Menyelami Filsafat Cinta Hubungan Manusia dan Tuhannya

Jumat (18/1), Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (AAFI) dengan Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) menyelenggerakan International Conference of Islamic Philosophy (ICIPH) di gedung nusantara II, komplek DPR/MPR RI, Jakarta.

Prof. Dr. Arskal Salim, Direktur Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag), dalam sambutannya mengatakan, “Filsafat itu kan sebagai pusat tradisi studi Islam yang sudah sangat tua ini tetap harus diperjuangkan agar tetap bisa punya masa depan. Karena itu, kita akan mempertahankan kajian-kajian filsafat di beberapa perguruan tinggi Islam baik negeri ataupun swasta.”

Sejumlah cendekiawan hadir dan menjadi pembicara dalam acara tersebut, di antaranya Dr. Haidar Bagir (STF Sadra, Indonesia), Prof. Dr. Abdul Majid Hakimullahi (Musthafa International University, Iran), Prof. Dr. Mahmoud Wa’izi (Tehran University, Iran), Prof. Hamidullah Marazi (Central University of Kashmir, India), Dr. Abdelaziz Abacci (Sadra International Institute, Aljazair).

Konferensi yang mengambil tema Philosophy and Humanity, diharapkan bisa menguraikan hubungan filsafat dengan kemanusiaan. Kearifan filsafat bisa mengantarkan seseorang memahami hakikat kemanusiaannya. Filsafat juga membantu memahami jati diri seseorang. Dengan memahami diri sendiri, ia akan memahami eksistensi Tuhan. Demikianlah hubungan manusia dan Tuhan bisa terjalin berkelindan.

Di dapuk sebagai pembicara pertama, Dr. Haidar Bagir menguraikan hubungan manusia dan Tuhan. “We seek success and wordly pleasures a corps perdu-accumulating wealth, grabbing power, gaining popularity- which in reality conceals this longing. We think we will get the affection we so cherish when we posses all of those. In fact, they are just a mirage. Our happiness, our satisfaction, our tranquility is  not in them. What we seek is no less than reunion with God, one bound by love, God’s over present love for us, and  a love which we should develop for God, “  ujar Haidar dalam pemaparannya.

“Apa yang kita cari tidak lain adalah penyatuan kembali dengan Tuhan, terikat oleh cinta, kasih sayang Tuhan. Cinta untuk kita, dan cinta yang harus kita kembangkan untuk Tuhan,” jelasnya lebih lanjut.

Haidar juga menggambarkan bahwa hubungan manusia dengan Tuhannya ibarat dua busur panah yang jika dihubungkan akan menjadi satu lingkaran yang saling bertemu. Menyatu dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dengan begitu manusia yang telah melebur dalam cinta kepada Tuhannya, secara natural akan  menjadi dermawan dan penuh kasih sayang sebagaimana Tuhannya.

Kembali pada Tuhan adalah perjalanan hakiki yang ditempuh oleh manusia. Manusia tak ubahnya ruh yang ditiupkan Tuhan. Pada akhirnya, akan menuju puncak cinta sejati yang tidak lain adalah kembali pada Tuhan, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Fajr ayat 27-30; “wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang penuh ridho lagi di ridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam hamba-hambaku dan masuk ke dalam surga-Ku,”  tegas Presiden Direktur Mizan tersebut.

(Keem)

(Visited 35 times, 1 visits today)

Mengenal Diri, Mengenal Tuhan

18 January 2019

Dari Allah Menuju Allah: Rumi dan Kerinduan Manusia untuk Kembali Pulang

18 January 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *