Islam Agama Kemanusiaan

Zaman kian kacau. Yaitu saat kebenaran semakin kabur, dan kejahatan semakin jelas. Kejahatan pun kian tertata rapi sehingga terlihat kebajikan. Sebaliknya, penyeru kebajikan kian tercerai berai. Mereka jauh dari kata persatuan, sehingga sangat mudah dikalahkan. Maka yang muncul saat ini adalah simulacra—meminjam istilah Jean Baudrilliard. Dunia seakan-akan yang kian menjadi dari kemanusiaan. Ironisnya, agama sebagai penyeru kebajikan seakan kian lunglai. Pasalnya, ia telah dibajak oleh sebagian orang untuk mendapatkan kekuasaan dan secuil kekayaan.

Haidar Bagir melalui buku Islam Tuhan Islam Manusia, Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau ini ingin mengembalikan nilai utama agama sebagai penyeru kebajikan untuk kemuliaan kemanusiaan. Haidar Bagir menggugat otoritas agama yang kini kian menjadi dan jauh dari spiritualitas yang mendamaikan. Bos Penerbit Mizan ini pun menyeru dari ruang dialektis-kritis bahwa Islam perlu kembali tampil dalam “wasathiyyah”.

 

Pemuliaan Akal

Kemuliaan kemanusiaan dalam beragama terletak pada akalnya. “Tidak ada agama bagi orang yang tak punya (menggunakan) akal”. Daya berpikir manusia bisa melewati tahap demi tahap pendakiannya menuju tingkat yang paling tinggi jika daya-daya itu dibebaskan dari pengaruh buruk nafsu amarah (ammarah bi al-su’). Dalam filsafat hal itu bisa dicapai dengan memastikan prosedur berpikir yang benar, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sina, proses berpikir pada dasarnya adalah pembersihan (halaman 76).

Kalau seseorang percaya terhadap legitimasi akal sebagai salah satu fakultas penemu kebenaran, maka bukan saja dia akan menggunakan independent reasoning di dalam menafsirkan ajaran-ajaran Islam, tapi bahkan dia akan percaya bahwa sampai batas tertentu kelompok manusia mana pun punya kans (chance) untuk juga sampai pada kebenaran tertentu; kebenaran akal sebagai esensi kemanusiaan mereka (halaman 110-111).

Proses permenungan dan penggunaan akal aktif akan menuntut manusia menemukan kebenaran dan kesejatian. Manusia akan kembali memaknai agama dan Tuhan sebagai laku hidup menuju kebahagiaan. Kebahagiaan yang memuliakan diri sendiri dan orang lain. Kebahagiaan yang tidak egois. Kebahagiaan yang memberkahi semesta.

Islam Cinta

Saat Islam telah mewujud alam laku kebahagiaan yang memberkahi semesta maka kedamaian akan muncul. Peraih gelar doktor dari Universitas Indonesia ini menulis agama perlu dikembalikan pada laku spiritualitas yang intens. Spiritualitas yang intens (pengembangan moralitas akhlak, budi pekerti luhur) dapat mengembalikan fungsi agama sebagai sebuah lembaga yang mendukung perkembangan peradaban manusia yang maju, adil, damai, dan sejahtera (halaman 229).

Saat manusia telah menemukan spiritualitas itu maka proyek Islam cinta akan hadir. Rasul Muhammad., s.a.w., bersabda “Cinta adalah asas (ajaran agama) ku”. Dalam al-Quran sendiri terdapat banyak kata yang maknanya masuk sebagai salah satu rumpun makna cinta. Dan tak kurang dari salah satu Imam yang juga cucu sang Nabi, Imam Ja’far al-Shadiq, menyatakan, “Apalagi agama itu kalau bukan cinta?…Agama itu cinta dan cinta itu agama” (halaman. 232-233).

Moderasi

Selanjutnya makna esensial dari buku ini adalah gagasan meneguhkan moderasi (wasathiyyah). Ajaran Islam identik dengan kemudahan. Di dalam Islam, beragama bukanlah pilihan mengambil jalan hidup yang sulit, yang memasung, dan anti kemajuan.

Muslim sejati, dengan demikian, sesungguhnya adalah Muslim yang memegang teguh prinsip moderasi dalam segenap lini hidupnya, bahkan dalam aktivitas ibadah sekalipun.

Maka, fenomena lahirnya generasi Muslim moderat saat ini sejatinya adalah kelahiran-kelahiran generasi Muslim sebagaimana pernah terjadi dalam bentangan sejarah awal komunitas ini sebelumnya, persis sebagaimana dicontohkan dan dipraktekkan oleh Nabi dan generasi-generasi setelahnya.

Sejalan dengan prinsip moderasi ini, Islam identik dengan agama yang berkeadilan. Moralitas dalam Islam, antara lain, didasarkan kepada keadilan, yakni menempatkan segala sesuatu pada porsinya. Di sini tampak kesejalanannya dengan teori Aristoteles tentang moderasi (had al-wasath) (halaman 131).

Buku karya Haidar Bagir ini menyegarkan kembali ingatan bahwa Islam adalah agama kemanusiaan yang menjunjung tinggi keadilan dan kesejahteraan. Islam mendorong umatnya untuk tampil membela kebenaran dengan nalar sehat, bersih, dan antitaqlid.

Pada akhirnya, membaca buku ini akan menjadikan seseorang mempunyai pandangan yang luas dan utuh tentang Islam sebagai agama kemanusiaan. Selamat membaca. [Benni Setiawan]

(Visited 40 times, 1 visits today)

Al-Hujwiri dan Karyanya, Kasyf Al-Mahjub

31 July 2018

Menguji Kebenaran Informasi Ala Ibn Khaldun

31 July 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *