Al-Hujwiri dan Karyanya, Kasyf Al-Mahjub

Saya berharap terjemahan karya berbahasa Persia tentang tasawuf yang tertua dan terkenal ini, dapat menyumbangkan manfaat, tidak hanya untuk sejumlah kecil mahasiswa yang menekuni matapelajaran tasawuf sebagai bahan kajiannya yang utama, tetapi juga untuk sejumlah besar pembaca yang berminat mempelajari sejarah umum mistikisme dan mau memperbandingkan atau mempertemukan beraneka ragam perwujudan tentang mistik dalam ajaran Kristen, Buddha, dan Islam. Asal mula tasawuf dan kaitan-kaitannya dengan agama-agama besar ini, dengan sendirinya tidak dapat diterangkan disini, dan saya menghindari persoalan-persoalan tersebut karena saya bermaksud membahasnya pada lain kesempatan. Tugas saya kali ini hanyalah mengajukan sedikit ulasan mengenai pengarang Kasyf Al-Mahjub*) dan menunjukkan karakter dari karyanya.

 

 Muhammad bin Al-Hasan Al-Khuttali[3] (h.156)—yang pernah menjadi murid Abul-Hasan Al-Hushri (lahir 371 H)—dan di bawah bimbingan Abul-‘Abbas Ahmad bin Muhammad Al-Asyqani atau Al-Syaqani[4] (h.158). Dia juga menerima pelajaran dari Abul-Qasim Gurgani[5] (h.159) dan Khwaja Muzhaffar[6](h. 160), dan dia menyebut sejumlah besar Syaikh yang pernah dijumpainya dan diajaknya berbincang selama dalam pengembaraannya. Dia berjalan jauh dan berkeliling ke seluruh wilayah kerajaan Islam dari Syria hingga Turkistan dan dari Hindustan hingga Laut Kaspia. Di antara negeri-negeri dan tempat-tempat yang dia kunjungi adalah Azerbaijan (h. 63 dan 364), kuburan Bayazid di Bistham (h. 72), Damaskus, Ramla, dan Bayt Al-Jinn di Syria, Thus dan Uzkand, kuburan Abu Sa’idbin Abul Khayr di Mihna, Merv, dan Jabal Al-Buttam di sebelah timur Samarkand. Dia agaknya pernah tinggal untuk sementara waktu di Irak, di mana dia terimpit oleh utang-utang (h. 308). Kiranya, dapat ditarik kesimpulan dari sebuah kalimat di halaman 324 bahwa dia pernah mengalami masa perkawinan singkat dan tidak menguntungkan. Akhirnya, menurut Riyadh Al-Awliya’, dia pindah ke Lahore dan mengakhiri masa hidupnya di kota tersebut. Bagaimanapun juga, menurut pernyataannya sendiri, karena dia terpenjara dan merasa sedih dalam mengarang Kasyf Al-Mahjub karena kitab-kitabnya tertinggal di Ghazna (h.91).

Diperkirakan dia wafat pada tahun 456 H (1063-4 M) atau 464 H (1071-2 M), namun tampaknya dia hidup sezaman dengan Abul-Qasim Al-Qusyayri, yang wafat pada tahun 465 H (1072 M). Menurut observasi Rieu (Catalogue of the Persian MSS in the British Museum, i,343) bahwa pengarang menempatkan Qusyayri setingkat dengan para sufi yang telah wafat sebelum lembaran-lembaran Kasyf Al-Mahjub ditulis, sebenarnya tidaklah tepat. Pengarang mengatakan (h. 152): “Beberapa orang yang akan kusebut dalam bab ini su­dah meninggal dunia, dan sebagian lagi ma­sih hidup.”Tetapi, dari sepuluh orang sufi yang dipersoalkan hanya satu orang, yaitu Abul-Qasim Gurgani, yang tak ayal lagi bahwa dia hidup ke­tika pengarang menulis Kasyf Al-Mahjub. Dalam Safinat Al-Awliya’, nomor 71,dinyatakan bahwa Abul-Qasim Gurgani wafat pada tahun 450 H. Jika tarikh ini benar, Kasyf Al-Mahjub tentunya ditulis paling tidak lima belas ta­hun sebelum wafatnya Qusyayri. Di pihak lain, manuskrip Syadzarat Al-Dzahab yang saya miliki mencatat kematian Abul-Qasim Gurgani di bawah tahun 469 H,suatu tarikh yang bagi saya tampak lebih memungkinkan. Berkaitan dengan itu,maka pernyataan bahwa pengarang hidup sezaman dengan Qusyayri dapat diterima, walaupun bukti-buktinya pada pokoknya negatif, karena kita tidak dapat menekankan sepenuhnya pada fakta bahwa nama Qusyayri kadang kala dipercayai oleh kaum Muslim sepadan dengan “kenangan yang mengandung berkah”. Jadi, saya memperkirakan bahwa pengarang wafat antara tahun 465 dan 469 H.[7]Kelahirannya dapat ditempatkan pada dasawarsa terakhir dari abad kesepuluh Masehi atau dasawarsa pertama dari abad kesebelas, dan dia tentunya ketika itu masih remaja sekali ketika Sultan Mahmud wafat pada tahun 421 H (1030 M). RisalahiAbdaliyya[8],sebuah risalah abad kelima belas mengenai wali-wali Islam oleh Ya‘qub bin ‘Utsman Al-Ghaznawi, berisi sebuah hikayat—yang akan menimbulkan risiko bila mengakui risalah tersebut sebagai mengandung nilai sejarah—tentang Al-Hujwiri. Dalam hikayat itu dikatakan bahwa pada suatu hari, di hadapan Sultan Mahmud, Al-Hujwiri berdebat dengan seorang filsuf India dan mengalahkannya dengan suatu karamah. Barangkali, karena itulah dia dihormati sebagai seorang wali Allah setelah wafatnya, sehingga kuburannya di Lahore ramai dikunjungi peziarah-peziarah ketika Bakhtawar Khan menulis Riyadh Al-Awliya’ pada paruh kedua abad ketujuh belas Masehi.

 

Dalam mukadimah KasyfAl-Mah­jub, Al-Hujwiri mengeluh bahwa dua karya awalnya telah disiarkan ke tengah khalayak ramai oleh orang-orang yang menghapus namanya dari halaman judul, dan bermaksud agar mereka sendiri dianggap sebagai pengarang-pengarangnya. Untuk menjaga agar penipuan semacam itu tidak terulang lagi, dia mencantumkannamanya pada banyak bagian dalam karya yang tersaji kali ini. Karya-karya tulisnya, yang sempat dia rujuk dalam Kasyf Al-Mahjub, adalah:

(1) Sebuah Diwan.

(2) MinhajAl-Din, tentang metode tasawuf.

Karyaini menekankan suatu ulasan terinci tentang ahl al-suffah (h. 83) dan sebuah riwayat hidup tentang Husayn bin Mansur Al-Hallaj.

(3) AsrarAl-Khiraq wa al-ma‘unat, tentang jubah bertambal yang dikenakan kaum sufi.

(4) Kitabifana u baqa’, berisi “tentang kecongkakan dan kesembronoan pemuda”.

(5) Sebuah karya, yang judulnya tidak disebutkan, tentang ujaran-ujaran Husayn bin MansurAl-Hallaj.

(6) Kitab Al-bayan li Ahl Al-Iyan, tentang persatuan dengan Allah.

(7) BahrAl-Qulub.

(8) Al-Ri’ayatli-Huquq Allah, tentang tauhid llahi.

(9) Sebuahkarya, yang judulnya tidak disebutkan, tentang iman (h. 258).

Tidak satu pun dari kitab-kitab tersebut yang terlestarikan.

Kasyf Al-Mahjub[9] merupakan sebuah kitab yang ditulis pada tahun-tahun belakangan dari kehidupan si pengarang, dan sebagiannya ditulis pada saat dia tinggal di Lahore, sebagai jawaban terhadap persoalan-persoalan tertentu yang diajukan kepadanya oleh teman sekotanya, Abu Sa‘id Al-Hujwiri. Tujuannya ialah un­tuk mengemukakan sebuah sistem ta­­sawuf yang komprehensif, bukan untuk menghimpun sejumlah besar ujaran para Syaikh (guru Sufi) namun men­­dis­kusikan dan menjelaskan dok­trin-doktrin dan praktik-praktik para sufi. Sikap pengarang dalam hal ini adalah bertindak sebagai guru yang sedang mengajar muridnya. Bahkan tentang riwayat hidup dari sebuah karya (h. 74-165) diungkapkan seluas-luasnya. Sebelum mengungkapkan pandangannya sendiri, dia biasanya menguji pendapat-pendapat yang ada tentang topik yang sama dan menyanggahnya jika perlu. Pembicaraan tentang persoalan-persoalan mistis dan pertentangan-pertentangan pendapat disemarakkan dengan berbagai ilustrasi yang diturunkan dari pengalaman pribadinya. Dalam hubungan ini, Kasyf Al-Mahjub lebih menarik daripada Risalah karya Qusyayri—yang bernilai tinggi sebagai sebuah himpunan ujaran-ujaran, hikayat-hikayat, definisi-definisi, tapi mengikuti metode akademik dan agak formal dalam wadah ajaran ortodoks. Tiada seorang pun yang dapat membaca karya yang ter­saji kali ini tanpa mendapatkan di balik terminologi skolastik sebuah napas kenikmatan perenungan filosofis Persiayang sebenarnya.

Meskipun dia seorang Sunni dan pengikut mazhab Hanafi, Al-Huj­wiri—seperti kebanyakan sufi-sufi sebelumnya dan sesudahnya—menyelaraskan teologinya dengan suatu corak mistikisme yang tinggi, di mana teori tentang “pelenyapan” (fana) menduduki tempat yang utama. Namun, dia tidak sampai bersikap ekstrem sedemikian rupa sehingga bisa jadi kita menyebutnya sebagai seorang panteis. Dia dengan tegas mempertahankan dan menyatakan zindiq (atau bid‘ah) sebagai sebuah doktrin yang mengatakan bahwa pribadi manusia dapat bercampur dan sirna di dalam Wujud Allah. Dia mengandaikan pelenyapan dengan pembakaran oleh api, yang meng­alihkan kualitas semua benda kepada kualitasnya sendiri, tetapi membiarkan zat (esensi) mereka tidak berubah. Dia sepakat dengan pem­bimbing ruhaninya, Al-Khuttali, da­lam mengambil teori Junayd bahwa “ketenangan” dalam makna istilah mistis itu lebih disukai ketimbang ”kemabukan”. Dia sering kali memperingatkan para pembacanya dan dengan tandas mengatakan bahwa semua Sufi mencapai derajat kekudusan yang tinggi—baik yang sudah maupun yang belum—tetap terkena kewajiban menaati hukum keagamaan (Syari‘at). Dalam segi-segi yang lain, seperti pembangkitan ekstasi oleh musik dan nyanyian dan penggunaan simbolisme erotik dalam puisi, dia bersikap—setidak-tidaknya—berhati-hati. Dia membela Al-Hallaj dari tuduhan sebagai seorang tukang sihir, dan menyatakan bahwa ujaran-ujaran Al-Hallaj hanya berbau wahdah al-wujud dalamkulitnya saja, tetapi memandang bahwa doktrin-doktrinnya itu tidak benar. Jelaslah bahwa dia ingin sekali melukiskan tasawuf se­bagai tafsir yang benar tentang Islam, dan tentu saja bahwa tafsiranitu ti­dak serasi dengan pembicaraannya.[10] Mau tidak mau, dengan penghormatan yang diaberikan kepada Nabi Saw., kita tidak dapat memisahkan Al-Hujwiri—berkaitan dengan prinsip-prinsip utama ajarannya—dengan tokoh-tokoh sezamannya yang lebih tua maupun yang lebih muda, seperti Abu Sa‘id bin Abil-Khayr dan ‘AbdallahAnshari.[11]Tiga tokoh sufi ini mengembangkan teosofi Persia yang diilhami oleh FaridhAl-Din ‘Aththar dan Jalal Al-Din Rumi.

Bab yang sangat mengagumkandalam Kasyf Al-Mahjub ialah bab keempat belas, “Doktrin-doktrin PelbagaiMazhab Sufi”, di mana pengarang mencantumkan dua belas mazhab tasawuf dan menguraikan masing-masing doktrin khususnya.[12]Sejauh yang saya ketahui, dia adalah penulis pertama yang melakukannya. Di antara sekian mazhab sufi, hanya, mazhab Malamatiyah yang agaknya sudah dicantumkan pada kitab-kitab awal tentang tasawuf; perujukan-perujukan singkat kepada mazhab-mazhab lain seperti yang terjadi dalam kitab-kitab terkemudian, misalnya dalam Tadzkirat Al-Awliya’ barangkali bersumber darinya. Persoalan mungkin timbul, “Apakah mazhab-mazhab ini benar-benar ada, atau cuma direka-reka oleh Al-Hujwiri demi keinginannya unfuk menyistematisasi teori tasawuf?” Saya tidak melihat adanyadasar yang tepat pada saat ini untuk hipotesis yang terakhir, yang melibatkan anggapan bahwa Al-Hujwiri telah membuat pernyataan-pernyataan palsu. Bagaimanapun juga, sangatlah mungkin bahwa di dalam menguraikan doktrin-doktrin khusus itu—yang dia nisbahkan kepada pendiri tiap-tiap mazhab tersebut—dia kerap kali mengungkapkan pandangan-pandangannya sendiri atas subjek yang timbul dan mencampuradukkannya dengan doktrin-doktrin aslinya.

Adanya mazhab-mazhab dan doktrin-doktrin tersebut, meskipun nantinya kurang mendapat dukungan,[13]bagi saya tidaklah merupakan sesuatu yang tidak dapat dipercaya; malahan sebaliknya, sesuai dengan apa yang terjadi dalam kasus Mu‘tazilah dan firqah-firqah Islam yang lain. Doktrin-doktrin tertentu dihasilkan dan dielaborasi oleh Syaikh-syaikh terkenal, yang mempublikasikannya dalam bentuk risalah-risalah atau mencukupkan diri dengan berceramah tentang doktrin-doktrin tersebut sehingga, melalui proses yang akrab, doktrin yang baru itu menjadi corak utama sebuah mazhab. Lalu, mazhab-mazhab lainnya boleh menerima atau menolaknya. Dalam kasus-kasus tertentu, pertentangan tajam timbul, sedangkan ajaran baru itu memperoleh sedikit dukungan sehingga hanya terbatas pada mazhab penciptanya atau hanya dipeluk oleh sekelompok kecil paguyuban sufi. Dalam perkembangannya kemudian, hal itu lebih sering menjadi materi umum dan tersusutkan ke tingkatnya yang sebenarnya. Dr. Goldziher telah meneliti bahwa tasawuf tidakdapat dianggap sebagai suatu mazhab yang diorganisasi secara rapi di dalam Islam, dan bahwa dogma-dogmanya tidak dapat dihimpun menjadi suatu sistem yang tertib.[14] Hal itu sepenuhnya benar, namun setelah membiarkan semua perbedaan-perbedaan dan perselisihan-perselisihan di situ tinggallah sebatang tubuh doktrin tertentu yang pada umumnya dianut oleh sufi-sufi dari berbagai kalangan paguyuban dan merupakan hasil dari penghimpun­an ber­tahap dari pikiran-pikiranyang beraneka ragam.

Kemungkinan besar bahwa tradisilisan (manqulat) adalah sumber utama Al-Hujwiri dalam hal materi pokok bagi karyanya. Dari risalah-risalah ilmiah yang masih ada tentang tasawuf dia menyebutkan hanya Kitab Al-Luma’ karya Abu Nashr Al-Sarraj, yang wafat pada tahun 377 atau 378 Hijri. Kitab tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan merupakan yang tertua menurut kelasnya. Dengan kemurahan hati A.G. Ellis, yang baru-baru ini telah mengusahakan satu-satunya copy yang kini dikenaloleh para orientalis, saya mampu membuktikan kebenaran lafal sebuah alinea yangdikutip oleh Al-Hujwiri (h. 305) , dan meyakinkan diri saya bahwa diabenar-benar mengenal karya pendahulunya. Sistematika Kasyf Al-Mahjubsebagian didasarkan pada sistematika Kitab Al-Luma’, dan kedua buku itu serupa satu sama lain dalam rancangan umumnya, serta rincian-rincian tertentu dari kitab yang pertama jelas meminjam dari yang kedua. Al-Hujwiri mengacu dalam catatan­nya tentang Ma‘ruf Al-Karkhi (h. 112) kepada sejumlah riwayat hidup para sufi yang dihimpun oleh Abu ‘Abd Al-Rahman Al-Sulami dan Abul-QasimAl-Qusyayri. Meskipun dia tidak memberikan judul-judulnya, dia diperkirakan mengacu kepada Tha­ba­qat Al-Shufiyyah karya Al-Sulami dan Risalah karya Qusyayri.[15] Kasyf Al-Mah­jub mengandung sebuah salinan berbahasa Persia dari bagian-bagian tertentu di dalam Risalah-nya Qusyayri, yang dengan siapa Al-Hujwiri agaknya berkenalan secara pribadi. Kutipan dari ‘Abdallah Anshari terdapat pada halaman 35.

Manuskrip atau tulisan-tangan Kasyf Al-Mahjub dirawat di berbagai perpustakaan Eropa.[16] Dicetak secara litografis di Lahore dan Professor Schukovski dari Saint Petersburgsaat ini—seperti yang saya ketahui—tengah mempersiapkan sebuah naskah kritik. Edisi Lahore tidak teliti, ter­utama dalam ejaan nama-nama, tapi kebanyakan kesalahan-kesalahannya mudah diperbaiki, dan naskah itu sesuai benar dengan dua buah MSS da­lam Perpustakaan Negara India (No. 1773 dan 1774 dalam Ethe’s Catalogue), yang saya perbandingkan. Saya juga telah mencocokkan dengan Ms.(manuskrip) yang baik dalam Museum Inggris (Rieu’s Catalogue, i, 342). Ber­ikut ini adalah singkatan-singkatan yang dipergunakan:

  1. menunjukkepada Edisi Lahore.
  2. menunjukkepada India Office MS. 1773 (awal abad ketujuh belas).
  3. menunjukkepada India Office MS. 1774 (akhir abad ketujuh belas).

Dan B. menunjuk kepada British Museum MS. Or. 219 (awal abad ketujuh belas).

Dalam terjemahan saya, tentunya saya telah mengoreksi naskah Lahore bilamana perlu. Sementara bagian-bagian yang meragukan yang jumlahnya hanya sedikit sekali, saya mengakui, ada sejumlah tempat di mana suatu usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar maksud si pengarang dapat ditangkap dan argumennya dapat dipahami. Logika seorang sufi Persia tentu kadangkala tampak bagi pembaca-pembaca Eropa tidak logis. Kekaburan yang lain dapat disingkirkan dengan cara memberikan anotasi, tetapi upaya ini jika benar-benar diambil akan memperluas halaman buku menjadi sangat tebal sekali.

Versi bahasa Inggris ini mendekati sempurna dan tidak ada hal penting yang dihilangkan, meskipun saya tidak segan-segan menyingkat bilamana kesempatan ada. Ahli bahasa Arab akan memberikan komentar atas suatu penyimpangan yang sewaktu-waktu terjadi antara ujaran-ujaran yang berbahasa Arab yang dicetak mi­ring dan terjemahan-terjemahan yang menyertainya. Demikianlah yang saya terjemahkan, yang aslinya bukan bahasa Arab, melainkan berasal dari ungkapan bahasa Persia yang disuguhkan oleh Al-Hujwiri.

 

Reynold A. Nicholson
[Penerjemah Kasyf Al-Mahjub dari bahasa Persia ke dalam bahasa Inggris]

—–

[1]*)Judul lengkapnya adalah KasyfAl-Mahjub li Ar­bab Al-Qulub (lihat catatan kaki no. 9) yang artinya“Menyingkap Tabir Kegaiban atau Hakikat untuk Orang-orang yang MemilikiPenglihatan Tajam atau agar Orang Memiliki Penglihatan Tajam sebagaimana ParaSufi”. Pada bab “Mukadimah”, subbab ‘Hijab’, pengarangnya (Al-Hujwiri) secarapanjang lebar menjelaskan tentang arti judul tersebut—penyunting.

Jullabdan Hujwir adalah dua desa di Ghazna. Hal ini terbukti dengan kenyataan bahwadia pernah tinggal beberapa waktu di kedua desa tersebut.

[2] Petunjuk-petunjuk tersebut terdapat dalamkitab Nafahat Al-Uns, No. 377; Safinat Al-Awliya’, No. 298(Ethe’s Cat. of the Persian MSS, in the Library of the India Office, i, co.304); Ridyadh Al-Awliya’, Or.1745, f.140 a(Rieu’s Cat. of the PersianMSS in the British Museum, iii, 975). Dalam khatimat al-tab’ padahalaman terakhir Kasyf Al-Mahjub edisi Lahore, dia disebut Hadhrat-i DataGanj-bakhsy ‘Ali Al-Hujwiri.

[3] Nafahat, No. 376. MelaluiAl-Khuttali, Al-Husri, dan Abu Bakr Al-Syibli pengarang Kasyf Al-Mahjub,secara ruhani, dikaitkan dengan Junayd Al-Baghdadi (lahir 297 H).

[4] Nafahat, No. 375, Nisbah Syaqqaniditurunkan dari Syaqani, sebuah desa dekat Nisyapur.

[5] Ibid., No. 367.

[6] Ibid., No. 368.

[7] Tarikh 465 H dikemukakan oleh Azad dalamkarya biografisnya tentang orang-orang terkenal dari Balgram, yang berjudul Ma‘atsirAl-Kiram.

[8] Lihat Ethe’s Cat. of the Persian MSS inthe India Office Library, No. 1774 (2). Pengarang risalah ini tidakmenyebut Al-Hujwiri sebagai saudara Abu Sa‘id bin Abil-Khayr, sepertihalnya Ethe katakan, melainkan saudara ruhani-nya (biradar-i haqiqat).

[9] Judul lengkapnya ialah Kasyf Al-Mahjubli-Arbab Al-Qulub (Hajji Khalifa, v, 215).

[10] Pandangan pengarang terhadapketidak-berartian bentuk-bentuk lahiriah agama diungkapkan dengan tegas dalampembahasannya tentang ibadah haji (h. 292-298).

[11] Banyak bagian dari Kasyf Al-Mahjubyang dikutip, kata demi kata, dalam Nafahat Al-Uns karya Jami‘, yangmerupakan resensi Thabaqat Al-Shufiyyah karya ‘Abdallah Anshari yang dipermoderndan diperluas.

[12] Ikhtisar doktrin-doktrin ini akan dijumpaidalam esai tentang “The Oldest Persian Manual of Sufism” yang saya baca diOxford pada tahun 1908 (merupakan terjemahan dari Third International Congresfor the History of Religions, i, 293-7).

[13] Sebagian dari dua belas mazhab menurut Al-Hujwiri,muncul kembali pada suatu masa kemudian sebagai tarikat-tarikat darwisy. Namun,silsilah tarikat-tarikat itu yang menarik garis asal-usulnya dari sufi-sufiawal biasanya bersifat fiktif.

[14] J.R.A.S., 1904, h. 130.

[15] Bagaimanapun juga, bandingkan dengan h. 114,catatan (Edisi Inggris).

[16] Lihat Ethe’s Catalogue of the Persian MSSin the Li India Office Library, i, col. 970, di mana MSS lain disebut, danBlochet, Cat. des manuscrits persans de la Bibliotheque Nationale, i,261 (No. 401).

(Visited 35 times, 1 visits today)

Melihat Fazlur Rahman Lebih Dekat

30 July 2018

Islam Agama Kemanusiaan

30 July 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *