Back Cover
Look Inside

Dari Membela Tuhan ke Membela Manusia

Di era digital seperti sekarang ini, masyarakat mendapat suguhan beragam berita, termasuk berita kekerasan, baik kekerasan wacana maupun kekerasan fisik. Sasaran kekerasan yang mengatasnamakan agama dan Tuhan pun melibatkan orang-orang non-Muslim atau orang-orang Barat dan orang-orang Islam sendiri yang berbeda keyakinan, aliran, pemikiran, pilihan politik, ideologi, atau kewarganegaraan. Mengapa mereka begitu yakin dan merasa absah melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama dan Tuhan tanpa merasa salah sedikit pun.

Ada yang berpendapat, mereka melegitimasi tindakan kekerasannya itu dengan mengambil contoh peristiwa peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan umat Islam melawan kaum Yahudi di Madinah, dan melawan orang-orang kafir Makkah pada peristiwa Pembebasan Makkah. Peperangan-peperangan yang sebenarnya bersifat sosiologis dan historis itu dijustifikasi secara teologis sebagai jihâd fî sabîlillâh dan kelak mereka dijanjikan masuk surga bagi mereka yang mati syahid.

Mereka meyakini dan merasa absah melakukan tindakan kekerasan dengan mengatasnamakan agama dan Tuhan lebih disebabkan oleh cara mereka “menalar Islam” dan “nalar keislaman yang mengideologi”. Jika “cara menalar Islam” itu sendiri membantu mereka memahami Islam dengan benar, “nalar keislaman yang mengideologi” membuat mereka meyakininya sebagai satu-satunya cara dalam memahami Islam yang paling benar. Sebab, nalar keislaman yang mengideologi pada esensinya memandang sebuah pemikiran sudah “jadi”, tanpa memperhatikan adanya “proses menjadi”. Pemikiran yang sudah jadi itu berarti sudah final dan tidak ada lagi sesudahnya.

Sejalan dengan deskripsi dan hipotesis di atas, tulisan ini bermaksud menyingkap alasan mengapa kelompok-kelompok gerakan Islam tertentu merasa yakin dan absah melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama dan Tuhan.

Rp69,000.00

Category:

 

(Visited 13 times, 1 visits today)
Bulan Terbit

Juni 2018

Kode buku

Ukuran

15,5 x 23,5 cm

Jumlah halaman

xxx + 262 = 292 h.

Jenis Kertas Sampul

AC 230 gram

Jenis Kertas Isi

BP 55 gr

ISBN

978-602-441-067-4

Author

Dr. Aksin Wijaya

Publisher

Mizan Wacana

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Dari Membela Tuhan ke Membela Manusia”

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editorial Review

“Produktivitas dan kualitas tulisan Aksin Wijaya tidak pernah berhenti mengesankan saya. Pemilihan tema yang penting, pemetaan masalah yang jelas serta analisisnya yang tajam menjadi ciri-khas tulisan-tulisannya. Buku ini menelusuri geneologi konflik keagamaan dengan tipologi yang memudahkan kita memahami problem kekerasan atas nama agama dan Tuhan dalam babakan sejarah Islam yang panjang. Karena itu, buku ini perlu dibaca dan layak diperbincangkan secara luas di pasar raya intelektual Indonesia.”
Mun’im Sirry, Ph.D.
Assistant Professor of Theology, University of Notre Dame, USA

“Jika para analis gerakan Islam selalu melihat doktrin jihad sebagai biang keladi munculnya kekerasan yang dilakukan oleh gerakan fundamentalis Islam, Aksin Wijaya justru melihat pada cara mereka menalar Islam dan nalar Islam yang mengideologi. Karya brilian yang mampu menyingkap dimensi tak terkatakan di balik gerakan Islam garis keras.”
Dr. Abdul Mustaqim
Dosen Studi al-Qur’an, Kaprodi IAT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

“Karya yang bernas ini meneguhkan bahwa pemikir agama-agama sejatinya menyerukan kebaikan, cinta kasih, dan kedamaian antara sesama manusia. Karena, esensi ajaran agama adalah nir kekerasan, dan ia hadir untuk melindungi manusia dan kemanusiaan. Karya yang inspiratif dan kaya gagasan ini sejatinya dibaca oleh berbagai kalangan agar dapat memahami betapa agama yang nir kekerasan berbeda dengan pemikiran keagamaan yang terkadang mengabsahkan kekerasan.”
Dr. Muhammad Zain
Kepala Subdit Penelitian Dit. PTKI Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI

“Buku karya Aksin Wijaya ini senapas dengan Naqd al-Khitab al-Dini karya Nashr Hamid Abu Zaid dari Mesir, yakni sama-sama melakukan kritik. Bedanya, kritik Nashr Hamid terfokus pada wacana yang berkembang di Mesir, sedangkan kritik Aksin terfokus pada nalar Islam dari tokoh yang menjadi simbol gerakan Islam fundamentalis yang berkembang di Arab Saudi, India-Pakistan, dan Mesir. Selain sebagai counter wacana, buku ini juga bisa menjadi paradigma Islam alternatif terutama di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).”
Dr. Mahrus eL-Mawa
Kasi Publikasi Ilmiah Dit. PTKI Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI

“The Use and Abuse of Religion. Kapankah kita dianggap telah menyalahgunakan agama? Buku ini paling tidak memberikan jawaban tentang penyalahgunaan agama dalam bentuk ‘agamaisasi kekerasan’, yaitu dengan cara membongkar nalar agama pelakunya. Penulis buku ini menemukan empat kata kunci nalar agama para pelaku kekerasan, yaitu metode berpikir dialektis-dikotomis, nalar Islam teosentris, konsep al-hakimiyyah dan jihâd fî sabîlillâh. Buku ini menambah khazanah tentang kajian radikalisme agama dan kritiknya terhadap metode berpikir para ideologinya.”
Dr. Yusuf Rahman, M.A.
Fakultas Ushuluddin, UIN Jakarta

“Buku ini menunjukkan kedalaman dan keluasan wawasan penulisnya. Aksin Wijaya berhasil menelusuri jejak sejarah agamaisasi kekerasan yang semakin merebak sekarang ini dan memotretnya secara kritis. Tawaran kehidupan harmonis di bab akhir buku ini menunjukkan bagaimana penulis buku ini tidak berhenti pada wilayah teoretis saja, tetapi juga menawarkan solusi.”
Dr. Ngainun Naim
Intelektual Muda dan Dosen IAIN Tulungagung

“Aksin Wijaya berhasil melacak bagaimana kelompok tertentu menjadikan kekerasan sebagai bagian dari agama, baik pada masa lalu maupun sekarang. Para akademisi, kiai, dosen dan mahasiswa selayaknya mengambil hikmah dari karya intelektual asal Madura ini.”
Dr. Hj. Siti Maryam Yusuf, M.Ag.
Rektor IAIN Ponorogo

“Karya Aksin Wijaya ini tidak hanya dilihat sebagai kritik terhadap kelompok tertentu yang terbiasa melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama dan Tuhan, tetapi juga harus dilihat sebagai sebuah karya canggih tentang bagaimana cara menganalisis secara kritis sebuah pemikiran keislaman dan solusi yang ditawarkannya.”
Dr. Agus Purnomo
Wakil Rektor IAIN Ponorogo

“Segala bentuk tindakan dan wacana, lahir dari sistem kesadaran dan konstruksi nalar, tak terkecuali dalam medan (ke)agama(an). Ideologi dari tindakan dan wacana keagamaan bisa didedah bila kita menemukan konstruksi nalar yang dipakai. Aksin Wijaya mengajak kita agar tak terpukau bahkan harus mencurigai wacana-wacana keagamaan yang banyak dijajakan akhir-akhir ini, tetapi dari aspek nalar dan nilai-nilai fundamentalnya jauh dari nalar dan nilai-nilai spirit Islam.”
Dr. Islah Gusmian
Pakar Tafsir Nusantara dan Dosen IAIN Surakarta

“Buku ini tidak hanya memberikan gambaran, tetapi bahkan menghentak kesadaran kita betapa keberagamaan yang suci sangat dipengaruhi oleh cara berpikir manusia yang profan, terbatas, dan penuh kepentingan. Karena itu, penggunaan simbol-simbol agama dalam kekerasan sejatinya adalah pemerkosaan cara berpikir manusia atas kesucian agama itu sendiri.”
Dr. Ach. Maimun, M.Ag.
Dosen Pascasarjana Institut Ilmu Keislaman Annuqayah

“Buku ini merupakan salah satu upaya Aksin Wijaya dalam menyebarkan hasil pembacaan kritisnya atas kekerasan bernuansa agama yang mulai muncul secara liar pasca-era reformasi. Buku ini sungguh membawa pencerahan dalam beragama, yang pantas dibaca oleh para intelektual Muslim Indonesia.”
Dr. Yusdani
Dosen Studi Islam dan Sekretaris Pascasarjana UII, Yogyakarta

“Kekerasan yang mengatasnamakan agama dan Tuhan terus berkembang seiring dengan pemahaman yang dangkal dan tekstualis terhadap teks agama (al-Qur’an dan Hadis) yang sering kali membuat penganutnya merasa benar sendiri dan menuduh salah terhadap yang lain. Aksin Wijaya berhasil mengurai secara kritis fenomena ini, sembari menawarkan pola pemahaman teks agama yang plural sehingga melahirkan model Islam yang toleran dan rahmatan li al-‘âlamîn. Jika terjadi perbedaan pemahaman, maka toleransi dan sikap damai yang sejatinya menjadi pijakan, bukan kekerasan.”
Dr. Muhammad Alfatih Suryadilaga
Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Ketua Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA)

“Jika Anda saat ini sering dibuat bingung dengan pertanyaan ‘mengapa agama yang ke sana-kemari mengkhotbahkan kebaikan dan perdamaian justru menjadi pelaku utama dalam berbagai tindakan kekerasan?’, maka buku yang ditulis oleh Aksin Wijaya adalah sebuah jawaban yang tepat untuk mengurai kebingungan itu. Ada banyak buku yang membicarakan kekerasan agama, terutama Islam, termasuk menjelaskan ajaran keislaman model apa yang menggerakkan pemeluknya untuk sanggup meledakkan bom dan membantai manusia lain, tetapi tidak banyak buku yang berusaha membongkar bagaimana sebuah nalar Islam-kekerasan terbentuk dan dibaku-bekukan. Dengan pendekatan kritik nalar, buku ini terasa luar biasa. Ia tidak hanya menyediakan informasi yang mendalam tentang berbagai tafsir keislaman yang penuh kekerasan, tetapi juga membongkar ideologi dan operasi nalar yang ngendon di belakangnya serta menganalisisnya secara kritis status nilai nalar keislaman yang kaku, intoleran, dan keras tersebut.”
Dr. Ahmad Zainul Hamdi
Kaprodi Studi Agama-agama FUF-UIN Sunan Ampel; Direktur Center for Marginalized Communities Studies (CMARs) Surabaya; Anggota National Board Jaringan GUS DURian Indonesia (JGDI)