Jati Diri Perempuan dalam Islam; Sebuah Pengantar

Buku “Jati Diri Perempuan Dalam Islam” memberikan pengetahuan kepada kita sebuah cara pandangan keagamaan masyarakat Islam terhadap perempuan. Di dalamnya kita melihat pergulatan-pergulatan pemikiran antara konservatisme dan progresifisme, sebuah dialektika yang menarik dan menukik.

Pandangan keagamaan mainstream memaknai perempuan sebagai obyek seksual bagi kaum laki-laki. Perempuan dipandang seakan-akan hanya sebagai seonggok tubuh indah dan penuh pesona yang sepenuhnya diciptakan Tuhan untuk menjadi tempat bagi kesenangan libido laki-laki dan tidak sebaliknya. Tubuh perempuan adalah “mata’ al-hayah”, kesenangan hidup.

Cara pandang seperti di atas berawal dari sebuah ideologi maskulinisme atau lebih sering disebut patriarkisme. Ia adalah sebuah keyakinan bahwa dunia diciptakan Tuhan dalam oposisi “binner” menurut pola hirarkis. Laki-laki superior/unggul, perempuan inferior/lemah; laki-laki menguasai, perempuan dikuasai ; laki-laki memimpin/mengatur, perempuan dipimpin/diatur ; laki-laki mendidik, perempuan dididik; laki-laki pemilik tubuh perempuan dan perempuan tidak memiliki tubuh laki-laki, dan seterusnya.

Cara pandangan seperti ini dalam waktu yang sama menunjukkan bahwa perempuan adalah makhluk yang tak memiliki tubuhnya sendiri. Dalam berbagai literature klasik maupun kontemporer, cara pandang di atas muncul dalam banyak kasus, jika tidak dalam semua kasus. Sejak seorang perempuan lahir ke bumi sampai kembali kepada Tuhan, dia tak memiliki tubuhnya sendiri. Sepanjang hidup perempuan ditentukan dan diarahkan bukan oleh dirinya sendiri, tetapi oleh orang lain, berjenis kelamin laki-laki.

Saya selalu senang mengutip puisi Toto Sudarto Bachtiar yang menggambarkan realitas ini. Puisi itu berjudul: “Dunia Bukan Miliknya”:

Inilah gairah seorang perempuan
Pada masanya tumbuh besar dan berkembang
Bicaranya penuh ragam mimpi surga
Sebab tiada dirasa, dunia ini bukan miliknya

Bila sebuah tirai turun bagi kebebasannya
Mengikat dalam segala perbuatan
Ia tegak dan mengangkat tangan
Sebab tiada dirasa, dunia ini bukan miliknya

Demikian perempuan sepanjang umur
Mimpinya sedalam laut
Harapan yang manis akan segala kebebasan hati
Hingga suatu kali benar dirasanya
Dunia ini bukan miliknya!

Pengantar Buku Jati Diri Perempuan dalam Islam.

Buku “Jati Diri Perempuan Dalam Islam” ini sangat bagus dan seyogyanya dibaca dengan penuh minat oleh para aktifis perempuan Islam, para intelektual muslim dan para ulama perempuan/perempuan ulama. Saya mengendors : “Buku ini memberikan pijakan intelektual yang cerdas, kritikal dan luas bagi kehendak mewujudkan cita-cita kesetaraan gender yang ingin membangun relasi yang adil, saling berbagi kasih sayang dan kebahagiaan”. Saya sesungguhnya ingin juga mengatakan bahwa buku ini berisi pikiran-pikiran cerdas yang hendak membongkar habis akar-akar dan basis-basis epistemologis- teologis Islam yang menyebabkan perempuan tersubordinasi, terdiskriminasi, termarjinalkan dan multiburden (beban berganda2) sepanjang hidupnya.

Hal paling menarik dari karya ini yg membedakannya dari karya lain adalah bahwa kritisisme dan analisis atas obyek kajian didasarkan pada dua pendekatan, filsafat dan tasawuf, bukan fiqh.

Dr. Etin Anwar, sahabat baik saya, penulis buku ini, telah melakukan serangkaian penelitian serius dan mendalam atas isu-isu perempuan dalam konteks dunia Islam. Dalam pandangannya dunia Islam pasca Nabi sampai hari ini masih terus memperlakukan perempuan sebagai ciptaan Tuhan kelas dua dan termarginalisasi dari dan dalam seluruh ruang kehidupannya, domestik maupun publik. Ia bahkan mengatakan : “perempuan tak punya otoritas atas tubuhnya sendiri dalam sistem kehidupan ini. Kondisi ini berlangsung sepanjang sejarah peradaban Islam”.

Perspektif patriarkhisme di atas sesungguhnya bukan hanya khas Islam, tetapi telah muncul dalam semua peradaban manusia beratus abad sebelumnya di berbagai belahan dunia. Ia diikuti dan dipertahankan mati-matian oleh para ahli agama, para filsuf, antara lain Aristoteles dan Ibnu Sina, para pemikir dan tokoh-tokoh besar lainnya. Aristo, filsuf terbesar sepanjang masa, mengatakan “laki-laki lebih unggul dari perempuan secara hakikat”.

Cara pandang diskriminatif . juga dianut oleh banyak sekali Negara. Bukan hanya Negara-negara Islam, melainkan juga di berbagai Negara non Islam atau secular. Ia dikonstruksikan dalam kebijakan public dan politik, melalui segala aturan hukum atau perundang-undangan dan peraturan-peraturan daerah.

Dari manakah asal usul atau sumber dari cara pandang ini?. Etin melalui buku ini mencoba melacak sumber-sumber teologis patriarkisme ini dari sudut ajaran atau pandangan agama Islam. Pertama dan yang utama, menurutnya adalah sumber mitologi tentang penciptaan manusia. Konon, manusia pertama adalah Adam, kemudian darinya lahir Hawa, bukan sebaliknya. Hawa tercipta untuk membantunya. Adam unggul secara social dan moral. Secara social ia adalah penguasa. Secara moral Adam lebih unggul karena Hawa lebih dahulu menggodanya sehingga Adam jatuh tersungkur. Tuhan mengutuk Hawa dan memerintahkannya untuk patuh kepada Adam dan kemudian memarahi Adam, karena mendengarkan Hawa. Kisah ini secara terang benderang melegitimasi patriarkhisme, bahkan melegitimasi misoginisme, atau kebencian kepada perempuan, mengunggulkan dominasi laki-laki dan mewajibkan perempuan untuk taat sepenuhnya kepada laki-laki. Kisah mitologi kosmologis ini disebutkan pada awalnya dalam Bible. Tetapi juga ditulis dalam tafsir Al-Qur’an.

Pandangan seperti ini dengan sendirinya telah menafikan jiwa, pikiran dan energy perempuan. Mereka telah kehilangan pengetahuan yang cukup bahwa dalam tubuh perempuan sesungguhnya tersimpan seluruh potensi besar kemanusiaan, layaknya manusia berjenis kelamin laki-laki, tak berkurang dan tak berlebih. Perempuan memiliki otak dan hati nurani dengan tingkat kecerdasan dan kepekaan yang relative setara dengan laki-laki. Energi fisik perempuan juga sesungguhnya tak lebih lemah atau lebih kuat dari energy fisik laki-laki. Ia relative saja. Fakta-fakta dalam dunia pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, profesi, budaya, dunia olah raga, dunia spiritual dan peradaban manusia sesungguhnya juga memperlihatkan realitas yang relative tersebut. (KH. Husein Muhammad)

(Visited 11 times, 1 visits today)

Aku dan Islamku

31 July 2018

Ada Iqbal Di Balik Kepala Haidar Bagir : Seri I wawancara dengan Dr. Haidar Bagir

31 July 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *