Pergulatan Intelektualisme Islam Indonesia

Dinamika sejarah intelektual pembaruan Islam Indonesia kerap kali dilukiskan dalam dikotomi kontestasi Islam tradisionalis dan modernis. Dua pola itu tergambar dalam buku-buku hasil penelitian yang menunjukkan nuansa paralelisme wacana Islam Indonesia dalam struktur politik era Orde Baru.

Memasuki reformasi 98, spektrum kontestasi politik memberi panggung bagi umat Islam untuk memainkan peran sosial-politik yang lebih luas. Perebutan wacana dan kajian tentang Islam Indonesia tidak terbatas pada dikotomi stereotipikal tradisional-modern atau konservatif-liberal.

Buku hasil penelitian Carool Kersten ini menjadi generasi awal yang menggambarkan peta perubahanPergulatan Intelektualisme Islam Indonesia pertarungan wacana umat Islam dalam agenda pembaruan pemikiran Islam pada konteks politik Indonesia kontemporer. Kersten berhasil menunjukkan bahwa pada awal abad ke-21, intelektualisme Islam bergumul dengan persoalan perdebatan pemikiran yang menghasilkan formasi intelektual baru yaitu pemikiran Islam progresif.

Kersten memulai buku ini dengan analisis yang begitu kuat untuk menunjukkan peta perubahan itu. Menurutnya, polarisasi pemikiran dalam konteks politik Indonesia tidak lepas dari pengaruh dinamika politik warisan Belanda. Dari pusat kekuasaannya di Eropa, Belanda membawa fenomena lokal yang dikenal dengan verzuiling atau segregasi sosial. Implikasi dari fenomena itu, tumbuh polarisasi masyarakat dalam pelbagai kutub yang berseberangan atas sebuah isu, kebijakan, atau ideologi. Tren polarisasi itu tumbuh subur dimulai dari pertarungan wacana saat pembentukan haluan ideologi republik, penataan kehidupan politik pasca kemerdekaan, hingga perkembangan wacana intelektual kontemporer abad ke-21. (hal. xiv).

Angin Perubahan

Secara teoritis, buku ini berkontribusi merumuskan dan memetakan pertarungan wacana umat Islam di era reformasi (1997-2014) dengan bobot akademis yang kuat menggunakan pendekatan traveling theory.

Isu yang dibahas Kersten begitu jelas dan spesifik dengan alur pemikiran yang teratur. Argumen yang dikemukakan begitu meyakinkan dengan mengokohkan tradisi riset yang kuat. Kersten melihat bagaimana para pemikir dan filosof besar dunia seperti Muhammad Abid al-Jabiri, Muhammad Arkoun, Hassan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zaid, Giorgio Agamben dan Slavoj Zizek berpengaruh dan hidup dalam pemikiran akademisi-cum-aktivis yang ada Indonesia.

Hasil penelitian Kersten menempatkan peran kaum muda intelektual Muslim sebagai tokoh pembaruan Islam Indonesia pasca orde baru. Barisan kaum muda intelektual menggeluti ide-ide Islam secara baru dan bersifat lintas batas, lintas mazhab, dan lintas disiplin. Mereka tumbuh dalam jejaring internasional dan mewarnai pertarungan wacana Islam Indonesia dalam kancah global.

Kaum muda intelektual Muslim tidak lagi memperdebatkan soal isu-isu sektarian, atau isu pendirian negara Islam. Mereka telah melompat jauh mendiskusikan demokratisasi, toleransi, kesetaraan sosial-ekonomi dan partisipasi warga melalui pendidikan.

Pembentukan Wacana

Sejarah intelektual Islam Indonesia mempengaruhi sekaligus membentuk wacana progresif sebagai respons terhadap realitas kebangsaan dan perubahan zaman. Pola bangkitnya pembaruan pemikiran Islam ditandai dengan keluasan Orde Baru yang memberikan ruang dan bahkan cenderung merangkul Muslim terpelajar untuk berperan dalam strategi politik pemerintahan. Program pembangunan nasional yang mengambil modernisasi sebagai tujuannya melahirkan perancang arah baru Indonesia dari kaum intelektual Muslim seperti Harun Nasution (1919-1998), Mukti Ali (1923-2004), dan Nurcholish Madjid (1939-2005), dan generasi setelahnya yaitu M. Amin Abdullah dan Azyumardi Azra sebagai punggawa mazhab Yogya dan mazhab Ciputat.

Mereka berhasil mencetuskan pembaruan pemikiran Islam berbarengan dengan posisi pemerintah yang mulai mengkoordinasi pelbagai upaya dalam menopang kelas menengah. Puncaknya, sejak Mukti Ali menjabat sebagai Menteri Agama pada tahun 1971-1978, perubahan pendekatan semakin diperlancar dengan dikirimkannya para intelektual muda Muslim ke Barat untuk meneruskan jenjang studinya. Sementara dalam negeri, tumbuh dan berkembang pelbagai lembaga intelektual seperti Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) serta Jaringan Islam Liberal (JIL) (hal. 38-65).

Di sisi lain, juga tumbuh kalangan reaksionir dari penganut Islam kanan yang tergabung dalam tokoh-tokoh antagonis dan berperan sebagai penghujat wacana pembaruan pemikiran Islam. Tokoh yang paling getol berlawanan dengan kelompok Islam progresif adalah Adian Husaini yang mulanya aktif di Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), lalu mendirikan INSISTS dan menyalurkan gagasannya di Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) yang disponsori Saudi. Kelompok antagonis menolak istilah modernisasi karena dianggap erat berkaitan dengan westernisasi (hal. 66-72).

Ulasan Kersten tentang lapisan kompleksitas wacana yang melahirkan nalar pemikiran Islam progresif dan reaksioner menunjukkan bahwa para aktornya adalah intelektual generasi baru, kaum muda post-tradisionalis dari lingkungan NU, JIMM, JIL, INSISTS dan LPPI. Kersten menggambarkan bahwa percampuran kultural menjadi ciri utama dalam pembentukan identitas intelektual Islam Indonesia kontemporer.

Perebutan wacana ini menunjukkan bahwa Muslim progresif maupun reaksioner bertemu dalam medan pelbagai jalur pemikiran yang disatukan oleh keinginan untuk sama-sama menjaga dan merawat pluralisme sebagai norma di ruang publik Indonesia. Mereka sama-sama memikirkan agama lalu menerjemahkannya dalam agenda perubahan sesuai dengan jalannya masing-masing. Ini tidak lepas dari kelindan reformasi yang membuka horizon secara bebas tampil dalam perebutan suara masyarakat, gagasan, dan nilai dalam kerangka percaturan intelektualisme.

Buku mendalam hasil riset Kersten ini tidak bermaksud kembali pada masa lalu untuk melihat pergulatan wacana intelektualisme Islam. Kersten justru berusaha mengidentifikasi hal-hal yang muncul secara kebetulan atau tak terduga (accidents) dan penyimpangan-penyimpangan yang kecil (the minute deviations) untuk melihat dinamika, transformasi, diskontinuitas dalam gerak diskursus intelektualisme keagamaan dengan segenap perubahan politik dan sosial di Indonesia. Ia hendak menegaskan bahwa perebutan wacana menunjukkan dunia pendidikan (intelektualisme), khususnya pendidikan tinggi dan kajian Islam akademis menjadi lahan utama untuk menumbuhkan pluralisme keagamaan serta mengokohkan keutuhan ajaran Islam. [Wildan Hefni]

 

 

(Visited 66 times, 1 visits today)

Hifzhul 'Aql: Memelihara (Kewarasan) Akal

1 November 2018

Islam Harus Mendorong Sikap Moderat dan Terbuka

1 November 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *