Toshihiko Izutsu dan Kesarjanaan Modern tentang Ibn Arabi

Ketika mendengar nama Toshihiko Izutsu, minimalnya terdapat tiga hal yang akan langsung hadir dalam benak kita: pertama, penguasaan bahasanya,  Toshihiko mengusasi lebih dari 30 bahasa asing; kedua, kepakarannya tentang kajian semantik; dan ketiga, kedalaman kajiannya atas Ibn Arabi. Tiga hal ini meskipun bisa dianggap mewakili level yang berbeda-beda, tetapi semuanya berkaitan satu sama lainnya. Yang pertama mewakili lingkup yang paling umum karena bahasa adalah ruang hadirnya kesadaran atas sesuatu secara fenomenologis bagi seorang manusia. Yang kedua mewakili level metodologis yang memungkinkan Toshihiku berbicara atas suatu topik secara akademik. Sedangkan yang ketiga adalah level paling praktis yang mengondisikan hadirnya dimensi kesadaran lingustik secara metodologis.

Sebagai orang yang menguasai lebih dari 30 bahasa asing termasuk bahasa Arab, Persia, Yunani, Sanskrit, Cina, Rusia, Izutsu mampu masuk ke dalam nalar bahasa yang dikuasainya. Hal ini memberikan kesempatan baginya untuk mengenali kultur dan pemikiran yang hadir dari setiap bentuk bahasa tersebut. Ia mampu untuk masuk ke dalam relung cakrawala pengalaman kemanusiaan yang dihadirkan oleh bahasa tersebut. Hal tersebut ditunjang oleh kepakaran Izutsu dalam hal semantik. Melalui metode linguistik ini (sebuah metode yang dipakai untuk menganalisa penandaan teks dalam konteks sosial dan historisnya), ia mampu mendapatkan pemahaman yang mendalam dan detail terhadap pengalaman kebahasaan atas suatu hal—seperti pengalaman sufistik, misalnya. Lebih lanjut, membaca buku-buku Izutsu, pembaca akan disuguhkan oleh cara penyajian topik yang dibahasnya secara lugas dan argumentatif.

Dengan karakter pengkajian seperti itu, menjadi beralasan mengapa Izutsu mendapatkan simpati akademik yang tinggi—baik dari sarjana Timur maupun Barat. Setiap topik yang dikajinya, sering kali,  mempunyai pengaruh akademik dalam waktu yang lama dan kepada beberapa generasi akademik setelahnya. Hal ini bisa dicermati dari sejumlah buku yang ditulisnya seperti Ethico-Religious Concepts in the Qur’an(2002), God and Man in the Qur’an (1964), The Concept of Belief in Islamic Theology (2001), The Concept and Reality of Existence (2009), dan tentu saja buku  Sufism and Taoism (1983). Buku yang disebut terakhir telah diterjermahkan dalam bahasa Indonesia menjadi dua buku yang terpisah oleh Penerbit Mizan dengan judul Sufisme: Samudera Makrifat Ibn Arabi  (2015) dan Taoisme: Konsep-Konsep Filosofis Lo-Tzu dan Chuang-Tzu serta Perbandingannya dengan Sufisme Ibn ‘Arabi (2015).

Buku-buku tersebut, meskipun mengkaji tentang topik-topik filsafat yang mendalam, tetapi dihadirkan oleh Izutsu dengan bahasa yang sederhana dan lugas. Kelugasan ini didukung dengan sikapnya yang simpatik terhadap kajian yang dibahasnya, yakni tanpa mempunyai preseden pemahaman yang menggiring topik keluar dari wacana yang menghadirkannya.

Izutsu: Pengkaji atau Peganut Ibn Arabi?

Watak simpatik tanpa preseden epistemologis itu bisa dibuktikan secara apik dalam kajian Izutsu tentang Ibn Arabi yang dikajinya secara semantik dari teks-teks aslinya yang berbahasa Arab. Izutsu mengkaji Syaikh Ibn Arabi dari kitabnya berjudul Fushûs al-Hikam (t.t.) yang dianggap sebagai kitab yang paling rumit yang pernah ditulis oleh sufi agung dari Andalus itu. Tapi dengan bantuan syarah yang ditulis oleh Abdurrazaq al Qashani (1321 H.) dan Abul Ela Affifi (t.t), ia berhasil memberikan penjelasan tentang konsep-konsep kunci dari pengalaman kesufian Ibn Arabi. Hal itu bisa dicermati secara apik di dalam bukunya yang berjudul Sufism and Taoism.

Buku Sufism and Taoism bahkan tak hanya menyuguhkan kedalaman kajian Izutsu tentang pandangan kesufian Ibn Arabi saja. Barangkali tak berlebihan untuk dikatakan bahwa buku itu mewakili satu bentuk fase peralihan akademik ke arah yang lebih ilmiah dan obyektif. Hal ini akan terlihat bila dibandingkan dengan kajian-kajian tentang Ibn Arabi yang lain yang relatif semasa dengan buku itu. Misalnya adalah kajian Affifi yang berjudul The Mystical Philosophy of Muhyid Din-Ibnul Arabi(1979) atau kajian Henry Corbin yang berjudul Imaginative Creation in the Sufism of Ibn Arabi(1969).

Ambisi besar dari kajian Affifi tentang Ibn Arabi, yang semula merupakan disertasi di Universitas Cambridge, adalah untuk membuktikan adanya filsafat kesufian dalam pengalaman Ibn Arabi. Untuk melakukan hal itu, Affifi memanfaatkan filsafat panteistik yang dikonsepkan oleh Spinoza. Pada akhirnya, semua kekhususan pengalaman kesufian Ibn Arabi ditundukkan pada konsep-konsep panteistik. Hal ini juga dilakukan pada saat Affifi menyarahi kitab Fushûsh al-Hikam (t.t.) yang mengakibatkan keluarnya pengalaman Ibn Arabi dari wacana yang melahirkannya—yakni, wacana kesufian (Yunus Masrukhin 2015).

Begitu juga dengan kajian Henry Corbin. Buku yang ditulisnya itu mempunyai kedalaman reflektif dan fenomenologis. Tapi keistimewaan tersebut kemudian menjadi problematik karena ia terobsesi untuk mendudukkan pengalaman kesufian Ibn Arabi ke dalam wacana imamologis Syi’ah sebagai wacana yang paling relevan terhadapnya. Dalam kajiannya tentang Ibn Arabi, Corbin berusaha menautkan antara simbol dan epistemologi imamologis, sehingga pada akhirnya pengalaman kesufian Ibn Arabi merupakan pengalaman imamologis. Hal ini tentu saja problematik, tak hanya karena telah menggeser wacana yang menghadirkan pengalaman kesufian itu sendiri. Lebih dari itu, ia telah merubah bentuk pengalaman kesufian itu sendiri.

Kedua cacat epistemologis di atas tak ditemukan dalam kajian yang dilakukan oleh Toshihiko Izutsu. Dengan penguasaannya yang baik atas semantik, ia berusaha menemukan bentuk pengalaman kesufian Ibn Arabi sejauh apa yang mampu ditangkap dalam bahasa yang menarasikannya. Ia mencoba mencari pokok pikiran yang utuh dari tiap-tiap paragraf yang ditulis oleh Ibn Arabi dalam kitabnya itu.

Yang lebih menarik lagi, kedalaman yang diusahakan obyektif dari kajian Izutsu ini justru dikontekskan dalam rangka membandingkannya dengan konsep Tao. Buku yang semula ditulis dalam dua volume ini, sebaimana juga dalam edisi Bahasa Indonesia ini, masing-masing berusaha difokuskan untuk mengkaji topik yang dibicarakannya berdasarkan data-data literer yang didapatkannya. Masing-masing dikaji tanpa ada usaha untuk melakukan rekosntruksi yang merubah watak dan spirit yang di dalam pengalaman yang menghadirkannya. Pengalaman Ibn Arabi dikaji sebagai pengalaman kesufian sedangkan pengalaman Lao-tzu dan Chuang-tzu dikaji sebagai pengalaman taoistik.

Penjelasan di atas merupakan argumentasi yang penting, mengapa pengkajian Izutsu atas Ibn Arabi merupakan babak baru dari kajian akademik yang lebih simpatik. Hal itu berhasil dilakukannya, justru ketika Izutsu tak mempunyai ambisi yang berlebihan. Katanya,

“Sejak semula, saya tidak berniat melakukan kerja besar-besaran. Saya lebih berniat menyelami “nafas-kehidupan”, semangat menyala dan sumber eksistensial kehendak berfilsafat yang terdapat pada pemikir besar ini. Dari kedalaman itu, saya ingin menemukan susunan keseluruhan sistem ontologisnya, langkah demi langkah, persis seperti dia mengalaminya (Izutsu 2015: xl).”

Pernyataan seperti itu menegaskan bahwa sebelum melakukan kajian terhadap Ibn Arabi, Izutsu tak mempunyai klaim pemikiran apapun tentang sang sufi. Ia baru menemukan pernik-pernik pemikirannya setelah memahami penjelasan Ibn Arabi sendiri setahap demi setahap. Setelah itu, baru disimpulkan apa yang menjadi pemikiran sang sufi berdasarkan pada pengalaman spiritual itu.

Posisi Izutsu dalam mengkaji Ibn Arabi persis seperti seorang murid yang mengaji kepada sang guru. Ia tak melakukan intervensi kontsruksi pengalaman kesufian. Ia hanya melakukan sistematisasi agar pengalaman tersebut bisa dijelaskan secara akademik. Dengan demikian, Izutsu telah melakukan satu bentuk usaha yang secara akademik sangat diapresiasi—yakni, melakukan kajian analitik atas topik kesufian dengan simpatik.

Namun demikian, ada satu hal yang perlu diantisipasi dari kajian Izutsu, yaitu masalah referensi. Seperti diakuinya,bahwa, “… karya ini secara eksklusif berisi analisis ihwal Fushûs al-Hikam, kecuali di beberapa tempat etika saya mengacu pada karyanya yang lebih kecil untuk memperoleh penjelasan lebih jauh mengenai sejumlah masalah pokok penting (Izutsu 2015: xli).”

Sebenarnya, fokus Izutsu terhadap satu karya Ibn Arabi ini bisa dimengerti. Dalam pemahamannya,  Fushûs al-Hikam adalah, “buku yang paling dipuja dan sering digambarkan sebagai magnum opus Ibn Arabi”. Tapi yang diabaikan oleh Izutsu adalah, status lain yang disematkan kepada buku tersebut. Fushûs al-Hikam oleh beberapa kalangan dianggap telah dirubah dan disusupi dengan sejumlah pokok pikiran yang bukan milik Ibn Arabi. Bahkan, ada yang secara terang-terangan menyatakan bahwa buku ini bukan karya Ibn Arabi. Di antaranya bahkan dari kalangan penganut berat mazhab Ibn Arabi—seperti yang dinyatakan dengan tegas oleh Mahmud Mahmud Al-Ghurab. Dalam syarah-nya, ia membuktikan bahwa ada bukti-bukti yang tegas bahwa buku tersebut bukan karya Ibn Arabi.

Perdebatan diskursif tentang status buku al-Fushuh itu tak hanya bersifat akademik.Tapi juga, dalam level tertentu, merupakan spiritual. Artinya, argumentasi yang dikemukakan untuk menyatakan status itu tak hanya didasarkan pada data-data akademik, tapi juga pada hasil olah spiritual sebagai hasil penghayatan sufistik secara praktis.

Fakta ini tentu saja mengganggu kedalaman kajian yang dilakukan oleh Izutsu. Tapi barangkali Izutsu punya alasan penting yang membuatnya bersikukuh tentang fokusnya pada buku al-Fushûsh tersebut. Bagaimanapun juga, buku itu merupakan karya yang paling utuh berbicara tentang pokok pikiran Ibn Arabi dalam satu buku yang tidak begitu tebal. Hal ini memungkinkan dia untuk melakukan kajian semantik secara mendalam (Yunus Masrukhin 2014).

Bagaimanapun kelemahan sumber data yang dirujuk oleh Izutsu, kajiannya tentang Ibn Arabi sampai sekarang masih dianggap sebagai awal mula dari contoh yang baik tentang kajian yang simpatik dan mendalam tentang sang sufi agung itu. Itu sebabnya, banyak generasi setelahnya yang tertarik untuk berguru kepadanya, tentang bagaimana mengaji kepada Ibn Arabi yang baik.

Izutsu dan Generasi Akademik yang Simpatik

Ada beberapa nama yang bisa disebutkan di sini untuk membuktikan pengaruh Toshihiko Izutsu kepada generasi setelahnya. Mereka, bahkan secara terang-terangan, mendapatkan pencerahan tentang bagaimana mengkaji Ibn Arabi yang baik.

Yang paling menonjol dari mereka adalah William Chittik. Akademisi yang satu ini mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengkaji tasawuf. Di samping menyunting dan mengedit beberapa karya sufi lainnya, Chittik terutama mengkaji dua tokoh sufi terkenal, yakni Ibn Arabi dan Jalaluddin Rumi.

Dalam mengkaji Ibn Arabi, Chittick sangat berhutang budi kepada Izutsu. Chittick, mengaji secara harfiah kepada Izutsu secara khusus tentang al-Fushûsh. Hal ini membuktikan betapa pengaruh Izutsu dalam mengkaji Ibn Arabi telah melahirkan tren akademik baru. Buku-buku yang ditulis oleh Chittick tentang Ibn Arabi di antaranya adalah The Sufi Path of Knowledge(1989), The Self-Disclosure of God (1998), dan beberapa buku lainnya. Dalam sejumlah buku itu, nuansa analitik dan simpatik yang tak didahului preseden epistemologis disiplin atau ideologi tertentu terlihat menonjol.

Selain Chittick, Sachiko Murata juga orang yang sangat berutang kepada Izutsu. Seperti Chittick, ia juga mengaji kitab Al-Fushûsh kepada Izutsu. Buku yang ditulis oleh Murata berjudul The Tao of Islam (1992), buku ini diterbitkan pertama kali dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Mizan pada tahun 1999 dengan judul yang sama,  dan Chinese Gleams of Sufi Light (1994) menunjukkan adanya pengaruh yang kuat dari Izutsu tentang cara mengkaji Ibn Arabi. Di dua buku tersebut, Murata juga melakukan perbandingan antara kajian kesufian dan Taoisme, suatu buku yang menjadi judul dari buku Izutsu. Cara mengkaji yang dilakukan oleh Murata memperlihatkan simpati yang mendalam terhadap tasawuf Ibn Arabi.

Dua akademisi ini memperlihatkan betapa pentingnya kajian yang dilakukan oleh Izutsu terhadap Ibn Arabi. Sifat simpati yang mendalam tanpa harus mengeluarkan pemikiran sang sufi agung ini dari diskursus yang melahirkannya, barangkali, adalah salah satu diantara faktor penting yang menjadikan mengapa kajian-kajiannya masih relevan hingga hari ini.

Sebegitu penting kajian Izutsu tentang Ibn Arabi sehingga kajian siapapun setelahnya nyaris tak bisa mengabaikan kajiannya selama hal itu berkaitan dengan sosok agung dari Andalus ini. Barangkali seseorang akan melakukan kritik terhadap kajiannya, terutama terkait dengan sumber yang ia gunakan, tapi ia tak bisa menampik kedalaman kajiannya yang simpatik dan ulasannya yang memberikan perspektif-perspektif yang segar tanpa harus merusak watak kesufian dari pengalaman spiritualnya. [Mohammad Yunus, Ph.D]

 

Daftar Pustaka:

– Affifi, Abul Ela,Sharh Fushûsh al-Hikam, (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, t.t.)

– ________, The Mystical Philosophy of Muhyid Din-Ibnul Arabi, (Manchester: Apex Book Concern, 1979)

– Chittick, William, The Sufi Path of Knowledge (New York: SUNY Press, 1989)

– ________, The Self Disclosure of God, (New York: SUNY Press, 1998)

– Corbin, Henry, Imaginative Creation in the Sufism of Ibn Arabi (Princeton: Princeton University Press,1969).

– Ibn Arabi, Muhyiddin, Fushûs al-Hikam, tahqiq: Abul Ela Affifi, (Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, t.t.)

– Izutsu, Toshihiko, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an (Montreal: McGill- Queen’s University Press, 2002)

– _________, God and Man in the Qur’an (Tokyo: Keio University Press, 1964)

– _________, The Concept of Belief in Islamic Theology (Selangor: Islamic Book Trust, 2001)

– _________, The Concept and Reality of Existence (Selangor: Islamic Book Trust, 2009)

– _________, Sufisme: Samudra Makrifat Ibn Arabi, terjemahan: Musa Kazhim dan Arif Mulyadi, (Bandung: Penerbit Mizan, 2015)

– Murata, Sachiko,Chinese Gleams of Sufi Light (New York: SUNY Press, 2000)

– _________, The Tao of Islam, terjemahan: Rahmani Astuti dan M. S. Nasrullah, (Bandung: Penerbit Mizan, 2004)

– Al-Qashani, Abdurrazaq, Syarh Fushûsh al-Hikam, (Kairo: Musthafa al-Babi al-Halabi, 1321 H.)

– Yunus Masrukhin, Mohammad, Al-Wujûd wa al-Zamân fî al-Khithâb al-Shûfî ‘inda Muhyiddîn Ibn ‘Arabi, (Koln dan Beirut: Mansyurat al-Jamal, 2014)

– __________, Biografi Ibn Arabi, (Depok: Keira Publishing, 2015)

 

 

(Visited 245 times, 1 visits today)

Genealogi Kekerasan Membela Islam

10 October 2018

Paradoks Nasib Manusia: Belajar dari Albert Camus dan Nurcholish Madjid

10 October 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *