  Diawali dengan kajian klasik konsep makkiyah-madaniyah dan asbâb al-nuzûl sebagai pembuka jalan.

Kajian klasik tentu saja tetap penting dipelajari. Ulama terdahulu telah berupaya keras menorehkan tintanya dalam rangka menghidupkan ‘Ulûm al-Qur’ân. Inilah yang lantas dijadikan landasan oleh penulis dalam memasuki tema pokok yang diangkat pada bab selanjutnya, yakni revitalisasi atas konsep Makkiyah-madaniyah dan asbâb al-nuzûl dengan memaparkan kontekstualisasinya dengan kekinian.

Dari konsep makkiyah-madaniyah di antaranya dapat diambil faedahnya sebagai alat bantu dalam menafsirkan Al-Qu’ran. Mengetahui tempat turun ayat membantu dalam memahami apa yang diinginkan ayat, serta membantu dalam menentukan tujuan atau tentang apa ayat bicara (hal 38). Sementara dari konsep asbâb al-nuzûl di antaranya dapat diketahui hikmah yang mendorong lahirnya penetapan hukum serta mengetahui betapa syariat Islam memperhatikan kemaslahatan umum dalam menangani berbagai kasus hukum sebagai wujud kasih sayang terhadap umat (hal 45). Kedua aspek tersebut sejatinya mengungkapkan realitas historis. Teks adalah hasil interaksi dengan realitas yang hidup dan historis. Maka diawali dengan memotret realitas historis saat ayat diturunkan, penulis kemudian melakukan eksplorasi untuk menangkap relevansi dan kontekstualisasinya.

Tentu tidak semua ayat dibahas di sini, mengingat buku ini tidaklah dimaksudkan sebagai sebuah kitab tafsir yang utuh. Namun dari sekian banyak contoh yang penulis sodorkan, apa yang diulas dalam buku ini dapat dijadikan landasan dan referensi berharga bagi mereka yang ingin melakukan kajian dan penelusuran lebih lanjut, terutama untuk mematangkan kontekstualisasi beberapa surah dan ayat yang diakui oleh penulisnya sendiri masih terbilang mentah (hal 285).

***

Meskipun bukan tergolong sesuatu yang baru, namun upaya berharga yang dilakukan Abah Abad—demikian kami memanggilnya—turut memberikan kontribusi memperkaya khazanah kajian Islam, khususnya bidang ‘Ulûm al-Qur’ân.

Sesuai judul bukunya, Dialektika Langit dan Bumi, Abah Abad mengajak pembaca untuk berdialektika menangkap pesan-pesan langit yang sifatnya menembus segala zaman, termasuk melintasi ruang dan waktu yang sedang kita pijak dan jalani saat ini. Ajakan ini menjadi sangat penting di tengah maraknya kemunculan kelompok tekstualis yang sangat kaku dalam memahami kandungan Al-Quran, yang seringkali melakukan legitimasi kepentingannya dengan cara memaksakan ayat-ayat suci secara serampangan.

Dengan berbekal referensi yang kaya dan pengetahuan yang luas serta penyajian yang mudah dicerna, buku ini menjadi sangat layak Anda lahap di akhir pekan sambil diselingi seruputan kopi atau teh panas. Cobalah me-recharge isi kepala dan mengambil jeda dari perdebatan politik dan agama yang tak kunjung usai di media sosial. Singkirkan sejenak ponsel Anda. Nikmati pencerahan demi pencerahan yang tersaji dalam buku ini. [Irfan Permana]

 

X