Look Inside

MAKRIFAT PAGI : Percik Embun Spiritualitas di Terik Republik

Saudaraku, marilah menyambut pagi seperti bening embun. Melebur dengan alam, menyegarkannya, dan memuai menembus langit makrifat. Kita pun “bermikraj” menghampiri Tuhan. Sapalah pagi dengan senyuman. Mulai hari dengan nyanyian. Seperti burung, rayakan sinar mentari dengan kicau keriangan.
Tuntunan kejernihan hati bisa kita temukan dari guru-guru kearifan. Seperti tetes-tetes permenungan Makrifat Pagi ini yang banyak menghirup inspirasi dari lirik-lirik puitis Jalaluddin Rumi, Al-Ghazali, Kahlil Gibran, Deepak Chopra, dan sederet ruhaniawan serta guru-guru kemanusiaan lainnya.
Semoga di tengah terik Republik, rongga jiwa kita masih bisa disegarkan percik embun spiritualitas dalam relasi ketuhanan, kemanusiaan, dan kealaman, agar bisa menghikmati setiap dengus napas kehidupan kita secara lebih bermakna, mendekati kebahagiaan terluhur.

Rp79,000.00

Category:

 

(Visited 12 times, 1 visits today)
Bulan Terbit

Maret 2018

Kode buku

Ukuran

13,5 x 20,5 cm

Jumlah halaman

x + 362 = 372 h.

Jenis Kertas Sampul

AC 230 gr

Jenis Kertas Isi

BP 57 gr

ISBN

978-602-441-047-6

Author

Yudi Latif

Publisher

Mizan Wacana

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “MAKRIFAT PAGI : Percik Embun Spiritualitas di Terik Republik”

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editorial Review

Buku sungguh indah dan komposisi kata-katanya, merangsang pemahaman rasional, dan sekaligus menggugah kesadaran spiritual. Dengan membaca buku ini, kita mereguk makrifat kehidupan untuk bekal hidup berbangsa, bernegara, beragama, bahkan bermanusia.
Moh. Mahfud MD
Ketua Mahkamah Konstitusi RI 2008-2013

Buku Makrifat Pagi karya Dr. Yudi Latif ini ibarat secercah embun fajar yang turun ke bumi dan menyejukkan dahaga pemikiran serta spiritual negeri ini. Saya yakin goresan-goresan Makrifat Pagi ini adalah hasil kontemplasi Dr. Yudi Latif dari isyarat tuntunan hadis Nabi Muhammad Saw. yang menyebutkan bahwa dalam sepertiga malam terakhir Allah Swt. “turun” ke langit dunia untuk "menyapa" dan mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya yang bermunajat memohon makrifat dan nikmat pencerahan-Nya. Kontemplasi ini sangat berharga agar dalam mengarungi dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia tercinta, bangsa ini selalu dalam naungan tuntunan Allah Swt. Semoga karya ini menjadi sebuah ikhtiar mewujudkan
kepribadian bangsa Indonesia maju dan berperadaban luhur.
Prof. Dr. K.H. Ma'ruf Amin
Ketua Umum MUI

Menghayati hidup dengan mata batin akan menaruh renungan terhadap peristiwa dan pengalaman manusia dalam hubungannya dengan Sang Pencipta Pemberi anugerah hidup ini. Namun, santapan rohani spiritualitas dalam literasi meminta kesediaan pembaca untuk berdialog batin dari hati ke hati, dari budi ke budi, untuk menangkap makna mendalam dan memaknai bersama penghayatan hidup berbangsa bernegara sebagai sesama saudara setanah air Indonesia dari sumber spiritualitas yang merupakan esensi religi dan kepercayaaan yang bineka demi merajut negara Indonesia yang bersatu, beradab, adil, dan sejahtera, saling menghormati sebagai sesama manusia yang sama-sama merupakan citra Allah dan khaliftullah-Nya di bumi pertiwi Indonesia.
Bila di buku Mata Air Keteladan (2014), Yudi Latif mengajak kita mencontoh teladan dan perilaku para pendiri bangsa untuk mewujudkan yang baik, benar, suci, dan indah dari sila-sila Pancasila secara nyata dipraktikkan, maka di buku Makrifat Pagi ini Yudi Latif mengajak kita memulai hari, menapaki tugas, dan penghayatan kita setiap hari yang disumberkan pada renung syukur atas hidup anugerah-Nya dan butir-butir refleksi spiritualitas perbuatan bajik dan bijak untuk “menjadi Indonesia” sebagai pencintanya dan warganya.
Makrifat Pagi merupakan butir dan percik-percik renung spiritualitas laku hidup dan tindakan seorang warga bangsa di jalan budaya agar spiritualitas menjadi sumber oasis perjalanan peradaban kita agar semakin berkeadaban, berharkat sebagai makhluk citra-Nya karena saling mengasihi dan menghormati sebagai saudara sebangsa.
Makrifat Pagi-nya Yudi Latif merupakan ucapan dan kata selamat pagi yang menjadi “sapa doa” dalam Dia yang sudah menganugerahi kita tanah air Indonesia dari Nusantara majemuk kultural menjadi Indonesia berdaulat, bersatu, bermartabat, adil dan sejahtera.
Selamat pagi, salam takzim, dan sapa doa setiap hari dari Yudi Latif ini adalah ajakan untuk menghayati keseharian dalam berproses menjadi Indonesia sebagai warga bangsa dan warga negara “di sumbernya sumber dan di oasisnya oasis doa dan syukur atas kehidupan, yaitu “spiritualitas”.
Selamat memaknai dan menapaki Indonesia dengan “membacanya dengan mata batin”.
Romo Prof. Dr. Mudji Sutrisno FX SJ
Rohaniawan-budayawan

Bagi yang cukup sering didesak tanda tanya saat mencoba memahami maksud Ilahi, makna sesama, arti negeri, hubungan pemimpin-rakyat, tujuan hidup beradab-adil, seperti yang juga sering muncul di benakku, aku berharap kita dapat membuka dan menyerapi nikmat yang sama seperti yang kudapat dari kumpulan tuturan Yudi Latif dalam Makrifat Pagi ini.
Tanpa terasa ada usaha menggurui, Yudi Latif menggiring daya pikir dan daya rasa kita sebagai pembaca ke titik mafhum atas segala yang terjadi pada segenap cipta-Nya; atas seisi kosmik terutama pada mahluk yang berwujud manusia dengan ulahnya, dari zaman awal sampai kini ....
Dengan pilihan kata yang lembut indah, aura konstruktif pun kita hirup. Benih-benih optimisme pun mulai bergerak di batin kita. Dan keyakinan kita pun mulai menggeliat bahwa ini bisa kita harapkan akan tumbuh di seantero negeri kita bersama. Ya Allah, ya Tuhan kami, terimalah seisi tulisan Yudi Latif ini sebagai doa bangsa kami.
Niniek L. Karim
Dosen, psikolog, dan seniman

Buku ini menunjukkan bahwa Pak Yudi Latif mempunyai wawasan amat luas. Penunjukan beliau sebagai Ketua UKP PIP oleh Presiden membuktikan bahwa beliau adalah pribadi yang berintegritas. Isi buku ini adalah cermin rasa cinta beliau terhadap bangsa dan negara Indonesia. Saya yakin ini semua adalah berkat inspirasi iman yang beliau peluk.
Ignatius Suharyo
Ketua Konferensi Waligereja Indonesia