Islam Harus Mendorong Sikap Moderat dan Terbuka

Kemajuan ilmu dan teknologi yang semakin canggih pada satu sisi ikut menenggelamkan pamor agama. Apalagi agama kadang menunjukkan wajah menakutkan dalam bentuk terorisme dan kekerasan Islam Harus Mendorong Sikap Moderat dan Terbukaberdasar agama. Buku ini mencoba menyegarkan pemahaman atas aspek-aspek pokok dalam Islam untuk kemanusiaan dan masa depan kehidupan dunia yang lebih baik.

Saat ini, dunia menghadapi krisis makna, ketimpangan, dan kegalauan yang lahir seturut perkembangan ilmu serta teknologi. Kemajuan teknologi komunikasi secara ironis sering melahirkan disinformasi yang sebagian menggerogoti ikatan sosial serta menipiskan rasa saling percaya (hlm 37).

Kekacauan akibat disorientasi di tengah melimpahnya informasi ini turut memberi andil kelahiran paham keagamaan radikal. Ideologi radikal dianggap menjadi keyakinan keagamaan instan dan simplistik untuk mendapat ketenteraman hidup. Ideologi radikal ini menjadi dasar pembenaran tindakan kekerasan para penganutnya di tengah frustrasi akibat tekanan sosial ekonomi yang mereka hadapi.

Untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut, buku berusaha menggali kekayaan khazanah Islam yang kiranya dapat disodorkan sebagai alat bedah kritis. Disebutkan, “hermeneutika sebagai metode untuk memahami teks agama secara lebih terbuka dan relevan dengan tantangan-tantangan masa” (hlm 4).

Dalam perkembangan sains ada ekses buruk teknologi. Di antaranya karena ilmu pengetahuan memisahkan diri dari filsafat. Padahal filsafat merupakan kesatuan organiknya. Ini memutus kemungkinan sains untuk memberi perhatian pada aspek transenden dan religius yang dapat digali dari filsafat (hlm 96).

Untuk menjawab tantangan zaman, Islam harus mendorong sikap moderat, terbuka, dan mengupayakan persatuan. Prinsip moderasi menjadi salah satu risalah pokok Islam. Selain itu, dialog dengan agama dan gugus peradaban lain, termasuk budaya lokal, perlu dilakukan untuk saling memperkaya perspektif dalam melabuhkan visi kemanusiaan agama pada kehidupan nyata.

Benang merah solusi yang ditawarkan buku ini untuk meneguhkan peran Islam dalam kehidupan masa kini dengan menghidupkan sisi spiritualitas. Di antara masalah pokok yang membuat Islam tumpul dan ketinggalan zaman karenca kecenderungan orientasi keagamaan pada aspek hukum. Penulis percaya bahwa aspek spiritualitas yang mempromosikan penghayatan keagamaan berorientasi cinta akan mampu menguatkan kiprah agama (hlm. 231-235).

Agama yang kental dengan nuansa spiritual dan cinta dipercaya akan mampu memupuskan fundamentalisme dan radikalisme keagamaan yang kaku, keras, formalistis, dan cenderung dangkal. Di sisi lain, Islam cinta, demikian Haidar menyebut, juga akan mampu menjawab problem-problem sekularisme seperti kehampaan makna hidup.

Buku yang menghimpun tulisan-tulisan Haidar dalam tiga dekade terakhir ini ikut mengingatkan para intelektual muslim dan tokoh-tokoh agama lain untuk bersama-sama berefleksi dan membaca ulang agama secara kritis demi menjawab tantangan zaman yang kian kompleks.  [M Mushthafa]

*Tulisan dipublikasikan pertama kali pada tanggal 2 Juni 2017 di Koran Jakarta

(Visited 16 times, 1 visits today)

Pergulatan Intelektualisme Islam Indonesia

1 November 2018

Memoar Konsensus Dasar Negara

1 November 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *