Islam dalam Persimpangan Nalar Kedamaian dan Kekerasan

Al-Qur’an menegaskan Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian. Hal itu bisa dilihat dari makna istilah “Islam” itu sendiri yang berakar kata: s-l-m, silm dan al-salam yang bermakna ketaatan dan kedamaian. Istilah “Islam” bagi agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu sendiri bukanlah buatan manusia sebagaimana nama-nama agama lainnya, melainkan diberikan oleh Tuhan sendiri, yakni al-Islam. Dengan berbagai derivasinya, istilah al-Islam meminjam salah satu nama Tuhan, yakni al-salam, dan nama salah satu surga-Nya, dar al-salam. Ungkapan Al-salam pun digunakan di dalam berbagai konteks, seperti dalam ibadah shalat yang biasa diucapkan di dalam tasyahud, “al-salamu alaikum warahmatullahi wabarkatuh”, dan digunakan dalam bermuamalah dengan orang lain dengan anjuran memulai dengan mengucapkan, al-salamu alaikum, dan jawaban, wa’alaikum salam; serta ketika hendak memasuki rumah, baik rumah sendiri maupun rumah orang lain. Karena itu, subyek dari al-Islam, yakni al-muslim (orang yang beragama Islam) menurut Nabi Muhammad adalah orang yang secara aktif menciptakan kedamaian, baik melalui lisannya (wacana) maupun tangannya (kekuatannya), al-muslim, man salima al-muslimun min lisanihi wa yadihi.

Karena itu, subyek dari al-Islam, yakni al-muslim (orang yang beragama Islam) menurut Nabi Muhammad adalah orang yang secara aktif menciptakan kedamaian, baik melalui lisannya (wacana) maupun tangannya (kekuatannya), al-muslim, man salima al-muslimun min lisanihi wa yadihi.

Akan tetapi, jika melihat realitas kehidupan manusia saat ini, konsep Islam kedamaian itu mulai dipertanyakan otentisitas dan fungsinya dalam menciptakan kedamaian. Bukan hanya oleh orang-orang Barat yang selama ini menjadi korban kekerasan sebagian kecil orang-orang Islam, tetapi juga oleh orang-orang Islam sendiri sebagai penganutnya (Muslim). Sebab, kini mulai bermunculan gerakan Islam radikal yang melegalkan kekerasan, baik kekerasan wacana seperti menuduh sesat pihak lain, maupun kekerasan fisik seperti pemukulan, pengrusakan dan pembunuhan terhadap pihak lain dengan mengatasnamakan agama dan Tuhan. Seolah kekerasan menjadi bagian dari agama dan perintah Tuhan. Selain menjustifikasi tindakannya dengan menggunakan al-Qur’an dan hadis dengan jargon “amar makruf nahi mungkar”, mereka juga menggunakan ungkapan suci yang biasa diucapkan di dalam ibadah shalat, “Allahu Akbar” dalam melakukan kekerasan.

Pertanyaannya, mengapa mereka merasa absah melakukan tindakan kekerasan dengan mengatasnamakan Agama dan Tuhan? Apa sejatinya yang kita lakukan untuk mendeligitimasinya, sembari mengembalikan Islam pada khitthah-nya sebagai ajaran yang membawa dan menciptakan kedamaian? Untuk menjawab kedua masalah ini, akan dilacak genealogi nalar kekerasan yang mengatasnamakan agama dan Tuhan.

Melacak Genealogi Nalar Kekerasan

Pada periode awal Islam, Nabi Muhammad berhasil menciptakan kesatuan umat di bawah bendera Islam, dan mengubur fanatisme kesukuan yang selama ini menjadi pemicu keterpecahan umat. Akan tetapi, pasca wafatnya Nabi agung umat Islam ini, bibit-bibit perpecahan mulai muncul lagi ke permukaan, terutama pada fase akhir kekhilafahan al-rasyidun yang memuncak pada peristiwa sejarah yang dikenal dengan istilah tahkim. Tahkim itu sejatinya bertujuan untuk mengakhiri perpecahan, dan kembali pada persatuan dan kedamaian. Yang terjadi justru sebaliknya, ia menjadi titik nadir kehidupan umat Islam. Sejak itu, umat Islam pecah menjadi tiga kelompok utama, yakni kelompok yang mempolitisasi agama yang ditokohi Muawiyah; kelompok yang berusaha melepaskan agama dari tarikan ideologi politik yang dipimpin Ali bin Abi Thalib; dan kelompok kaku dan keras dalam memahami agama yang diwakili oleh Khawarij. Tiga gerakan Islam periode awal itu melahirkan beberapa retakan lahirnya gerakan Islam kontemporer, yakni Islam Khawariji-Wahhabi, Islam Islamisme dan Islam pluralis.

Titik beda ketiga gerakan Islam kontemporer itu terletak pada metode yang digunakan, yakni metode berfikir atau caranya dalam menalar Islam, konsepnya tentang al-hakimiyah dan jihad fi sabilillah. Islam Khawariji-Wahhabi yang ditokohi Abdul Wahhab menggunakan metode berfikir dialektika-dokotomis, memahami Islam secara teosentris, dan menteosentriskan politik dengan memberikan justifikasi teologis terhadap pemerintahan menjadi pemerintahan Tuhan (al-hakimiyah al-Ilahiyah). Namun, karena kala itu dunia dikuasai oleh manusia, kelompok ini mengharuskan adanya gerakan revolusioner melalui jihad fi sabilillah dengan tujuan untuk merebut kekuasan pemerintahan yang dikuasai manusia yang mereka sebut thaghut. Kelompok ini tidak disibukkan dengan upaya mendirikan pemerintahan Tuhan yang baru, karena mereka bekerjasama dengan pemerintah yang ada dibawah pimpinan Ibnu Saud. Mereka justru disibukkan dengan visi keagamaannya yang kaku dan purifikatif untuk membersihkan Islam dari pengaruh tradisi lokal yang disebut bid’ah, khurafat, tahayyul dan kufur.

Islam Islamisme, yang ditokohi al-Maududi dan Sayyid Qutub, menggunakan metode berfikir dialektika-dikotomis, memahami Islam secara teosentris, dan menteosentriskan politik dengan menawarkan konsep pemerintahan Tuhan (al-hakimiyah al-ilahiyah), dan mencanangkan gerakan revolusioner dalam bentuk jihad fi sabilillah. Selain ada kesamaanya dengan kelompok pertama, juga ada perbedaan titik tekan. Kelompok ini disibukkan dengan perjuangan mendirikan pemerintahan Tuhan, dan berusaha merebut kekuasaan politik dari manusia, terutama yang didirikan oleh orang-orang Barat dengan menggunakan bahasa jihad fi sabilillah.

Kedua nalar gerakan Islam itu bersifat dinamis dan toleran ketika masih berposisi sebagai metode pemikiran. Ia mulai keras, kaku dan intoleran ketika berubah menjadi ideologi yang disemaikan melalui organisasi dan lembaga gerakan. Nalar yang keras, kaku dan intoleran menciptakan pemahaman keislaman yang keras, kaku dan intoleran. Kekerasan, kekakuan dan intoleransi dianggap bagian dari ajaran Islam, dan merasa absah secara teologi. Mereka merasa absah melakukan tindakan kekerasan seperti, pemukulan dan pembunuhan terhadap pihak lain di luar kelompoknya. Tentu saja tidak semua dari mereka menggunakan tindakan seperti itu. Setidaknya, nalar seperti itu memungkinkan mereka melakukannya. Saat itulah, diperlukan nalar lain yang mampu menetralisir nalar seperti itu, yakni Islam pluralis.

Islam pluralis, yang ditokohi Asymawi, Haj Hammad dan Syahrur, menggunakan metode berfikir demonstratif-pluralis, menawarkan Islam inklusif dan universal. Di antara mereka sendiri, mereka mempunyai kesamaan sekaligus perbedaan. Ketiganya menggunakan metode berfikir yang sama dan menawarkan Islam yang damai dan rahmah, tetapi menawarkan analisis konseptual yang berbeda terutama terkait dengan bentuk pemerintahan yang direstui Islam. Asymawi masih mengapresiasi konsep pemerintahan (al-hakimiyah) dengan menampilkan keragaman dan dinamika pemerintahan dalam Islam; Haj Hammad menampilkan pemaknaan baru terhadap konsep al-hakimiyah, yakni sebagai bentuk keterlibatan langsung dan tidak langsung Tuhan dalam kehidupan manusia; dan Syahrur lebih fakus pada pemaknaan al-hakimiyah ke dalam wilayah pembuatan hukum Tuhan dan manusia, bukan dalam bentuk pendirian pemerintahan.

Ketiga gerakan Islam ini masuk ke Indonesia dengan membawa pengaruh yang berbeda. Dua kelompok pertama yang disebut dengan Islam transnasional bisa membawa pengaruh negatif jika tidak dijalankan dengan cara yang elegan, seperti lahirnya konflik kehidupan keberagamaan dan berbangsa. Sebab, ideologinya yang keras, kaku, dan intoleran bisa mengusik kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara yang sudah mapan sesuai dengan konsensus para pendiri Negara ini. Karena itu, sebagai bagian dari orang Indonesia yang beragama Islam, sejatinya kita membawakan konsep keIslaman antroposentris, visi pemerintahan etis-humanis yang sesuai dengan kondisi Indonesia, dengan menjadikan jihad wathaniyah sebagai strategi membela bangsa dan Negara Indonesia yang berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan bermottokan Bhinnika Tunggal Ika ini. (Aksin Wijaya)

 

 

 

 

 

Tema-Tema Pokok al-Qur’an (Fazlur Rahman)

 

Tema-Tema Pokok al-Qur’an (Major Themes of the Qur’an) karya Fazlur Rahman (1919-1988) terbit pertama kali tahun 1980.[1] Sejauh bacaan saya, jenis pendekatan terhadap al-Qur’an seperti karya ini belum pernah ada dalam khazanah literatur Islam di mana pun dan di zaman apa pun. Umumnya al-Qur’an diterjemahkan dan ditafsirkan ayat demi ayat, dan bila perlu diberi ulasan agar pembaca lebih memahaminya. Keunikan karya ini terletak pada kemampuan penulisnya untuk memetakan pesan-pesan al-Qur’an itu secara sintetik berdasarkan tema-tema utama tentang: Tuhan, Manusia sebagai Individu, Manusia dalam Masyarakat, Alam, Kenabian dan Wahyu, Eskatologi, Setan dan Kejahatan, dan Bangkitnya Komunitas Muslim. Tulisan ini mencoba membicarakan secara ringkas tema-tema itu.

Di Balik Penulisan Tema-Tema Pokok Al-Qur’an

Dikatakan bahwa karya ini merupakan jawaban mendesak untuk sebuah pengantar terhadap tema-tema utama al-Qur’an yang tidak dijumpai dalam karya-karya yang ditulis sekian jauh oleh para sarjana Muslim dan sarjana non-Muslim agar orang dapat mengenal tema-tema di atas dengan membiarkan Kitab Suci berbica sendiri tentang dirinya.[2] Tentu saja, pemahaman penulisnya tentang al-Qur’an tidak lepas dari pengaruh latar belakang pendidikan dan pengalaman spiritual dan intelektualnya, baik di Pakistan, di Universitas Cambridge, Inggris, dan kemudian melalui interakasinya yang luas dan intens dengan peradaban Barat modern.

“Karya yang kita bicarakan ini ditulis saat Rahman bertugas sebagai guru besar pada Universitas Chicago sejak 1969 sampai wafat pada 1988. Di kampus inilah Rahman berhasil mengembangkan pemikiran keislamannya secara bebas, sesuatu yang tidak didapatinya di Pakistan.”

Dikatakan oleh penulisnya bahwa melalui pemaparan sintetik sajalah sebagai satu-satunya cara yang dapat memberikan kepada pembaca cita-rasa sejati terhadap al-Qur’an sebagai perintah Tuhan untuk manusia.[3] Karya-karya sarjana Barat sekalipun berguna untuk diikuti, pendekatan yang mereka gunakan tidak memungkinkan pembaca untuk memahami dan menghayati al-Qur’an secara benar, jujur, dalam, dan komprehensif. Sama halnya, tafsir-tafsir al-Qur’an oleh kalangan sarjana Muslim lainnya akan berbeda sama sekali pendekatannya dibandingkan dengan karya Rahman ini. Sayang usia Rahman tidak cukup panjang untuk menulis sebuah karya yang lebih luas tentang pandangan dunia al-Qur’an, sesuatu yang sebenarnya juga mendesak untuk menembus jalan buntu yang tengah dihadapi peradaban Muslim kontemporer.

Selanjunya, berikut ini tema-tema utama al-Qur’an itu kita coba meringkaskannya, sekalipun pasti tidak akan mencakup substansinya secara utuh.

Delapan  Tema-Tema Pokok al-Qur’an

Pertama, Tuhan. Al-Qur’an adalah sebuah dokumen yang benar-benar ditujukan untuk manusia, atau sebagai “petunjuk bagi manusia” (2: 185). Dengan demikian, petunjuk itu sepenuhnya bersifat fungsional, punya nilai praktikal, baik untuk kehidupan perorangan maupun untuk kehidupan kolektif. Al-Qur’an bukanlah sebuah risalah tentang Tuhan dan sifat-Nya. Dia Pencipta, Pemelihara alam semesta dan manusia, dan khususnya Pemberi petunjuk kepada manusia dan pada saatnya mengadilinya, baik perorangan maupun kolektif, dengan keadilan yang penuh kasih sayang. Dia Tunggal, tidak berbagi dengan yang lain. “Dia adalah dimensi yang membuat dimensi-dimensi yang lain menjadi mungkin.”[4]

Mengapa harus Tuhan? Mengapa alam semesta, isi, dan prosesnya tidak berjalan dengan sendirinya tanpa menyambungkannya dengan wujud yang lebih tinggi-sesuatu yang hanya memperumit realitas dan meletakkan beban yang tidak perlu atas intelek dan jiwa manusia? Al-Qur’an menyebut ini sebagai “keyakinan dan kesadaran tentang yang gaib.” Tetapi yang gaib ini sampai kadar tertentu bagi orang-orang khusus seperti nabi menjadi “nyata” melalui wahyu, sekalipun hakekat wahyu ini tidak bisa diketahui sepenuhnya oleh siapa pun, kecuali oleh Tuhan. Kehadiran Tuhan dapat dirasakan oleh mereka yang melakukan perenungan, yaitu “orang yang takut kepada Yang Maha Pengasih dalam keadaan gaib dan menghadap dengan hati yang  bertaubat.” (50:33). Kasih sayang Tuhan tidak saja ditunjukkan dalam pengampunanNya terhadap dosa manusia, tetapi juga melalui apa yang dikurniakanNya kepada kita dalam bentuk bumi dan seisinya.

Maka seluruh rantai—penciptaan—pemeliharaan—pentunjuk—pengadilan, yang seluruhnya sebagai perwujudan kasih sayang Tuhan—menjadi sangat masuk akal sehingga al-Qur’an menyatakan keherannya mengapa masalah ini dipersoalkan. Dua masalah yang sering  dipertanyakan adalah yang awal dan yang akhir: peran Tuhan sebagai Pencipta dan peranNya sebagai Hakim.[5]  Manurut al-Qur’an, hanya tersedia satu jalan lurus menuju Tuhan, sedangkan yang lain itu bengkok (16-9).[6] Kepada jalan lurus inilah umat manusia diarahkan oleh al-Qur’an.

Kedua, manusia sebagai individu. Manusia adalah ciptaan Allah seperti makhluk ciptaan lainnya. Tetapi kelebihan manusia dengan makhluk yang lain karena Tuhan “meniupkan ruhNya kepadanya” (15:29; 38:72; 32:9).[7] Menurut Rahman, al-Qur’an tampaknya tidak mendukung teori dualisme jiwa-raga secara radikal, karena dua entitas itu dalam satu perpaduan, tidak bisa dipisahkan. Dalam kehidupan dunia, manusia diperintahkan untuk melakukan perjuangan moral tanpa henti. Dalam perjuangan ini, Tuhan bersama manusia dengan syarat manusia sebagai wakil Tuhan dengan pilihan bebasnya mau melakukan segala upaya yang perlu, demi terciptanya sebuah tatanan moral sosial di bumi.[8]

Untuk menghadapi setan sebagai kekuatan jahat, manusia perlu mengembangkan prilaku taqwâ (upaya melindungi diri seseorang menghadapi konsekuaensi-konsekuensi berbahya atau buruk dari perbuatan seseorang).[9] Setan adalah kekuatan anti-manusia, bukan anti-Tuhan. Tugasnya untuk memperdaya manusia agar tergelincir dari jalan yang lurus. Taqwâ memberikan kestabilan kepada manusia dalam menentukan pilihan moralnya. Di akhirat nanti, manusia mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya selama hidup di dunia di depan Tuhan sendiri-sendiri. Dengan demikian, hidup yang hanya sekali ini sangat menentukan nasib manusia di akhirat kelak.

Ketiga,  manusia dalam masyarakat. Tidak diragukan lagi bahwa tujuan utama al-Qur’an adalah membangun sebuah tatanan sosial yang dapat berlangsung terus di atas bumi yang didasarkan atas prinsip keadilan dan etika. Tidak pernah ada dalam sejarah manusia, individu tanpa masyarakat. Dalam perspektif ini, konsep perbuatan manusia, khususnya yang menyangkut taqwâ hanyalah punya arti dalam konteks sosial.[10]  Tujuan al-Qur’an tentang sebuah tatanan etika, egalitarian, dan adil diumumkan bersamaan dengan penolakan keras terhadap ketimpangan ekonomi  dan ketidakadilan sosial yang marak dalam masyarakat komersial Mekah pada saat itu. Merebaknya penyalahgunaan anak-anak perempuan, anak yatim, dan kaum perempuan, dan adanya lembaga perbudakan memerlukan perubahan yang berani.[11] Maka doktrin tauhid (monoteisme) yang diajarkan al-Qur’an bertaut rapat dengan perjuangan menegakkan keadilan dalam masyarakat. “Menghidupan kesadaran khususnya kesadaran kolektif menjadi sangat penting”, tulis Mohammad Mosa Barlass, dalam komentar review-nya terhadap karya Rahman ini. “Manusia dan masyarakat adalah tunggal, berkerja menuju sebuah tujuan yang lebih tinggi,”[12] tulis Barlass.

Keempat, alam semesta. Pembicaraan tentang kosmogoni tidak banyak dalam al-Qur’an. Berbeda dengan manusia dengan hal pilihan bebasnya, alam semesta hanya punya satu pilihan, yaitu tunduk kepada Tuhan melaui hukum-hukum yang telah ditetapkan. Itulah sebabnya alam semesta dikatakan Muslim, karena ketaatan dan ketundukannya kepada kemauan Tuhan.

Alam semesta ini tidak bisa menjelaskan dirinya, tetapi ia “adalah sebuah tanda yang menunjuk kepada sesuatu ‘di luar’ dirinya, sesuatu yang tanpa itu alam semesta, dengan segala sebab alamiahnya, akan menjadi tiada dan hampa.[13]

Alam semesta dengan segala keteraturannya diciptakan untuk kepentingan manusia, tetapi tujuan manusia sendiri tidak lain selain untuk mengabdi kepada Tuhan, untuk berterima kasih kepadaNya, dan hanya semata-mata untuk menyembahNya.[14] Berterima kasih dan menyembah Tuhan bukan untuk kepentingan Tuhan, tetapi sepenuhnya untuk kepentingan manusia itu sendiri. Dan Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan yang serius, bukan untuk untuk permainan. “Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptkan kamu main-main, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami [untuk dimintai pertanggung jawaban?” (23: 115).[15]

Kelima, kenabian dan wahyu. Bab ini memaparkan tentang kenabian dan wahyu sebagai fenomena universal, di seluruh dunia telah diutus rasul-rasul Allah, baik yang disebut atau yang tidak disebut dalam al-Qur’an (40:78; 4: 164). Sebagian rasul itu terbatas untuk lingkungan kaumnya saja, tetapi pesan yang disampaikan itu tidak bersifat lokal, tetapi punya makna universal yang mesti dipercayai dan diikuti oleh seluruh manusia. Inilah yang dimaksud dengan konsep kesatuan kenabian. Melalui pesan kenabian, kesadaran manusia akan meningkat tinggi sehingga mereka akan mampu melihat secara jelas Tuhan sebagai Tuhan dan setan sebagai setan.[16] Dari daftar pada nabi dan rasul yang banyak itu, Muhammad adalah nabi penutup, dan tidak akan muncul lagi nabi sesudahnya, dan al-Qur’an sebagai wahyu terakhir. Ini menjadi tanggung jawab berat bagi mereka yang mengaku Muslim[17] untuk meneruskan risalah kenabian itu, demi kepentingan manusia sejagat.

Al-Qur’an memakai istilah nabi dan rasul sebagai utusan Tuhan kepada umat manusia. Istilah nabi dalam al-Qur’an berarti “seorang pemberi berita” bukan tentang masa depan, tetapi “seseorang yang memberi berita dari Tuhan.” Perkataan rasul berarti utusan Tuhan untuk manusia, sekalipun bisa juga dipakai untuk Malaikat penyampai wahyu.[18] Tentang betapa beratnya mengemban wahyu yang disampaikan kepada Muhammad, al-Qur’an menggambarkan hal itu berikut ini: “Sesungguhnya Kami akan memikulkan atas pundakmu sebuah panggilan [perkataan] yang berat” (73-5); itulah sebabnya Muhammad beribadah sepanjang malam, kecuali sedikit, dalam melakukan salat untuk mendekatkan diri kepada Allah[19] (73:2). Sebagai manusia pilihan dengan tingkat kepekaan nurani yang sangat tajam, Muhammad mencari solusi dalam do’a di Gua Hira’ terhadap masalah genting dalam masyarakat Mekah berupa ketidakadilan yang parah, di mana oligarki Quraisy sama sekali tidak menghiraukannya.  Al-Qur’an membenarkan kebingungan nabi dalam mencari solusi ini: “Dia [Tuhan] mendapatkan engkau dalam keadaan bingung lalu Dia memberi petunjuk” (93:7).

Mengenai proses turunnya wahyu, al-Qur’an menjelaskan: “Ruh yang Dipercaya telah membawanya [al-Qur’an] turun ke dalam hatimu agar engkau menjadi seorang pemberi peringatan” (26:193-194).[20] Lalu Rahman menolak cerita  hadis yang melukiskan Jibril sebagai seorang figur publik yang bercakap dengan nabi serta disaksikan oleh para sahabat. Ini “must be regarded as later fictions.”[21]

Keenam, eskatologi. Konsep hidup sesudah mati merupakan tema yang berulang disebutkan al-Qur’an. Kitab Suci ini berbicara tentang Hari Pengadilan sebagai al-âkhirah. Itulah momen kebenaran, di mana semua amal manusia semasa hidup di dunia akan diangkat. Semua rahasia akan dibongkar dan diperlihatkan. Al-Qur’an menggambarkan momen kebenaran sebagai berikut: “Sesungguhnya engkau dalam keadaan lalai yang dalam tentang ini (Momen kesadaran diri), tetapi sekarang Kami bukakan darimu tutup yang [menutupi matamu], maka penglihatnmu hari ini  tajam” (50:22).[22]  “Semua sengketa dan konflik tentang kepercayaan manusia dan orientasi lainnya”, tulis Barlass, “akan diselesaikan dan visi manusia yang kabur menjadi terang—di sinilah terletak tujuan Hari Akhir itu.”[23]

Ketujuh, setan dan kejahatan. Kejahatan (syarr) sebagai lawan kebaikan (khair) masuk dalam materi diskusi tentang perbuatan manusia secara individu dan kolektif. Sebagaimana telah disebutkan terdahulu bahwa setan adalah kekuatan anti-manusia. Prinsip kejahatan yang oleh al-Qur’an dipersonifikasi sebagai iblis atau setan, sekalipun personifikasi kedua lebih lemah dari yang pertama. Al-Qur’an, khususnya dalam surat-surat Makiyah, berkali-kali sebutan setan dalam bentuk jamak (syayâthîn), yang terkadang merujuk secara metaforis kepada manusia juga. Al-Qur’an menjamin bahwa godaan  setan iblis tidak akan mempan atas orang yang beriman dan yang menyerahkan kepada Tuhan: “Sesungguhnya dia [setan] tidak punya kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan mereka yang berserah diri kepada Tuhannya” (16-99).[24]

Delapan, bangkitnya komunitas Muslim. Bab terakhir ini berbicara tentang Bangkitnya komunitas Muslim. Dijelaskan sejarah dan pembentukan bangunan umat Muslim. Sejarah ini meliputi penerimaan semua nabi terdahulu yang menyampaikan pesan yang sama, tetapi mengakui Islam sebagai agama terakhir yang sempurna. Umat Yahudi dan Kristen disebut sebagai Ahlu al-Kitâb, tetapi dipandang sebagai umat yang tidak sempurna dalam doktrin monoteismenya. Tetapi al-Qur’an mengakui keberadaan orang-orang baik di kalangan komunitas Yahudi, Kristen, dan Shabiin, sebagaimana mengakui orang-orang yang beriman dalam Islam: “Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allah, Hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati” (2:62; 5:69).[25]

Inilah komentar Rahman tentang kedua ayat di atas: “Dalam kedua ayat tersebut, sebagian besar mufasir Muslim mencoba menghindar dari makna yang demikian terang: bahwa siapa pun—dari kelompok mana pun di antara umat manusia—yang beriman kepada Tuhan dan Hari Akhir serta berbuat baik akan diselamatkan.”[26]

Penutup

Tema-Tema Pokok al-Qur’an adalah sebuah terobosan berani penulisnya untuk memahami al-Qur’an dalam konteks zaman agar pesannya tetap relevan untuk menjawab semua tantangan yang tengah dihadapi umat manusia seluruhnya, terutama umat Muslim yang sedang berada di buritan peradaban. ( Ahmad Syafii Maarif)

 

(Tulisan ini pernah disampaikan untuk dua pertemuan: kajian eksekutif Jakarta, 21 Feb. 2018 dan bedah buku Tema-Tema Pokok al-Qur’an oleh Penerbit Mizan di Kampus UIN Sunankalijaga Yogyakarta, pada 28 Feb. 2018)

 

[1] Lih. Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an. Minneapolis-Chicago: Bibliotheca Islamica, 1980, tebal 170 halaman plus indeks. Terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Ervan Nurtawab dan Ahmad Baiquni, Tema-Tema Pokok al-Qur’an (Bandung: Mizan, 2017) adalah edisi 2009 dengan izin The University of Chicago Press, 2009. Sekalipun pernah berguru langsung kepada F. Rahman di Universitas Chicago selama lebih empat tahun (1978-1982)  termasuk belajar memahami al-Qur’an, saya merasa pengenalan dan pemahaman terhadap Kitab Suci ini belum pernah mendalam betul, sekalipun telah dibantu oleh karya F. Rahman ini yang untuk sebagian telah disampaikan melalui kuliah-kuliahnya, baik di kampus mau pun di rumahnya. Kajian tentang karya ini untuk Indonesia dapat dibaca a.l. dalam disertasi Sa’dullah Assa’idi: “Major Themes of the Qur’an Karya Fazlur Rahman (Studi Tentang Pemikiran Tafsir),” Pasca Sarjana UIN Sunankalijaga, Yogyakarta, 2008, tebal 384 halaman.

[2] Ibid., hlm. vi.

[3] Ibid., hlm. vii.

[4] Ibid., hlm. 4.

[5] Ibid., hlm. 9.

[6] Ibid., hlm. 16.

[7] Ibid., hlm. 17. Aslinya berbuyi: “wa nafakhtu fîhi min rûhî.”

[8] Ibid., hlm. 18.

[9] Ibid., hlm. 29.

[10] Ibid., hlm. 37.

[11] Ibid.

[12]Lih.Mohammad Mosa Barlass, Major Themes of the Qur’an dalam http:www.montly-renaisance.com/issue/content.aspx?id=188#1 (accessed April 2014).

[13] F. Rahman, Major, hlm. 69.

[14] Ibid., hlm. 79.

[15] Ibid.

[16] Ibid., hlm. 80.

[17] Ibid., hlm. 81.

[18] Ibid., hlm. 82.

[19]Ibid., hlm. 84.

[20] Ibid., hlm. 97.

[21] Ibid.

[22] Ibid., hlm. 106.

[23] Lih. Barlass, op.cit. hlm. 4.

[24] [24] Ibid., hlm. 124. “Innahu laisa lahu sulthân ‘alâ alladzîna âmanû wa ‘alâ rabbihim yatawakkalûn.”

[25] Ibid., hlm. 166 saat membicarakan Lampiran II: “Ahli Kitab dan Kebinekaan “Agama-Agama”.

[26] Ibid.

Ada Iqbal Di Balik Kepala Haidar Bagir : Seri I wawancara dengan Dr. Haidar Bagir

Yang menarik dari (pemikiran) Iqbal bukan karena kebaharuannya, tapi upaya dia dengan sangat brilian mencoba melakukan sintesis antara pemikiran Islam dengan filsafat Barat.

Begitu jawab Haidar Bagir saat ditanya apa gagasan paling orisinil dari Muhammad Iqbal. Iqbal boleh jadi memang tidak menawarkan kebaharuan – karena yang ia lakukan adalah mensintesiskan dua pemikiran Barat dan timur (Islam) yang telah sekian lama dipertentangkan. Sebuah usaha yang bagi Haidar tidak dilakukan oleh banyak ulama pemikir Islam pada zamannya atau sesudah Iqbal. Meski Islam punya raksasa pemikir seperti Fazlur Rahman, Arkoun, Murtadha Murthahari tapi mereka tidak malakukan seperti yang Iqbal lakukan.

Seolah-olah Iqbal ingin mengatakan; kita bisa saling belajar atau saling memperkaya pemikiran Islam dan Barat. Dan hasil dari mendialogkan pemikiran Islam dan Barat (bisa) digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan riil umat manusia sekarang; begitu Haidar menjelaskan keunikan pemikiran Iqbal dan upaya seriusnya untuk mendialogkan pemikiran Islam dan Barat. Iqbal tidak hanya masuk pada wilayah akademis belaka, ada sebuah upaya yang dilakukan oleh Iqbal untuk mentransformasi masayarakat Islam pada arah gerakan yang lebih baik.

Usaha untuk mensintesiskan pemikiran Barat dan Islam pernah dilakukan sendiri oleh Haidar, ia membuat penelitian dengan membandingkan epistimologi ontologis Heidegger dan Mulla Sadra. Kajian serupa  juga pernah dilakukan oleh seorang pemikir  Turki bernama Arpasalan Acikgenc. Tapi apa kata Haidar tentang itu; dirinya dan Arpasalan Acikgenc masih sebatas tahapan akademis; apa yang saya atau Arpasalan Acikgenc lakukan masih sepenuhnya bersifat akademik murni. Sedangkan yang dilakukan Iqbal adalah ia memiliki semangat untuk mentransformasi masyarakat Islam.

Selain itu, menurut Haidar gagasan manusia sempurna yang diformulasikan Iqbal adalah sebuah sintetis yang mengagumkan. Meski gagasan itu dipengaruhi oleh ubermensch-nya Nietzche, namun sekali lagi kecemerlangan Iqbal terlihat saat ia membuat konsep tentang manusia sempurna. Jika Nietzche harus membunuh Tuhan untuk menjadi manusia sempurna, maka menurut Iqbal justru dengan kembali pada sumbernyalah manusia bisa menjadi manusia sempurna, menjadi superman. Kembali pada penciptanya dengan menyerap segala energi Tuhan. Haidar memaklumi saja saat Seyyed Hossein Nasr mengkritik keras saat Iqbal mengagumi Nietzche, karena bagi Haidar boleh jadi kritik Nasr hanyalah kekhawatiran belaka. Nasr menurut Haidar khawatir jika ingin menjadi manusia sempurna harus dengan membunuh Tuhan. Dan pada akhirnya, Iqbal dengan terampil mensintesiskan gagasan manusia sempurna ala Barat dan Islam; manusia sempurna yang bersama Tuhan.

Berjumpa dengan Muhammad Iqbal

Tahun 1977 saat Haidar sedang menempuh pendidikan di Fakultas Teknik  ITB lewat buku yang dipinjam dari perpustakaan masjid Salman, Haidar mulai berkenalan dengan Iqbal dan gagasannya yang tertuang dalam buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam (selanjutnya disebut RRTI). Haidar membaca buku RRTI itu lewat buku yang diterjemahkan oleh  Osman Raliby tiga penerjemah lainnya yaitu Gunawan Mohammad, Ali Audah dan Taufik Ismail. Haidar mengakui bahwa diri dan pemikirannya saat ini tidak bisa dilepaskan dari sosok Iqbal; Sejak membaca bukunya tidak pernah pemikiran Iqbal tidak memberikan pengaruh pada saya. Bahkan sampai detik ini, saat saya bicara sekarang, pemikiran Iqbal membentuk cara berfikir saya, ujarnya.

Tapi sebenarnya siapakah Iqbal yang dimaksudkan oleh Haidar? Muhammad Iqbal adalah seorang pemikir dan sastrawan asal India. Yang kemudian saat Pakistan memutuskan untuk menjadi merdeka, Iqbal juga turut andil dalam pembentukannya. Ia adalah bapak Pakistan bersama Muhammad Ali Jinnah. Gagasannya yang paling dikenal orang adalah tentang khudi atau ego, sebuah gagasan tentang pribadi yang memahami dirinya. Haidar kemudian menerjemahkan khudi  sebagi jalan hidup yang otentik “Hidup otentik itu saat kita sadar diri dan melakukan apa yang kita lakukan dalam hidup kita sebagai pribadi yang otentik, bukan karena didikte oleh lingkungan”.

Tapi memang Tuhan seringkali membuat hambanya cemas dan tertawa, belakangan nyatanya Iqbal dan Haidar seperti ditakdirkan untuk terus bersama. Haidar bertemu kembali  dengan Iqbal melalui studi lanjutannya dan juga lewat Mizan, penerbitan yang ia bangun bersama dua rekannya. Kebetulan karena dalam studi lanjutan Iqbal mengambil konstrasi tasawuf dan filsafat, untuk disertasi doktoralnya Haidar melakukan penelitian tentang Heidegger dan Mulla Sadra, sampai pada akhirnya diketahui bahwa pemikiran Mulla Sadra menjadi ramuan Iqbal saat membangun konsep filsafatnya. Corak filsafat Iqbal dekat sekali dengan filsafat isyraqiyyah; sebuah sistem filsafat yang menggabungkan antara nalar dan hati atau rasionalisme dan tasawuf. Isyraqiyyah  pertama sekali dikembangkan oleh Suhrawardi al Maqtul, kemudian isyraqiyyah  berpengaruh dalam konstruksi filsafat Hikmah Muta’aliyah yang dibangun oleh Mulla. Tidak kebetulan karena pada tahun 1988 bersama Mizan ia menerbitkan disertasi doktoral Iqbal yang berjudul Development of Metaphysics in Persia; A Contibution on The History of Muslim Philosopy.  Tahun  2016 ini buku RRTI, sebuah buku yang mempengaruhi pemikirannya juga diterbitkan oleh Mizan dengan judul Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam yang disertai anotasi dari M. Saeed Sheikh.

Haidar menempatkan dirinya sebagai seorang murid di hadapan Iqbal, meski begitu dalam perjalanannya bukan berarti Haidar tak memiliki kritik apapun pada Iqbal. Menurut Haidar, Iqbal agak keliru saat mengatakan bahwa kemunduran Islam disebabkan banyak ulama pemikir yang mengasingkan diri dari kebisingan duniawi, sehingga tugas mereka yang harusnya mencerahkan umat menjadi kosong. Haidar menyangkal itu dengan mengatakan bahwa tidak semua ulama pemikir harus terjun dalam persoalan duniawi, karena dari mereka ada yang terpilih menjadi wali yang bertugas menjaga keberlangsugan ketenangan dan mereka memang tidak berurusan secara langsung dengan masalah-masalah riil.

Setelah Tujuh Puluh Tiga Tahun

Hingga saat ini, saat telah terbentang jarak sekitar tujuh puluh tiga tahun setelah Iqbal meninggal dunia, menurut Haidar gagasan-gagasan Iqbal tetap relevan. Seperti gagasan Iqbal mengenai bagaimana Tuhan membentuk alam semesta ini, yang bagi Iqbal Tuhan tidak menciptkannya dalam proses sekali jadi lalu meningglkannya begitu saja. Akan tetapi Tuhan dalam perjalanannya selalu membubuhkan hal baru pada alam semesta ini, dan manusia punya tugas untuk terus menerus merespon bubuhan Tuhan. Merespon bubuhan Tuhan itulah yang kemudian menjadi ciri gerakan dalam Islam; Ijtihad. Dimana setiap muslim diwajibkan untuk terus berusaha, melakukan kreativitas dan membuat gerakan-gerakan. Kejumudan dan kemunduran yang pernah dialami oleh Islam disebabkan oleh kemandekan kreatifitas.

Haidar berharap yang telah dimulai oleh Iqbal bisa teruskankan. Mensinergikan pemikiran Barat dan Islam untuk kepentingan peradaban dan ilmu pengetahuan. Dan hubungan Barat-Islam tidak lagi dipandang secara berhadap-hadapan, tidak lagi didefinisikan dalam kerangka konflik Islam – Barat, tetapi Islam-Barat sudah bisa berkoeksistensi secara damai dan saling memperkaya peradaban umat manusia secara keeluruhan (Nur hayati Aidah)

 

 

X