Sakralisasi Kemanusiaan, Religionisasi Perdamaian

Membayangkan agama tanpa kekerasan adalah utopia, sebagaimana membayangkan dunia tanpa kekerasan. Bayangkan agama apa pun yang Anda kenal di dunia ini, dan bacalah sejarahnya sejak lahir sampai sekarang, adakah yang terbebas dari kekerasan? Jawabnya adalah: tidak ada. Semua agama bersentuhan dengan kekerasan (Armstrong 2015). Bahkan agama yang mengidealkan keseimbangan kosmis, seperti Buddha (Caldwell 1999; McGuire et al. 1996), atau mengidealkan cinta kasih, seperti Kristen (Niditch 1993; Olyan 2004; Collins, 2003; Sherwood dan Bekkenkamp 2003; Bernat dan Klawans 2007), atau mengidealkan keadilan, seperti Islam (Lloyd 2007; Ahmad 2009; Adonis 2016), semuanya pernah bergelimang dengan darah. Bahkan kekerasan berbasis agama sangat berdarah-darah, karena kekerasan itu dianggap merupakan bagian dari agama. Sejarah dunia telah mencatat bagaimana agama-agama monoteis justru mempunyai sejarah kekerasan yang paling berdarah-darah, dibandingkan dengan sejarah agama-agama non-monoteis. Perang Salib antara Muslim dan Kristen berlangsung dalam jangka waktu yang sangat lama antara abad ke-11 dan ke-13 (1096-1099; 1147-1949; 1187-1192; 1208-1271), dan memakan sangat banyak korban (Tyerman 2006).

Di tengah banyaknya fakta kekerasan keagamaan itu, kita sering mendengar pernyataan bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Begitu pernyataan yang sering kita dengar dari tokoh- tokoh agama dan politik. Pernyataan itu biasanya muncul setelah terjadi kekerasan yang mengatasnamakan agama tertentu. Dengan mengucapkan, “Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan,” kita merasa bahwa ini cukup bisa membantu untuk menjawab pertanyaan mengapa orang beragama melakukan kekerasan. Dengan ini pula kita dapat menenangkan khalayak, dan mencegah kemungkinan labelisasi agama tertentu sebagai agama kekerasan. Orang atau oknum agamalah yang melakukan kekerasan, dan melegitimasi kekerasannya itu dengan agama. Begitu argumentasi itu berlanjut. Orang beragama itu memahami ajaran agama secara keliru sehingga kesimpulan dan perilakunya keliru juga. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar, dan tidak sepenuhnya salah. Sebagaimana di bawah ini, kenyataan sejarah menunjukkan bahwa agama tidak dapat menghindarkan diri dari kekerasan. Namun juga, agama dapat menjadi kekuatan dalam melawan kekerasan dan membangun perdamaian.

Agama dalam Jerat Kekerasan

Agama diciptakan untuk manusia dan kemaslahatannya, bukan untuk Tuhan dan kemaslahatannya. Karena Tuhan memang tidak beragama dan tidak perlu agama. Idealnya agama itu sepenuhnya damai dan tidak mengenal kekerasan. Namun, apakah ada agama yang tanpa kekerasan? Jawabnya, sayangnya, tidak ada. Ada beberapa hal yang menyebabkan agama tak bisa lepas dari kekerasan. Pertama, karena dalam agama ada ajaran tentang pengorbanan. Ajaran ini meniscaya kan adanya pengorbanan untuk membuktikan iman atau cinta kepada Tuhan. Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail (atau Ishak, dalam konteks Kristen) adalah contoh terbaik ajaran tentang pengorbanan itu. Walaupun akhirnya Tuhan mengganti Ismail (Ishak) dengan domba, itu sudah cukup untuk menggambarkan bahwa ada kekerasan yang dianjurkan agama, yang dengan demikian ia menjadi kekerasan yang sakral. Dalam konteks Islam, kisah pengorbanan Ibrahim dan Ismail ini diabadikan dengan hari raya Qurban setiap bulan Dzulhijjah dengan mengorbankan unta, sapi, domba, atau kambing. Mengorbankan hewan merupakan salah satu bentuk kekerasan yang disakralkan. Menurut René Girard (1979), agama adalah suatu cara pengaturan kekerasan sosial dan menciptakan kohesi sosial. Melalui pengorbanan, kekerasan yang mengancam masyarakat secara ritual ditolak keluar, dan tidak mengena kepada anggota masyarakat. Dalam Islam, pengorbanan itu untuk membuktikan cinta dan ketakwaan kepada Allah.

Kedua, agama selalu mengasumsikan logika baik-buruk dan benar-salah, dan menempatkan yang religius sebagai kebaikan dan kebenaran, sedangkan non-religius sebagai keburukan dan kesalahan. Ini terkait dengan kekerasan epistemik di atas, namun dalam kenyataannya menjelma menjadi sistem ortodoksi yang kemudian mengklaim kebenaran pemahaman dan interpretasi mainstream dan menegasikan pemahaman dan interpretasi minoritas. Klaim ini yang mengakibatkan munculnya sekte-sekte dan lembaga fatwa yang menilai keagamaan kelompok di luar mereka sebagai menyimpang dan sesat. Fatwa semacam ini tidak jarang berlanjut pada kekerasan fisik yang mengancam jiwa seseorang atau kelompok orang, dan struktural, jika diadopsi oleh penentu kebijakan.

Ketiga, dakwah, misi, dan ekspansi agama tidak jarang dilakukan dengan cara kekerasan. Ketika Hindu dan Buddha menjadi agama negara di sejumlah negara di Asia, ia menjadi tidak lepas dari kekerasan dalam penyebaran agamanya. Ketika Kristen diadopsi menjadi agama negara Romawi/Bizantium, ekspansi agama pun menjadi sejalan dengan ekspansi negara, dan ekspansi negara dapat dimotivasi oleh keinginan menyebarkan agama ke wilayah-wilayah lain. Ekspansi Kristen, baik Katolik maupun Protestan, berkembang sejalan dengan kolonialisme yang terjadi antara abad ke-18 hingga awal abad ke-20, termasuk ke Indonesia. Islam pun bukan perkecualian. Dalam waktu 30-an tahun kekuasaan Khulafa’ Rasyidun (empat kekhalifahan pertama) semenanjung Arabia, sebagian wilayah Persia dan Afrika Utara sudah ditaklukkan. Ekspansi Islam ke Indonesia dikatakan berlaku secara damai melalui jalur perdagangan dan sufisme. Namun, tak dapat diingkari fakta-fakta peperangan internal di Nusantara dalam upaya ekspansi Islam itu. (Houtart 2002: 11-3).

Keempat, kitab suci terkadang mengandung juga pernyataan yang secara eksplisit atau implisit dapat dipahami sebagai membolehkan, menganjurkan, bahkan mewajibkan kekerasan. Kekerasan ini bisa terkait dengan hukuman keagamaan, mempertahankan diri, jihad, dan bisa pula terkait dengan orang atau kelompok tertentu yang berbeda dan berseberangan dengan agama itu, atau menolak atau menentang- nya.

Kelima, hampir selalu ada individu dan kelompok dalam agama yang berpaham radikal yang memperkenankan penggunaan ke kerasan dalam keberagamaan mereka (hampir) di masing-masing agama. Penganut agama yang radikal ini biasanya jumlahnya tidak banyak, namun dapat menguasai wacana karena kegaduhan dan ulah mereka. Kaum teroris adalah kaum yang bukan hanya radikal dalam pikiran (kekerasan epistemik), namun juga dalam perkataan, gestur, dan tindakan. Biasanya mereka menjadikan agama sebagai justifikasi kekerasan mereka.

Hal di atas menunjukkan bahwa secara historis dan empiris, agama tidak terlepas dari jebakan kekerasan, baik ringan maupun berat.

Sakralisasi Dehumanisasi: Religionisasi Kekerasan

Interpretasi dan pemahaman yang dikembangkan berdasarkan kitab suci dan teks-teks keagamaan melahirkan teologi. Kita mengenal teologi sistematis, seperti Asy’ariyah, Maturidiyah, Muktazilah, Kharijiyah, atau teologi sosial, teologi pembangunan, teologi pembebasan, dan teologi anti-korupsi. Namun, hasil interpretasi kitab suci dan teks-teks keagamaan itu dapat pula melahirkan teologi negatif, seperti teologi kekerasan. Teologi kekerasan adalah pemikiran keagamaan yang menjustifikasi kekerasan terhadap manusia lain—atau terhadap makhluk hidup lain dan alam—yang menyebabkan kekerasan itu menjadi sakral karena menjadi bagian dari agama. Di sini kita lebih berbicara tentang teologi kekerasan kemanusiaan.

Teologi kekerasan adalah sakralisasi kekerasan secara religius. Teologi kekerasan melahirkan religionisasi kekerasan. Dengan legitimasi agama, kekerasan seakan-akan menjadi sah, dan dalam hal tertentu bahkan menjadi kewajiban. Artinya, kekerasan menjadi perilaku yang sakral secara religius. Orang yang melakukannya tidak lagi merasa berdosa, dan bahkan senang serta bangga melakukannya. Orang itu justru heran jika banyak orang beriman tidak melakukan “kewajiban” kekerasan itu. Di matanya, orang-orang yang mengaku beriman tetapi tidak melakukan kewajiban itu levelnya setara dengan pendosa, munafik, atau fasik. Dia yakin apa yang dilakukannya berpahala, bahkan dalam konteks bom bunuh diri, itu dianggapnya sebagai ritual pernikahan dengan sekian bidadari di surga. Dia tidak melihat lagi bagaimana hukum bunuh diri dalam Islam, yakni dijebloskan ke dalam neraka. Dengan logika teologi kekerasan, hukum itu berubah menjadi wajib bunuh diri untuk mendapatkan pahala di surga dan dinikahkan dengan bidadari.

Inti dari teologi kekerasan kemanusiaan adalah “dehumanisasi”,yakni meletakkan manusia bukan sebagai manusia, tetapi sebagai hewan, tumbuhan, objek benda, atau setan, dan itu menurutnya sah secara agama. Dehumanisasi mengalami sakralisasi, karena ia dianggap bagian dari agama. Sering kita dengar penceramah menyebut orang-orang yang mereka anggap sesat, fasik, murtad, dan kafir, atau yang beda pemikiran, sebagai hewan (anjing, celeng, babi, cebong, dan sebagainya), atau yang lebih rendah (seperti tai kucing, iblis, dan setan). Dengan menyebut seseorang anjing, misalnya, dia melakukan dehumanisasi orang itu setara dengan hewan. Dengan menurunkan derajat manusia menjadi hewan, dia merasa mempunyai kebebasan untuk melakukan kekerasan terhadapnya. Mungkin ada yang mengucapkannya hanya sebagai ungkapan emosional, namun ada pula yang memang mempunyai alasan teologis. Yang terakhir ini membangun argumennya dengan mendasarkan diri pada al-Qur’an:

“Dan sungguh akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak di- gunakan untuk memahami (Kebenaran), dan mereka mempu- nyai mata, tapi tidak digunakan untuk melihat (Kebenaran), dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengar (Kebenaran). Mereka seperti hewan (an’âm), bah- kan lebih sesat (adhall). Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS al-A‘raf [7]:179)

“Apakah kamu menganggap bahwa sebagian besar dari mereka mendengarkan atau menggunakan akalnya; bukanlah mereka kecuali seperti hewan (an’am), bahkan mereka lebih sesat jalannya (adhallu sabīlā).” (QS al-Furqân [25]:44)

Dua ayat ini dijadikan legitimasi kebolehan untuk menghina atau merendahkan manusia lain yang tidak sepaham dengan mereka dengan segala macam nama hewan dan bahkan yang lebih rendah dari itu, dengan alasan “mereka seperti hewan (an’âm), bahkan lebih sesat (adhall)” atau “mereka lebih sesat jalannya (adhallu sabîla)”. Mereka beranggapan bahwa jika Allah menyebut demikian, maka mereka juga berhak melakukan hal yang sama. Mereka menyamakan hak Allah dengan hak mereka. Mereka tidak mempertimbangkan, misalnya, bahwa asumsi keagamaan dan penafsiran mereka menurut Allah ternyata salah, dan asumsi dan penafsiran orang lain benar. Dengan melakukan dehumanisasi itu, mereka merasa mempunyai hak untuk melakukan hate speech, memaki, meneror, melukai dan bahkan membunuh, karena sang liyan bukanlah manusia, tetapi hewan atau bahkan benda.

Takfir atau pengafiran terhadap Muslim lain sudah lazim diucapkan khatib-khatib dan dai-dai, di pengajian-pengajian, dan bahkan di televisi dan media sosial. Pada masa awal Islam, kelompok yang pertama kali gemar mengafirkan Muslim lain adalah Khawarij. Mereka sebelumnya adalah para pendukung Khalifah Ali, karramallāhu wajhah, yang kemudian membelot setelah beliau menerima tahkīm (arbitrase) Mu’awiyah. Menurut mereka, menerima tahkim Mu’awiyah yang memberontak terhadap pemerintah yang sah itu bertentangan dengan hukum Allah. Oleh karena itu, mereka menganggap bahwa Ali, Mu’awiyah, dan Abu Musa al-Asy’ari (sang arbitrator) adalah kafir, sehingga darahnya halal. Mereka berupaya membunuh ketiga sahabat itu, namun hanya berhasil membunuh Ali. Khawarij ini lalu berkembang dan bercabang-cabang, dari yang moderat hingga yang radikal. Yang radikal ini dengan mudah menjatuhkan hukum kafir kepada sesama Muslim, dan dengan mudahnya mereka mengalirkan darah. Perhatikan bagaimana perilaku kaum Khawarij ini:

“Mereka biasanya keluar dari rumah dengan membawa pedang ke pasar. Saat orang-orang yang tak berdosa berkumpul tanpa menyadarinya, mereka tiba-tiba berteriak, ‘Lā hukma illā lillāh’ (tiada hukum kecuali milik Allah) dan mereka mengayunkan pedang kepada siapa saja yang ada di depannya, dan mereka membunuh, sampai mereka pada akhirnya terbunuh. Masyara kat selalu hidup dalam ketakutan terhadap mereka.” (al-Malati, al-Tanbīh, 51 dikutip dalam Izutsu 1965: 7).

Pada masa sekarang, ada juga kelompok yang mewarisi cara berpikir mereka dan dengan sangat mudah mengafirkan sesama Muslim dan melakukan teror serta pembunuhan. Rata-rata mereka menolak disebut Khawarij, namun cara berpikir dan berperilaku mereka seperti Khawarij. Mereka sejatinya adalah neo-Khawarij par excellence. Penggambaran Khawarij di atas persis dengan gambaran kaum teroris. Silakan ganti kata “pedang” dengan “bom”.

Takfir adalah “de-iman-isasi”, menganggap iman telah hilang dari seseorang, dan yang tinggal adalah kekufuran. Ini merupakan cara untuk menghalalkan darah Muslim. Selama ia Muslim, maka haram darahnya ditumpahkan oleh seorang Muslim lain. Satu-satunya cara agar dapat menghalalkan darah seorang Muslim, menurut logika takfiri, adalah dengan mengeluarkannya dari keimanan Islam, sehingga ia menjadi murtad dan kafir. Oleh karena itulah mereka membuat kriteria yang seakan-akan mereka turunkan dari al-Qur’an dan Sunnah, dan itu mereka gunakan untuk menghukumi iman Muslim lain. Setelah hukum kafir mereka tetapkan kepada seseorang, maka tahap selanjutnya adalah menghalalkan darahnya. De-iman-isasi sebenarnya adalah juga “dehumanisasi”. Orang yang hilang imannya dianggap jatuh martabatnya menjadi non-human, bukan manusia lagi, setaraf dengan hewan, benda, atau bahkan iblis dan setan, yang dengan demikian menjadi bebas diperlakukan seperti apa pun, karena mereka bukan lagi manusia. Oleh karena itu, sakralisasi dehumanisasi sangatlah berbahaya, karena mengancam kehidupan manusia.

Sakralisasi Kemanusiaan: Religionisasi Perdamaian

Perdamaian adalah prinsip keagamaan Islam, dan inti dari perdamaian adalah humanisasi, yakni memandang dan memperlakukan manusia sebagai manusia. Oleh karena itu, pada dasarnya perdamaian adalah sakral, dan sudah seharusnyalah disakralkan. Dari sinilah dirumuskan teologi perdamaian yang berakar pada salah satu asma Allah, al-Salâm (Mahadamai). Kata salâm (damai dalam makna aktif- positif) adalah satu akar kata dengan Islâm (penyerahan diri [pada kehendak Allah]) dan silm (perdamaian dalam makna tidak ada konflik). Salâm ada dalam doa yang diajarkan Nabi Muhammad Saw.:

Allāhumma antas-salām, wa minkas-salām, wa ilaika ya’udus- salâm, fahayyinâ rabbanâ bis-salâm, waadkhilnal-jannatadâras- salâm, tabarakta rabbanâ wa ta’âlaita, ya dzal-jalāli wal-ikrām. Ya Allah, Engkaulah Sang Mahadamai, dari-Mu perdamaian, kepada-Mu kami memohonkan perdamaian, hidupkanlah kami dengan kedamaian, masukkanlah kami ke negeri damai (surga), terpujilah Engkau, Tuhan kami yang Mahatinggi, wahai Pemilik kebesaran dan kemuliaan (HR. Bukhari dan Muslim).

Prinsip bahwa Allah adalah Mahadamai dan dari-Nya perdamaian mengajarkan bahwa secara hermeneutis penafsiran harus mengutamakan dan melahirkan perdamaian. Demikian juga implementasi dari interpretasi itu haruslah mengutamakan dan menciptakan damai di bumi. Logos yang damai melahirkan interpretasi yang damai, yang pada gilirannya mewujud dalam tindakan damai.

Perdamaian ini tidak dapat diupayakan tanpa kasih sayang. Ini sejalan dengan asma Allah yang mulia lainnya, al-Rahmān (Maha Pengasih) dan al-Rahīm (Maha Penyayang) dan risalah Rasulullah sebagai risalah rahmatan li al-’alamîn (kasih sayang bagi semesta). Setiap akan melakukan perbuatan baik, Muslim disunnahkan mengucapkan Bismillāhi al-Rahmāni al-Rāhim (dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang) agar perbuatan baik kita itu didasarkan atas kasih sayang, bukan karena keterpaksaan, apalagi kebencian. Allah juga mengatakan bahwa, “kasih-sayang-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS al-A’raf [7]:156) dan betapapun Dia marah, kasih sayang-Nya tetaplah lebih diutamakan, “Kasih sayang-Ku mendahului murka-Ku.” (HR. Bukhari, Ibn Majah, Ahmad). Banyak hadis tentang kasih-sayang ini, misalnya: “Kasihilah mereka yang ada di bumi, maka akan mengasihi kalian siapa saja yang ada di langit.” (HR. Thabrani). Dan bahkan Rasulullah mengancam, “Tidaklah masuk surga orang yang memutus tali kasih-sayang (silaturahim).” (HR. Muslim).

Selain bahwa perdamaian didasari oleh kasih-sayang, ia juga harus didasarkan atas perspektif bahwa semua manusia haruslah dipandang pertama dan utamanya sebagai manusia, dan bahwa manusia itu mulia, karena manusia dimuliakan oleh Allah sebagaimana dikatakan-Nya, walaqad karramnā Banī Ādam (dan benar-benar telah Kami muliakan anak cucu Adam) (QS al-Isrâ’ [17]: 70). Oleh karena itu, hidup manusia juga mulia, karena di samping unsur tanah, dirinya juga mengandung unsur dari ruh Ilahi, wa nafakhtu fīhi min rūhī (dan Aku tiupkan di dalamnya (unsur) dari ruh-Ku) (QS al-Hijr [15]:29). Membunuh satu jiwa manusia setara dengan jiwa seluruh manusia, dan menyelamatkan satu jiwa manusia setara dengan menyelamatkan jiwa seluruh manusia (QS al-Mâ’idah [5]: 32). Kekerasan terhadap seorang manusia adalah kekerasan terhadap seluruh manusia.

Karya Aksin Wijaya ini menyadarkan kita akan niscayanya memandang manusia sebagai manusia yang bermartabat kemuliaan (karāmah al-insân) dan bahwa agamaisasi kekerasan tidak boleh terjadi, dan harus ditolak mentah-mentah, karena bertentangan dengan prinsip Islam sebagai agama salâm (damai) dan rahmat bagi semesta (rahmatan li al-‘ālamīn). Dia juga menggugah kita bahwa religionisasi perdamaianlah yang niscaya kita bangun dan kembangkan dalam kesadaran, tindakan, struktur, dan sistem sosial kita. Tanpa itu, yang terjadi adalah sakralisasi dehumanisasi, akar dari segala bentuk ke- kerasan kemanusiaan. Ala kulli hâl, perdamaian adalah bagian dari iman yang mesti kita perjuangkan dan ejawantahkan dalam kenyataan sehari-hari di mana pun dan kapan pun. Perdamaian harus mewujud dari fides ke praxis, dari iman ke amal saleh. Semoga.[Moch. Nur Ichwan, Ph. D]

 

*Naskah ini adalah kata pengantar dalam buku Dari Membela Tuhan Ke Membela Manusia: Kritik Atas Nalar Agamaisasi Kekerasan

 

DAFTAR PUSTAKA

Adonis (2016), Violence and Islam: Conversations with Houria Abdel- ouahed, Malden, MA: Polity.

Ahmad, Ahmad Atif (2009), Islam, Modernity, Violence, and Every day Life, New York: Palgrave Macmillan.

Armstrong, Karen (2015), Fields of Blood: Religion and the History of Violence, Anchor.

Bernat, David A. dan Jonathan Klawans, eds. (2007). Religion and Vio- lence: The Biblical Heritage, Recent Research in Biblical Studies 2; Sheffield: Sheffield Phoenix Press.

Caldwell, Sara (1999), Oh Terrifying Mother: Sexuality, Violence and Worship of the Goddess Kali. Oxford: Oxford University Press.

Collins, John J. (2003). “The Zeal of Phinehas: The Bible and the Legiti- mation of Violence,” JBL 122 : 3–21.

Esack, Farid (2000). Al-Qur’an, Liberalisme, Pluralisme: Membebaskan yang Tertindas, terj. Watung A Budiman, Bandung: Mizan.

Houtart, Francois (2002), “Kultus Kekerasan Atas Nama Agama,” dalam Thomas Santoso, Kekerasan Agama Tanpa Agama, Jakarta: Pustaka Utan Kayu.

Izutsu, Toshihiko (1965). The Concept of Belief in Islamic Theology, Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, Keio University.

Girard, René (1979). Violence and the Sacred, W.W. Norton & Co. Lloyd, Steffen (2007), Holy War, Just War: Exploring the Moral Meaning of Religious Violence, Rowman & Littlefield.

McGuire, John Reeves, Peter Brasted, Howard, eds. (1996). Politics of Violence from Ayodhya to Behrampada. New Delhi: Sage Publica- tions.

Niditch, Susan (1993). War in the Hebrew Bible: A Study in the Ethics of Violence, New York: Oxford University Press.

al-Razi, Abu al-Hasan Sayyed Muhammad (1979). Peak of Eloquence, Nahj al-Balaghah, terj. Askari Jafery. Bombay: Islamic Seminary for World Shia Muslim Organization.

Saul M. Olyan (2004). ‘Theorizing Violence in Biblical Ritual Contexts: The Case of Mourning Rites’, Saul M. Olyan, Biblical Mourning: Ritual and Social Dimensions, Oxford: Oxford University Press.

Sherwood, Yvonne dan Jonneke Bekkenkamp, eds. (2003). Sanctified Aggression: Legacies of Biblical and Post-biblical Vocabularies of Violence, New York: T&T Clark.

Tyerman, Christopher (2006), God’s War: A New History of the Cru- sades, Cambridge: Belknap Press of Harvard University Press.

 

(Visited 149 times, 1 visits today)

Neomodernisme Islam

22 September 2018

Negara Islam: Sebuah Gagasan Keagamaan Dalam Sejarah Politik

22 September 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *