Menuju Jihad Nonkombatif

Selama ini, jihad lebih banyak dipahami  sebagai sebuah konsep monovalen dalam arti “peperangan bersenjata”, dan pembunuhan atau pembantaian terhadap orang-orang yang dianggap sebagai musuh agama. Akibatnya, agama seperti melegitimasi dan menjustifikasi segala bentuk tindak kekerasan, dengan jaminan surga dan bidadari bagi para pelakunya.

Kecenderungan untuk memahami kata jihad secara sosio-legal seperti ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dari sejarah panjang pemahaman manusia—terutama para fukaha’ dan mufassir sejak abad klasik, saat mereka berusaha menangkap pesan agama—tentang makna jihad atau qital dan syahid sebagaimana muncul secara tekstual dalam pesan al-Quran atau pun hadis.

Buku yang digarap secara gigih dan hati-hati oleh Asma Afsaruddin, guru besar studi Islam di Menuju Jihad NonkombatifUniversitas Notre Dame Amerika Serikat ini, menawarkan suatu analisis semantik-hermeunetik dengan pelacakan serius terhadap leksem (lexeme) jihad dan kemartiran (syahid) sebagai sebuah istilah diskursif yang sebenarnya sangat dinamis, dari masa ke masa.

Asma sangat menyayangkan, bahwa makna jihad (j-h-d) yang sebenarnya memiliki makna dasar “bersungguh-sungguh” atau “berjuang keras” dalam melakukan segala sesuatu, kemudian disempitkan maknanya hanya menjadi “perang” di jalan Allah. Dengan demikian, komponen terpenting dari jihad dalam al-Quran yang hakikinya menjunjung prinsip nirkekerasan (principled nonvioence) dan non-kombatif seperti tenggelam dan tak tersentuh dalam ranah diskursus penting ini.

Hal lain yang juga dilupakan, menurut Asma, adalah bahwa al-Quran tidak pernah menggunakan leksem syahid—temasuk bentuk pluralnya: syuhadâ’—dengan mengacu pada martir, melainkan hanya untuk menyebut saksi hukum atau saksi mata. Baru dalam sumber-sumber lain di luar al-Quran, kata tersebut memperoleh makna spesefik sebagai “orang yang bersaksi demi iman” terutama dengan  mengorbankan nyawanya (hal. 15)

Penjelasan historis yang tajam, terutama dari sisi konteks sosio-politik para mufassir abad-abad awal Islam, juga menjadi bagian penting dalam pelacakan yang dilakukan Asma untuk menemukan kecenderungan dan latar belakang lahirnya model penafsiran tersebut. Asma menemukan bahwa para mufassir yang memiliki afiliasi dengan pemerintah saat itu memiliki kecenderungan luar biasa untuk memahami jihad sebagai laku peperangan yang ofensif-kombatif.

Salah satu contohnya adalah al-Thabari. Mufassir besar yang karyanya menjadi rujukan penting selama ini, mengartikan kata jâhidû fî sabîlillâh dengan “berjuang melawan orang-orang musyrik” yang berimplikasi pada arti “berperang” atau “membunuh”. Alasan yang dipakai oleh al-Thabari bukan karena adanya hadis yang dianggap mendukung, seperti riwayat Ibnu Abbas, tetapi karena “makna ini yang lazim pada masa itu”—pernyataan yang luar biasa ditinjau dari penalaran sirkulernya. (hal. 41)

Dalam penelusuran Asma, rumusan pandangan hukum klasik yang nyaris monolitik mengenai jihad dan kemartiran diakibatkan oleh faktor muncul dan menguatnya imperium Umayyah dan Abbasiyah serta pembentukan militer pada masa-masa tersebut. Al-Thabari adalah salah satu ulama yang pro-Abbasiyah dan sempat menduduki berbagai jabatan di era tersebut.

Hal serupa juga terjadi pada al-Qurthubi, yang hidup pada masa Reconquista Spanyol, sehingga tafsirnya memperlihatkan semacam kegelisahan dan kekhawatiran Muslim Andalusia kala itu, dan otomatis memengaruhi pandangannya mengenai parameter jihad militer.

Dalam buku ini, Asma juga berusaha mendialogkan pandangan ulama-ulama klasik tersebut dengan pandangan para ulama modern, seperti Muhamamd Abduh, Said Ramadan al-Buthi, Ali Jumah, Fethullah Gulen—sebagai tokoh yang memahami jihad dan syahid secara lebih fleksibel, dinamis, kontekstual dan universal—termasuk tokoh-tokoh lain seperti Hasan al-Banna, Abu al-A’la al-Maududi, Sayyid Quthb, termasuk ekstremis Mesir, Abdul Salam Faraj—sebagai tokoh yang mengangap jihad sebagai unsur penting dari revivalisme Islam modern, sehingga perlu dijalankan secara ofensif sekaligus defensif. (hal. 403-408)

Melalui dioalog dan diskusi yang dalam tersebut Asma akhirnya menunjukkan keberpihakannya bahwa selama ini makna jihad telah banyak direduksi bahkan dimanipulasi oleh sebagian kelompok untuk membentengi aski terornya secara teologis. Meskipun tidak mengabaikan makna jihad dalam konteks defensif tertentu, Asma mengajak pembacanya untuk memahami jihad dan syahid secara holistik, bukan secara parsial dan terlepas dari konteks sejarah, audiens dan relasi budaya yang menyertainya.

Dengan demikian, pada akhirnya, akan terjadi pergeseran pamahaman tentang jihad secara fundamental: dari jihad yang militeristik, sadistik, haus darah dan kombatik,  menuju jihad yang simpatik, dinamis, komprehensif, nirkekerasan dan non-kombatif. Di sini letak penting buku ini.  [Abdul Wahid Hasan]

(Visited 24 times, 1 visits today)

Saya Bermimpi

7 November 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *