ISLAM DAN PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA

Munculnya perdebatan sengit soal dasar negara—apakah berdasar Islam ataukah Pancasila—sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dengan sejarah Indonesia itu sendiri, yang saat itu baru saja merdeka dari kolonial dan muncul sebagai sebuah negara baru. Dalam soal dasar negara, umat Islam dihadapkan pada dua pilihan identitas tentang Indonesia: apakah Indonesia merupakan sebuah tanah orang-orang Melayu yang Islam, ataukah sebuah negara sekuler yang plural tetapi tetap religius. Di pihak lain, tokoh-tokoh berpendidikan Barat mengusulkan bentuk negara demokrasi modern di mana Islam sebagai salah satu elemennya.
Perdebatan tentang dasar negara berlangsung sengit dalam Majelis Konstituante (1956-1959). Sayangnya, sidang yang panjang ini tidak membuahkan hasil, dan akhirnya Konstituante dibubarkan oleh Dekrit Presiden Sukarno pada 5 Juli 1959. Era ini menandai berakhirnya aspirasi umat Islam untuk mengajukan Islam sebagai dasar negara secara konstitusional.
Buku ini merupakan sumbangan penting bagi kajian politik Islam di Indonesia saat ini ketika isu Islam sebagai dasar negara kembali diangkat oleh kalangan Islamisme (Islam sebagai ideologi politik), terutama yang berkarakter transnasional yang tumbuh subur di era pasca-Reformasi.

Rp64,000.00
Quick View

Islam Mengasihi, Bukan Membenci

Al-Qur’an dan Hadis mengajarkan karakter Islam yang mengasihi, bukan membenci. Naifnya, sekelompok kecil umat Islam justru gandrung menampilkan wajahnya yang penuh kebencian. Wajah Islam yang rahmat li al-’âlamîn pun tercoreng.
Buku Islam Mengasihi, Bukan Membenci mengingatkan pentingnya kebersamaan dalam keragaman. Perbedaan suku, agama, ras, maupun antargolongan (SARA), bukanlah alasan untuk saling membenci, mencaci, dan memusuhi. Melalui telaah pada dua sumber primer Islam dan karya-karya klasik, buku ini penting diresapi oleh siapa pun yang menginginkan kedamaian.

Rp49,000.00
Quick View

Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan

Islam Nusantara yang menjadi tema utama muktamar NU ke-33 di Jombang pada 2015, menuai pro kontra. Dari pandangan NU, konsepsi “Islam Nusantara” mengacu pada fakta sejarah betapa dakwah Islam di nusantara tidak dilakukan dengan pemberangusan terhadap budaya setempat, melainkan justru dengan merangkul dan menyelaraskannya dengan Islam. NU bertekad mempertahankan Islam Nusantara yang berciri toleran, moderat dan damai. Namun dari pandangan yang kontra, “Islam Nusantara” dianggap sebagai bermuatan primordial, anti Arab, bahkan dituduh sebagai strategi baru dari JIL, Barat, Zionis, dan semacamnya.

Dengan latar belakang kontroversi semacam itu, upaya untuk membedah wacana Islam Nusantara dari perspektif doktrinal maupun historis menjadi sangat diperlukan. Bagaimana Islam Nusantara dilihat dari sudut pandang fikih dan ushûl fiqh? Bagaimana pula dari sudut pandang Aswaja dan tasawuf? Seperti apakah relasi antara universalitas Islam, budaya lokal, dan budaya Arab? Seberapa jauh wacana Islam Nusantara bisa dibandingkan dengan wacana sejenis sebelumnya, seperti “fikih Indonesia” ala Prof. Hasbi As-Shiddiqi, “pribumisasi Islam” ala Gus Dur, dan “fikih sosial” KH. Sahal Mahfudh? Inilah sebagian dari pertanyaan yang menjadi agenda pembahasan buku ini.

Rp75,000.00
Quick View

ISLAM TUHAN ISLAM MANUSIA

Sejarah Pemikiran dan Peradaban

Rp45,000.00
Quick View

Islamofobia

Serangan-serangan terorisme mengerikan seperti yang terjadi di Paris dan San Bernardino oleh para ekstremis yang mengatasnamakan Islam telah menimbulkan gelombang rasa permusuhan, ketakutan, dan kebencian terhadap semua atau sebagian besar umat Islam. Gejala yang lazim disebut Islamofobia ini telah menjadi hal normal dalam budaya populer di Amerika dan Eropa.

Islamofobia sedang meningkat. Kaum Muslim telah disamaratakan dan disamakan dengan jenis ekstremisme militan dan terorisme yang dilakukan oleh sebagian amat kecil orang Islam, mengabaikan fakta bahwa sebagian besar korban justru adalah orang Islam sendiri. Ini menimbulkan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan Islamofobia dan kebijakan domestik yang mengancam kebebasan sipil kaum Muslim. Tetapi, apakah yang menjadi penyebabnya?

Buku ini mencoba menelusur akar kemunculan ketakutan terhadap Islam di Dunia Barat. Menampilkan analisis dan opini dari para pakar, seperti Karen Armstrong, John L. Esposito, Tariq Ramadhan, Imam Abdul Malik Mujahid, pembaca diajak untuk mendapatkan perspektif yang luas dan merenungkan tindakan yang dapat diambil untuk meredakannya.

Lebih dari itu, buku ini ingin mengajak setiap orang untuk menumbuhkan sikap positif dan penuh harapan ketika mempelajari agama lain. Harapannya adalah untuk mengembalikan sikap welas asih ke pusat moralitas dan agama, meningkatkan saling pengertian dalam hubungan antar-sesama.

Rp125,000.00
Quick View

Jati-Diri Perempuan dalam Islam

Jati-Diri Perempuan dalam Islam memberikan cara pandang baru mengenai pentingnya melihat kemanusiaan laki-laki dan perempuan di atas sekat-sekat biologis, politis, dan budaya dan mengkritisi penggunaan argumen agama untuk memperkuat asumsi ketidaksejajaran mereka dengan menggunakan pendekatan filsafat Islam. Buku ini berusaha mengurai endapan-endapan pemikiran dan praktik cara berpikir gender (gender thinking)—yang mana sosialisasi peranan laki-laki dan perempuan yang dimaknai secara berbeda—dianggap sebagai sesuatu yang normal. Pembedaan perlakuan terhadap peranan perempuan menciptakan institusi gender hierarkis, terutama dalam wacana penciptaan manusia, kontribusi dalam reproduksi, pengejawantahan nilai-nilai agama dalam tubuh perempuan, dan bahkan cara perempuan memaknai kepuasan hidup.
Jati-Diri Perempuan dalam Islam mengajak pembaca untuk memikirkan upaya-upaya baru dalam menilai kemanusiaan laki-laki dan perempuan dengan menemukan wacana-wacana keislaman yang memperdebatkan peran ontologis, teologis, etis, dan biologis perempuan dan keterkaitannya dengan pemikiran-pemikiran filsafat mulai dari Filsafat Yunani, Islam, hingga Post-strukturalisme. Pendekatan filsafat yang interdisiplin ini memperkaya khazanah tradisi pengetahuan Islam dan juga membuka perdebatan baru mengenai sikap-sikap kita yang sering komplisit dalam menyosialisasikan perbedaan perempuan dan laki-laki bukan hanya dalam memaknai perbedaan biologis tetapi juga perbedaan hak-hak manusiawi lainnnya.

Rp84,000.00
Quick View

Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam

Dalam buku ini, Ahmad Syafii Maarif, cendekiawan dan guru bangsa, merangkum serangkaian pemikiran kritis beliau terhadap apa yang disebut dengan penuh haru oleh sebagian komunitas Muslim tentang “The Golden Ages of Islam”. Peradaban Islam memang berkembang hingga mencapai puncak-puncaknya yang tertinggi. Namun, kita perlu memahami bahwa semua itu juga dibangun di atas darah umat Islam yang berbeda pandangan politik. Pada kenyataannya, nafsu kekuasaan tanpa didampingi kekuatan moral yang tangguh, pasti merusak. Agama sering benar tidak berdaya. Rasa haus akan “kejayaan” mengalahkan sisi kerohanian manusia. Akibatnya, bahkan masih bisa kita rasakan sampai hari ini. Kita terpasung dalam kotak-kotak politik akibat ulah perseteruan elite Arab Muslim itu. Sekarang, mampukah kita sungguh-sungguh kembali pada pesan suci Al-Quran dan sunah Nabi, serta mengucap selamat tinggal pada kotak-kotak penuh darah dan dendam kesumat itu?

Rp59,000.00
Quick View

MAKRIFAT PAGI : Percik Embun Spiritualitas di Terik Republik

Saudaraku, marilah menyambut pagi seperti bening embun. Melebur dengan alam, menyegarkannya, dan memuai menembus langit makrifat. Kita pun “bermikraj” menghampiri Tuhan. Sapalah pagi dengan senyuman. Mulai hari dengan nyanyian. Seperti burung, rayakan sinar mentari dengan kicau keriangan.
Tuntunan kejernihan hati bisa kita temukan dari guru-guru kearifan. Seperti tetes-tetes permenungan Makrifat Pagi ini yang banyak menghirup inspirasi dari lirik-lirik puitis Jalaluddin Rumi, Al-Ghazali, Kahlil Gibran, Deepak Chopra, dan sederet ruhaniawan serta guru-guru kemanusiaan lainnya.
Semoga di tengah terik Republik, rongga jiwa kita masih bisa disegarkan percik embun spiritualitas dalam relasi ketuhanan, kemanusiaan, dan kealaman, agar bisa menghikmati setiap dengus napas kehidupan kita secara lebih bermakna, mendekati kebahagiaan terluhur.

Rp79,000.00
Quick View