Ibn Arabi: Antara Pemuja dan Penghujatnya

“… Aku Juga Tahu, Bahwa Allah Niscaya Akan Mengujiku Dengan Ucapan Dari Orang-Orang Yang Menyerang Kehormatanku, Sehingga Aku Mampu Memperlakukan Mereka Dengan Kelembutan Hati” (Ibn ‘Arabi)

 

Tak sepenuhnya keliru bila dikatakan bahwa tak ada tokoh dalam sejarah Islam yang se-kontroversial Ibn ‘Arabi. Syaikh Akbar adalah titik yang melahirkan polaritas dengan dua kutub besar yang berseberangan: satu kelompok menempatkannya sebagai wali agung, bahkan penutup wali-khusus; sementara kelompok lain memandangnya telah kafir dan keluar dari agama, bahkan puncak kekafiran itu sendiri. Ibn ‘Arabi memiliki daya tarik, sekaligus daya tolak, yang tak dimiliki oleh tokoh-tokoh Muslim selebihnya. Ia adalah, meminjam ungkapan Michel Chodkiewicz, “lautan tiada bertepi”.[1]

Sebelum itu, perlu diungkapkan di sini bahwa di antara yang paling terkenal dalam mempromosikan kekafiran Ibn ‘Arabi adalah Ahmad bin ‘Abdul Halim bin Taimiyah Al-Harrani (w. 728), yang tenar dengan nama “Ibn Taimiyah”. Bahkan, bersamaan dengan lahirnya gerakan dan paham literalis-takfiri modern, tampak betapa nama Ibn Taimiyah seolah menenggelamkan nama-nama lain di barisan para penentang Ibn ‘Arabi. Melihat temperamen Ibn Taimiyah, tidak megejutkan bila kita dapati ia menyebut Ibn ‘Arabi sebagai “Imam Kesesatan”, “Ateis”, “Zindiq”, dan sebagainya. Bahkan, mengomentari kitab Fushush al-Hikam, Ibn Taimiyah berkata: “Pernyataan yang termuat di dalam kitab Fushush al-Hikam, atau yang serupa, adalah kekafiran baik secara batiniah maupun lahiriah; dan (makna) batiniahnya jauh lebih keji dibanding (ungkapan) lahiriahnya…” (Al-Fatawa, II: 364). Bahkan, dalam menjawab pertanyaan ‘Abdul Lathif Al-Su’udi (w. 736) tentang pandangan-pandangan Ibn ‘Arabi, Ibn Taimiyah menerbitkan fatwa bahwa: “Ia adalah kekafiran yang tidak diperselisihkan lagi di antara penganut agama-agama, baik kaum Muslimin, Yahudi, dan Kristen. Lebih-lebih, jelas kafir di mata syariat Islam”.[2]

Nama lain yang patut disebut di sini adalah Burhanuddin Ibrahim bin ‘Umar Al-Biqa’i (w. 885), yang di kemudian hari karyanya–Tanbih al-Ghabi ila Takfir Ibn ‘Arabi[3]–seolah menjadi buku wajib sebagai basis pengkafiran atas Ibn ‘Arabi. Berikutnya adalah Al-Hafizh Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-Sakhawi (w. 906), yang menulis Al-Qaul al-Munbi ‘an Tarjamah Ibn ‘Arabi[4]; yang boleh jadi merupakan satu-satunya karya terluas dan paling komprehensif dalam menentang Ibn ‘Arabi. Meskipun Al-Sakhawi adalah rival Al-Biqa’i, namun dalam konteks menentang Ibn ‘Arabi, keduanya berada dalam satu barisan.

Sejalan dengan Ibn Taimiyah, Al-Biqa’i menilai Ibn ‘Arabi telah kafir. Menurutnya, kekafiran Ibn ‘Arabi di dalam kitab Fushush al-Hikam jauh lebih tegas dibanding dalam karya-karya lainnya.[5] Demikian pula dengan Al-Sakhawi. Menurutnya, kekafiran Ibn ‘Arabi adalah kesepakatan para ulama. Bahkan, ia mengaku tak menjumpai seorang ulama pun yang kredibel kecuali menyatakan demikian. Meyakini sisi lahiriah ungkapan-ungkapan Ibn ‘Arabi adalah kafir, dan menakwilkannya adalah pilihan yang keliru.[6]

Al-Sakhawi juga melaporkan, bahwa karya Ibn ‘Arabi Fushush al-Hikam dan Al-Futuhat Al-Makkiyyah, selalu terkucilkan dan dihindari, disembunyikan dan dirahasiakan. Tak seorang pun berani mengeksposnya. Imam Ibn al-Muqri’, Isma’il bin Abi Bakr Al-Yamani (w. 837) berkata: “Ia (karya-karya Ibn ‘Arabi) tidak muncul di dunia Islam”. Demikian juga dengan Al-Qadhi Badruddin Al-Maliki (w. 789) dan Syaikh Shalih Zainuddin (w. 818) berkata: “Karya-karya Ibn ‘Arabi tidak ada di Mesir dan Alexandria, dan tak seorang pun mampu menampakkannya. Kapan pun dijumpai buku Ibn ‘Arabi pada seseorang, akan dirampas, dibakar, dan ia akan didera hukuman. Jika ia percaya kebenarannya, akan dibunuh.”[7]

Tidak berbeda dari para pendahulunya, pihak-pihak yang anti terhadap Ibn ‘Arabi di dunia kontemporer ini tidak beranjak dari sikap yang sama. Bagi mereka, kekafiran Ibn ‘Arabi tampaknya adalah sebuah postulat yang niscaya benarnya, seperti ditunjukkan oleh sikap Al-Albani,[8] Abdurra’uf ‘Utsman,[9] Dagasy,[10] ‘Abdurrahman Al-Wakil–penyunting karya Al-Biqa’i–dan yang lain.

Bagaimana kenyataannya?

Betapa pun sering dibesar-besarkan, pengkafiran Ibn ‘Arabi sama sekali bukanlah sikap mainstream ulama Islam. Tidaklah benar pernyataan bahwa karya-karya Ibn ‘Arabi tidak diterima dan tidak tersebar di dunia Islam. Fakta historis justru menunjukkan sebaliknya: karya-karya Ibn ‘Arabi dipelajari oleh berbagai tokoh lintas mazhab dan tersebar luas mulai dari ujung Barat hingga Timur, melintasi negeri-negeri di antara keduanya, bahkan pengaruhnya di Islam awal di Nusantara begitu kuat, dengan kuantitas yang sama sekali tak dapat dibandingkan dengan karya-karya penentangnya.

Tulisan ini akan menyajikan tilikan kronologis untuk melihat pengaruh Ibn ‘Arabi dalam abad-abad sepeninggalnya, tak lain kecuali dengan menjajaki karya-karya yang ditulis tentangnya, baik oleh yang pro maupun kontra, dan bukan sekadar fatwa lepas maupun ungkapan-ungkapan yang mencibirnya. Dari situ, diharapkan kita–terutama bagi yang tak cukup tahu mengenai Ibn ‘Arabi–dapat mengambil sikap yang proporsional dan adil.[11]

 

Bagaimana kenyataannya?

Betapa pun sering dibesar-besarkan, pengkafiran Ibn ‘Arabi sama sekali bukanlah sikap mainstream ulama Islam. Tidaklah benar pernyataan bahwa karya-karya Ibn ‘Arabi tidak diterima dan tidak tersebar di dunia Islam. Fakta historis justru menunjukkan sebaliknya: karya-karya Ibn ‘Arabi dipelajari oleh berbagai tokoh lintas mazhab dan tersebar luas mulai dari ujung Barat hingga Timur, melintasi negeri-negeri di antara keduanya, bahkan pengaruhnya di Islam awal di Nusantara begitu kuat, dengan kuantitas yang sama sekali tak dapat dibandingkan dengan karya-karya penentangnya.

Tulisan ini akan menyajikan tilikan kronologis untuk melihat pengaruh Ibn ‘Arabi dalam abad-abad sepeninggalnya, tak lain kecuali dengan menjajaki karya-karya yang ditulis tentangnya, baik oleh yang pro maupun kontra, dan bukan sekadar fatwa lepas maupun ungkapan-ungkapan yang mencibirnya. Dari situ, diharapkan kita–terutama bagi yang tak cukup tahu mengenai Ibn ‘Arabi–dapat mengambil sikap yang proporsional dan adil.[11]

Abad Ke-7

Di masa ini, setidaknya ditulis sebelas buku yang kesemuanya merupakan elaborasi atau syarah atas pikiran dan tulisan-tulisan Syaikh Akbar. Tujuh dari buku-buku ini ditulis oleh dua orang murid Syaikh Akbar, yaitu Isma’il bin Saudakin (w. 646) dari Tunisia, bermazhab Hanafi;[12] dan Shadruddin Al-Qunawi (w. 673) dari Anatolia, bermazhab Syafi’i.[13] Empat selebihnya adalah karya Sulaiman bin Ali Al-Tilimsani (w. 690) dariAljazair;[14] Sa’iduddin Muhammad bin Ahmad Al-Farghani (w. 699) dari Persia;[15] dan Mu’ayyiduddin Al-Jandi (w. 700).[16]

Lima buku dari karya-karya mereka adalah syarah atas kitab Fushush al-Hikam, sementara sisanya adalah syarah atas kitab-kitab Ibn ‘Arabi yang lain. Yang menarik, di masa ini tidak satu pun buku yang ditulis untuk membantah Ibn ‘Arabi.

Abad ke-8

Pada masa ini, tampil enam pakar menulis 8 kitab.[17] Satu kitab ditulis untuk mensyarah bait-bait syair Ibn ‘Arabi, sedangkan tujuh sisanya mensyarah Fushush al-Hikam.

Latar belakang mazhab mereka cukup beragam, mulai dari Syafi’i, Hanafi, dan Imamiyah. Identitas mazhab selebihnya tidak diketahui secara pasti. Sementara secara geografis, para penulis ini berasal dari Mesir, Syam, Kasyan (Persia), Baghdad, dan India. Dua penulis tidak diketahui secara pasti berasal dari mana.

Ibn Taimiyah

Di awal abad ini untuk pertama kalinya Ibn ‘Arabi mendapat tuduhan kafir secara tertulis oleh Ibn Taimiyah (w. 728), yaitu dalam dua karya yang ditulisnya secara khusus.[18] Sejalan dengan itu, akhir abad ini menyaksikan lahirnya karya serupa yang ditulis untuk membantah Ibn ‘Arabi oleh seorang bermazhab Hanafi asal Samarkan, yaitu Mas’ud Al-Taftazani (w. 792).[19]

Yang perlu digarisbawahi, gema pengkafiran atas Ibn ‘Arabi ternyata tidak meluas seperti yang diharapkan. Pikiran-pikiran Ibn ‘Arabi tetap diminati.

Abad ke-9

Luasnya pengaruh dan perhatian para ulama atas kitab Fushush al-Hikam menggiring kalangan yang anti Ibn ‘Arabi untuk melancarkan serangan secara lebih serius. Secara bersamaan muncul empat kitab untuk mengkritik Ibn ‘Arabi. Pertama di Yaman oleh pengikut mazhab Syafi’i, yaitu Ahmad bin Abi Bakr Al-Nasyiri (w. 815),[20] kemudian disusul oleh Abu Al-‘Ala’ Al-Bukhari Al-‘Ajami (w. 841) dari mazhab Hanafi.[21] Dua kitab selebihnya muncul di Makkah.[22] Ibrahim bin ‘Umar Al-Biqa’i (w. 885) adalah yang terakhir dari empat penulis ini. Karya terkenalnya yang mengkafirkan Ibn ‘Arabi, Tanbih al-Ghabi ila Takfir Ibn ‘Arabi, hampir-hampir menjadi buku wajib bagi kalangan anti Ibn ‘Arabi.

Hanya saja, pengaruh Ibn ‘Arabi tidak mandeg di abad ini. Masa ini menyaksikan lahirnya 12 kitab yang ditulis oleh 10 penulis dari kalangan pembela Ibn ‘Arabi.[23] Tujuh darinya adalah syarah atas Fushush al-Hikam, dua kitab untuk pertama kalinya konsen terhadap Al-Futuhat al-Makkiyyah, dan satu kitab adalah syarah atas Risalah al-Anwar. Di abad inilah Majduddin Al-Fairuzabadi (w. 817), seorang ahli ternama dan penulis kamus Al-Muhith, untuk pertama kalinya menulis pembelaan dan respon kritis atas karya Al-Nasyiri yang menyerang Ibn ‘Arabi sebelumnya. Di penghujung abad ini kembali lahir karya yang ditulis untuk mensyarah Fushush al-Hikam, yakni oleh Maulana Abdurrahman Jami (w. 898).

Lima penulis ini berlatar mazhab Hanafi, dua lainnya dari Syafi’i, dan satu orang untuk pertama kalinya berasal dari mazhab Hambali. Selebihnya tidak diketahui mazhabnya. Mereka ini berasal dari berbagai negeri, yaitu India, Syiraz, Persia, Afghanistan, Irak, Antiokia, Syam, dan Yaman. Satu tokoh lainnya, yaitu Isma’il Al-Farabi (w. 894) tidak diketahui berasal dari mana.

Abad ke-10

Serangan Al-Biqa’i ternyata tidak menyurutkan pengaruh Ibn ‘Arabi. Menurut ‘Abdul ‘Aziz al-Manshub, adalah tepat menyebut abad ke-10 sebagai “Era Akbari”, yakni masa dimana pengaruh Syaikh Akbar mencapai titik kulminasinya. Sebab, pada masa ini terbit 26 judul oleh 22 penulis.[24]

Pada abad inilah karya terkenal Imam Suyuthi (w.911) ditulis, yaitu Tanbih al-Ghabi bi Tanzih Ibn ‘Arabi atau Tanbi’ah al-Ghabi bi-Tabri’ah Ibn ‘Arabi, yang tak lain diarahkan untuk merespon buku Al-Biqa’i sebelumnya, Tanbih al-Ghabi ila Takfir Ibn ‘Arabi. Di sisi berseberangan, karya Imam Suyuthi ini direspon oleh Ibrahim bin Muhammad Al-Halabi (w.996) dengan Tasfih al-Ghabi fi Tanzih Ibn ‘Arabi, sebagai apendiks dari karya dia sebelumnya, yakni Ni’mah al-Dzari’ah fi Nushrah al-Syari’ah, yang ditulis untuk menentang ajaran-ajaran Ibn ‘Arabi.

Selain dua karya di barisan kontra ini,karya-karya selebihnya berada di barisan Ibn ‘Arabi.Enam di antaranya ditulis untuk menjawab keberatan pihak kontra dan untuk manaqib (sejarah hidup) Ibn ‘Arabi. Sementara 19 sisanya fokus pada syarah karya-karya Ibn ‘Arabi, terutama Fushush al-Hikam. Ringkasan-ringkasan yang ditulis oleh ‘Abdul Wahab Al-Sya’rani (w. 973), seorang alim besar dari Mesir, muncul pada abad ini.

Di antara mereka itu, 5 orang berasal dari mazhab Syafi’i, 5 dari mazhab Hanafi, dan seorang dari Maliki. Selebihnya tidak diketahui. Mereka berasal dari mulai Astarabad di Timur hingga Fez di Barat, melintasi Makkah, Mesir, Syam, dan Turki.

Abad ke-11

Pada abad setelahnya terbit 10 karya[25] di barisan Ibn ‘Arabi, dan hanya muncul satu penulis saja, yaitu ‘Ali Al-Qari Al-Harawi (w. 1014), yang menulis sebuah risalah untuk membantah ajaran-ajaran Ibn ‘Arabi dalam Fushush al-Hikam.[26] Karya-karya selebihnya tersebut adalah syarah atas karya-karya Ibn ‘Arabi, manaqib, dan lain-lain, di mana 6 karya sebagai syarah atas Fushush al-Hikam.

Para penulisnya, 5 orang berasal dari mazhab Hanafi, 3 dari Syafi’i, dan selebihnya tidak diketahui. Mereka berasal dari India, Pakistan, Afganistan, Yaman, Libanon, Turki, dan Bosnia.

Abad ke-12

Pada abad berikutnya terbit 18 karya oleh 13 penulis,[27] dan hanya seorang saja di antara mereka yang mengambil posisi bersebarangan dari Ibn ‘Arabi, yaitu Muhammad bin Badruddin Al-Syafi’i (w. 1182).[28] Satu kitab ditulis untuk manaqib Ibn ‘Arabi, satu lagi untuk membela, dan selebihnya adalah syarah dan ringkasan.

Para penulis ini–10 orang dari mazhab Hanafi, seorang dari Syafi’i, dan sisanya tak dikenal–berasal dari India, Syam, Irak, Cyprus, dan dua penulis tidak diketahui asalnya.

Di antara yang sangat terkenal adalah Syaikh Abdul Ghani Al-Nabulisi (w. 1143) dan Syaikh Bakri Mushthafa (w. 1162).

Abad ke-13

Catatan sejarah tampaknya hanya merekam satu karya di abad ini, yaitu karya Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Siba’i (w. 1221) dari Mesir, yang merupakan anotasi atas kitab Al-Futuhat al-Makkiyyah.

Abad ke-14

Pada abad ini, geliat untuk mengetengahkan pemikiran Ibn ‘Arabi ke publik kembali hidup. Maka muncullah 12 karya dari 9 penulis.[29] Inilah masa untuk pertama kalinya kitab Al-Futuhat al-Makkiyyah diterbitkan melalui penyuntingan ilmiah, yang dipelopori oleh Amir ‘Abdul Qadir Al-Jaza’iri (w. 1300), pejuang kemerdekaan dan pendiri Republik Rakyat Demokratik Aljazair.

Empat penulis bermazhab Hanafi, seorang dari mazhab Syafi’i, seorang lagi dari mazhab Maliki, dan lima sisanya tidak diketahui secara pasti. Mereka berasal dari Syam, Turki, Aljazair, dan empat penulis tidak diketahui asalnya.

Abad ke-15

Di abad modern ini, kajian ilmiah tentang Ibn ‘Arabi cukup banyak. Setidaknya terbit 16 karya oleh 10 penulis,[30] kesemuanya berada di barisan Ibn ‘Arabi. Tidak sebatas pada penulisan anotasi atas karya-karya Ibn ‘Arabi seperti pada abad-abad sebelumnya, abad modern ini ditandai dengan munculnya karya-karya akademis, termasuk penulisan ensiklopedi berharga oleh Su’ad al-Hakim yang berjudul, Al-Mu’jam al-Shufi, selain disertasi Utsman Yahya–yang kerap dianggap sebagai penyunting terbaik atas kitab Al-Futuhat al-Makkiyyah–yang memusatkan perhatian pada pelacakan karya-karya Ibn ‘Arabi.

Apa yang Dapat Disimpulkan?

Dari reportase historis di atas, fakta penting yang dapat kita tarik adalah bahwa sepanjang sejarah, tradisi pengkafiran atas Ibn ‘Arabi dan penolakan terhadap ajaran-ajarannya–alih-alih sebagai konsesus para ulama seperti diklaim oleh Al-Sakhawi–sesungguhnya tidak pernah menjadi pandangan mainstream ulama Islam. Alih-alih mengkafirkan Ibn ‘Arabi, mereka justru merasa amat penting menghadirkan pandangan-pandangan Ibn ‘Arabi ke tengah publik, sebagaimana dapat kita saksikan dari begitu banyaknya kitab yang ditulis untuk mensyarah Fushuhs al-Hikam, yang memang rumit itu.

Dari 125 judul karya di atas, 114 karya berada di barisan Ibn ‘Arabi: 81 karya sebagai syarah, dan selebihnya untuk membela, menuliskan manaqib, ataupun yang lain. Di sisi berseberangan, hanya 11 karya ditulis untuk menyerang Ibn ‘Arabi. Dengan demikian, persentase yang ada adalah 91.2% : 8.8%. Dan dari 85 penulis secara keseluruhan, 76 dari mereka berada di barisan Ibn ‘Arabi, dan hanya 9 penulis saja yang mengambil sikap berbeda. Persentasenya adalah 89.4% : 10.6%.[31]

Memang, persentase di atas tidak sepenuhnya valid, mengingat terlalu banyak judul-judul yang tidak terakses oleh ‘Abdul ‘Aziz Al-Manshub, baik dari kalangan yang kontra maupun, terlebih lagi, dari yang pro Ibn ‘Arabi.[32] Misalnya, tidak boleh kita lupakan bahwa pada abad ke-7 pun sesungguhnya telah muncul karya yang menentang Ibn ‘Arabi, yaitu Risalah fi Dzamm Ibn ‘Arabi oleh Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali Al-Kamili (w. 652); demikian juga karya Al-Sakhawi di abad ke-10. Tentu saja kami tidak akan memasukkan nama Abu Bakar Muhammad bin ‘Abdul Ghani, yang tenar sebagai Ibn Nuqthah Al-Hambali (w. 629), yang hidup sezaman dan meninggal mendahului Ibn ‘Arabi dan Al-Kamili, karena ia memang tidak menuliskan sebuah karya dan hanya menyampaikan sebuah fatwa lepas – untuk tidak menyebutnya ‘cibiran’ semata.[33] Alhasil, kajian terbaru oleh Dagasy menyebutkan karya-karya yang ditulis secara khusus untuk menentang Ibn ‘Arabi tak lebih dari 64 judul saja, meski ia berkeyakinan seharusnya lebih dari itu.[34] Toh, jumlah ini masih tak sebanding dengan karya-karya di barisan Ibn ‘Arabi yang didata oleh ‘Abdul ‘Aziz Al-Manshub–meski ia lewatkan banyak judul.

Sebagai misal, Al-Manshub hanya menyebut dua judul karya Imam ‘Abdul Wahab Al-Sya’rani di abad ke-10, yaitu Lawaqih al-Anwar dan Al-Kibrit Al-Ahmar (keduanya adalah ringkasan Al-Futuhat Al-Makkiyyah) dari belasan karya lainnya. Kitab Al-Mawaqif yang ditulis Amir ‘Abdul Qadir Al-Jaza’iri di abad ke-14 juga terlewatkan. Ini belum termasuk puluhan, jika bukan malah ratusan, karya tentang Ibn ‘Arabi di abad ini (abad ke-15), yang sebagiannya dapat Anda baca pada indeks kedua dari karya Muhamed Haj Yousef[35] ataupun studi-studi lainnya.

Ortodoksi Ibn ‘Arabi

Untuk mengenalkan sisi lain Ibn ‘Arabi yang tak banyak diungkap, yakni kesetiaan dan penguasaannya yang luas dan mendalam terhadap tradisi Islam, penghormatannya yang luar biasa besar kepada Nabi Muhammad, juga–bahkan–pengakuan para lawan akan kelebihan dirinya, saya akan akhiri tulisan ini dengan poin-poin berikut:

Pertama, bukan sekedar seorang sufi–yang diidentikkan dengan doktrin wahdah al-wujud–Ibn ‘Arabi adalah pula seorang tokoh yang menguasai secara luas dan mendalam berbagai tradisi keilmuan dalam Islam: Al-Quran, Tafsir, Hadis (riwayah dan dirayah), Fikih, dan sebagainya. Fakta ini bahkan diakui oleh para lawan pemikirannya.

Belum genap 10 tahun dari usianya, Ibn ‘Arabi telah menguasai dengan baik qira’at sab’ah melalui kitab Al-Kafi karya Imam Al-Ra’ini (w. 476 H), melalui jalur periwayatan Abu Bakar bin Khalaf. Di dalam Tafsir, Ibn ‘Arabi menulis kitab berjudul Al-Jam’ wa Al-Tafshil fi Asrar Ma’ani al-Tanzil dalam 64 jilid dan baru sampai ayat 60 surah Al-Kahfi. Sayangnya, manuskrip kitab ini telah lenyap dan belum ditemukan hingga saat ini meski selembar saja darinya. Tafsir autentik lain yang kita warisi dari Ibn ‘Arabi adalah Ijaz al-Bayan fi al-Tarjamah ‘an al-Qur’an, yang belakangan diterbitkan oleh Mahmud Al-Ghurab dalam margin Rahmah min Al-Rahman fi Tafsir wa Isyarat al-Qur’an.[36]

Mengenai kepakaran Ibn ‘Arabi dalam bidang Hadis, baik riwayah maupun dirayah, saya akan kutipkan pernyataan seorang ahli hadis ternama, yang otoritasnya di bidang ini tak diragukan oleh seorangpun, yakni Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 752 H). Betapapun Ibn Hajar tidak menyetujui pandangan-pandangan Ibn ‘Arabi, namun–tidak seperti sebagian ulama yang menganggapnya meninggal dalam keadaan sesat–Ibn Hajar sepakat dengan sebagian pakar yang menyatakan bahwa Ibn ‘Arabi meninggal dalam keadaan taubat dan kembali kepada Allah, dengan dalih bahwa:

“Dia (Ibn ‘Arabi) Adalah Sosok Yang Amat Menguasai Tradisi Dan Riwayat/Sunnah (‘Aliman Bil-Atsar Was-Sunan); Menguasai Secara Mendalam Berbagai Disiplin Keilmuan.”[37]

Inilah kesaksian seorang imam ahli hadis penulis kitab Fath al-Bari (syarah atas kitab Shahih al-Bukhari). Sikap Ibn Hajar sendiri jelas: tak menutup kemungkinan Ibn ‘Arabi termasuk di antara wali-wali Allah, yang ditarik ke sisi-Nya dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

Sepeninggalnya, pandangan Ibn Hajar ini diamini dan disampaikan ulang oleh ahli hadis-ahli hadis kredibel, semisal Imam ‘Abdurra’uf Al-Munawi (w. 1031 H),[38] seorang ahli hadis yang menulis anotasi (syarah) atas kitab kompilasi hadis Al-Jami’ al-Shaghir karya Imam Al-Suyuthi.

Di sisi lain, seorang sufi agung dari Fez, Syaikh Zarruq (w. 899 H), menukil pernyataan gurunya, Abu ‘Abdillah Al-Quri, yang memuji Ibn ‘Arabi: “Dia (Ibn ‘Arabi) jauh lebih mengerti setiap disiplin ilmu, melebihi setiap pakar di bidangnya.”[39] Pernyataan ini kelak, selain dinukil-ulang oleh Imam Al-Munawi sebelumnya, dinukil pula oleh ahli hadis lain, yaitu Syaikh Muhammad bin Ja’far Al-Kattani (w. 1345 H/1927), penulis kitab koleksi hadis mutawatir yang sangat terkenal, Nazhm al-Mutanatsir min al-Hadits al-Mutawatir, dalam karyanya yang lain, yakni Jala’ al-Qulub.[40]

Dan memang, seperti kata Al-Shafadi (w. 764),[41] murid dan sekaligus rekan Al-Hafizh Al-Dzahabi (w. 748), jika Anda membaca Al-Futuhat Al-Makkiyyah, Anda akan dapati betapa seolah argumen-argumen nalar (ma’qul) dan tekstual (manqul) terhampar sejelas mungkin di hadapan Ibn ‘Arabi, dan dia akan memanfaatkannya kapan pun saat dibutuhkan. Penilaian semacam ini tidak menjelaskan apa-apa selain bahwa Ibn ‘Arabi adalah sosok yang amat menguasai tradisi secara mendalam, persis sebagaimana kesaksian Ibn Hajar sebelumnya. Meski sayangnya, khazanah Islam kehilangan karya-karya Ibn ‘Arabi yang ditulis khusus di bidang hadis, seperti Al-Mishbah fi Al-Jam’ bayna al-Shihah–sebuah kitab kompilasi hadis-hadis sahih–dan banyak lainnya.

Kedua, Ibn ‘Arabi adalah sosok yang berusaha sedapat mungkin tidak keluar–meski sejengkal saja–dari Al-Quran dan Sunnah, atau singkatnya dari Jalan Muhammad. Tentu saja sah bagi kita untuk tidak menyetujui pendekatan dan penafsiran Ibn ‘Arabi. Namun, bukankah kesaksian Ibn ‘Arabi secara berulang-ulang dan selalu sedapat mungkin mengutip ayat-ayat Al-Quran dan Hadis–seperti akan saya kutipkan setelah ini–hanya menjelaskan betapa dia memiliki komitmen tinggi dan teguh dengan jalan yang didambanya, yakni Jalan Muhammad? Bahkan, seorang pemikir Muslim dan kritikus sastra modern, Nashr Hamid Abud Zaid,[42] sampai menyatakan bahwa Al-Quran selalu hadir dan membaur sedemikian rupa dalam kesadaran Ibn ‘Arabi, betapapun penulis lain, misalnya Abul-‘Ala’ ‘Afifi,[43] menganggap kehadiran ayat-ayat Al-Quran dalam kesadaran dan tulisan-tulisan Ibn ‘Arabi tersebut sebagai ‘tindakan yang tak dapat dibenarkan’ (khalth). Lepas dari itu, sekali lagi, hal ini menunjukkan kesetiaan Ibn ‘Arabi untuk tetap berada dan tidak keluar dari garis Al-Quran dan Sunnah, bahkan secara literal – betapapun Anda boleh tak setuju atas penafsirannya itu.

Dalam sebuah visi spiritual yang disaksikannya, Ibn ‘Arabi mengungkap bahwa: “Saya melihat rahmah (cinta Ilahi), sepenuhnya, (terletak) dalam kepasrahan dan penerimaan terhadap kenabian dan tunduk pada Al-Kitab dan Sunnah”.[44] Dan dalam konteks inilah kita dapat memahami dengan baik alasan mengapa Syaikh Akbar menyampaikan nasihat dengan amat keras: “Teguhlah dalam meneladani dan mengikuti; dan jangan kau injak suatu tempat yang tidak engkau dapati padanya (jejak) kaki Nabimu! Letakkan kakimu di atas (bekas) kaki Nabimu, jika engkau ingin tergolong pemilik derajat-derajat luhur dan visiun sempurna (syuhud kamil)”.[45] Menapaki jejak-jejak yang pernah dilalui oleh kaki suci Sang Nabi saw, tentu maksudnya tak lain adalah teguh berjalan dan mengikuti Syariat yang telah digariskannya, secara lahir dan batin, sepenuhnya.

Dalam salah satu fase historis yang dialaminya di Fez, seperti dikisahkannya dalam Al-Futuhat Al-Makkiyyah Bab 366, Ibn ‘Arabi menegaskan dan meyakinkan bahwa: “Segala yang kami bicarakan, baik dalam forum-forum maupun karya-karya kami, sesungguhnya hanya berasal dari hadhrah Al-Quran dan perbendaharaannya. Saya telah dianugerahi kunci memahami dan mereguk darinya. Semua ini agar kami tak keluar darinya, karena itu adalah anugerah paling luhur dan tak ada yang mengenalinya kecuali yang merasakannya”.[46]

Dan, betapapun kontroversialnya kitab Fushush Al-Hikam, di bagian akhir mukadimah kitab ini Ibn ‘Arabi menyatakan: “Dan hanya kepada Allah semata saya berharap, semoga saya termasuk orang yang diteguhkan sehingga menjadi teguh dan meneguhkan (orang lain), dan diikatkan ke dalam Syariat Muhammad yang suci sehingga menjadi terikat (kepadanya) dan mengikatkan (orang lain kepadanya). Semoga Allah menggiring kita di barisannya, sebagaimana Dia telah menjadikan kita bagian dari umatnya”.[47] Kita tak dapat mengandaikan ungkapan semacam ini lahir kecuali dari hati yang meluap-luap penuh keimanan, cinta, ketulusan dan komitmen tinggi untuk tetap setia kepada Syariat Muhammad. Kutipan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana penghormatan Ibn ‘Arabi yang begitu tinggi kepada Nabi Muhammad saw, baik dalam posisinya sebagai nabi maupun wali–tidak seperti dituduhkan sebagian pihak bahwa Ibn ‘Arabi melecehkan pribadi Nabi saw (yang sesungguhnya lahir dari kegagalan dalam memahami relasi antara kedudukan wilayah dengan nubuwwah).

Bahkan, betapapun Ibn ‘Arabi memproklamirkan dirinya secara samar dan terbuka sebagai khatam al-wilayah al-muhammadiyyah (penutup para wali), dia tetap menyatakan bahwa “kedudukan ini dibandingkan dengan Rasulullah hanyalah seumpama sehelai rambut saja dari diri beliau”.[48] Sayangnya, para penentang Ibn ‘Arabi seolah sengaja mengabaikan pernyataan-pernyataan krusial semacam ini. Atau, adakah tujuan terselubung?

Ketiga, menyikapi para pencela dan penentangnya, kita akan dikejutkan oleh sebuah data yang terekam di dalam Al-Futuhat Al-Makkiyyah, ketika Ibn ‘Arabi mengisahkan pengalaman spiritualnya bahwa celaan dan umpatan yang dialamatkan kepadanya oleh sebagian orang, bahkan pengkafiran terhadapnya, sesungguhnya adalah sebuah keniscayaan-eksistensial sebagai dampak dari karunia yang Allah limpahkan kepadanya, yakni ‘kelembutan hati’–sebuah karunia yang meniscayakan keberadaan objek yang kepadanya ‘kelembutan hati’ ini meluap. Ibn ‘Arabi mengisahkan:

“Ketika tengah menulis di sisi maqam Ibrahim as … aku diserang rasa kantuk. Tiba-tiba suatu ruh dari kalangan ruh-ruh al-mala’ al-a’la berseru kepadaku, menyampaikan (pesan) dari Allah: ‘Masuklah ke dalam maqam Ibrahim, karena dia sangat lembut hatinya lagi penyantun’. Lalu ruh malaikat ini membacakan kepadaku, “Sesungguhnya Ibrahim adalah benar-benar seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun” (Ibrahim [9]: 114). Maka akupun tahu, bahwa Allah akan menganugerahiku suatu kemampuan yang diiringi dengan ‘kelembutan hati’ (hilm), sebab tak dapat disebut ‘lembut hati’ tanpa adanya objek penerima kemurahan hati kita. Aku juga tahu, bahwa Allah niscaya akan mengujiku dengan ucapan dari orang-orang yang menyerang kehormatanku (‘irdhi), sehingga aku mampu memperlakukan mereka dengan kelembutan hati, meski banyak timbulkan luka (atas kehormatanku—penerj.), sebab kata halim (yang lembut hatinya) muncul dalam bentuk mubalaghah (superlatif)”.

Barangkali inilah alasan yang melatari mengapa Ibn ‘Arabi mengakhiri kitab monumentalnya itu, Al-Futuhat Al-Makkiyyah, dengan panjatan doa, memintakan ampun bagi mereka yang mencela dan menodai kehormatan dirinya–bukankah, sebagaimana sabda Nabi Saw, darah dan kehormatan seorang Muslim haram kita terjang?!–, baik mereka yang mengenalnya maupun tidak, bertujuan baik maupun buruk.

“O Allah! Sungguh Aku Telah Ikhlaskan Kehormatanku, Hartaku, Dan Darahku Atas Hamba-Hamba-Mu, Maka Aku Tidak Menuntut Kepada Mereka Satupun Darinya, Tidak Di Dunia Dan Tidak Pula Di Akhirat, Dan Engkau-Lah Saksi Atasku Dalam Hal Ini ..”[50]

Setelah semua ini, pembaca yang baik, kembali pada persoalan sebelumnya, pengkafiran atas Ibn ‘Arabi–yang umumnya dilakukan oleh ‘ulama’ al-rusum (yakni, mereka yang enggan meleburkan diri dalam dimensi esoteris Islam dan merasa nyaman dengan “kulit luar”nya)–sesungguhnya sama sekali tak pernah mewakili sikap mainstream ulama Islam sepanjang sejarah. Ia hanya sekadar riak-riak kecil nan keruh yang menempel dalam gelombang dan ombak besar samudra tak bertepi. Kini, masihkah Anda percaya dan mendiamkan pengkafiran itu?

Wa-Allahu a’lam. []

Azam Bakhtiar

[1]Michel Chodkiewicz, An Ocean Without Shore: Ibn Arabi, The Book, and The Law (New York: State University of New York Press, 1993).
[2]Dagasy bin Syabib al-‘Ajami, Ibn ‘Arabi: ‘Aqidatuhu wa Mauqif al-‘Ulama’ al-Muslimin minhu, cet. I (Kuwait: Maktabah Ahl al-Atsar, 2011), h. 300-303.
[3]Bersama karya tipis al-Biqa’i yang lain, Tahdzir al-‘Ibad min Ahl al-‘Inad bi-Bid’ah al-Ittihad, karya ini disunting dan diterbitkan oleh ‘Abdurrahman al-Wakil dengan judul Mashra’ al-Tashawwuf (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1400 H/1980 M).
[4]Karya Al-Sakhawi ini baru disunting belakangan oleh Khalid bin al-‘Arabi Mudrik sebagai tesis magisternya di Universitas Ummul Qura, Saudi, dan terbit pada 1422 H/2001 M dalam 2 jilid.
[5]Al-Biqa’i, Mashra’ al-Tashawwuf, hal. 18.
[6]Al-Sakhawi, Al-Qaul al-Munbi, II: 7.
[7]Al-Sakhawi, Al-Qaul al-Munbi, II: 29.
[8]Lihat suntingan Al-Albani atas kitab Raf’ al-Astar karya Al-Shan’ani, I: 30 (lihat ‘Abdul ‘Aziz Al-Manshub, “Al-Syaikh al-Akbar bayna al-Ta’tsir wa al-Takfir”, h. 12).
[9]Mahabbah al-Rasul bayna al-Itba’ wa al-Ibtida’, I: 224 (lihat ‘Abdul ‘Aziz Al-Manshub, “Al-Syaikh al-Akbar bayna al-Ta’tsir wa al-Takfir”, hal. 12).
[10]Dagasy, Ibn ‘Arabi: ‘Aqidatuhu wa Mauqif al-‘Ulama’ al-Muslimin minhu, h. 249.
[11]Survei kronologis ini didasarkan pada penelitian ‘Abdul ‘Aziz Sulthan Al-Manshub, intelektual Yaman yang menyunting kitab Al-Futuhat Al-Makkiyyah di dunia modern, dalam artikelnya “Al-Syaikh al-Akbar bayna al-Ta’tsir wa al-Takfir”, dapat diunduh di http://ycsr.org/derasat_yemenia/issue_93/alshik_alakbar.pdf . Riset Al-Manshub ini hanya memanfaatkan kitab-kitab yang dimuat dalam softwere Al-Maktabah Al-Syamilah, karenanya tidak cukup komprehensif dan melewatkan banyak karya, baik karya-karya penentang maupun, apalagi, pembela Ibn ‘Arabi.
[12]Yaitu, (1) Syarh al-Tajaliyyat al-Ilahiyyah, (2) Syarh Kull Musykil al-Fawa’id min Kitab al-Asrar wa al-Masyahid, dan (3) Lawaqih al-Asrar wa Lawa’ih al-Anwar.
[13]Yaitu, (4) Al-Fukuk fi Mustanadat Hikam al-Fushush, (5) Al-Lum’ah al-Nuraniyyah fi Musykilat al-Syajarah al-Nu’maniyyah, (6) Latha’if al-I’lam fi Isyarah Ahl al-Ilham, dan (7) Al-Nushush fi Tahqiq Thaur al-Makhshush.
[14]Berjudul (8) Syarh Fushush al-Hikam.
[15]Yaitu, (9) Al-Taqrir wa al-Bayan fi Tahrir Syu’ab al-Iman, dan (10) Syarh Fushush al-Hikam.
[16]Berjudul (11) Syarh Fushuhs al-Hikam.
[17]Muhammad bin Ali Al-Zamlakani (w. 727) menulis (1) Syarh Fushush al-Hikam; Abdurrazaq Al-Kasyani (w. 730) menulis (2) Syarh Fushush al-Hikam; Dawud Al-Qaishari (w. 751) menulis (3) Syarh Qurrah ‘Ain al-Syuhud dan (4) Mathla’ Khushush al-Kalim fi Ma’ani Fushush al-Hikam; Ahmad bin Iskandar Al-Husaini (w. 778) menulis (5) Syarh ‘ala Baytaini li-Ibn Arabi; Haidar Al-Amuli (w. 783) menulis (6) Nashsh al-Nushush fi Syarh al-Fushush; dan Ibn Syihab Ali bin Hasan Al-Hamadani (w. 786) menulis (7) Syarh Fushush al-Hikam dan (8) Hall Musykilat Masa’il Fushuhs al-Hikam.
[18]Yaitu (1) Al-Masa’il al-Iskandaraniyyah fi Radd ‘ala al-Ittihad wa al-Hululiyyah dan (2) Al-Radd ‘ala Ibn ‘Arabi wa al-Shufiyah.
[19]Menulis (1) Kitab fi Radd ‘ala Ibn ‘Arabi fi Fushushihi.
[20]Menulis (1) Kitab Bayyana fihi Fasad ‘Aqidah Ibn ‘Arabi.
[21]Menulis (1) Fadhihah al-Mulhidin.
[22]Manshur bin Hasan Al-Kazuruni (w. 860) menulis (1) Hujjah al-Safarah al-Bararah ‘ala al-Mubtadi’ah al-Fajarah al-Kafarah fi Naqd al-Nushush.
[23]Syarif Ali Al-Jurjani (w. 816) menulis (1) Risalah fi Bayan Mushthalahat Muhyiddin Ibn al-‘Arabi al-Waridah fi Kitabihi al-Musamma bil-Futuhat al-Makkiyyah; Majduddin Al-Fairuzabadi (w. 817) menulis (2) Al-Ightibath bi Mu’alajah Ibn al-Khayyath; Khaja Muhammad Al-Hafizhi (w. 822) menulis (3) Syarh Fushush al-Hikam dalam bahasa Persia; ‘Abdul Karim Al-Jili (w. 832) menulis (4) Syarh Musykilat al-Futuhat al-Makkiyyah dan (5) Syarh Risalah al-Anwar; ‘Ali bin Ahmad Al-Muha’imi (w. 835) menulis (6) Khushush al-Ni’am fi Syarh Fushush al-Hikam; Sha’inuddin Ibn Turkah (w. 836) menulis (7) Syarh Fushush al-Hikam; Muhammad Yaziji Zadeh (w. 855) menulis (8) Syarh al-Fushush; ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Busthami (w. 858) menulis (9) Al-Fawa’ih al-Miskiyyah fi al-Fawatih al-Makkiyyah; Isma’il Al-Farabi (w. 894) menulis (10) Syarh Fushush al-Hikam; Ahmad bin Yusuf Al-Hashkafi (w. 895) menulis (11) Syarh Fushush al-Hikam; dan ‘Abdurrahman Jami (w. 898) menulis (12) Syarh Fushush al-Hikam.
[24]Bayazid Khalifah Al-Rumi (w. 905) menulis (1) Syarh al-Nushush fi Tahqiq al-Thaur al-Makhshush; Bayazid Khalifah bin ‘Abdullah Al-Rumi (w. 910) menulis (2) Hasyiyah ‘ala Fushush al-Hikam; Jalaluddin Al-Suyuthi (w. 911) menulis (3) Tanbih al-Ghabi; Sayyid ‘Ali bin Maimun Al-Maghribi (w. 917) menulis (4) Manaqib Ibn ‘Arabi dan (5) Tanzih al-Shiddiq ‘an Washf al-Zindiq; Muhammad bin Ahmad Al-‘Ala’i (w. 918) menulis (6) Al-‘Iqd al-Makhshush bi-Tarshi’ al-Fushush; Ni’matullah bin Mahmud al-Nakhjuwani (w. 920) menulis (7) Hasyiyah ‘ala Fushush al-Hikam; ‘Ali bin Muhammad al-Syirazi (w. 922) menulis (8) Syarh Fushush al-Hikam; Idris bin ‘Ali al-Badlisi al-Rumi (w. 930) menulis (9) Syarh Fushush al-Hikam; Nashir bin Hasan al-Hakim (w. 941) menulis (10) Mathali’ al-Naqsy wa al-Nushush fi Syarh al-Fushush; Ruknuddin Mas’ud al-Astarabadi al-Syirazi (w. 946) menulis (11) Nushush al-Khushush dan (12) Tajaliyyat ‘Ara’is al-Nushush fi Manashshat Hikam al-Fushush; Amir Syarif al-‘Ajami (w. 950) menulis (13) Syarh Fushush al-Hikam; Muhammad Muhyiddin al-Birami (w. 951) menulis (14) Al-Radd ‘ala Ma Qila fi Haqq al-Syaikh al-Akbar; Qasim bin Abil Fadhl al-Halabi (w. 954) menulis (15) Syarh ‘Anqa’ Maghrib fi Ma’rifah Khatam al-Auliya’ wa Syams al-Maghrib; Bali Khalifah (w. 960) menulis (16) Syarh Fushush al-Hikam; ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani (w. 973) menulis (17) Lawaqih al-Anwar al-Qudsiyyah al-Muntakhab min al-Futuhat al-Makkiyyah dan (18) Al-Kibrit al-Ahmar fi Bayan ‘Ulum al-Syaikh al-Akbar; Qasim bin ‘Abdurrahman al-Sa’di (w. 982) menulis (19) Al-Wi’a’ al-Makthum ‘ala al-Sirr al-Maknun; Khalil Samin al-Tharabulisi menulis (20) Al-Thali’ al-Anwar li-Nushrah al-Ustadz al-Syaikh al-Akbar; Syihabuddin Ahmad al-Mizali menulis (21) Al-Jami’ wa al-Sirr al-Lami’ fi Syarh Fushush al-Hikam; ‘Ali bin Ahmad menulis (22) Masyra’ al-Khushush fi Syarh al-Fushush; sejumlah penulis menulis (23) Al-Risalah al-Ma’nawiyyah fi al-Tathbiq bayna Kalam al-Syaikh al-Akbar wa al-Hadhrah al-Maulawiyyah; anonymous menulis (24) Masyariq al-Nushush; Muhammad bin Muzhaffaruddin Muhammad menulis (25) Al-Janib al-Gharbi fi Hall Musykilat Ibn ‘Arabi; Muharram bin Muhammad al-Zaili al-Siwasi (w. 1000) menulis (26) Kunuz al-Auliya’ wa Rumuz al-Ashfiya’.
[25]Yahya bin ‘Ali Banu’i (w. 1007) menulis (1) Tarjamah Fushush al-Hikam: Kasyf al-Hijab; Radhiyuddin bin ‘Abdurrahman Al-Sa’di (w. 1041) menulis (2) Syadzrah min Dzahab min Tarjamah Sayyid Thayy al-‘Arab; Nuruddin Al-Halabi (w. 1044) menulis (3) Al-Jami’ al-Azhar lima Tafarraqa min Milah al-Syaikh al-Akbar; ‘Abdul Karim Al-Lahori (w. 1045) menulis (4) Syarh Fushush al-Hikam; Ahmad bin ‘Abdul Qadir Al-Hadhrami (w. 1052) menulis (5) Syarh Abyat Musykilah lis-Syaikh al-Akbar dan (6) Syarh Musykilat al-Amr al-Muhakkam al-Marbuth; ‘Abdullah ‘Abdi Al-Busnawi Al-Birami (w. 1054) menulis (7) Tajaliyyat ‘Ara’is al-Nushush fi Manashshat Hikam al-Fushush; Muhibullah Al-Akbarabadi Al-Hindi (w. 1058) menulis (8) Syarh ‘ala Fushush al-Hikam; Mushthafa Bali Zadeh (w. 1069) menulis (9) Syarh Fushush al-Hikam; ‘Abdul Lathif Al-Baha’i (w. 1082) menulis (10)Syarh Fushush al-Hikam.
[26]Berjudul (1) Risalah fi al-Radd ‘ala Ibn al-‘Arabi fi Kitabihi al-Fushush wa ‘ala al-Qa’ilin bil-Hulul wa al-Ittihad.
[27]‘Utsman bin Fathullah Al-Syamani al-Rumi (w. 1102) menulis (1) Hasyiyah ‘ala Syarh al-Fushush li-Ibn ‘Arabi dan (2) Al-Tajaliyyat al-Barqiyyah fi Syarh Qashidah al-‘Isyqiyyah; Mushthafa Ma’nawi Garhbasy (w. 1114) menulis (3) Syarh Fushush al-Hikam; ‘Ali Ashghar Al-Bakri Al-Qanuji (w. 1140) menulis (4) Syarh Fushush al-Hikam; ‘Abdul Ghani Al-Nabulisi (w. 1143) menulis (5) Al-Sirr al-Mukhtabi fi Dharih Ibn ‘Arabi dan (6) Syarh Fushush al-Hikam; Nuruddin Al-Ahmadabadi (w. 1155) menulis (7) Al-Thariq al-Amam fi Syarh Fushush al-Hikam; Al-Quthb Mushthafa Bakri (w. 1162) menulis (8) Syarh Shalawat al-Syaikh al-Akbar; Hamid bin ‘Ali Al-Hanafi (w. 1171) menulis (9) Tarjamah al-Syaikh al-Akbar; Husain bin Tha’amah Al-Bitamani (w. 1175) menulis (10) Mulakhkhash ‘Ulum al-Futuhat al-Makkiyyah, (11) Al-Futuhah al-Rabbaniyyah fi Syarh al-Tadbirat al-Ilahiyyah, dan (13) Al-Siham al-Mursalah al-Rasyiqah fi Qulub al-Nahin ‘an ‘Ilm al-Haqiqah; Hasan bin Mushthafa Al-Naqsyabandi (w. 1182) menulis (14) Al-Mi’raj al-Azhar fi Ahwal al-Syaikh al-Akbar; ‘Umar bin ‘Abdul Jalil Al-Qadiri (w. 1194) menulis (15) Hasyiyah ‘ala Risalah Wahdah al-Wujud dan (16) Syarh al-Shalawat al-Muhammadiyyah; Muhammad bin ‘Umar Al-Qadiri (w. 1195) menulis (17) Syarh al-Shalawat al-Syaikh al-Akbar; dan ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Shalahi (w. 1197) menulis (18) Miftah al-Wujud al-Asyhar fi Taujih Kalam al-Syaikh al-Akbar.
[28]Menulis (1) ‘Iddah Rasa’il fi al-Radd ‘ala Ibn ‘Arabi.
[29]Amir ‘Abdul Qadir al-Jaza’iri (w. 1300) menerbitkan (1) Al-Futuhat al-Makkiyyah secara massal; Nuruddin al-Husaini (w. 1305) menulis (2) Risalah Muqaddimah al-Mathali’ Fushush al-Hikam dan (3) Maraj al-Nushush fi Syarh Naqsy al-Fushush; Ahmad Hamdi al-Qadiri menulis (4) Al-Burhan al-Azhar fi Manaqib al-Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi; Ahmad bin ‘Abdul Ghani bin ‘Abidin (w. 1307) menulis (5) Risalah fi Tabri’ah al-Syaikh al-Akbar mima Nusiba ilaihi min al-Qaul bil-Hulul wa al-Ittihad; ‘Umar bin Thaha al-‘Aththar (w. 1308) menulis (6) Al-Fath al-Mubin fi Radd al-I’tiradh ‘ala Muhyiddin, (7) Syarh Fushush al-Hikam, dan (8) Syarh ‘ala al-Shalawat al-Kubra li-Ibn ‘Arabi; Ibrahim bin ‘Abdullah al-Sharukhi (w. 1309) menulis (9) Al-Misk al-Adzfar fi Tabri’ah al-Syaikh al-Akbar; Abul Hasan bin Muhammad al-Thabathaba’i al-Ishfahani (w. 1314) menulis (10) Hasyiyah ‘ala Syarh al-Fushush; Muhammad Rasim al-Malathi (w. 1316) menulis (11) Kasyif al-Ta’wilat bi-‘Aun Khaliq al-Mukawwanat fi Syarh Fushush al-Hikam; Muhammad bin ‘Abdul Ghani al-Baythar (w. 1328) menulis (12) Qurrah al-‘Ayn fi Hall Baytaini Ibn ‘Arabi.
[30]Mahmud Al-Ghurab menulis (1) Syarh Kalimat al-Shufiyyah wa al-Radd ‘ala Ibn Taimiyyah, (2) Syarh Fushush al-Hikam, (3) Tarjamah Hayah al-Syaikh al-Akbar, (4) Al-Khayal ‘Alam al-Barzakh wa al-Mistal ‘ind Ibn ‘Arabi, (5) Al-Thariq ila Allah ta’ala ‘inda Ibn ‘Arabi, dan (6) Al-Fiqh ‘inda al-Syaikh al-Akbar; ‘Abdul Hafizh Farghali menulis (7) Al-Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi Sulthan al-‘Arifin; Thaha ‘Abdul Baqi Surur menulis (8) Muhyiddin Ibn ‘Arabi fi Siratihi; Su’ad Al-Hakim menulis (9) Al-Mu’jam al-Shufi: Al-Hikmah fi Hudud al-Kalimah dan (10) Ibn ‘Arabi wa Muwallid Lughah Jadidah; Hamid Thahir menulis (11) Ibn ‘Arabi wa Ruh al-Quds; ‘Abdul Fattah Al-Sayyid menulis (12) Al-Hubb al-Ilahi fi Syi’r Muhyiddin Ibn ‘Arabi; Nashr Hamid Abu Zaid menulis (13) Falsafah al-Ta’wil ‘inda Muhyiddin Ibn ‘Arabi; Haidar Al-Husaini menulis (14) Al-Burhan al-Azhhar fi Falsafah al-Syaikh al-Akbar; Utsman Yahya menulis (15) Tarikh Mu’allafat al-Syaikh al-Akbar, dan Muhamed Haj Yousef menulis (16) Syams al-Maghrib.
[31]Jumlah judul buku dan persentase ini berasal dari rekalkulasi yang saya kerjakan, mengingat ada ketidakakuratan dalam kalkulasi ‘Abdul ‘Aziz Al-Manshub.
[32]Sebagai pembanding atas riset Al-Manshub, silakan baca survei kronologis yang dikerjakan oleh Utsman Yahya, dalam pengantarnya atas Haidar Amuli, Nashsh al-Nushush fi Syarh al-Fushush, ed. Henry Corbin dan Utsman Yahya (Tehran: Departement D’Iranologie De’l Institut Franco-Iranien, 1975), I: 16-48. Saya sendiri sedang melacak dan menyiapkan tulisan lain untuk mendata secara lebih detil lagi karya-karya yang ditulis di barisan Ibn ‘Arabi, khususnya anotasi atas Fushush Al-Hikam.
[33]Nukilan Al-Sakhawi sendiri dari Ibn Nuqthah tidak menunjukkan sebuah pengkafiran secara tegas. Al-Sakhawi, Al-Qaul Al-Munbi, II: 148.
[34]Dagasy, Ibn ‘Arabi: ‘Aqidatuhu wa Mauqif al-‘Ulama’ al-Muslimin minhu, hal. 713-727.
[35]Muhamed ‘Ali Haj Yousef, Syams al-Maghrib (Aleppo: Fusselat, 2006), hal. 454-457.
[36] Mahmud Mahmud Al-Ghurab, Rahmah min Al-Rahman fi Tafsir wa Isyarat Al-Qur’an (Damaskus: Mathba’ah Nadhar, 1989).
[37] Al-Hafizh Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Lisan al-Mizan, ed. ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah, cet. I (Beirut: Dar al-Basya’ir, 2002), VII: 392. [38] Biografi Ibn ‘Arabi dalam Al-Kawakib al-Durriyyah fi Thabaqaq al-Shufiyyah karya Al-Munawi ini disadur dan dimuat dalam Al-Nur al-Abhar fi Al-Difa’ ‘an Al-Syaikh Al-Akbar, yang disunting oleh Syaikh Ahmad Farid Al-Mazidi (Kairo: Dar al-Dzikr, 2007), h. 271.
[39]Abul-Abbas Ahmad bin Ahmad bin Zarruq Al-Fasi, Qawa’id al-Tashawwuf, ed. ‘Abdul Majid Khayali, cet. II (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005),h. 65 (Kaidah ke-87).
[40]Dimuat dalam Al-Nur al-Abhar, h. 102.
[41]Shalahuddin Khalil bin Aybak Al-Shafadi, Al-Wafi bil-Wafiyyat, ed. Ahmad Al-Arna’uth dan Turki Mushthafa, cet. I (Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 2000), VI: 125.
[42]Nashr Hamid Abu Zaid, Falsafah al-Ta’wil: Dirasah fi Ta’wil al-Qur’an ‘inda Muhyiddin Ibn ‘Arabi, cet. I (Beirut: Dar al-Wahdah, 1983), h. 26.
[43]Abul-‘Ala’ ‘Afifi, Fushush al-Hikam wat-Ta’liqat ‘alaihi, (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1946), I: 19-20.
[44]Ibn ‘Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyyah,ed. Ahmad Syamsuddin, cet. III (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2011), I: 450 (Bab 61).
[45]Ibn ‘Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyyah, V: 372 (Bab 355).
[46]Ibn ‘Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyyah, VI: 61 (Bab 366).
[47]‘Abdurrazaq Al-Qasyani, Syarh Fushush Al-Hikam (Mesir: Al-Muyammaniyah, 1321 H), h.8.
[48]Ibn ‘Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyyah, VI: 317 (Bab 382).
[49]Ibn ‘Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyyah, II: 501 (Bab 72).
[50]Ibn ‘Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyyah, VIII: 388 (khatimah al-bab).

(Visited 122 times, 1 visits today)

Mengapa Islamisme Bukanlah Islam

31 July 2018

Aku dan Islamku

31 July 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *