Memoar Konsensus Dasar Negara

Pertentangan antara keislaman dan keindonesiaan muncul kembali dalam fragmentasi sosial akhir-akhir ini. Riak-riak penolakan Pancasila mulai didengungkan dengan menggangu harmoni kebangsaan. Pelbagai permasalahan kronis secara serentak bertubi-tubi diarahkan pada ancaman keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Gerakan radikal bernuansa agama menjadi kekuatan untuk terus menusuk dan membajak pilar-pilar bangsa, termasuk Pancasila.

Pancasila sebagai dasar negara kembali diuji oleh gerakan manifesto yang berusaha mengaburkan Memoar Konsensus Dasar Negarakesaktian Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara. Dalam konteks demikian, buku ini hadir mewartakan mutiara-mutiara pemikiran hebat para pemimpin bangsa mengenai dasar negara. Ahmad Syafii Maarif tampil dalam buku ini untuk meneguhkan filsafat Pancasila sebagai kekuatan imajiner formasi diskursif perumusan dasar ideologis negara Republik Indonesia.

Diskursus Pancasila ditelaah dengan pelbagai rujukan dan referensi ilmiah. Buya Syafii Maarif tidak tanggung-tanggung merujuk banyak referensi ilmiah yang telah ditulis baik oleh sarjana dan pelaku sejarah tentang lahirnya Pancasila. Analisis yang digunakan begitu tajam menyampaikan pesan bahwa Pancasila adalah rujukan ilmiah tentang konsensus dasar negara.

Tidak hanya itu, memoar, imajinasi, dan bayang-bayang mengenai rancang bangun tatanan politik negara-bangsa terekam dengan jelas dalam buku ini. Dengan sangat rinci dan penuh referensi, buku hasil penelitian panjang Buya Syafii Maarif ini mampu menghadirkan lakon dari perdebatan ideologis-konstitusional yang tegang dan panas tentang formula dasar negara. Dua aliran sama-sama mengemukakan argumentasi kuat. Aliran pertama dibela oleh ahli agama-agama yang bertujuan mendirikan suatu negara Islam di Indonesia. Sementara aliran kedua adalah paham pemisahan urusan agama dan urusan negara (bukan negara Islam).

Isu tentang dasar negara telah memaksa para pendiri republik ini untuk menjalani masa-masa sulit dalam sejarah modern Indonesia. Dalam BPUPKI (Mei-Juni 1945),  perbebatan dua kubu berhasil mengkompromikan Piagam Jakarta yang didalamnya terkandung dasar negara Pancasila dengan sila pertama “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-Pemeluknya”. Namun, kompromi itu ditolak kalangan non Islam dan kemudian menghilangkan redaksi “dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-Pemeluknya”. Perdebatan terus berlanjut dan kemudian berakhir dalam momentum dekrit Presiden Sukarno pada 5 Juli 1959 sebagai tanda berakhirnya aspirasi umat Islam untuk mengajukan Islam sebagai dasar negara secara konstitusional.

Perubahan tersebut oleh sebagian orang dipandang sebagai kekalahan politik wakil-wakil umat Islam. Tapi bagi Buya, justru hal itu menjadi penguat keyakinan bahwa loyalitas umat Islam kepada Pancasila tidak perlu dipertanyakan lagi. Redaksi “Yang Maha Kuasa” sesudah ketuhanan dalam sila pertama jelas sekali menunjukkan bahwa konsep Ketuhanan dalam Pancasila bukanlah semata fenomena sosiologis, melainkan refleksi dari ajaran Tauhid sebagai urat tunggang iman dalam kepercayaan umat Islam. Hal ini dapat diperkuat lagi dengan satu pengandaian: sekiranya mayoritas rakyat Indonesia bukan pemeluk Islam, maka dapat dipastikan bahwa Pancasila tidak akan mengenal sila Ketuhanan, apalagi Ketuhanan Yang Maha Esa. (hal.150)

Dalam analisis Buya Syafii Maarif, inilah langkah awal keberhasilan memadukan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan dalam simpul bernegara dan berbangsa. Buku ini hadir tepat waktu dengan usaha yang matang hendak mendokomentasi ingatan pelbagai ide dan gagasan jernih mengenai negara Republik Indonesia. Buya Syafii tanpa beban menampilkan narasi perdebatan totalitas perjuangan pendiri bangsa agar tidak lahir para perongrong bangsa secara instan. Dengan jernih Buya Syafii mendedah bahwa narasi perdebatan konstitusional para tokoh bangsa merupakan cara dan strategi yang ditempuh untuk menegakkan demokrasi yang sehat.

Denyut nadi siapapun yang membaca buku ini akan bangkit terhentak oleh laku pemikiran dan perjuangan para pendiri bangsa. Apa yang dirumuskan puluhan tahun lalu seakan menggiring deru bangsa ini dalam sebuah kerangka ideologis bagi suatu tatanan politik aktual yang sengaja dibuat untuk menjadi panduan bagi perwujudan cita-cita bangsa. Pendiri negara-bangsa ini mendudukkan dasar negara dalam kerangka falsafah yang komplementer dan egaliter. Dalam perbincangan konstitusional yang panjang oleh para tokoh bangsa yang pluralistik itu tergambar bahwa Indonesia mempunyai keistimewaan khas yang tidak sama dengan Irak, Iran, Mesir atau Suriah yang jelas-jelas bercorak Islam (Corpus Islamicum).

Infrastruktur Intelektual

Dalam konteks itu, Buya Syafii Maarif menampilkan kekuatan infrastruktur intelektual pendiri bangsa yang mempunyai kegigihan membawa Indonesia merdeka dari tangan penjajah. Pasca kemerdekaan, para intelektual itu goyah dan berada dalam dua kubu. Namun, infrastruktur intelektual itu kokoh untuk menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. (hal. 276).

Kini, buku ini menemukan momentumnya di mana fragmentasi sosial mengemuka dengan munculnya riak-riak kecil mempersoalkan falsafah negara. Dalam buku ini, Buya Syafii Maarif tampil optimis untuk tidak menghiraukan riak-riak penolakan Pancasila sebagai dasar negara oleh segelintir pengusung primordialisme. Bagi Buya, argumen penolakan Pancasila sebagai dasar negara bagai ukiran di atas air yang mudah redup dan padam. Buya Syafii Maarif masih kokoh dengan kekuatan arus besar bangsa ini yang setia terhadap narasi dasar negara yaitu Pancasila.

Setidaknya, buku ini menjadi referensi otentik dari sistematika Pancasila yang dalam setiap baitnya mengandung pesan kuat tentang Indonesia dalam altar percaturan falsafah negara dan bangsa. Peringatan hari lahir Pancasila setiap 1 Juni seyogyanya menyadarkan publik bahwa Indonesia dibangun atas dasar keikhlasan untuk hidup bersama sebagai saudara sebangsa yang berbeda-beda dalam harmoni kerukunan. Semoga!. [Wildan Hefni]

 

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

Islam Harus Mendorong Sikap Moderat dan Terbuka

1 November 2018

Historiografi Profetik Muhammad SAW: Perspektif Tafsir Nuzuli Darwazah

1 November 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *