Al-Quran Abad 21 Tafsir Kontekstual

Al-Qur’an Abad 21 menyoroti perkembangan tafsir al-Quran dan mengangkat perdebatan mutakhir tentang pendekatan-pendekatan baru dalam tafsir.

Buku karya Prof. Abdullah Saeed ini:
1. Meninjau ulang pendekatan-pendekatan dominan pada masa pra-modern, pendekatan tekstualisme, dan reaksi terhadap penafsiran feminis terhadap al-Quran dewasa ini.
2. Mengulas berbagai isu mutakhir seperti watak hierarkis dari nilai-nilai al-Quran, kriteria penggunaan hadis dalam ilmu tafsir, kecairan makna/pemaknaan, serta bagaimana mempertahankan stablitas makna tertentu dalam penafsiran
3. Mengkritisi tema-tema penting al-Quran, serta membandingkan penafsiran pra-modern dan modern untuk menunjukkan watak evolutif dari penafsiran. Kasus-kasus yang diangkat antara lain: otoritas laki-laki atas perempuan, kemati-an/penyaliban Isa, syura dan demokrasi, serta kasus riba dan bunga bank.

Pengarang menawarkan panduan praktis bagaimana melakukan penafsiran dan menyajikan ide-ide kunci seputar pendekatan kontekstualis, yang meletakkan pesan-asli al-Quran kepada konteks sosial, politik, ekonomi, dan intelektual yang lebih luas. Dia mengusulkan metode penafsiran yang lebih fleksibel, yang mengakui khazanah tafsir al-Quran lama sembari mencermati kondisi yang terus berubah, dan menyadari kebutuhan akan pendekatan-pendekatan baru dalam penafsiran al-Quran.

Rp79,000.00
Quick View

Arkeologi Tasawuf

Arkeologi Tasawuf mencoba menguak wawasan, ajaran, dan fakta-fakta tentang tasawuf yang masih tersembunyi. Dengan merujuk kepada sumber-sumber asli, buku ini mencoba menunjukkan bahwa tasawuf sangat kaya, dinamis, dan maju. Dinamakan Arkeologi Tasawuf karena buku ini menempuh cara seorang arkeolog dalam menggali sesuatu yang dianggap hilang untuk kemudian diungkap. Istilah ini digunakan untuk mengesankan bahwa tasawuf merupakan objek yang berharga tinggi, namun masih terpendam.
Objek yang dikaji dalam buku ini sangat beragam, mulai dari Al-Muhasibi di abad ke-9 hingga Al-Jawi di abad ke-19. Kajiannya tidak fokus pada satu aspek saja, melainkan meliputi beberapa aspek, seperti latar belakang sosial tokoh, biografi intelektual, hingga pemikirannya. Keunikan buku ini adalah menyambungkan satu tokoh dengan tokoh lain berikut pemikiran mereka sebagai satu kesatuan. Sebagai sebuah ilmu, tasawuf berkembang secara dinamis. Terdapat tarik ulur, kontroversi, hingga pertikaian wacana di dalamnya. Buku ini mengangkat itu semua dan menyajikannya sebagai sebuah “drama”. Sebagian pembaca kemungkinan akan dibuat heran dengan beberapa fakta mengejutkan mengenai tasawuf dan para sufi.
Buku ini ditulis untuk memenuhi kebutuhan para ahli, pengamat tasawuf, mahasiswa, serta masyarakat umum. Kekayaan referensinya bisa memantik pembaca untuk melakukan pelacakan lebih jauh.

Rp84,000.00
Quick View

Arsitektur Ekonomi Islam: Menuju Kesejahteraan Sosial

Wacana ekonomi Islam—seperti halnya ide negara Islam—merupakan sebuah wacana baru dalam konteks kebangkitan Islam di era modern. Menyertai gagasan tersebut, pada paruh dasawarsa kedua abad ke-20, lahir pula gagasan pendirian bank Islam. Selain didorong motif pasar (market driven), gagasan tersebut juga didorong oleh motif nilai (value driven) untuk menggantikan sistem bunga bank yang dianggap riba.
Di Tanah Air, pemikiran awal mengenai sistem ekonomi Islam baru berkembang pada paruh kedua tahun 1980-an. Di antara tokoh yang kritis terhadap wacana tersebut adalah ekonom muslim Sjafruddin Prawiranegara. Dalam International Economic Conference di London (1977), yang bertemakan “Muslem World and the Future of Economic Order”, ia menyampaikan makalah bernada retoris, “Is There a Particular Islamic Economic Concept or System?”—sebuah pertanyaan yang sebenarnya telah ia jawab sendiri dalam sebuah risalahnya yang terbit pada 1967. Dia menolak konsep sistem ekonomi Islam yang legalistik. Sebagai gantinya, dia menawarkan sistem ekonomi “sosialisme-religius” yang berpatron pada sistem moral Islam.
Buku ini membedah secara komprehensif bagaimana sistem ekonomi Islam berkembang dan berdialektika di Tanah Air, lewat tinjauan yang mendasar dari aspek ontologis, epistemologis, hingga aksiologis. Dalam dataran pragmatis, diskursus sistem ekonomi Islam di Indonesia lebih didominasi oleh konsep sistem ekonomi syariah. Akibatnya, sistem ekonomi Islam sering dipahami berdasarkan keidentikannya dengan sistem ekonomi legal berdasar hukum syariah—yang semestinya konsep ekonomi Islam memiliki jangkauan jauh lebih luas dari itu. Namun demikian, apa pun modelnya, praktik sistem ekonomi Islam sudah seharusnya bermuara pada terwujudnya kesejahteraan sosial umat.

Rp149,000.00
Quick View

Barangsiapa Memelihara Kehidupan

Kaum Muslim saat ini menghadapi dilema besar: di satu sisi, Islam mengajarkan mereka untuk melawan ketidakadilan; namun, di sisi lain, Islam juga mengatur tata tindakan mana yang diperbolehkan dalam melakukan perlawanan. Buku yang merangkum buah pikiran Chaiwat Satha-Anand (Qadir Muheideen), seorang pemikir dan aktivis perdamaian Muslim, selama lebih dari tiga dasawarsa ini berusaha menjawab dilema tersebut dengan menunjukkan bagaimana aksi-aksi nirkekerasan memungkinkan kaum Muslim untuk melawan ketidakadilan sekaligus memelihara nyawa orang-orang tak berdosa.

Sudah saatnya peran agama dalam menopang perdamaian ditekankan kembali, diingat kembali, dan ditampilkan kembali sebagai sesuatu yang menarik, yang mungkin, doable, dan penting. Buku ini menunjukkan bahwa kemungkinan dan sumber normatif nirkekerasan dan dukungan kepada perdamaian bukan saja sudah ada dalam tradisi agama-agama, atau telah terpatri dalam sejarah para nabi atau sahabat mereka, tetapi juga sudah dan masih dipraktikkan oleh para aktornya di tempat dan konteks tertentu.

Rp49,000.00
Quick View

BECOMING MUHAMMADIYAH

Semenjak kelahirannya, Muhammadiyah membangkitkan kondisi umat Islam dan bangsa Indonesia menuju cita-cita Islam yang berkemajuan sekaligus Indonesia berkemajuan. Kiprah para tokoh Muhammadiyah—semisal KH. Ahmad Dahlan, KH. Mas Mansur, Kiai Misbah, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo, Djarnawi Hadikusumo, KH. AR. Fachruddin, Prof. Amien Rais, Buya Syafii Maarif, dan Prof. Din Syamsuddin—dalam jangkar sejarah Islam dan bangsa Indonesia merupakan mercusuar yang menerangi etos dan spirit para kader dan warga Muhammadiyah.
Para tokoh itu, masing-masing memiliki karakter dan pesonanya. Me­re­­ka adalah anak-anak zaman yang telah bertarung dalam “tempus” dan­ “lo­kus” yang variatif problematika dan solusinya. Namun, di tengah keragam­an dan perbedaan itu, para tokoh itu mewariskan cetak biru bersyarikat dan berbangsa; konsistensi, integritas, loyalitas, muruah, dan kebanggaan. Dalam hal ini, Muhammadiyah telah melahirkan manusia-manusia tangguh, ulet, mandiri, dan istiqamah dalam perjuangan dan pencapaian cita-cita mulia, yakni baldatun thayyibatun wa rabbun ghafurun, tata tentrem karta raharja.
Buku ini merupakan serpih-serpih dan narasi testimonial para kader dan aktivis Muhammadiyah: mengapa mere­ka terpesona, bergabung, dan menjadi penggerak Persyarikatan Muhammadiyah. “Menjadi Muhammadiyah/ Becoming Muhammadiyah” menandai sebuah proses panjang dan kadang berliku. Ia merupakan “kata kerja” yang selalu bergerak melalui “jeram” dan “zaman”, “saat” dan “tempat”, “puak” dan “lapak”. Karena itulah, proses “menjadi” tidak bisa dihukumi secara final sebagai sebuah “benda mati” atau “hasil akhir”.

Rp79,000.00
Quick View

BEREBUT WACANA : Pergulatan Wacana Umat Islam Indonesia Era Reformasi

Islam Indonesia kerap dilukiskan dalam relasi dan kontestasi antara Islam tradisionalis dan modernis. Reformasi 98 membuka horizon pemahaman baru. Inilah struktur peluang politik baru yang memberi panggung bagi umat Islam untuk memainkan peran sosial-politik yang makin besar di ruang publik Indonesia.
Dalam memainkan peran baru ini, umat Islam ternyata bukanlah kubu yang seragam, melainkan beragam, di mana kelompok-kelompok intra-Islam mengajukan agenda dan wacananya sendiri-sendiri. Kontestasi wacana ini bukan hanya menyangkut peran sosial-politik Islam di ruang publik, tetapi lebih jauh lagi menyangkut hakikat Islam itu sendiri sebagai agama. Spektrum kontestasinya juga amat luas, merentang dari sekadar persoalan perbedaan fikih hingga perbedaan akidah, yang bahkan berujung pada kekerasan fsik.
Analisis lama Islam modernis vs tradisional yang biasanya diwakili oleh Muhammadiyah dan NU menjadi terlalu simplistis, bahkan misleading. Peran dan pemikiran tokoh-tokoh tua yang karismatis tidak lagi menjadi ide mainstream ketika kaum intelektual Islam muda mengkritisi mereka dan menggeluti ide-ide Islam secara baru yang bersifat lintas-batas, lintas-mazhab, lintas-disiplin. Jejaring internasional membuat pertarungan wacana Islam di Indonesia mesti dibaca juga dalam konteks global.

Rp99,000.00
Quick View

Dari Membela Tuhan ke Membela Manusia

Di era digital seperti sekarang ini, masyarakat mendapat suguhan beragam berita, termasuk berita kekerasan, baik kekerasan wacana maupun kekerasan fisik. Sasaran kekerasan yang mengatasnamakan agama dan Tuhan pun melibatkan orang-orang non-Muslim atau orang-orang Barat dan orang-orang Islam sendiri yang berbeda keyakinan, aliran, pemikiran, pilihan politik, ideologi, atau kewarganegaraan. Mengapa mereka begitu yakin dan merasa absah melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama dan Tuhan tanpa merasa salah sedikit pun.

Ada yang berpendapat, mereka melegitimasi tindakan kekerasannya itu dengan mengambil contoh peristiwa peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan umat Islam melawan kaum Yahudi di Madinah, dan melawan orang-orang kafir Makkah pada peristiwa Pembebasan Makkah. Peperangan-peperangan yang sebenarnya bersifat sosiologis dan historis itu dijustifikasi secara teologis sebagai jihâd fî sabîlillâh dan kelak mereka dijanjikan masuk surga bagi mereka yang mati syahid.

Mereka meyakini dan merasa absah melakukan tindakan kekerasan dengan mengatasnamakan agama dan Tuhan lebih disebabkan oleh cara mereka “menalar Islam” dan “nalar keislaman yang mengideologi”. Jika “cara menalar Islam” itu sendiri membantu mereka memahami Islam dengan benar, “nalar keislaman yang mengideologi” membuat mereka meyakininya sebagai satu-satunya cara dalam memahami Islam yang paling benar. Sebab, nalar keislaman yang mengideologi pada esensinya memandang sebuah pemikiran sudah “jadi”, tanpa memperhatikan adanya “proses menjadi”. Pemikiran yang sudah jadi itu berarti sudah final dan tidak ada lagi sesudahnya.

Sejalan dengan deskripsi dan hipotesis di atas, tulisan ini bermaksud menyingkap alasan mengapa kelompok-kelompok gerakan Islam tertentu merasa yakin dan absah melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama dan Tuhan.

Rp69,000.00
Quick View

EPISTEMOLOGI TASAWUF

Buku ini secara relatif populer memaparkan epistemologi dalam suatu aliran yang biasa disebut Isyrâqiyyah atau Hikmah, yang di dalamnya pengalaman tasawuf—yang biasanya dianggap tak terperikan (ineffable)—berusaha dipahami secara filosofis-rasional dan kemudian diekspresikan dalam bahasa (proposisional) logis biasa. Tokoh utama yang pemikirannya dianalisis dalam buku ini adalah Mulla Shadra (dan Suhrawardi). Dalam pemikiran keduanya, bukan saja pengalaman tasawuf dipercayai dapat dikomunikasikan, melainkan juga terbuka kemungkinan penyelidikan lebih jauh ke arah pemahaman akan pengalaman mistis sebagai sumber dan metode perolehan ilmu-pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat filsafat ilmu modern.

Tema-tema yang menarik dibahas di buku ini, di antaranya:
• Dari Mistisisme ke Pengetahuan Presensial
• Filsafat Hikmah dan Filsafat-Filsafat Mistis yang Mendahuluinya
• Pengetahuan Presensial dan Pengalaman Mistis

Rp35,000.00
Quick View