Historiografi Profetik Muhammad SAW: Perspektif Tafsir Nuzuli Darwazah

Sejarah dan Tafsir Sebagai Irisan Berbeda

Umumnya ilmuwan berpendapat bahwa antara sejarah dan tafsir sebagai ilmu pengetahuan adalah disiplin yang berbeda. Bila sejarah berupaya menemukan penjelasan tiap kejadian secara kronologis berbasarkan kasusnya secara fenomenologis, maka tafsir berupaya menemukan makna teks sampai pada pengertian yang bersifat esensial.

Sejarah (history) terkait erat dengan cerita (story). Bahkan history dapat disebut sebagai story itu sendiri. Bila pengertian akan sejarah ini dipakai, maka pengalaman manusia dari waktu ke waktu dalam lintasan kondisi personal dan situasi yang mengelilinginya menjadi penting sebagai bahan menyusun penjelasan atas tema tertentu. Berbagai pengalaman manusia tersebut dipelajari dengan memutar rekaman peristiwa yang telah terjadi di masa silam berdasarkan aneka fakta yang masih bisa dikais dari masa lalu. Bahkan, black-box peristiwa silam ini masih dianggap penting –dalam pandangan sejarah—walaupun dalam bentuk cerita yang diwariskan secara turun temurun antar generasi. Upaya meminimalisir munculnya subyektifitas cerita kemudian diimbangi dengan pembuktian artefak sejarah yang bersifat fisik terkait peristiwa yang diteliti.

Berbeda dengan itu, ilmu tafsir berjuang menggeluti dunia teks demi mampu memasuki rongga termisterius dari teks itu sendiri yang disebut dengan makna. Upaya menantang ini bukan tanpa hambatan, sehingga kerap kali para pentafsir memerlukan bantuan teks lain dalam memahami teks tertentu. Maka jadilah teks menafsiri teks, lalu memunculkan kesimpulan yang lambat laun menjadi teks baru. Nah, begitulah –secara sederhana—sejarah dan tafsir berkembang menjadi disiplin yang berbeda. Bahkan dalam disiplin Islamic studies sendiri, perkebangan ilmu sejarah dan ilmu tafsir juga menampilkan pola yang mengikuti penjelasan ini, meskipun antara keduanya kerap terjadi persekutuan ketika digunakan mengurai satu fenomena yang memerlukan pemaknaan sekaligus keutuhan pemahaman secara kronologis.

Memadukan Disiplin Sejarah dan Tafsir

Al-Quran diturunkan Allah kepada seluruh umat manusia sebagai petunjuk bagi mereka untuk menggapai jalan keselamatan. Pewahyuan al-Quran dilakukan secara bertahap kepada Muhammad saw dalam posisi dan kapasitas beliau sebagai pamungkas nabi dan rasul yang hidup di tengah bangsa Arab. Pewahyuan al-Quran sendiri secara historis terkait dengan problem kemanusiaan yang sedang dihadapi umat Islam pada masa awal, yaitu di Makkah dan Madinah. Walaupun keluasan substansi wahyu ini tidak tertutup hanya pada konteks masa pewahyuan itu. Al-Quran mengetengahkan berbagai ayat yang berisi aneka informasi kepada umat manusia yang sebenarnya menegaskan posisi kerasulan Muhammad saw. Di sisi lain, kepribadian paripurna yang melekat pada diri Muhammad saw di tengah manusia, adalah cerminan dari isi al-Quran secara sempurna.

Sebagai teks yang memuat nash, al-Quran tertutup dari perubahan. Namun al-Quran juga masih membuka perubahan. Tulisan al-Quran secara tekstual sebagaimana yang termaktub, telah terkunci kebenarannya secara otoritatif. Namun pemahaman dan penafsiran terhadap al-Quran –dari perspektif nuzuli—tetap hidup karena al-Quran terkait dengan konteks sejarah kenabian ketika ia diwahyukan. Maka upaya menggali makna al-Quran secara ‘lebih hidup’ tidak dapat dilepaskan dari pembacaan terhadap sejarah kerasulan itu sendiri. Sebaliknya, menelisik sejarah kerasulan Muhammad saw tidak dapat dipisahkan dari pewahyuan al-Quran secara berurutan. Maka ada dua fakta dalam hal ini, yaitu al-Quran dan konteks masyarakat Arab pada masa pewahyuan, dan eksistensi Muhammad SAW sebagai sosok istimewa sekaligus paripurna dalam sejarah kenabian agama Monotheism. Pada posisi inilah terjadi kaitan logis-faktual antara keduanya. Ketika ingin memahami sejarah bagaimana kerasulan Muhammad saw, maka harusnya melihat al-Quran sebagai penjelasnya. Sebaliknya, ketika ingin memahami substansi al-Quran, maka harus mempelajari sejarah kenabian Muhammad saw sebagai penjelasnya. Al-Quran dan kerasulan Muhammad saw adalah dua hal yang tidak dapat dipisah dalam upaya memahami substansi hakiki dari Islam. Dialektika konstruktif atas keduanya akan membangun keutuhan penafsiran dan pemahaman yang tepat. Maka komposisi al-Quran sesuai dengan masa pewahyuannya (al-Quran Nuzuli) adalah teks yang tepat untuk memahami makna hakikinya, sedangkan metode penafsirannya adalah tafsir nuzuli-maudhu’i.

Itulah kesimpulan utama dari buku Sejarah Kenabian yang ditulis Aksin Wijaya. Berbekal Historiografi Profetik Muhammad SAW: Perspektif Tafsir Nuzuli Darwazah‘kenekatannya’ beralih orientasi dari yang awalnya ingin mengkritik lalu berubah menjadi mendeskripsi, penulis agaknya ingin meyakinkan pembaca bahwa ilustrasinya tentang Tafsir Nuzuli gubahan Muhammad Izzat Darwazah ini merupakan ulasan yang diminati karena cukup langka. Berbeda dengan ilmuwan muslim seperti Sayyid Qutub dengan karya tafsirnya Masyahid al-Qiyamah fi al-Quran, Abid al-Jabiri dengan karyanya Fahm al-Quran al-Karim: al-Tafsir al-Wadih Hasba Tartib al-Nuzul, dan Ibnu Qarnas dengan karyanya Ahsan al-Qashash: Tarikh al-Quran Kama Warada min al-Mashdar ma’a Tartib al-Suwar Hasba Nuzul, eksplanasi ilmiah tentang tafsir Nuzuli versi Darwazah yang lahir di kota Nablus-Palestina ini –dalam insting akademik Mas Aksin—masih belum banyak dikaji, terutama di Indonesia. Kenekatan tersebut diikuti dengan keseriusannya mengumpulkan berbagai sumber primer maupun sekunder yang memuat konsepsi Tafsir Nuzuli Darwazah, sehingga kajian ini memiliki otentisitas tinggi.

Karena tema tentang Tafsir sebagai sebuah metode memahami al-Quran termasuk ilmu yang tidak banyak dikuasai orang, terutama tentang Tafsir Nuzuli, penulis ‘berbaik hati’ dengan menyertakan ulasan detail tapi ringkas tentang bagaimana memahami gagasan Darwazah. Salah satu upaya tersebut adalah dengan mencantumkan biografi Darwazah, khususnya dalam tradisi keilmuan tafsir dan sejarah yang mewarnai pembentukan pemikirannya. Pembaca tidak langsung dibawa masuk memahami dunia pemikiran Darwazah, namun terlebih dahulu diajak mengupas irisan pemikiran dari tokoh lain agar lebih mudah menyelami fase selanjutnya. Deskripsi tentang Tafsir Nuzuli yang diungkap seorang orientalis bernama Theodor Noldeke, juga proposisi yang diusulkan oleh Abid al-Jabiri dan Ibnu Qarnas, tampak sebagai upaya secara bertahap untuk membantu pembaca membuka ruang pemikiran Darwazah. Pada ulasan inilah tampak ketelatenan penulis dalam mengungkap beberapa term pokok dari gagasan konseptual-metodologis Darwazah secara detail. Ketelatenan itu diimbangi dengan melimpahnya informasi tambahan dalam catatan kaki yang memungkinkan tiap pembaca berselancar memasuki referensi utama yang menopang tiap gagasan yang dituliskan. Memang bagi orang yang kurang tertarik atau tidak hobi literasi, buku ini cenderung membosankan karena –selain relatif tebal—juga membutuhkan ketelitian dalam membaca dan memahaminya. Padahal, justru pada tiap ungkapan dan istilah khas yang tercantum itulah terdapat alur dan misteri yang memuat daya tarik tersendiri untuk meneruskan membaca. Dapat dibayangkan betapa rumit dan panjang proses verifikasi akademis yang dilakukan penyusun dalam menyusun tiap kalimat dan term-term khusus yang nyaris tanpa kesalahan redaksional.

Sebagaimana umumnya buku sejarah yang tebal dengan narasi yang menyuguhkan keterkaitan antar fenomena, buku Sejarah Kenabian ini juga relative tebal, padat dan sarat uraian tentang hubungan antar peristiwa. Namun perbedaannya dari buku sejarah an sich, buku ini juga memuat ulasan bagaimana Tafsir Nuzuli dioperasionalkan dalam bingkai gagasan Darwazah. Maka –tanpa memberanikan diri menyebut buku ini mengawinkan dua disiplin tersebut—dapat ditegaskan bahwa membaca buku ini akan menemukan ulasan kesejarahan sekaligus penafsiran.

Dari Deskripsi Menuju Analisis

Salah satu kecerdikan Darwazah dalam metode tafsir nuzuli–yang berhasil diungkapkan penulis buku ini—adalah keberanian menafsirkan kehidupan Nabi Muhammad saw secara pribadi dan juga pada masa kerasulan di tengah konteks kehidupan demografis masyarakat Arab. Kecerdikan ini tampak dengan penggunaan kemampuan akal dalam memaknakan teks disertakan setelah wahyu yang termaktub dalam al-Quran dengan status kebenarannya yang mutlak. Peletakan al-Quran sebagai bahan baku menafsirkan kehidupan Nabi Muhammad secara pribadi dan juga sebagai Rasulullah saw dengan akal sebagai instrumen nalar, adalah pendapat yang tepat karena keduanya memiliki keagungan substansial yang saling menguatkan. Al-Quran sebagai wahyu dan Nabi Muhammad saw sebagai Rasulullah, keduanya adalah subyek utama dan sangat otoritatif dalam proyek tafsir ini. Gagasan ini juga menjadi otoritatif karena al-Quran merupakan firman Tuhan yang terjamin otentisitasnya di tiap lintasan zaman dan ruang, sedangkan pribadi Nabi Muhammad saw sendiri adalah mahluk termulia di jagat raya tanpa ada satu pun makhluk yang mampu menandingi kemuliaannya. Teks yang mulia menjelaskan makhluk termulia.

Penulis sendiri tampak bukan hanya menjadi ‘pengalih-bahasa’, tapi juga bertugas menguji ketajaman Tafsir Nuzuli-Maudhu’i gubahan Darwazah tersebut. Hal itu tampak dalam beberapa analisis yang dilakukannya pada beberapa tema yang bersifat parsial, seperti pada persoalan iklim, kehidupan sosial, nalar, dan keyakinan bangsa Arab. Sebelum menuliskan kesimpulannya, penulis juga “berani” menyisipkan kata pilihannya yaitu “Islam Prinsipil-Makkah” dan “Islam Praksis-Madinah” untuk mengkategorikan periode dakwah Rasulullah saw di Makkah dan Madinah. Pemilihan term ini secara nyata menampakkan kreatifitas penulis dalam menyisipkan gagasannya sendiri ketika mendeskripsikan gagasan Darwazah. Selain itu, komentar kritis dari beberapa pemikir lain seperti Thaha Muhammad Faris juga disertakan dalam pembahasan tentang Darwazah. Ini menunjukkan bahwa penulis juga ingin ‘menguji’ gagasan Darwazah dengan meminjam pendapat tokoh lain, atau bisa jadi penulis ingin menampilkan sebuah dialektika pemikiran antar tokoh. Fakta yang lebih mendukung penilaian bahwa penulis bukan hanya penerjemah adalah adanya refleksi metodologis yang dicantumkannya di bagian akhir buku dengan menyisipkan beberapa kelebihan dari gagasan Darwazah ini secara praktis. Menariknya, refleksi metodologis ini dituliskan oleh Prof. Amin Abdullah, tokoh yang rancangan metodologinya dipinjam penulis ketika meneliti pemikiran Darwazah. Maka dapat dikatakan bahwa buku ini bukan hanya berisi tentang deskripsi atau ringkasan pendapat dari seorang tokoh semata, namun juga menjadi media pelaporan uji coba metodologis atas corak tafsir Nuzuli-Maudhu’i tersebut dari sisi penulisnya.

Memang di bagian akhir terdapat pengakuan bahwa naskah ini hanyalah merupakan laporan deskriptif atas gagasan Darwazah dan memberikan ruang tabarrukan manfaat serta kritik pada pembaca. Namun pada pengakuan itu tampak kegagahan akademik penulisnya dalam mengikuti tradisi akademik yang digelutinya, di samping juga tidak dapat menyembunyikan bahwa dirinya bukanlah pemula dalam bidang Ilmu Tafsir.

 

 

 

 

(Visited 50 times, 1 visits today)

Memoar Konsensus Dasar Negara

1 November 2018

Arkeologi Tasawuf: Cara Membaca Tasawuf Sebagai Ilmu Pengetahuan

1 November 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *